
Setelah Zoe meletakkan koper Shella didalam kamar, Zoe berjalan meninggalkan kamar tersebut.
Sedangkan Kenny dan Shella, sedang bersenda gurau bersama. Melepas rindu satu sama lain. Hingga, tiba - tiba Kenny kepikiran Gladis.
"Sayang, sebaiknya Kamu istirahat sekarang. Perjalanan mu cukup jauh, kau pasti sangat lelah bukan?." tanya Kenny, sambil membelai rambut Shella. Shella, mengangguk. Membenarkan ucapan kekasihnya, dia memang sudah sangat lelah. Tetapi, karena masih ingin bermanja - manja dengan Kenny. Dia, pun mengurungkan niatnya untuk beristirahat.
Kenny, menggandeng tangan Shella. Ia, membawanya masuk kedalam kamar tamu.
"Beristirahat lah sayang, aku akan mengurus urusanku dulu." ujar Kenny, ia mengecup sayang kening Shella. Shella, mengangguk. Dan, mulai memejamkan matanya.
Kenny, melenggang keluar kamar Shella. Ia, masuk kedalam kamarnya. Dilihatnya, Gladis sedang berdiri mematung dibalkon kamar. Sambil, memandangi rintik - rintik hujan. Kenny, menghampirinya dan langsung memeluk Gladis dari belakang.
Gladis, tersentak kaget. Jantungnya, mulai tidak bisa dikendalikan.
"Kenapa kau ingin ikut dengan Zoe tadi? Apa yang kalian lakukan?." tanya Kenny, ia menempelkan hidungnya diceruk leher Gladis.
__ADS_1
"Tuan, jangan seperti ini. Nanti, kekasihmu bisa salah paham." ujar Gladis, ia merasa risih.
"Jawab pertanyaanku.!" titah Kenny, ia menggigit kecil leher Gladis.
"Auu.. Baiklah, aku melakukan itu hanya untuk menjalankan peranku saja sebagai pelayanmu tuan." jawab Gladis.
"Kenapa kau mengatakan kalau kau adalah pelayanku?." tanya Kenny. Gladis, membalikkan badannya. Ia, menatap kesal orang yang berada didepannya ini.
"Lalu, apa harus mengatakan apa? Kalau aku ini adalah ibumu. Begitu?." tanya Gladis, ia mulai jengkel dengan sikap Kenny yang semakin hari, semakin tidak jelas. Kenny, terdiam. Benar juga, apa kata Gladis. Jika, dia tidak mengatakan dia seorang pelayan. Lalu, apa? Mengaku sebagai istrinya. Tidak - tidak, kalau dia sampai mengatakan hal itu. Hubungannya dengan Shella akan berakhir.
"Jangan pernah coba - coba untuk pergi dari kamar ini. Jika kau berani, aku akan menghabisi kekasihmu itu." ujar Kenny, menatap lekat bola mata Gladis.
"Pria ini, aku hanya bercanda. Kenapa, dia selalu menganggap ucapanku serius. Dasar menyebalkan," ucap Gladis, didalam hati. Ia, mengerucutkan bibirnya.
"Apa kau sedang memakiku didalam hatimu itu?." tanya Kenny, ia mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"T-tidak.. " ucapan Gladis, terhenti. Karena Kenny sudah dulu mengecup bibir manis itu. Bagi Kenny, seluruh tubuh Gladis adalah candu untuknya.
Dan, akhirnya mereka kembali bergulat diatas kasur. Mereka berdua, saling menikmati satu sama lain. Tidak, ada paksaan sama sekali. Bahkan, Kenny sangat - sangat lembut bermainnya.
Setelah hampir dua jam bergulat, Kenny menyudahinya. Karena, melihat Gladis yang sudah kelelahan akibat ulahnya. Ia, tersenyum manis. Lalu, mengecup bibir Gladis sekilas.
"Aku harap, benihku lebih lama lagi tumbuh dirahimmu. Agar, kau bisa lebih lama lagi berada disampingku." gumam Kenny.
"Aku tidak tau, perasaan apa yang membuatku takut dirimu pergi dari sisiku. Entah aku sudah jatuh cinta kepadamu atau karena kasihan, aku tidak tau. Aku, akan segera memastikan perasaan ini. Maafkan aku, karena keegoisanku. Aku tidak ingin kau jauh dariku, tapi aku juga tidak ingin meninggalkan Shella. Tapi, kalau boleh jujur. Aku, sudah merasa lebih nyaman berada didekatmu. Dibandingkan dengan Shella. Aku, akan memastikan perasaanku secepat mungkin sayang." gumam Kenny, ia memeluk tubuh Gladis. Dan, terlelap sangat nyenyak.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...