Menikahi Pria Kejam

Menikahi Pria Kejam
Kau harus cemburu!


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Pagi harinya, Gladis, terbangun karena merasakan perutnya seperti di aduk - aduk. Ia, pun dengan segera berlari kecil menuju kamar mandi.


"Huek.. Huek.. " Gladis, mengeluarkan segala isi makanan yang terisi didalam perutnya.


Kenny, yang mendengar itu buru - buru memencet bel agar terhubung dengan pelayan. Lalu, meminta pelayan untuk membuatkan teh jahe. Kemudian, ia masuk kedalam kamar mandi. Dan, membantu Gladis dengan memijat tengkuknya.


Setelah dirasa sudah cukup tidak mual, Gladis, mencuci mulutnya. Dan, bersandar diwestafel.


"Sayang, Kamu kenapa? Wajahmu juga sangat pucat. Apa, kau sakit?." tanya Kenny, ia memapah Gladis duduk dipinggir kasur.


"Tidak tau sayang, sepertinya aku masuk angin. Mungkin, karena makan buah nenas semalam." kata Gladis.


Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Kenny, berjalan membukakan pintu. Dan, mengambil teh jahe yang diperintahkannya tadi.


"Ayo, diminum dulu sayang. Biar, perut Kamu enakan." seru Kenny, ia membantu Gladis untuk minum. Gladis, mengangguk dan mulai meminumnya.


"Tadi kau bilang apa, buah nenas? Kapan kau memakannya?." tanya Kenny, ia memang tidak mengetahui apa - apa.


"Kan aku bilang semalam sayang, gimana sih." ujar Gladis, agak cemberut. Akhir - akhir ini Gladis gampang sekali untuk marah. Ia, sendiri juga tidak tau mengapa sampai seperti itu.


"Iya sayang, aku paham. Maksud aku, kapan waktunya? Soalnya, semalam kita kan bersama terus." kata Kenny.


"Kamu duduk selonjoran yank, aku mau tidur dipaha Kamu." pinta Gladis. Kenny, mengerutkan kening heran. Mengapa, tiba - tiba Gladis bersikap manja seperti ini. Tidak, biasanya. Namun, ia tetap menurut saja. Setelah Gladis, mendapat posisi yang nyaman. Dia, melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Iya, malamnya saja kita yang bersama terus sayang. Siangnya, aku kan dikampus. Semalam, sewaktu pulang dari kampus. Aku, liat ada yang jualan buah dipinggir jalan. Yaudah, aku jadi kepingin makan nenas. Aku, beli dong." kata Gladis, santai.


"Apa?!! Kau, makan buah nenas dipinggir jalan? Astaga.. Itu, tidak baik untuk kesehatanmu sayang." ujar Kenny.


"Sok tau, dulu aku sangat sering makan - makanan dipinggir jalan. Tapi, sampai sekarang aku baik - baik saja. Dan, sehat wala'fiat." ucap Gladis, dengan senyum bangganya.


"Baiklah, lain kali jangan diulangi. Jika, kau menginginkannya. Kataka saja padaku. Aku, aku membelikanmu seluruh buah nenas. Bahkan, kebun - kebunnya sekalian." ucap Kenny, dengan angkuhnya.


"Cih.. Sombong amat..! Eh, asal Kamu tau ya. Kalau, kepinginnya saat itu juga. Bagaimana? Harus, aku nunggu Kamu pulang dari kantor dulu? Baru, aku makan - makanan yang aku inginkan?." tanya Gladis.


"Iya, memang harus seperti itu." jawab Kenny.


"Aku sudah tidak berminat lagi kalau begitu, terlalu lama menunggu yang tidak pasti hehe." ucap Gladis, sambil cengengesan.


"Aku, akan bisa menyuruh Zoe untuk mengantar makanan keinginanmu secepat mungkin." ujar Kenny.


"Cih.. Kau suka sekali memerintah sekretaris Zoe. Lagi pula, disini siapa suamiku. Sekeretaris Zoe, apa Kamu?" ucap Gladis, dengan kesal.


"Karena, kasian sekretaris Zoe sampai sekarang dia belum memiliki kekasih sayang. Dia, juga pasti ingin memiliki kekasih. Dan, membina rumah tangga. Tapi, kau selalu saja memberikan dia tugas yang berat." ujar Gladis.


"Itu urusan dia, kenapa dia tidak bisa membagikan waktu. Antara bekerja dengan mencari pacar." kata Kenny, tak mau kalah.


"Ah, dasar keras kepala. Suka bertindak sesuka hati saja." gumam Gladis, pela.


"Aku akan membawamu ke dokter mulut nanti." ujar Kenny.


"Dokter mulut? Untuk apa? Aku, sedang tidak sakit mulut." kata Gladis, ia mengerutkan kening heran.


"Ya, untuk memeriksa mulutmu lah. Siapa tau, makanan yang kau makan itu beracun. Dan, tidak higenis." ucap Kenny.

__ADS_1


"Kalau makanan itu beracun, aku sudah mati dari semalam. Kau, mendo'akan ku yang tidak baik." ucap Gladis.


"Kau ini berkata apa? Jangan, berbicara seperti itu lagi. Aku, tidak suka." ucap Kenny, sedikit meninggikan suaranya. Entah, mengapa ia tidak menyukai Gladis, mengatakan dirinya mati. Kalau, itu sampai terjadi. Mungkin, Kenny akan menjadi gila.


"Sayang, aku hanya berkata seadanya. Kenapa kau jadi marah." kata Gladis, ia menyembunyikan wajahnya diperut suaminya.


"Jangan diulangi, aku tidak suka kau mengatakan itu sayang." ujar Kenny, ia membelai sayang rambut Gladis. Gladis, menganggukkan kepalanya.


"Iya, yaudah kalau gitu. Kamu, mandi sana. Aku, akan memasak dulu." ucap Gladis.


"Nanti saja, aku masih ingin bersamamu." ucap Kenny. Gladis, hanya bisa pasrah.


"Sayang, apa kekasihmu pergi lagi keluar kota?." tanya Gladis, sedikit ragu - ragu.


"Mungkin." jawab Kenny singkat, entah mengapa ia terlalu malas untuk membahas tentang Shella. "Memangnya kenapa?." tanya Kenny.


"Tidak apa - apa, hanya bertanya saja." jawab Gladis.


"Apa kau cemburu?." goda Kenny. Mendapat, pertanyaan seperti itu. Membuat Gladis menjadi gelagapan mau menjawab apa. Nyatanya, dia memang cemburu. Tetapi, dia ingat siapa dirinya. Siapa dia, berani - berani cemburu terhadap Shella, kekasih tercinta dari suaminya.


"T-tidak, untuk apa aku cemburu." jawab Gladis, gugup. Kenny, yang mendengar itu. Hatinya teriris, ia berharap Gladis cemburu terhadap Shella. Tetapi, ternyata tidak. Kenny, berfikir bahwa Gladis masih mencintai mantan kekasihnya itu.


"Kau, harus cemburu. Ah, sudah lah. Aku, akan mandi dulu." kata Kenny, ia pun beranjak masuk kedalam kamar mandi.


Gladis, mengerutkan kening heran dengan sikap aneh Kenny. Mengapa, ia mengatakan bahwa Gladis harus cemburu. Namun, ia tidak ingin ambil pusing. Ia, menyiapkan pakaian kantor Kenny. Setelah, itu berjalan kedapur.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2