
"Hm? Ayolah Jun Hao, kau sudah dewasa tetapi kau menginginkan hak yang seharusnya didapat oleh anak-anak? Jun Hao, kau benar-benar," ucap Lin Lin sambil terkekeh pelan.
Xie Jun Hao yang mendengar itu menjadi lebih cemberut lagi. Tetapi karena tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bermanja-manja bersama dengan istrinya, Xie Jun Hao segera saja diam dan menatap Xie Yu Ra dengan tatapan yang iri.
Xie Yu Ra lagi-lagi tertawa melihat ayah nya yang seperti itu. Dalam lubuk hati nya yang paling dalam, Xie Yu Ra berharap bahwa keluarga nya akan terus harmonis seperti ini sampai selama-lamanya.
Sayangnya Xie Yu Ra tidak mengetahui bahwa harapan nya tidak akan terkabul karena Lin Lin akan segera pergi dari sana. Lin Lin akan pergi dari dunia modern itu meninggalkan semua orang di dunia kuno.
Lin Lin sendiri tidak berniat untuk memberitahukan kabar bahwa dia akan segera meninggal kepada seluruh keluarganya, bahkan termasuk Xie Jun Hao.
Setidaknya tidak untuk sekarang. Karena Lin Lin tahu, jika Lin Lin memberitahu mereka sekarang, maka akan lebih sulit untuk melepas dirinya.
Lin Lin tidak ingin seluruh keluarga nya menjadi sedih ketika mendengar kabar bahwa dirinya akan meninggal secepat itu. Makanya Lin Lin berpura-pura bahwa dia akan baik-baik saja sampai dirinya benar-benar telah mencapai akhir hayat nya.
"Oh iya, ibu, apakah ibu tidak ingin makan? Aku akan pergi mencari pelayan untuk membawakan ibu makanan," ucap Xie Yu Ra dengan cepat pergi keluar dari kamar dan menghilang dari kamar itu.
Xie Jun Hao menghela nafas nya, setidaknya putri nya sedikit peka dengan keadaannya. Xie Jun Hao memang ingin menghabiskan waktu berdua dengan Lin Lin lebih banyak karena merasakan firasat yang buruk.
Andai saja jika Xie Jun Hao tahu bahwa firasat buruk nya memang akan benar terjadi, pastilah Xie Jun Hao akan mengurung dirinya dan Lin Lin bersama agar bisa menghabiskan waktu bersama.
Lin Lin tersenyum menatap Xie Jun Hao kemudian memejamkan matanya. Xie Jun Hao terus menatap Lin Lin bahkan seolah-olah saat ini Xie Jun Hao tidak berkedip karena takut jika ia berkedip maka Lin Lin akan menghilang dari hadapan nya.
Xie Jun Hao terus saja menatap Lin Lin sedangkan Lin Lin terus memejamkan matanya. Ada alasan mengapa Lin Lin bukannya membalas tatapan Xie Jun Hao dan malah memejamkan matanya dan tidak menatap Xie Jun Hao.
Alasan nya adalah karena Lin Lin tidak bisa menatap Xie Jun Hao. Lin Lin takut jika dia menatap sosok yang dia cintai, Lin Lin akan menjadi lemah kemudian menangis.
__ADS_1
Lin Lin tidak mau semua orang yang dia sayangi mengetahui fakta bahwa dia akan segera meninggal. Lin Lin tidak mau mereka semua bersedih dengan kepergian nya yang bahkan belum datang.
Makanya Lin Lin hanya terus memejamkan matanya tanpa peduli Xie Jun Hao terus menatap nya sampai tak berkedip.
"Lin Lin," panggil Xie Jun Hao dengan suara yang serak.
Lin Lin membalas dengan gumaman bertanya tanpa membuka mata nya sedikit pun karena dirinya memang tidak kuat untuk menatap Xie Jun Hao.
