
Mereka masuk kedalam ruangan ibu panti, yang bernama Ny. Riana Sari. Beliau lah yang mengurus panti ini. Ia, wanita yang sangat ramah dan baik. Usianya sudah menginjak 51 tahun, tetapi tidak mengurangi kecantikannya.
"Hai ibu, Jen sangat merindukan ibu." kata Jenita, ia langsung memeluk wanita paruh baya itu dari belakang. Hingga, membuat wanita paruh baya itu sedikit kaget.
"Astaga... Jen, Kamu kebiasaan banget! Bagaimana jika ibu jantungan." kata Ny. Riana, membalikkan badannya. Lalu, menatap wanita yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Maafkan Jen ibu, Jen tidak bermaksud ingin mengangetkan ibu." kata Jenita, sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa - apa sayang, ibu juga sangat merindukanmu. Kenapa kau jadi jarang sekali menemui ibu disini? Apa kau sudah menemukan ibu penggantiku?." tanya Ny. Riana, sedikit terkekeh.
"Ehm.. Tidak ada yang bisa menggantikan ibu dihatiku. Ibu adalah pahlawanku, aku sangat menyayangi ibu. Jadi, kumohon jangan pernah mengatakan hal itu lagi." pinta Jen, langsung memeluk Ny. Riana.
"Haha... Iya sayang, ibu hanya bercanda. Ibu juga sangat menyayangimu. Eh, siapa pria yang kau bawa ini nak?." tanya Ny. Riana, sambil melepaskan pelukannya. Lalu, menatap Zoe dengan tersenyum ramah.
"Ayo kita duduk dulu, kenapa kita hanya berdiri saja! Ayo nak, silahkan duduk." ucap Ny. Riana, mempersilahkan Zoe untuk duduk. Sedangkan Jenita, membuatkan teh untuk mereka.
Tak butuh waktu lama, Jenita sudah kembali dengan membawa nampan. Ia, meletakkan teh itu diatas meja bersama beberapa biskuit.
"Silahkan diminum nak." titah Ny. Riana.
Zoe menjadi canggung berada disituasi seperti ini. Ia, pun tersenyum kikuk menatap Ny. Riana.
"Perkenalkan nama saya Zoe Sebastian bu, saya berniat menemui ibu. Ingin melamar putri ibu untuk menjadi istri saya. Membina rumah tangga bersama saya, dalam suka maupun duka." ujar Zoe, dengan nada serius.
"Benarkah sayang? Putri ibu sudah besar? Dan ingin menikah? Syukurlah ibu turut bahagia mendengarnya. Kalau boleh tau, sudah berapa lama kalian saling mengenal dan menjalin kasih?." tanya Ny. Riana, sambil menatap Zoe dan Jenita secara bergantian.
Jujur, Zoe bingung harus menjawab apa. Sedangkan Jenita juga sama bingungnya. Mereka saja baru, hari ini saling mengenal. Bagaimana mungkin ingin menjalin hubungan.
"Sebenarnya begini bu, maaf sebelumnya. Saya mengenal Jenita baru hari ini. Dan, itu pun secara tidak sengaja. Tetapi, saya berani melamar putri ibu karena saya sudah merasa nyaman kepadanya. Mungkin, menurut ibu ini terkesan mengada - ada. Tapi, begitulah kenyataanya. Tolong, berikan restumu bu." tutur Zoe, ia memilih untuk jujur. Karena, suatu hubungan harus didasari dengan kejujuran. Jika tidak, suatu saat itu akan menjadi malapetaka untuk hubungan mereka dimasa depan. Untuk urusan diterima atau ditolak, itu urusan belakangan. Intinya sekarang harus jujur.
Jenita, tersenyum sendiri mendengar penuturan dari Zoe, ia menjadi tersipu malu. Entah mengapa hatinya senang Zoe mengatakan bahwa dirinya nyaman bersama Jenita. Sama halnya dengan Jenita, Jenita juga nyaman terhadap pria yang baru saja ia kenali ini. Namun, ia hanya malu untuk memperlihatkan serta mengucapkannya.
