
Malam harinya.
Kenny sudah memasuki kediamannya, ia masuk kedalam kamar. Mencari keberadaan istrinya. Ternyata, istrinya sedang berdiri memandangi langit dari balkon kamar. Kenny berjalan mendekat, lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang, kenapa kau masih diluar? Ini sudah larut malam, maaf karena aku terlambat pulang." ucap Kenny, ia menempelkan hidungnya diceruk leher Gladis.
"Malam ini, bintangnya sangat indah. Aku ingin memandangnya, sambil menunggumu pulang." sahut Gladis, sambil kembali memandangi bintang.
"Yasudah, sekarang aku sudah pulang! Ayo, masuk dan istirahat. Nanti Kamu bisa masuk angin." ucap Kenny, sambil mengelusi perut Gladis yang sudah terlihat buncit. Gladis, mengangguk. Lalu, mereka masuk kedalam kamar.
"Istirahat lah sayang, aku akan membersihkan diriku dulu." ucap Kenny, ia mengecup kening Gladis.
"Iya, baiklah. Sayang, apa besok kau masih sibuk dan pulang malam begini?" kata Gladis, Kenny tersenyum lalu ingin masuk kedalam kamar mandi. Tetapi, ia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke istrinya.
"Kenapa sayang? Apa kau ingin aku menemanimu jalan - jalan?." tanya Kenny, sambil tersenyum.
"Iya, tapi aku juga ingin kau menemaniku check in kandungan. Sekalian, aku ingin melihat perkembangan bayi kita dengan USG. Sekalian kita lihat, anak kita perempuan apa laki - laki." kata Gladis, dengan mata berbinar.
"Baiklah sayang, aku akan menemanimu besok kemana pun kau mau. Sekarang beristirahat lah!." titah Kenny, Gladis mengangguk sambil tersenyum. Lalu, Kenny masuk kedalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Kenny keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan baju piyamanya. Dilihatnya Gladis sudah terlelap dengan begitu sexy. Semenjak perut Gladis terlihat membuncit, Gladis tampak lebih menggoda menurut Kenny.
Kenny naik keatas kasur, lalu ia menatap wajah polos istrinya. Lalu, beralih menatap bibir yang berwarna merah muda itu. Ia, menelan salivanya dengan kasar. Rasanya, sudah lama ia tidak merasakan bibir ini.
Karena semenjak Gladis mengandung, dia menahan hasratnya. Menunggu sampai perut Gladis sudah terlihat membuncit, karena jika tidak itu bisa membahayakan calon bayi mereka. Dokter mengatakan, mereka boleh berhubungan suami - istri. Tetapi, lebih baik jangan dulu. Sebelum janin yang didalam kandungannya benar - benar kuat.
Maka dari itu, Kenny lebih memilih untuk tidak berhubungan suami - istri. Dari pada, harus mengambil resiko.
Kenny mulai mengecup bibir itu, menciumnya dengan sangat lembut. Perlahan Gladis, membuka matanya. Dilihatnya suaminya sudah berada diatas tubuhnya.
"Sayang.. Kau sedang apa?." tanya Gladis, menatap suaminya yang sudah dipenuhi gairah.
"Kau sangat mempesona sayang, apa aku boleh melakukannya?." tanya Kenny, dengan nafas memburu. Gladis, tersenyum lalu mengangguk.
Kenny langsung memulai aksinya, bermain begitu lembut. Hingga, setelah bergulat hanya sebentar. Karena, Kenny takut akan menyakiti Gladis dan calon buah hati mereka. Mereka, terlelap dalam posisi saling memeluk.
***
Zoe baru saja memasuki apartement, dilihatnya Jenita sedang bermain ponselnya diatas kasur.
"Sayang, kau belum tidur?." tanya Zoe, berjalan mendekati Jen. Jenita, langsung beranjak dari kasir. Lalu, membantu suaminya melepaskan dasi.
__ADS_1
"Belum tuan, aku menunggumu pulang. Apa pekerjaanmu sudah selesai?." tanya Jen, sambil melepaskan dasi Zoe.
"Maaf ya sayang, hari ini aku sampai malam. Karena, memang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Tapi, sekarang sudah selesai. Dan, besok aku akan pulang sore." kata Zoe, ia mengecup bibir Jen sekilas. Pipi Jen, sudah memerah bak kepiting rebus.
"Kamu sudah makan?." tanya Jen, sambil menatap bola mata suaminya.
"Makan nasi sudah sayang, hanya saja... Memakanmu yang belum." kata Zoe, menyeringai nakal.
"Kamu tuh, nggak ada puas - puasnya. Mandi sana! Kamu bauk." kata Jen, ia kembali ke kasur dengan wajah tersipu malu. Zoe, menahan tawa nya. Lalu, masuk kedalam kamar mandi.
Saat Jen, ingin memejamkan matanya. Ada sebuah notifikasi masuk kedalam ponselnya. Ternyata, dia adalah Tomi orang kepercayaan serta sahabat Jen saat didunia balap.
"Jen, ntar malam jam 12.00 wib ada yang ajakin lo balapan. Hadiahnya, lumayan gede man!." pesan dari Tomi.
"Emang apaan hadiahnya?." tanya Jen, mulai penasaran. Rasanya, ia memang sudah sangat lama tidak ikut balapan lagi.
"Hadiahnya sih cuma, kalau lo menang motor dia buat lo. Serta uang 50 juta, lumayan juga tuh." balas Tomi.
