
"Kau, ingin jalan - jalan kemana?." tanya Kenny, disela - sela menyetir mobil.
"Tidak tau, tuan inginnya kemana?." tanya Gladis balik.
"Bukannya menjawab, kau malah bertanya balik." ujar Kenny, sejenak menatap Gladis sekilas. Gladis, hanya menundukkan kepalanya.
Mobil Kenny sudah terparkir di Mall terbesar dipusat kota. Ia, menyuruh Gladis untuk turun.
"Ayo turun! Kita sudah sampai." titah Kenny, sambil membuka salt belt nya.
"Tuan, kenapa kita kesini? Aku, tidak bilang kalau aku ingin kesini." sahut Gladis, sambil menatap keramaian orang didalam mall itu.
"Lalu, kau mau kemana? Biasanya wanita akan suka jika dibawa ketempat seperti ini. Lagipula, tadi aku bertanya. Bukannya, kau jawab tapi malah bertanya balik." tutur Kenny, ia berdecak kesal.
"Maaf, tadi aku belum kepikiran mau kemana tuan. Tapi, sekarang udah." jawab Gladis, sambil tersenyum manis.
Deg..
Jantung Kenny, berdetak dua kali lebih cepat. Saat, melihat senyum manis yang mengembang dibibir wanita yang sudah menjadi istrinya ini.
"Huhh.. Baiklah, sekarang kau ingin kemana? Aku, akan mengantarmu." kata Kenny, akhirnya mengalah. Ia, memakai salt belt nya kembali. Lalu, menjalanlan mobilnya.
"Kita ke taman tuan, dulu aku sangat suka menghabiskan waktu ditaman. Ditaman itu sangat sejuk, membuat pikiranku menjadi tenang." tutur Gladis, ia sangat begitu antusias.
Taman memang tempatnya untuk menyendiri, menenangkan pikirannya. Bahkan, itu adalah tempat favorit Gladis bersama Rayn. Mereka, akan mengerjakan tugas kuliah bersama - sama ditaman itu sambil bersenda gurau. Rasanya, ia ingin kembali mengulang masa - masa itu. Tetapi, sayang itu sama sekali tidak mungkin.
Eh ralat, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Mungkin saja, setelah ia berpisah dari pria kejam itu. Maka, ia akan kembali lagi bersama Rayn. Tetapi, jika Rayn mau kembali bersamanya.
"Huh.. Aku, sangat merindukanmu Rayn. Maafkan aku, aku takut kau marah besar kepadaku. Makanya, aku tidak memberitahumu." gumam Gladis, didalam hati. Ia, sangat merindukan sosok pujaan hatinya itu.
__ADS_1
Sesampainya ditaman, tanpa disuruh Gladis sudah berlari ke taman. Kenny, yang melihat ke antusiasan Gladis hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Wanita aneh, biasanya mereka sangat suka jika dibawa ke mall. Tapi, dia tidak. Dia, hanya menginginkan ke taman saja." gumam Kenny sambil tersenyum simpul. Ia, mengikuti langkah Gladis.
Rasanya Gladis, ingin sekali berteriak sekeras mungkin. Memanggil nama Rayn, ia ingin mengeluarkan semua unek - unek yang bersarang dihatinya. Tapi, itu tidak mungkin. Karena, disini sedang ada pria kejam ini.
Gladis berdiri ditepi danau, sambil memandangi air yang sangat tenang itu. Ia, memejamkan matanya. Teringat kembali ketika bersama Rayn dulu. Gladis, tersentak saat ada tangan yang melingkar diperutnya. Dan, dagu runcing itu bersandar dibahunya.
"Apa kau bahagia?." tanya Kenny, sambil mengesek - gesekkan hidungnya dileher Gladis.
"Tuan, jangan seperti ini. Tidak, enak dilihat orang tuan. Disini, sangat banyak orang." pinta Gladis, karena jantungnya sudah tidak dapat dikondisikan lagi.
"Biarkan saja, toh kita kan suami - istri juga. Lagian, siapa yang tidak mengenaliku. Saat, mereka melihatku. Maka, mereka akan mundur teratur." ucap Kenny, begitu angkuh.
"Oh, jadi ini yang Kamu bilang ada urusan keluarga? Bermesraan dengan pria lain. Iya ha? Jawab aku!." ucap seseorang, sambil membentak Gladis.
Gladis, terkesiap saat mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Ia, pun membalikkan badan. Kaget bercampur bingung dengan keberadaan kekasihnya. Ya, dia adalah Rayn Wijaya.
"Siapa kau?." tanya Kenny, dengan sorot mata tajam.
"Aku siapa? Aku adalah kekasih wanita ini. Kau sendiri siapa?." tanya Rayn, mereka sama - sama melempar tatapan membunuh.
"Aku---." ucapan Kenny, terhenti. Karena, Gladis sudah dulu memotongnya.
"Dia hanya kakak sepupuku, dia datang dari jerman. Dan, Papa memintaku untuk menemaninya jalan - jalan Rayn. Mau, tidak mau aku harus menemaninya." tutur Gladis, sambil memegang tangan Rayn.
"Apa kau tidak berbohong?." tanya Rayn, sambil menatap lekat bola mata Gladis. Gladis, mengangguk mantap.
"Syukurlah, aku sangat merindukanmu sayang. Kenapa, kau tidak jujur saja padaku. Aku, akan ikut izin juga dari kampus. Dan, menemanimu untuk jalan - jalan bersama kakak sepupumu ini." tutur Rayn, sambil memeluk Gladis.
__ADS_1
"Huh.. " Gladis, bernafas lega. Ternyata, Rayn percaya dengan ucapannya.
"Maaf, aku tidak ingin menyusahkanmu." sahut Gladis, membalas pelukan Rayn.
Sedangkan Kenny, sudah mengepalkan tangannya. Hati nya meledak - ledak saat melihat adegan mesra mereka. Entah mengapa, hati Kenny sangat panas dan tidak suka jika pria lain memeluk Gladis.
"Kau sedang apa disini?." tanya Gladis, seraya melepaskan pelukannya.
"Aku sedang mengerjakan tugas dari dosen disini, karena disini aku bisa mengobati rinduku terhadapmu." jawab Rayn, ia menggenggam tangan Gladis.
"Aku ingin pulang." kata Kenny, dengan tatapan tajam.
"Astaga, aku melupakan keberadaan pria itu." guman Gladis, didalam hati.
"Ah iya, baiklah Rayn. Kita, sambung di telepon nanti ya. Aku, pulang dulu. Kau, jangan berlama - lama disini. Nanti, kau bisa tergoda dengan wanita lain." ucap Gladis, ia memasang wajah cemberut.
"Tidak sayang, tidak mungkin aku mengkhianatimu. Aku, sangat - sangat menyayangimu." sahut Rayn, sambil mencubit gemas pipi Gladis.
"Aku juga sangat menyayangimu Rayn, tapi aku telah mengkhianatimu. Maaf, keadaan lah yang memaksa diriku untuk mengkhianatimu." guman Gladis, didalam hati.
"Baiklah, aku pulang dulu. Byee.. " pamit Gladis, sambil melambaikan tangannya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Yha... Bakal ada peperangan kedua nih.
Yang penasaran, jangan lupa comment ya. Sekalian, like, dan vote nya juga. Supaya, aku bisa lebih semangat up nya.