Menikahi Pria Kejam

Menikahi Pria Kejam
Panggilan sayang


__ADS_3

Sore hari.


Gladis terbangun dari tidurnya, karena merasakan tenggorokannya yang kering. Saat, membuka mata. Wajah suaminya lah yang pertama kali dilihatnya. Dia, pun tersenyum. Sambil mengusap pipi Kenny.


"Andai saja, pernikahan kita ini selamanya tuan. Mungkin, aku adalah wanita yang paling bahagia didunia ini." gumam Gladis, sambil terus mengusap pipi Kenny.


"Membesarkan anak kita bersama, menua bersama. Pasti kehidupanku terasa berharga. Tetapi, sayang itu hanya keinginan yang tidak akan pernah terwujud." imbuhnya, sambil tersenyum samar. Ia, pun mengecup kening Kenny. Lalu, beranjak ke kamar mandi.


Ternyata Kenny, mendengar semua ucapan Gladis. Ia, terbangun saat Gladis mengelus pipinya. Namun, ia tetap berpura - pura tidur. Dan, mendengarkan semua isi hati Gladis. Hatinya, berbunga - bunga saat Gladis mencium keningnya. Entah mengapa, ia begitu senang saat mendengar pengakuan dari Gladis. Rasanya, ia ingin memeluk Gladis. Dan, mengungkapkan perasaannya.


"Kita tidak akan berpisah sayang, kita akan membesarkan anak kita bersama - sama, menua bersama." gumam Kenny, sambil tersenyum senang.


Hari ini, Gladis ingin memasak untuk makan malam. Karena, ia belum pernah memasak selama tinggal disini. Kenny, selalu saja mengancamnya dan berbuat sesuka hatinya.


*****


"Hai bi, bibi lagi ngapain?." tanya Gladis, ia mulai memakai apron.


"Hai non, bibi mau masak makan malam non. Non, sedang apa disini?." tanya bibi balik, ia melihat majikannya sedang memakai apron.


"Mau bantu bibi, masak untuk makan malam." jawab Gladis, ia mulai mengambil bahan - bahannya didalam lemari es.


"Eh tidak usah non, biar bibi saja. Mendingan, sekarang non istirahat saja." ujar bibi.


"Saya sudah sangat cukup istirahatnya bi, mendingan sekarang bibi saja yang istirahat." kata Gladis.


"Baiklah, terserah non saja. Tapi, bibi tidak akan istirahat. Bibi, akan membantu nona juga. Karena, ini adalah tugas saya nona." kat bibi.

__ADS_1


"Yasudah terserah bibi saja, oh iya bi. Makanan kesukaan tuan Kenny apa ya?." tanya Gladis.


"Pasta non." jawab bibi.


"Baiklah, saya akan memasak makanan kesukaan tuan Kenny bi." kata Gladis.


"Iya non, tuan Kenny sangat beruntung mempunyai istri seperti non ini." kata bibi.


"Ah bibi bisa saja, kenapa memangnya bi?." tanya Gladis, ia sedikit penasaran tentang kehidupan suaminya dulu.


"Karena nona sudah cantik, baik, dan berhati lembut. Sangat berbeda dengan kekasih tuan non. Kekasih tuan itu cantik, cuma angkuh sekali non. Dulu saja, tuan sangat jarang makan dirumah. Tuan, selalu makan diluar bersama non Shella. Tapi, setelah ada non. Tuan, jadi lebih sering makan dirumah. Dan menghabiskan waktu dirumah. Sepertinya tuan sudah mulai jatuh cinta kepada anda non." kata bibi.


"Ah bibi, itu tidak mungkin. Tuan, hanya ingin aku segera mengandung anaknya." kata Gladis. Bibi, hanya diam saat mendengar ucapan majikannya ini.


"Apa iya, tuan jatuh cinta kepadaku? Ah, tidak - tidak. Pikiranmu, terlalu jauh Glad. Kau, terlalu berlebihan. Mana, mungkin tuan Kenny jatuh cinta kepada wanita sepertiku. Sedangkan, seleranya saja seperti nona Shella." gumam Gladis, didalam hati.


Didalam kamar, Gladis tidak mendapati Kenny diatas kasur. Dilihatnya didalam kamar mandi juga tidak ada.


"Kemana dia?." gumam Gladis, ia pun berjalan menuju balkon.


Ternyata Kenny sedang berdiri dibalkon, sambil memandangi langit yang mulai gelap.


"Tuan, kau disini? Aku pikir, kau dimana tadi." kata Gladis, sambil berjalan mendekat kearah Kenny. Kenny, menatap Gladis dengan tajam.


"Aduh.. Mati aku, kesalahan apa lagi yang aku perbuat." gumam Gladis didalam hati, saat melihat tatapan tajam itu.


"K-kenapa tuan menatapku seperti itu?." tanya Gladis, gugup.

__ADS_1


"Kau, tidak tau apa kesalahanmu?." tanya Kenny. Gladis, menggelengkan kepalanya. Seraya menundukkan kepalanya.


"Baiklah, kemari." titah Kenny. Dengan, ragu Gladis berjalan kearahnya. Dan, sekarang posisinya didepan Kenny.


"Kau, terus saja memanggilku tuan. Itu, kesalahanmu. Padahal, sudah ku katakan. Jangan memanggilku dengan sebutan tuan.! Karena kau bukan pelayanku, melainkan istriku. Kau, mengerti hm?." ujar Kenny, sambil mengangkat dagu Gladis dengan jari telunjuknya. Gladis, menatap mata Kenny. Lalu, mengangguk patuh.


Kenny, langsung mencium bibir Gladis dengan lembut. Menggigit bibir bawah Gladis, agar Gladis membuka mulutnya. Dan, dia bisa dengan leluasa menikmati mulut Gladis.


Cukup lama mereka berciuman, hingga Kenny melepaskan ciuman itu. Karena, Gladis sudah hampir kehabisan nafas.


"Apa kau ingin membunuhku?." tanya Gladis, kesal. Ia, ngos - ngosan. Seperti sedang lomba berlari. Kenny, hanya tersenyum senang. Ia, mengusap sisa air liur mereka dari bibir Gladis.


"Ini hukuman untukmu, jika kau memanggilku dengan sebutan itu lagi. Maka, aku akan menguburmu hidup - hidup." kata Kenny.


"Dasar, selalu saja mengancam. Aku, akan menguburmu hidup - hidup." gumam Gladis, menirukan suara Kenny.


"Kau, bilang apa sayang?." tanya Kenny.


"Tidak ada sayang, sebaiknya kita masuk sekarang. Hari, sudah gelap." kata Gladis, bersikap manis. Ia, berjalan masuk kedalam kamar duluan. Kenny, tersenyum senang. Dan, berjalan masuk kedalam kamar.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2