Senyum Jenita, tidak luput dari pandangan ibu. Ibu, sudah tau dengan melihat senyum bahagia dari Jenita. Sudah sangat lama, Ny. Riana tidak melihat senyum tulus dari bibir Jenita. Biasanya ia akan tersenyum, tetapi tersenyum paksa. Hanya untuk menutupi luka nya dari anak - anak panti.
"Ini ibu serahkan semuanya kepada Jenita nak Zoe. Karena, kalianlah yang akan membina rumah tangga. Kalau, Kamu meminta restu kepada ibu, 100% ibu sudah merestui kalian." kata Ny. Riana sambil tersenyum.
Zoe menghembuskan nafas lega, ia beralih menatap Jenita yang sedang pucat wajahnya. Jenita bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Kau boleh tidak menjawabnya sekarang, aku akan menunggu sampai kau siap untuk menikah denganku." ujar Zoe, sambil melihat keringat dingin bercucuran dari pelipis Jenita.
"Tidak! Aku mau tuan, aku mau menikah denganmu." jawab Jenita, sambil menundukkan kepalanya. Zoe, tersenyum senang mendengarnya.
"Ah syukurlah, jadi kapan kalian akan melaksungkan pernikahan kalian." tanya Ny. Riana, sambil tersenyum bahagia.
"Secepatnya bu, saya akan mengurus secepatnya." jawab Zoe, begitu antusias. Ny. Riana, tersenyum melihat tingkah kedua sejoli yang sedang dimabuk Asmara, hanya dalam sekali pertemuan.
Cinta tumbuh bukanlah, siapa yang paling lama mengenal. Cinta bisa tumbuh kapan, dan kepada siapa saja. Hanya saja, harus ada saling kecocokan satu sama lain, dan nyaman terhadap pasangan masing - masing.
"Selamat ya sayang, akhirnya Kamu menemukan jodohmu. Semoga, dengan Kamu menikah. Kamu, bisa menghilangkan rasa sedihmu itu. Ingat, sekarang sudah ada calon suamimu yang akan menyayangimu dengan sepenuh hatinya." ucap Ny. Riana, menatap Jenita dengan mata yang sudah berkaca - kaca. Ia, turut bahagia mendengar kabar bahwa putri angkatnya akan segera menikah. Ia, begitu yakin. Bahwa, pria yang sedang melamar Putrinya ini adalah Pria yang baik dan bertanggung jawab.
"Hiks, terimakasih bu. Telah merawatku sampai sebesar ini, aku sangat - sangat menyayangimu bu." kata Jenita, ia langsung memeluk Ny. Riana. Dan, menangis sejadi - jadinya.
***
Seminggu kemudian, dimana Zoe dan Jenita akan melangsungkan pernikahan mereka.
Hari pernikahan Zoe & Jenita.
Jenita sudah siap dengan kebaya putihnya, dan make - up setipis mungkin. Karena, dia memang tipe wanita kurang suka yang namanya make - up an. Dan, belanja sana - sini seperti wanita lain pada umumnya.
"Mba, kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh diwajahku? Bu, apa wajahku aneh?." tanya Jenita, sambil menatap ibu nya. Ibu nya, tersenyum menatap Putrinya.
"Tidak sayang, tidak ada yang aneh diwajahmu. Kau sangat - sangat cantik, beruntung sekali nak Zoe memilikimu." tutur Ny. Riana, sambil tersenyum senang.
Wajah Jenita, tersipu malu mendengar pujian yang berlebihan menurutnya. Malah, ia berpikir terbalik. Bahwa dia lah yang beruntung bisa memiliki Zoe. Sudah tampan, mapan, baik, penyayang pula. Banyak, wanita yang berbondong - bondong ingin mendapatkan Zoe. Tetapi, dia lah wanita yang beruntung itu.
