
Jam menunjukkan pukul 02.23 wib, dini hari. Tiba - tiba Gladis terbangun karena merasa ingin memakan sesuatu. Dilihatnya suaminya sedang tidur dengan pulasnya. Sebenarnya, dia tidak tega untuk membangunkan suaminya.
"Sayang... " ucap Gladis, sambil menggoyangkan tubuh Kenny. Namun, Kenny tidak bergeming sama sekali.
"Sayang.. Bangun ih, baby nya laper." rengek Gladis. Dengan, berat hati. Kenny membuka matanya.
"Apa sayang? Aku ngantuk banget ini." sahut Kenny, menutup matanya kembali.
"Baby nya mau lahir." kata Gladis, dengan kesal. Kenny, yang mendengar Itu. Kaget, dan langsung berdiri dari tidurnya.
"Apa?!! Astaga.. Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Mana, ponselku, aku akan segera menelpon Zoe." kata Kenny, dengan panik. Sambil, mencari ponselnya.
"Sayang, aku hanya bercanda. Perutku saja belum besar sekali, mana mungkin aku ingin melahirkan." kata Gladis, tanpa rasa bersalah.
"Ya ampun.. Kau membuatku takut saja sayang. Kenapa kau bangun tengah malam begini?." tanya Kenny, sambil mendekati Gladis.
"Baby nya minta makan, aku pengen makan nasi goreng." kata Gladis, dengan wajah menggemaskan.
"Astagaa.. Bukannya tadi Kamu sudah makan - makanan yang banyak sekali. Baksi, martabak, nasi goreng. Sekarang sudah lapar lagi?." tanya Kenny, tidak percaya. Baru beberapa jam yang lalu, Gladis melahap semua makanan yang dibelikan nya. Sekarang sudah lapar lagi.
"Mana aku tau, ini kan juga kemauan anakmu. Memangnya sebelum aku hamil, aku pernah membangunkanmu tengah malam begini?." tanya Gladis, ia menjadi kesal dengan suaminya.
"Tapi sayang, ini sudah jam 02.27 wib. Mana, ada restaurant yang masih buka jam segini." kata Kenny, ia memijat pelipisnya.
"Aku tidak ingin makanan dari restaurant, aku ingin kau memasakkannya untukku sendiri." kata Gladis, ia berjalan keluar kamar.
"Hah?!! Aku? Aku bahkan tidak pernah masuk kedapur. Apalagi, memasak nasi goreng. Astaga... Ada - ada saja permintaan babyku." ucapnya sambil tersenyum, membayangkan anaknya dalam gendongannya.
"Baiklah, tidak masalah. Mungkin inilah yang dinamakan ngidam? Harus bangun ditengah malam begini, untuk memenuhi keinginan baby." gumam Kenny, ia pun mengejar istrinya yang sudah berlalu ke dapur.
***
"Sayang, aku tidak pandai memasak. Bagaimana caraku memasak nasi goreng untukmu? Atau aku akan memanggilkan bibi saja." seru Kenny, dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Tidak! Harus kau yang memasaknya. Ini permintaan anakmu, dia yang ingin kau memasakkan nasi goreng untuknya. Jika kau tidak mau, tidak masalah. Aku akan menelpon Rayn, minta tolong kepadanya untuk membuatkanku nasi goreng. Karena, dia memang sangat ahli memasak nasi goreng." kata Gladis, sambil tersenyum.
"Jangan sayang! Baiklah, aku akan memasakkanmu. Tapi, apa yang harus aku kerjakan dahulu sayang? Atau aku memakai jasa google saja?." tanya Kenny, ia berjalan menuju kompor.
"Tidak! Nanti kau bisa gosong memasaknya. Karena, sibuk membaca resep yang dari goggle. Aku, akan mengajarimu." kata Gladis. Kenny, merekahkan senyumannya.
"Pertama, ambil bawang merah." titah Gladis.
"Bawang merah yang mana sayang? Aku kan tidak tau." kata Kenny.
"Maka nya Kamu tuh belajar juga, jangan tau makannya saja. Ini, yang namanya bawang merah sayang." kata Gladis, sambil berjalan mengambilkan bawang.
"Kamu kupas dulu kulitnya, terus iris - iris. Setelah itu cabenya, juga di iris - iris. Lalu, Kamu goreng bawang dulu, baru cabenya. Setelah masak, Kamu masukkan kecap manis. Lalu, nasinya kacau hingga merata. Setelah itu masukkan bumbu nasi goreng. Selesai deh, Kamu pasti paham. Ingatan Kamu pasti kuat. Aku, mengantuk sayang. Kalau, sudah masak Kamu bangunkan aku ya." kata Gladis, tanpa rasa bersalah. Ia, berlalu menuju kamar.
"Telur nya jangan lupa diceplok saja sayang, letakkan saja diatasnya. Awas gosong!!." tambah Gladis, sedikit berteriak.