"Lin Lin, aku mempunyai firasat buruk. Aku takut," ucap Xie Jun Hao tiba-tiba saja langsung memeluk Lin Lin dengan erat.
Lin Lin menjadi terkejut. Mata Lin Lin kali ini terbuka lebar ketika dirinya mendapati bahwa pria yang dia cintai telah memeluk dirinya dengan sangat erat.
Lin Lin dengan pelan membalas pelukan Xie Jun Hao. Matanya berkaca-kaca layaknya awan yang mendung dan hujan seolah siap untuk turun dalam sekali perintah.
Lin Lin diam tak membalas perkataan dari Xie Jun Hao karena tahu bahwa Xie Jun Hao sebenarnya saat ini hanya ingin didengarkan bukan dibalas.
"Aku bermimpi kau meninggalkanku," ucap Xie Jun Hao lagi.
Kali ini Xie Jun Hao menunggu balasan dari Lin Lin. Sayangnya Lin Lin sendiri tidak membalas apapun karena air matanya telah jatuh dari kelopak matanya.
Lin Lin menangis dalam diam, berusaha sebaik mungkin agar tidak terisak. Xie Jun Hao terus saja memeluk Lin Lin merasa takut jika Lin Lin benar-benar pergi.
"Lin Lin, kau tahu seberapa takutnya aku di mimpi itu? Jadi jangan pergi, jangan pernah pergi tanpa izin ku. Apakah kau paham?" ucap Xie Jun Hao juga tak kuat menahan tangisnya.
Walaupun dirinya adalah seorang laki-laki dan juga adalah seorang ayah dari tiga anak, Xie Jun Hao tetap tidak bisa menahan dirinya untuk menangis karena rasa takut kehilangan.
__ADS_1
Menangis itu wajar, tidak ada satupun orang yang tidak pernah menangis. Laki-laki juga boleh menangis, bukan hanya perempuan saja.
Xie Jun Hao tahu bahwa menangis mungkin akan membuat dirinya terlihat lemah. Tetapi di hadapan orang yang dia cintai, Xie Jun Hao tidak keberatan kelihatan lemah agar Lin Lin tidak pergi dari dirinya.
Lin Lin hampir saja terisak jika dirinya tidak menahan diri. Lin Lin segera saja menghapus air mata yang menetes di pipi nya kemudian membuka mulut nya untuk berbicara.
"Jun Hao, pada akhirnya semua orang akan pergi. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan," ucap Lin Lin dengan suara yang serak.
Xie Jun Hao menggelengkan kepala nya dengan cepat, "Aku tidak peduli dengan itu Lin Lin. Kau yang paling tahu, aku tidak ingin berpisah dari mu."
Lin Lin menahan tangis nya sekuat mungkin agar tidak membuat Xie Jun Hao sadar bahwa ia sedang menangis.
"Jun Hao, kau harus tahu dan kau harus ingat bahwa, di setiap pertemuan pastilah ada yang namanya perpisahan. Itulah takdir, dia suka mempermainkan orang lain," ucap Lin Lin setelah mengucapkan itu menggigit bibir nya untuk menahan isakan tangis nya.
Xie Jun Hao lagi-lagi menggelengkan kepalanya, "Kalau begitu aku akan melawan takdir agar bisa bersama dengan mu selamanya."
Lin Lin sekali lagi meneteskan air matanya, "Takdir tidak bisa dilawan, Jun Hao. Aku dan kau, pada akhirnya tetap akan pergi. Entah itu aku yang pertama pergi, atau kau, yang pertama meninggalkan ku."
Lin Lin kali ini merasa sangat bersalah karena telah mengucapkan hal tersebut. Padahal dirinya sudah tahu bahwa sudah jelas bahwa dialah yang akan pergi lebih dahulu daripada Xie Jun Hao.
Tetapi Lin Lin masih bisa berkata seperti itu hanya untuk menenangkan Xie Jun Hao.
...****************...
Jadi pengen buat sad end deh WKWKWK.
__ADS_1