"Ibu bisa saja." kata Jenita, sambil tersenyum malu.
"Tidak Jen, apa kata ibu Kamu itu benar adanya. Kamu sangat - sangat cantik. Beruntung sekali Asisten Zoe memiliki istri secantik dirimu. Ahh... Aku jadi ingin anak yang ku kandung, secantik dan sekuat dirimu." puji Gladis, sambil tersenyum.
"Wah... Nyonya Kenny, kau sangat berlebihan sekali. Kau terlalu memujiku, kau bahkan lebih cantik darimu. Maka, anakmu akan lebih cantik nantinya." kata Jenita, tidak mau kalah. Kemudian, mereka tertawa bersama.
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, mereka pun menghentikan tawa mereka. Lalu, Gladis berjalan membukakan pintu.
__ADS_1
"Hai sayang, dimana menantu kedua mama?." tany ibu Kenny, ia memasuki kamar. Karena, ia sudah menganggap Zoe sebagai putranya. Maka, otomatis istrinya akan menjadi menantunya juga.
"Ayo masuk mah, dia ada didalam. Dia sangat - sangat cantik, persis seperti mama waktu muda dulu." ucap Gladis sambil tertawa kecil.
"Ah Kamu bisa saja sayang, calon cucu oma sehatkan sayang? Uhh, oma udah nggak sabar nungguin Kamu cepat lahir." kata Mama, sambil mengelus perut Gladis.
"Auu.. " pekik Gladis.
"Kenapa sayang? Apa mama menyakitimu?." tanya Mama, dengan raut wajah khawatir.
"Tidak mah, dia menendang perutku. Dia, sedang mama ajak bicara." kata Gladis, sambil tersenyum. Mama, bernafas lega. Kemudian, tersenyum senang.
"Hai mantu Mama kedua, ternyata benar kata Gladis. Kalau Kamu sangat cantik, Kamu persis seperti Mama waktu muda dulu hehe... " canda Mama, dengan tertawa kecil.
"Tante bisa aja." kata Jenita, tersipu malu.
"Beneran sayang, yaudah mama kesini buat manggil kalian. Mempelai pria nya sudah berada dialtar, ingin melangsungkan pernikahanmu. Ayo, kita keluar." ajak Mama, mereka pun keluar dari kamar pengantin. Dan, masuk kedalam altar.
Pernikahan pun, terlaksana dengan sangat lancar. Sekarang, mereka sudah sah menjadi pasangan suami - istri dimata hukum dan agama.
Kini mereka berada diatas pelaminan, menyambut para tamu undangan. Serta nasehat - nasehat dalam berumah tangga mereka ucapkan. Agar, jika ada masalah diselesaikan. Dengan kepala dingin. Saling, terbuka satu sama lain, dan saling percaya. Itu adalah satu - satunya kunci dalam menjalin sebuah hubungan. Apalagi, sekarang hubungannya sudah kejenjang serius. Hanya maut yang boleh memisahkan mereka.
.
.
.
Bersambung...
Oke, sampai sini aja cerita Zoe & Jenita ya. Sekarang mereka telah menikah, kita lanjut ke Gladis dan Kenny lagi. Gladis yang polos dan Kenny yang kejam. Tetapi, sekarang udah lembut ya. Cuma dengan keluarga saja tapi, terutama istrinya. Jika, dengan orang luar. Maka, dia akan bersikap kejam bagi siapa saja yang berani mengusik keluarganya, apalagi rumah tangga nya.
Jangan pernah bosan dan unfavoritekan cerita ini ya. Maaf, kalau kalian marah karena update g teratur. Ini sudah diusahain buat update kok. Terimakasih.
Jangan lupa votenya, komen dan kritik sarannya. Agar menambah semangatku.
Salam hangat author.
__ADS_1
Ig:Junita_0606 jangan lupa follow ya, jika udah. Dm, aja! Oke-sipp.
Lopyuhhh😘😍❤💋