Sedangkan Kenny, melongo tidak percaya dengan istrinya. Ini, pengalaman pertamanya untuk memasak. Istrinya malah tidak membolehkannya melihat google, tetapi dengan ucapannya saja. Bagaimana, Kenny mau mengingatnya. Kenny, menghela nafas panjang. Dan, mulai mengerjakan apa yang dia ingat saja.
"Astaga... Sayang, kau hampir membuat kepalaku pecah. Karena, harus mati - matian mengingat semua ucapanmu." gumam Kenny, mengacak rambutnya frustasi.
***
Kenny masuk kedalam kamar, dilihatnya Gladis sedang tidur dengan nyenyaknya. Ada rasa tidak tega harus membangunkan istrinya. Tetapi, mau bagaimana lagi baby nya sedang lapar didalam.
"Sayang, ini nasi goreng yang Kamu minta." kata Kenny, ia menaruh nasi goreng diatas nakas. Lalu, membangunkan Gladis dengan lembut.
"Egh.. Sudah selesai sayang?." tanya Gladis, ia menatap suaminya yang sedang tersenyum. Kemudian, Kenny mengambilkan nasi gorengnya. Gladis menelan saliva nya dengan kasar, tergiur akan masakan suaminya.
"Hati - hati sayang, aku takut tidak enak." kata Kenny, memperingati istri nya saat melihat Gladis memakan nasi goreng begitu rakus.
"Ini enak sekali sayang, aku tau Kamu pasti bisa. Ini, tidak jauh dari masakan Rayn." jawab Gladis, disela - sela makannya.
Kenny, merasa tersinggung. Karena istrinya selalu membandingkan dirinya dengan mantan kekasihnya. Namun, ia tetap tersenyum. Agar, istrinya tidak curiga bahwa dia sedang menahan sakit hatinya.
__ADS_1
Wajar saja, jika Gladis masih mengingat mantan kekasihnya. Karena, mereka pacaran selama dua tahun. Bahkan, kekasih nya pun baik dan bersikap lembut kepada Gladis. Berbeda sekali dengan dirinya, yang suka membentak dan memarahi Gladis hingga menangis. Tetapi, itu dulu. Sekarang dia sudah bersikap lembut kepada Gladis. Bukan karena bayi yang dikandung Gladis, melainkan ia memang sudah benar - benar jatuh cinta kepada Gladis.
Setelah selesai makan, dan meminum susu ibu hamil. Gladis, ingin menaruhnya kedapur. Namun, Kenny menghentikan gerakannya.
"Kenapa sayang?." tanya Gladis, sambil mengerutkan kening bingung.
"Kau tetap disini saja sayang, biarkan aku yang mengantar piring kotor ini." sahut Kenny, sambil mengambil alih nampan tersebut.
"Makasih sayang, jangan lama ya. Aku, akan menunggumu disini." kata Gladis, sambil tersenyum. Kenny, mengangguk. Lalu, melenggang keluar kamar.
Tak beberapa lama, Kenny pun kembali. Gladis tersenyum melihatnya. Kenny, duduk disamping Gladis. Gladis, langsung menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.
"Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud membandingkanmu dengan Rayn." kata Gladis, ia sebenarnya peka dengan raut wajah Kenny yang tersenyum paksa.
"Tidak apa - apa sayang, aku baik - baik saja sayang. Wajar saja jika Kamu masih mengingatnya. Dia pria yang baik, maaf karena telah memisahkanmu dengan dirinya. Mulai sekarang aku tidak akan melarangmu lagi, jika kau ingin dekat dengan Rayn." kata Kenny, sambil menatap langit - langit kamar.
Ia sebenarnya tidak rela jika harus kehilangan Gladis. Namun, cinta memang butuh pengorbanan bukan. Biarlah, orang yang dia cintai dengan pria lain. Asalkan mereka hidup bahagia. Gladis, bahagia saja. Kenny akan turut bahagia.
"Sayang, aku tidak mengingatnya lagi setelah kau bersamaku. Aku tidak akan pergi dari sisimu sampai kapan pun. Kecuali, jika kau memintanya. Dengan, berat hati aku akan menurutinya." kata Gladis, ia terisak sambil membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.
Ia teringat kembali akan perpisahannya bersama suaminya, setelah bayi ini lahir. Kenny, yang mendengar isakan Gladis. Langsung mendekapnya dengan erat.
"Jangan mengatakan itu sayang, aku tidak akan pernah memintamu untuk pergi dari hidupku. Aku, sangat - sangat mencintaimu." kata Kenny.
"Sekarang ayo tidur! Jangan memikirkan hal yang tidak - tidak. Kita akan selalu bersama hingga maut memisahkan." imbuhnya lagi. Ia, membantu Gladis untuk membaringkan tubuhnya.
Gladis, langsung memeluk tubuh Kenny erat. Seolah takut, kehilangan. Kenny juga membalas pelukan itu. Sesekali ia menciumi kening Gladis. Mereka pun, terlelap dalam keadaan saling memeluk.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa vote nya hehe..