
"Eryna, kau percaya dengan kaka bukan..?? Kau menganggapku sebagai kaka bukan..???" Tanya Adzam..
"Kak kenapa kau berbicara seperti itu..??" Tanya Eryna yang merasa heran..
"Kaka sudah tau semuanya.. Semua tentang kondisi mu saat ini.." Ucap Adzam menatap wajah Eryna.
"Kak..."
"Eryna, kaka sangat menyayangi mu.. Kaka tidak ingin sesuatu terjadi padamu."
"Kak, aku baik baik saja kak.. Tidak usah menghawatirkan ku.." Ucap nya sambil tersenyum,. Mencoba menenangkan Adzam yang ada di hadapan nya.
"Kaka tahu semuanya Eryna, tidak usah menutupinya.. Kaka tahu tentang penyakitmu kaka tahu dengan kondisi mu saat ini, dan kaka tahu jika dokter menginginkan mu untuk melakukan operasi pengangkatan bayi mu."
"Kak, aku baik baik saja.. Kaka tidak perlu menghawatirkan ku.. Lihat lah, aku bahkan bisa berlari mengelilingi rumah ini.. Bahkan aku bisa mendaki gunung saat ini juga.. Dan yang semua dokter itu katakan adalah kebohongan kak.." Jelas Eryna, dengan nada yang mulai meninggi..
Jujur Eryna saat ini merasa sangat bersedih.. Di satu sisi ia harus bisa tegar menahan sakit untuk bisa melahirkan bayi nya.. Tapi di satu sisi, dokter menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan nya.. Karna semakin besar kandungan Eryna, maka semakin beresiko untuk Eryna sendiri..
"Eryna, jangan keras kepala,. Kau harus mengikuti permintaan dokter.. Ini demi keselamatan mu.." Jelas Adzam..
"Kak... Jika aku menyelamat kan diriku, itu artinya aku harus merelahkan bayiku..?? Tidak, aku tidak akan melakukan itu kak.. Aku sudah jatuh cinta dengan bayi yang ada di kandungan ku. Aku sudah terlanjur menyanyanginya.."
"Lalu kau ingin melahirkan bayi itu..??" Tanya Adzam.
"Yaa, itu keputusan ku kak.."
"Dan setelah bayi itu lahir, kau pun sudah tidak ada lagi..??? Lalu siapa yang akan menjaga nya..??? Siapa yang akan menjadi ibunya..??? Apa kau tega, melihat anak mu di rawat oleh orang lain..??? Apa kau bisa melihat anak mu memanggil orang lain dengan sebutan ibu, saat kau sudah tidak ada..?? Apa kau tega,..Haaa...????"
__ADS_1
"Stop kak, stop.. Cukup.." Teriak Eryna dan air matanya mengalir menjatuhi pipi mulusnya..
Adzam yang melihat itu langsung meraih tubuh Eryna dan memeluknya.. "Aku tahu, perasaan mu saat ini. Tapi pikirkan lah kedepan nya.." ucap Adzam.. Tapi Eryna hanya terus menangis..
"Aku akan mengantar mu ke kamar." Ucap Adzam kembali..
π₯π₯π₯π₯π₯
"Aku pulang dulu Will. Tolong kau jaga adik ku dengan baik.." Pamit Adzam
"Pasti, aku akan menjaganya.. Hati hati lah di jalan."
Setelah mengantar kepergian Adzam, Will berjalan menuju kamar Eyna sambil membawa segelas susu yang tadi ia pesan kepada bibi..
Ceklek... Bunyi suara pintu, yang di buka oleh Will..
"Istirahat lah. Aku akan selalu di sini menemani mu." Ucap Will dengan lembutnya dan sesekali membelai rambut Eryna..
"Will." Lirih Eryna terbangun, karna merasa ada sentuhan di pucuk kepalanya..
"Tidurlah kembali.." Pinta Will..
"Will, aku ingin bercerai.."
Will tersenyum mendengar ucapan Eryna,..
"Kenapa tersenyum.. Aku serius Will.."
__ADS_1
"Kau lupa, jika seseorang istri yang sedang hamil,. Maka tidak boleh dan tidak di perbolehkan untuk bercerai dengan suaminya..??" Jelas Will membuat Eryna terdiam..
"Aku ke sini, membawakan susu untuk mu.. Minum lah.."
"Will." Sahut Eryna kembali..
"Tidak ada kata bercerai dalam kamus ku."
"Will." Ucap Eryna kembali..
"Istirahat lah.." Jawab Will.
"Will apa kau menyayangi bayi ini..???" Tanya Eryna.
"Kenapa kau bertanya seperti itu..??" Jawab Will dengan pertanyaan..
"Tolong jawab pertanyaan ku, jangan justru kembali bertanya.."
" Ya, aku menyanyanginya, dia bayi ku dengan mu, jadi tidak ada alasan untuk ku agar tidak menyanyanginya.."
"Berjanjilah padaku, apa pun yang terjadi kau akan menyelamatkan bayiku" Pinta Eryna, membuat Will terdiam.. "Will tolong berjanjilah padaku."
"Maaf, aku tidak bisa menjanjikan itu." Ucap Will..
"Will...???"
Selamat membaca.. Selamat menyantap makan sahur kalianπ€..
__ADS_1
Semoga suka, dan jgn lupa like dan comen yahπππ