
Gadis itu malah menjadi bingung ketika Tarsa memberikan handphone nya kepada gadis tersebut.
Tarsa menghela nafas nya dengan pelan, bukan karena lelah, kesal, marah, ataupun karena meremehkan gadis tersebut.
Tarsa menatap gadis tersebut dengan tatapan mata yang agak tajam dan mendominasi. Begitulah Tarsa, dia bisa menjadi terlihat mendominasi jika saja dia mau menunjukkan nya kepada seluruh teman nya.
"Jangan mengira bahwa aku akan tertipu bahwa kau tidak bisa membaca ataupun mengetik huruf. Aku yakin sekali bahwa kau sebenarnya tidak buta huruf. Tetapi kau hanya berpura-pura melakukan nya. Jadi segera ketikan saja apa yang mau kau katakan," ucap Tarsa lagi.
Gadis tersebut tertegun, padahal dia sudah begitu lama menutupi fakta bahwa sebenarnya dirinya tidak buta huruf. Tetapi mengapa gadis yang ada di hadapan nya ini bisa menebak bahwa dirinya hanya berpura-pura buta huruf saja? Ini sangat menakutkan sejujurnya.
Kemudian mau tak mau gadis tersebut mengetikkan sesuatu di handphone milik Tarsa dan kemudian setelah beberapa detik dia mengetik, gadis tersebut segera saja mengembalikan ponsel nya pada Tarsa.
"Aku tidak punya nama." Begitulah ketikan yang diketik oleh gadis tersebut.
Tarsa menatap gadis itu dengan tatapan yang terkejut, "Apakah kau yakin? Aku tidak merasa bahwa kau tidak memiliki nama? Apakah orang tua mu tidak memberikan mu nama? Lalu selama ini kau dipanggil dengan sebutan apa?" tanya Tarsa lagi secara bertubi-tubi karena dia merasa kesal dengan orang tua yang sama sekali tidak peduli pada anak nya sendiri.
Kemudian gadis tersebut kembali mengetikkan apa yang mau dia katakan pada Tarsa.
"Orang tua ku membuang ku di jalanan. Aku tidak tahu apa alasan nya, tetapi aku dibuang sesaat setelah aku dilahirkan. Dan sama sekali tidak ada peninggalan dari orang tua ku. Yang aku dapatkan hanyalah sebuah bandul tidak berguna ini," begitulah isi ketikan nya.
Tarsa melihat ke arah bandul yang ada di leher gadis tersebut. Jujur saja, Tarsa merasa bandul yang digunakan oleh gadis tersebut sangat familiar. Tetapi Tarsa lupa dengan bandul tersebut, jadi Tarsa memilih untuk tidak menghiraukan perihal bandul tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, lupakan saja kalau begitu. Maaf apabila aku membuat mu mengingat kenangan buruk itu lagi. Pertama-tama, kita kembali lagi ke pembahasan tadi, apakah kau mau balas dendam dengan orang yang meremehkan mu?" tanya Tarsa.
Gadis tersebut kembali mengetikkan apa yang mau dia katakan.
"Tentu saja aku mau, tetapi apakah aku bisa? Aku hanya seorang yang rendahan. Aku bisa hidup sampai saat ini hanya karena aku diberi makan oleh mereka, walaupun itu adalah makanan sisa."
Tarsa menggelengkan kepala nya dengan raut wajah tidak senang, "Apakah menurut mu kau bisa hidup sampai saat ini benar karena mereka? Aku rasa itu adalah hal yang bodoh kalau kau menganggap hal seperti itu.
"Kau sudah bekerja keras seharian dengan pekerjaan rumah yang seharusnya tidak hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Kau juga hanya diberi makan sehari sekali tetapi kau bahkan bekerja dengan sangat keras. Kau bukan robot, kau butuh makan. Dengan segala jasa yang kau berikan pada orang yang 'merawat' mu itu, kau harusnya mendapatkan lebih banyak hal.
