
Seminggu berlalu, kini mereka sudah kembali kerutinitas masing - masing. Gladis, disibukkan dengan kuliahnya. Dan, Kenny disibukkan dengan pekerjaannya.
Gladis, sudah menjauhi Rayn. Menghindar, setiap Rayn mencoba mendekatinya. Hal, itu membuat Rayn bertanya - tanya. Kesalahan apa yang ia perbuat, sehingga wanita pujaanya menjauhinya seperti ini.
"Gladis, aku ingin bicara kepadamu. Sebentar saja, ku mohon.. " pinta Rayn, ia memegang tangan Gladis.
"Huh.. " Gladis, membuang nafas perlahan.
"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan kepadaku? Aku, tidak punya banyak waktu. Supirku, sudah menungguku." kata Gladis, dengan ketus. Ia, menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Apa salahku Glad? Kenapa kau bersikap seperti ini? Maafkan aku, jika aku membuat kesalahan yang tidak ku sengaja. Tolong, katakan apa kesalahanku." kata Rayn, ia begitu putus asa.
"Kau tidak ada salah Rayn, aku lah yang bersalah karena telah mencintaimu. Aku, tidak pantas untuk pria baik sepertimu. Pria baik, akan bertemu dengan wanita yang baik pula. Tidak, sepertiku. Aku, hanya wanita pecundang. Dan, pengkhianat. Maafkan aku Rayn, carilah wanita yang tulus mencintaimu." kata Gladis, ia sudah tidak tahan menahan air matanya.
"Tidak, jangan katakan itu. Kau, adalah wanita terbaik yang pernah kutemui. Aku, mohon. Jangan bersikap seperti ini Glad, ini sungguh menyakitkan." kata Rayn, tetesan air mata lolos dipipinya.
"Rayn, jangan lemah seperti ini. Kau, laki - laki hebat yang pernah kutemui. Aku, yakin kau akan menemukan penggantiku. Yang, jauh lebih baik dariku." kata Gladis, sambil mengusap air mata Rayn. Rayn, langsung memeluk Gladis.
"Aku sangat mencintaimu Glad, apa kau tidak mencintaiku lagi? Apa, selama dua tahun ini kita menjalin hubungan. Kau sama sekali tidak menganggap arti apa - apa disetiap momen bahagia kita?." tanya Rayn, ia menangis dipelukan Gladis.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu Rayn, tapi keadaan lah yang memaksa kita untuk berpisah. Jika, kita berjodoh. Maka, kita akan kembali bersama lagi." kata Gladis, sambil mengusap punggung Rayn.
"Menjauh dari tubuh istriku sialan.!." ujar Kenny, tiba - tiba berada dikampus mereka.
Gladis, tersentak kaget. Saat, Kenny menarik paksa dirinya. Ia, menatap tajam kearah Rayn. Sedangkan, Rayn bertanya - tanya. Mengapa, pria ini mengatakan bahwa Gladis adalah istrinya.
"Kau, tidak pernah mendengar ucapanku ya. Baiklah, jika ini maumu. Maka, dengan senang hati aku akan mengabulkannya." kata Kenny, tersenyum sinis. Ia, menggerakkan jarinya untuk menghajar pria itu.
"Tidak.! Jangan tuan, aku mohon.. Aku, sudah tidak memiliki hubungan apa - apa lagi dengannya. Kumohon, jangan sakiti dia. Dia, tidak bersalah. Aku lah yang memeluknya tadi." ujar Gladis, sambil memegang tangan Kenny.
"Baiklah, kali ini aku mengampuninya lagi. Tidak, dengan lain kali." kata Kenny, ia kembali menyuruh kembali bodygardnya ke posisi semula.
"Kau, ku peringatkan kepadamu untuk yang pertama yang yang terakhir kalinya. Jangan, pernah mendekati istriku lagi. Jika, kau masih ingin hidup." ucap Kenny, ia menatap tajam Rayn.
"Haha.. Aku adalah suaminya, kami menikah sudah seminggu yang lalu. Karena, kau sudah mengetahui status Gladis. Maka, kau harus tau diri. Jangan, pernah mendekati istri orang lagi." kata Kenny, dengan tatapan membunuh.
"Glad, apa yang dikatakan sepupumu ini benar? Tolong, jangan katakan ya." kata Rayn, kali ini ia memang benar - benar putus asa.
"Dia bukan sepupuku Rayn, dia suamiku. Maafkan aku, karena tidak jujur kepadamu." kata Gladis, ia menatap Rayn yang sudah terduduk dilantai.
__ADS_1
"Kau jahat Glad, apa salahku? Kenapa kau setega ini kepadaku." kata Rayn, air mata tercucur deras keluar.
"Maafkan aku Rayn.. " ujar Gladis, Kenny langsung menarik tangan Gladis masuk kedalam mobil.
"Akhirnya, apa yang aku takutkan terjadi juga." gumam Gladis, didalam hati.
Didalam perjalanan, air mata Gladis tak henti - hentinya keluar. Membuat, Kenny menjadi emosi.
"Apa kau bisa berhenti menangis? Aku, sudah muak mendengar tangisanmu itu. Apa kau menangisi pria itu ha? Jawab aku!!." bentak Kenny, ia memutar wajah Gladis hingga berhadapan dengannya. Gladis, menundukkan kepalanya. Lalu, menggeleng pelan.
"Aku hanya menangisi nasibku, yang tidak seberuntung wanita lain tuan." kata Gladis, sambil terisak. Kenny, hanya diam. Ucapan Gladis, bagai tombak yang menancap dihatinya.
"Sudah diamlah.! Aku minta maaf, karena membuatmu mempunyai nasib buruk karena harus menikah denganku." ujar Kenny, ia menyandarkan kepala Gladis dibahunya. Gladis, tidak menjawab apa - apa. Ia, hanya menangis saja. Sampai, ia terlelap sendiri.
"Maafkan aku Glad, aku tidak bermaksud ingin menyakitimu." gumam Kenny, ia mencium pucuk kepala Gladis.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...