
Didalam kamar, Gladis menangis sejadi - jadinya. Meratapi, nasib yang kurang beruntung.
"Tuhan.. Kenapa kau tidak adil kepadaku, apa salahku? Kenapa kau tidak menikahkan ku dengan kekasihku saja hiks.. hiks.. Kenapa harus dengan pria kejam ini." kata Gladis. Ia, meratapi nasibnya.
"Dia bahkan sangat kejam, dia mengurungku dirumah saja. Dan, dia menjadikanku hanya mesin pembuat anak. Kau, pasti sudah dengarkan. Apa, yang dia katakan saat didalam mobil tadi. Kau, tidak boleh dekat dengan pria itu. Sebelum kalau melahirkan bayiku, hiks.. Dia, sangat kejam. Dia berpikir, pernikahan itu hanya sebuah lelucon saja." kata Gladis, sambil menirukan suara pria itu.
Gladis, mengusap air matanya. Lalu, berjalan kedalam kamar mandi. Ia, akan membasuh wajahnya.
Ternyata, dibalik pintu. Sudah, ada Kenny yang mendengar keluh - kesah Gladis. Ia, tersenyum tipis saat mendengar wanita itu menirukan suaranya.
Kenny, masuk kedalam kamar. Dia, tidak mendapati keberadaan Gladis. Samar - samar ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Ia, duduk selonjoran diatas kasur.
Tak lama, keluar lah Gladis dengan bermata sembab. Kenny, yang melihat itu hanya diam saja. Hatinya, ikut sakit saat mendengar tangisan pilu wanita ini.
"Ada apa ini? Kenapa aku tidak suka mendengar dia menangis. Rasanya, aku tidak ingin dia tersakiti bahkan mengeluarkan air mata." gumam Kenny, didalam hati. Ia, menatap dalam mata Gladis.
__ADS_1
"Tuan, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa, ada yang aneh diwajahku?." tanya Gladis, ia buru - buru bercermin.
"Tidak, kenapa matamu sembab seperti itu? Apa, kau habis menangis?." tanya Kenny balik. Ia, seolah tidak tau apa - apa.
"Ah, anu tuan. Tidak, aku tidak menangis. Aku, tadi kelilipan tuan. Makanya, aku ke kamar mandi membasuh wajahku." jawab Gladis, dengan gugup. Kenny, hanya mengangguk paham. Seolah, mempercayai ucapan Gladis.
"Kemari.!" titah Kenny, sambil menepuk kasur disamping nya. Gladis, hanya menurut saja. Kenny, langsung menyenderkan kepalanya dipaha Gladis.
Deg..
"T-tuan, kenapa tidur disini? Kau, bisa tidur dibantal yang lebih empuk ini." pinta Gladis, ia mencoba menutupi kegugupannya.
"Aku hanya ingin tidur disini, biarkan aku seperti ini Glad. Ini, sungguh sangat nyaman." ucap Kenny, sambil memejamkan matanya. Ia, berbalik memeluk perut Gladis. Menyembunyikan wajahnya diperut Gladis.
Gladis, hanya bisa pasrah. Ia, mengusap - usap sayang kepala Kenny. Rasanya, ia juga sangat nyaman posisi seperti ini.
__ADS_1
"Andai, kau lembut seperti ini. Mungkin, aku sudah jatuh cinta kepadamu. Tapi, kenapa saat mata kita bertemu. Jantungku, seolah lari marathon. Aku, sama sekali tidak mengerti akan hal itu." gumam Gladis, sambil tersenyum.
Setelah dirasa Kenny sudah cukup terlelap, Gladis mengangkat kepalanya. Meletakkan nya diatas bantal. Ia, pun ikut berbaring disampingnya. Dan, memeluk erat tubuh Kenny.
"Rayn, maafkan aku. Aku, harap kau memaafkanku setelah kau mengetahui kenyataan ini. Jujur, aku sangat tidak ada niat untuk mengkhianati cintamu. Aku, harap. Setelah, urusanku disini selesai kau mau menerimaku kembali. Tapi, jika tidak. Tidak, masalah juga. Karena, hanya ada sedikit peluang untuk kau kembali lagi bersamaku. Tidak, mungkin kan kau mau menerimaku dengan bersih dengan status janda. Aku, akan menata hidupku kembali." gumam Gladis, kemudian ia memejamkan matanya.
.
.
.
Bersambung.
Hai - hai, jangan lupa komenan semangatnya ya. Dan, vote nya. Terimakasih :')
__ADS_1