
Sesuai janji, Adzam membawa Eryna pergi ke suatu tempat, tempat yang menurut Adzam sangat bagus untuk Eryna tempati saat ini..
Setelah menempuh perjalanan yang begitu lama, akhirnya Eryna dan Adzam telah tiba, di sebuah rumah, yang minimalis..
"Kak ini dimana..??" Tanya Eryna.
"Tidurlah Eryna, ini sudah jam 3 dini hari.. Besok setelah kau bangun kaka yakin, kau pasti menyukai tempat ini.."
"Baiklah kak.. Kak Adzam juga harus istirahat.."
•••••••••••
Keesokan harinya..
Hoek..Hoek..Hoek...
Eryna memuntahkan semua isi perutnya, Namum yang keluar hanya cairan bening.. Dan Adzam yang mendengar sang adik muntah langsung bangun dari tidur nya dan menuju kamar mandi melihat Eryna..
"Eryna, kamu sakit...???" Tanya Adzam..
"Iya kak,.."
"Kalau begitu, kaka akan keluar mencari rumah praktek dokter.." Ucap Adzam panik, dan segerah melangkah..
"Kak." Panggil Eryna, sambil menarik lengan Adzam..
"Eryna, wajah mu pucat. Kaka harus segerah mencari rumah dokter.."
"Kak, Eryna baik baik saja.. Hanya saja........"
"Baik apa nya Eryna, kau muntah dan wajah mu pucat.."
"Eryna hamil kak.." Ucap Eryna, yang membuat Adzam diam mematung..
__ADS_1
"Maafkan Eryna kak.. Maafkan Eryna.." Lirih Eryna sambil menunduk..
"Tidak perlu minta maaf,, itu bukan kesalahan.. Justru Tuhan sayang sama kamu hingga dia menitipkan nyawa di dalam kandungan mu." Jelas Will sambil memeluk tubuh Eryna..
"Kak, hikksssss,hiksssss..Aku benci ayah dari bayi ini kak.. Aku benci kak.."
"Yah kaka tahu itu Eryna.. Tapi mulai sekarang, hiduplah dengan bahagia lupakan semua kenangan pahit itu.. Ingat bayi di dalam kandungan mu, harus bisa tetap sehat.."
"Tapi kak,. Bagaimana jika bayi ini lahir..?? Bagaimana jika ia besar lalu mencari ayah nya..???"
"Maka aku akan siap menjadi ayahnya.." Timpal Dave, yang tiba tiba saja muncul di antara Will dan Eryna..
"Dave." Sahut Will dan Eryna bersamaan..
"Maaf Eryn. Karna semalam tidak bisa mengantar mu." Ucap Will.
"Kaka ke kamar dulu,." Pamit Adzam."
"Eryn.." Panggil Dave., Kemudian Eryna menghentikan langkahya..
"Aku siap menjadi ayah, dari anak yang kau kandung."
"Dave, apa yang kau katakan..."
"Aku siap menjadi ayahnya Eryna., Ayah dari bayi mu."
"Tapi Dave.."
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Tiga hari berlalu..
Dengan Semangat Will, mengendarai mobilnya sambil tersenyum. Mengigat ini sudah tiga hari berlalu. Ia begitu sangat bersemangat untuk menemui Eryna,. Setidaknya ada secercik harapan untuk Will agar bisa kembali bersama dengan Eryna..
__ADS_1
"Aku ingin menemui istriku." Ucap Will kala berada di depan rumah Eryna..
"Maaf tuan.. Tuan Adzam, dan nona Eryna tidak sedang berada di sini.."
"Jangan berbohong.."
"Benar tuan saya tidak berbohong.."
Dengan segerah Will menerobos penjaga rumah Eryna, dan berlarih masuk ke dalam..
"Eryna, Eryna.." Panggil Will saat berada di dalam rumah Eryna..
"Eryna,." Panggilnya lagi.. Saat Will mulai kembali melangkah, tiba tiba berpapasan dengan bibi yang pernah memberinya minum..
"Tuan." Ucap bibi.
"Bi, dimana istriku..?? Dimana Eryna bi...???" Tanya Will,.
"Maaf tuan. Non Eryna tidak berada di sini.."
"Kemana dia pergi bi..???"
"Saya tidak tahu tuan.."
"Sejak kapan istriku pergi bi..???"
"Malam, saat setelah memberikan tuan air mineral." Jelas bibi, lalu meninggalkan Will sendiri..
"Acchhhkkkk." Teriak Will prustasi, sambil menjambak rambutnya sendiri..
"Kenapa kau meninggalkan aku Eryna.."Ucap Will lalu merai ponselnya..
"Temukan istriku.. Berapapun akan ku bayar, asal kau bisa menemukan nya" Pinta Will saat sambungan telpon nya terhubung..
__ADS_1