
Keesokan paginya.
Gladis, terbangun karena merasa ada yang sedang menindih tubuhnya. Serta, daerah bawahnya seperti sedang diaduk - aduk. Ia, mengercapkan matanya. Terkesiap, saat melihat pria itu sedang bermain ditubuhnya.
"Aaa, tuan. Kau sedang apa?." tanya Gladis, ia ingin menyingkirkan tubuh Kenny dari tubuhnya. Namun, tenaga Kenny lebih besar.
"Syukurlah, akhirnya kau bangun juga. Aku, ingin meminta hakku yang sempat tertunda semalam." ujar Kenny, ia mencium bibir Gladis.
"Ah, tuhan.. Baru, saja semalam aku bersyukur karna kau telah mengabulkan permintaanku semalam. Tapi, kenapa sekarang kau kembali membuat pria kejam ini. Menindih tubuhku hiks." gumam Gladis, didalam hati. Batinnya, menjerit.
Dan, akhirnya mahkota Gladis direbut oleh Kenny. Karena, kelelahan akibat bergelut selama dua jam. Gladis, tertidur kembali. Kenny, tersenyum puas. Saat, sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Semoga benihku, cepat tumbuh dirahimmu." gumam Kenny, ia mengecup kening Gladis.
Kenny, beranjak dari kasur. Ia, masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Seusai, selesai mandi. Ia, turun kebawah untuk sarapan. Karena akibat bergelut diatas ranjang, membuat tenaga nya lebih terkuras.
"Selamat pagi tuan." sapa kepala pelayan. Kenny, hanya menganggukkan kepalanya.
"Siapkan sarapan untuk istriku, dan letakkan disitu.! "titah Kenny, ia mulai melahap sarapannya.
__ADS_1
Bibi mengangguk, dan mulai menyiapkan sarapan untuk Nona mudanya.
*****
Gladis, bangun sudah pukul sepuluh lewat lima belas menit. Ia, ingin beranjak dari tidurnya. Namun, ia merasakan sakit teramat sakit didaerah bawahnya.
"Ya tuhan.. Sakit sekali." gumam Gladis, sekuat mungkin ia menahan perih itu. Dan, beranjak menuju kamar mandi.
Bruk..
Gladis terjatuh, akibat tidak bisa menahan sakit itu.
Saat itu, Kenny telah selesai sarapan. Kemudian, membawa sarapan untuk istrinya kedalam kamar.
"Astaga.. Kau kenapa?." tanya Kenny, ia kaget saat melihat Gladis terduduk dibawah kasur sambil menangis. Ia, meletakkan sarapam itu diatas nakas. Lalu, membantu Gladis naik keatas kasur.
"Sakit tuan hiks, ini sangat sakit. Maafkan aku, aku sudah sekuat mungkin menahan sakitnya. Agar, aku tidak menangis. Tapi, tidak bisa. Ini sangat - sangat sakit hiks. Ku mohon, jangan memarahiku hiks hiks." tutur Gladis sambil terisak. Ia, takut Kenny akan membentaknya jika menangis didepannya.
"Kenapa kau tidak meminta tolong kepadaku? Atau, kepada bibi saja? Tombol itukan gunanya untuk memanggul pelayan. Aku, tidak akan memarahimu. Jangan, menangis lagi. Aku, yang seharusnya minta maaf. Karena, telah membuatmu seperti ini." tutur Kenny, ia mengecup kening Gladis.
__ADS_1
"Ayo, aku akan membantumu mandi." imbuh Kenny, ingin mengendong Gladis masuk kedalam kamar mandi.
"Tidak, jangan tuan. Ini saja masih sakit." pinta Gladis, dengan wajah memelas.
"Dasar bodoh! Apa kau pikir aku akan memakanmu dengan kondisi seperti ini? Aku, masih mempunyai hati nurani. Aku, hanya ingin membantumu mandi saja. Tidak lebih dari itu." ucap Kenny, ia tersenyum tulus. Kemudian, menggendong Gladis masuk kedalam kamar mandi.
"Andai kau baik seperi ini, mungkin aku akan jatuh cinta kepadamu. Tapi, sayang. Kau sangat kejam, suka memarahiku dan membentakku." ucap Gladis, didalam hati. Ia, menatap lekat - lekat wajah Kenny.
"Aku akan memandikanmu, diam dan lihat saja." titah Kenny, ia memasukkan Gladis kedalam bath up. Kemudian, menyabuninya.
"Tidak, aku bisa sendiri tuan. Kau, bisa keluar sekarang. Terimakasih, telah membantuku." kata Gladis, sambil menahan tangan Kenny yang ingin menyabuni tubuhnya. Kenny, menatap tajam Gladis. Alhasil, Gladis hanya bisa diam dan menikmati sentuhan dari suaminya ini.
.
.
.
bersambung.
__ADS_1