"Bukannya kau malah tidur dengan semak-semak sebagai alas dan kain robek sebagai selimut," ucap Tarsa lagi dengan sangat menusuk.
Tetapi Tarsa mengucapkan hal itu bukan karena dirinya memarahi atau mengatakan gadis yang ada di hadapan nya ini bodoh. Tarsa hanya tidak mau sebuah berlian disia-siakan dan tidak digunakan dengan baik.
Tarsa tersenyum tipis ketika membaca ketikan yang ada di handphone nya itu.
"Bagaimana jika ku jawab aku ingin memiliki pelayan seperti dirimu?" tanya Tarsa dengan senyuman di wajah nya.
Gadis tersebut kemudian segera saja mengetikan kembali apa yang mau dia katakan kepada Tarsa sebagai balasan.
"Aku tidak masalah dengan hal itu asalkan kau tidak memperlakukan ku dengan kasar dan tidak memperlakukan ku seperti hewan yang seenaknya disuruh bekerja keras," ketika gadis itu lagi.
__ADS_1
Tarsa segera saja tersenyum dengan wajah nya yang manis, "Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita memulai balas dendam nya kita mulai besok pagi saja? Kau bisa istirahat dan tidur sekarang. Aku akan datang lagi besok pagi. Ah tidak.
"Tidak, aku salah bicara. Kau harusnya ikut dengan ku sekarang juga. Besok pagi hari kita kembali lagi ke sini," ucap Tarsa segera saja menatap gadis tersebut dengan tatapan mata yang sangat serius.
Gadis tersebut justru menatap Tarsa dengan tatapan tidak mengerti kemudian dia mulai mengetik lagi karena ingin mengetahui apa maksud dari perkataan Tarsa.
"Apa maksudmu? Mengapa aku harus ikut dengan mu? Memangnya kita akan ke mana?" tanya Emma melalui ketikan di handphone nya.
"Hotel. Kau pikir aku akan sampai setega itu sampai membiarkan mu tidur di tanah dan di tengah ruangan terbuka ini? Sangat mustahil. Aku tidak mau bertabggung jawab jika kau sampai sakit sebelum kau membalas dendam yang kau miliki," ucap Tarsa dengan serius.
Walaupun diucapkan dengan nada yang sarkas seperti itu, Emma tahu bahwa sejujurnya Tarsa memang berniat baik tanpa maksud untuk menghina Emma.
Hanya saja Emma juga menyadari bahwa sebenarnya Tarsa adalah tipe-tipe orang yang tsundere, di mana orang tersebut terlalu gengsi dan malu untuk menunjukkan perilaku kasih sayang secara sungguh-sungguh. Dan jujur saja, butuh waktu yang cukup lama bagi Emma untuk dapat mengetahui bahwa Tarsa adalah tipe-tipe yang tsundere, karena wajah Tarsa terlihat cukup menakutkan.
Emma menganggukkan kepala nya kepada Tarsa sebagai jawaban dari ajakan Tarsa. Ketika melihat anggukan kepala dari Emma, Tarsa segera saja tersenyum secara diam-diam kemudian segera mengajak Emma menuju mobil nya.
Tapi ketika kedua orang itu sudah sampai di depan mobil Tarsa, Emma malah mendadak terhenti ketika Tarsa sudah hendak masuk ke dalam mobil di kursi kemudi.
"Ada apa? Mengapa kau malah diam saja? Ketikan jawaban mu dan biarkan aku melihat jawaban yang kau berikan," ucap Tarsa dengan raut wajah bingung akibat tingkah laku Emma yang sedikit aneh karena malah terhenti saat akan masuk ke dalam mobil.
Emma segera saja mengetikkan apa yang mau dia katakan kemudian memberikan handphone milik Tarsa. Oh ya, memang benar bahwa handphone yang Tarsa berikan pada Emma sedari tadi sama sekali tidak dikembalikan karena Tarsa menyuruh Emma untuk tidak perlu mengembalikan handphone tersebut supaya mempermudah komunikasi mereka berdua.
__ADS_1
...****************...