Menikahi Pria Kejam

Menikahi Pria Kejam
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Sesampainya dibandara, Kenny turun dengan menggandeng tangan Gladis. Gladis, hanya diam dan menurut saja.


"Tuan, itu tuan besar dan nyonya besar." ujar Zoe, sambil menunjuk kearah orang tua bosnya. Kenny dan Gladis mengikuti arah tangan Zoe. Dilihatnya, Mama dan Papa nya dengan tersenyum kearah mereka.


Mereka langsung menghampiri wanita dan pria paruh baya itu. Kenny, langsung memeluk Mamanya dan beralih kepada Papanya.


"Kenny, sangat merindukan kalian Ma, Pa." ucap Kenny.


"Iya sayang, kami juga sangat merindukanmu. Maafkan, kami baru bisa pulang sekarang nak. Bahkan, dihari pernikahanmu saja. Kami, tidak datang." ujar Mama.


"Tidak apa - apa ma, Kenny hanya butuh restu Mama dan Papa saja." kata Kenny.


"Tante dan Om apa kabar?." tanya Zoe, Zoe memang sudah sangat mengenal keluarga Kenny. Bahkan, dia sudah dianggap seperti putra sulung mereka.


"Seperti yang Kamu lihat sayang, Tante dan Om dalam keadaan sehat - sehat saja. Bagaimana, denganmu? Apa, Kenny masih saja memberimu tugas yang sulit?." tanya Mama, ia memeluk Zoe.


"Aku kurang sehat tan, karena putra bungsumu ini selalu menyiksaku dengan pekerjaannya. Tetapi, tidak apa - apa. Itu, adalah bukti bahwa aku menyayangi Kenny. Aku, sudah menganggapnya seperti adikku sendiri tan." ucap Zoe, ia membalas pelukan Mama. Mama, hanya membalas dengan senyuman saja. Kemudian, Zoe beralih memeluk ayah Kenny.


"Sepertinya Om, awet muda disana. Om, semakin tua semakin tampan saja." gurau Zoe.


"Ah, Kamu bisa saja Zoe. Sudah tua begini masih saja dibilang tampan." ujar Papa, sambil menepuk - nepuk pundak Zoe.


"Hallo Tan, Om. Saya Gladis." ucap Gladis, sambil menyalim kedua mertuanya itu.


"Hallo sayang, jadi Kamu istri putra kami? Wah, wah Kamu sangat cantik ya. Persis seperti Mama waktu muda dulu." tutur Mama, ia langsung memeluk Gladis. Gladis, menitikkan air mata bahagia. Rasanya, ia sudah lama tidak pernah ada kasih sayang dari seorang ibu.

__ADS_1


"Sayang, kenapa Kamu menangis? Apa, Kenny menyakitimu? Jika, iya Mama akan menguburnya hidup - hidup. Karena, telah membuat putri cantik Mama mengeluarkan air mata.


"Hiks.. Gladis, merindukan sosok ibu tan. Mama, Gladis sudah lama meninggal. Rasanya, Gladis sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu hiks.. hiks.. " ucap Gladis, ia semakin terisak. Saat, mengingat kebersamaannya bersama ibu nya sewaktu hidup.


"Baiklah, jangan menangis lagi sayang. Jangan memanggilku dengan sebutan Tante, karena aku sekarang sudah menjadi ibumu. Panggil aku Mama, dan dia Papa. Kamu, jangan bersedih lagi. Sudah ada Mama yang akan menggantikan sosok ibumu." ujar Mama, ia kembali memeluk Gladis. Membuat nya lebih tenang. Gladis, mengangguk patuh.


"Baiklah, ayo kita pulang. Papa, sudah sangat lelah." ujar Papa.


*****


Sesampainya dirumah, Mama dan Papa sudah masuk kedalam kamar. Untuk, beristirahat. Sedangkan, Gladis ia juga masuk kedalam kamar. Dan, diikuti dengan Kenny.


Kenny, masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Gladis ia berdiri dibalkon kamar. Ia, teringat kembali saat bersama ibunya dahulu.


"Mah, kau lihat. Aku, sekarang sudah memiliki ibu lagi. Yang, akan menyayangiku seperi dirimu. Aku, sangat menyayangimu mah. Semoga, kau tenang dialam sana." gumam Gladis.


"Tidak ada tuan, aku hanya teringat ibuku. Aku, sangat merindukan sosok ibuku." kata Gladis.


"Kau jangan bersedih lagi, karena kami semua ada untukmu. Terutama, aku." kata Kenny.


"Baiklah tuan, terimakasih." kata Gladis, ia membalikkan badannya. Lalu, memeluk tubuh Kenny. Gladis, tersadar akan tindakannya.


"Ah, maaf tuan. Aku, tidak sengaja. Aku, reflek." ucap Gladis, menundukkan kepalanya. Takut, jika pria ini akan membentaknya.


"Tidak apa - apa, mulai sekarang jangan memanggilku tuan lagi, panggil aku dengan sebutan sayang. Sekarang, ayo kita istirahat." ucap Kenny, ia menarik tangan Gladis masuk kembali kedalam kamar.

__ADS_1


"Sayang? Tapi, kenapa tuan?." tanya Gladis, sambil menatap Kenny penuh tanya.


"Turuti saja ucapanku." kata Kenny, dengan nada membentak. Gladis, hanya bisa mengikutinya saja.


"Iya, baiklah sayang. Eh, tapi bagaimana jika kekasihmu mendengar panggilan ini?." tanya Gladis, kini posisi mereka sudah berbaring diatas kasur.


"Aku akan memikirkan itu nanti, ayo kita tidur. Aku, sudah sangat lelah." ujar Kenny, ia langsung memeluk tubuh Gladis. Rasanya, ia tidak memikirkan bagaimana respon Shella ketika mengetahui statusnya. Kenny, akan segera mengakhiri hubungan mereka. Tetapi, ia menunggu waktu yang tepat saja. Gladis, membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.


Nyaman?


Sangat nyaman, andai saja ini akan menjadi selamanya. Bukan, hanya sementara yang akan dirasakan Gladis. Mungkin, Gladis akan menjadi wanita yang paling bahagia didunia ini. Tetapi, itu hanya bayangan belaka saja. Ketika, ia melahirkan keturunan untuk keluarga ini. Maka, Gladis akan ditendang dari rumah ini. Meninggalkan segala kenangan indah bersama Kenny dan yang lainnya.


Rasanya, Gladis ingin memperlambat waktu. Agar, dia bisa lebih lama untuk tinggal disini.


.


.


.


Bersambung..


Ayo dong, kasiin votenya. Karya ini ikut contest loh. Kasih kritik dan sarannya dong, supaya author dapat merangkum yang lebih seru lagi.


Terimakasih yang sudah mendukung novel ini.

__ADS_1


Lopyuhhh all😘😍❀😘😘😘


__ADS_2