"Lumayan sih, cuma apa Zoe ngizinin gue buat pergi? Apalagi untuk balapan. Ah nggak - nggak, mana mungkin dikasihnya. Dia, aja posesive nya minta ampun. Ke kedai depan aja nggak boleh, kalau nggak sama dia. Duh, gimana caranya ya." gumam Jen, sambil berfikir.
"Woi gimana, ikut ngga?." tanya Tomi lagi.
"Ah iya Tom, gue ikut. Nanti 23.30 wib, gue otw." balas Jen, ia langsung menonaktifkan ponselnya. Ia, memikirkan bagaimana cara agar dia bisa keluar dari apartement ini.
"Mungkin dengan cara ini, aku akan bisa keluar dari apartement. Hari ini, dia pasti begitu lelah karena disibukkan dengan pekerjaan kantor. Aku, akan membuatnya lelah dan tertidur." gumam Jen, didalam hati.
"Sudah ngeliatinnya?." tanya Zoe, sambil tersenyum. Jen, menjadi salah tingkah mendapat pertanyaan seperti itu.
"Tuhan, bantu aku dalam menjalankan aksiku. Semoga aku berhasil, biarlah dia menganggapku seperti wanita penggoda. Toh, dia juga suamiku. Tidak ada salahnya kan?." tanya Jen, didalam hati. Ia, beranjak dari kasur. Lalu, mendekati Zoe.
"Kau sangat sexy sayang, aku menginginkanmu." ucap Jen, mulai mencium bibir Zoe. Zoe, menjadi bingung dengan tingkah Jen. Yang biasanya menunggu Zoe beraksi duluan. Tetapi, sekarang malah dia yang beraksi. Zoe tidak ambil pusing, dia menggunakan kesempatan ini untuk mengusai Jen.
Perlahan Jen, melepaskan handuk yang melilit dipinggang suaminya. Zoe, tidak kalah liar. Dia langsung menggendong Jen keatas ranjang. Lalu, menghimpit tubuh istrinya.
Dan malam ini mereka melakukan kewajiban mereka kembali, layaknya pasangan suami istri. Mereka bermain cukup lama, dan Zoe menghempaskan tubuhnya disamping Jen. Ia, mengusap perut datar Jen.
"Semoga benihku, cepat tumbuh dirahimmu." ucap Zoe, ia langsung memejamkan matanya. Sambil memeluk tubuh Jen.
Tidak bisa dipungkiri, Jen juga sangat kelelahan untuk mengimbangi suaminya. Setelah dirasa suaminya sudah cukup tertidur pulas, ia beranjak menuju kamar mandi. Dan memakai setelan kaos dipadukan dengan jaket kulit. Lalu, celana jeans yang sobek - sobek. Serta memakai sepatu kets berwarna putih. Ia, menyambar kunci motornya.
"Aku pergi dulu sayang, maafkan aku tidak izin kepadamu. Aku, berjanji kali ini adalah terakhirku balapan." ucap Jen, ia mengecup kening Zoe. Lalu, berjalan keluar apartement.
__ADS_1
***
Jen baru saja sampai diarea balapan, dilihatnya Tomi sedang tersenyum kepadanya. Ia, pun dengan segera menghampiri Tomi.
"Mana lawan gue?." tanya Jen, sambil menatap Tomi.
"Dia belum datang, mungkin sebentar lagi. Mending lu latihan dulu, udah lama juga lu nggak ikut balapan. Dan, hilang tanpa kabar. Kemana aja sih lu?." tanya Tomi.
"Ada urusan gue, biasa orang sibuk. Udah ah gue latihan dulu." ucap Jen, sambil menepuk pundak Tomi pelan. Lalu, berjalan kearah motornya kembali.
Beberapa menit kemudian, lawan balap Jen sudah tiba. Dan, mereka pun memulai balapnya. Tak butuh waktu lama, Jen sudah duluan sampai kegaris finish. Semua orang bertepuk tangan, melihat kepandaian serta kelincahan Jen. Mereka sudah beranggapan, bahwa pemenang ini adalah Jen. Si Queen Racing.
"Wah selamat, ternyata lo hebat juga. Nih, sesuai kesepakatan." ucap seorang pria.
"Thanks ya, lo juga hebat kok. Mungkin nasib baik, lagi berpihak ke gue." ucap Jen, sedikit merendah.
"Haha... Bisa aja lu, siapa nama lu?." tanya pria itu, sambil menyodorkan tangannya.
"Ah Jenita, lo sendiri?." tanya Jen.
"Gue Alex, apa boleh kita menjadi teman Jen?." tanya Alex.
"Tentu Lex, dengan senang hati." sahut Jen, tersenyum ramah.
"Boleh gue minta no telpon lo?." tanya Alex, sambil menyodorkan ponselnya. Sebenarnya Jen, tidak ingin memberikan nya. Karena, status nya juga sudah menjadi istri Zoe Sebastian. Namun, ia tidak enak hati jika harus menolak.
"Oh iya, Tentu Lex." ucap Jen, ia langsung menuliskan no nya diponsel Alex.
"Thanks." ucap Alex, sambil tersenyum. Jen, mengangguk sambil membalas senyumnya.
"Gue duluan ya." kata Jen, ia berjalan mendekat kearah Tomi. Alex, mengangguk dengan senyum penuh arti.
"Tom, gue duluan. Lo urusin tu motor, letak ditempat biasa aja." ucap Jen, Tomi mengangguk. Lalu, Jen menjalankan motornya menuju apartment.
"Sangat menarik." gumam Alex, senyum penuh arti.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...