Menikahi Pria Kejam

Menikahi Pria Kejam
Sungguh melelahkan


__ADS_3

Setelah selesai melakukan cek-up, senyum Kenny tidak pernah memudar dari bibirnya. Bahkan, tangan Gladis digenggam terus menerus. Hal itu, membuat Gladis menjadi sangat bahagia. Karena buah cinta mereka akan segera hadir.


"Sayang, kamu mau makan apa?." tanya Kenny, menatap Gladis yang duduk disamping kemudi.


"Rujak yank, disitu tu. Enak sekali rujak buatan bapak itu." ujar Gladis, saat mobil melewati jalanan. Dan, berketepatan ada bapak penjual rujak yang biasa Gladis beli saat pulang dari kampus.


"Tapi, kalau kamu nggak bolehin aku makan rujak yang dipinggir jalan. Ya, nggak apa. Asal, kamu jangan kompline aja saat anak kita lahir. Mereka ileran." ucap Gladis, karena ia sudah menebak pasti suaminya tidak mengizinkannya untuk memakan makanan dipinggir jalan.


"Boleh dong sayang, kan ini demi sikembar. Ah... Aku udah nggak sabar, pengen ketemu sama mereka. Main bareng, pasti keluarga kecil kita menjadi lengkap sayang. Terimakasih, sudah hadir dalam hidup aku, dan menerima semua kekurangan aku." ucap Kenny, sambil mencium punggung tangan Gladis. Gladis, terharu dengan ucapan Kenny. Ia, tidak percaya Kenny yang pertama ia kenal begitu kejam. Tetapi, sekarang dia sangat sangat lembut.


Ternyata, benar adanya. Jika, seseorang telah mencintai wanita. Dia akan berubah dengan sendirinya. Menjadi pria dewasa, pemikir dan penuh kasih sayang. Sekejam kejamnya pria, jika dia sudah menemukan orang yang ia cintai. Maka, dia akan berubah.


"Hiks... Kamu pria terhebat yang pernah aku temui. Bagiku, kamu sama sekali tidak punya kekurangan. Kau begitu sempurna, aku lah yang seharusnya berterimakasih. Karena, kau hadir dalam hidupku. Dan, membuatku menjadi tidak kekurangan kasih sayang. Apalagi, sosok seorang ibu yang sudah lama aku dambakan dan rindukan. Aku sangat menyayangi kalian semua." ucap Gladis, sambil meneteskan air mata. Kenny, langsung memeluk Gladis dengan erat. Memberikan kekuatan, agar Gladis tidak bersedih mengingat ibunya.


"Sekarang kamu jangan bersedih lagi, kami selalu ada untukmu. Terutama aku, aku akan ada disaat kau membutuhkan sandaran, teman curhat. Tapi, jangan jadikan aku musuhmu." ucap Kenny, sedikit bercanda. Gladis, langsung mencubit pelan perut kotak Kenny.


"Aw.. Aw.. Becanda sayang, udah jangan nangis lagi. Ingat, bayi kita juga ikut bersedih karena Mama nya nangis." ucap Kenny, sambil menghapus air mata Gladis.


"Yaudah, ayo beli rujaknya. Ntar, sikembar ileran loh." ucap Gladis, seraya tersenyum manis. Kenny, tersenyum. Lalu, turun dari mobil. Sebenarnya, Gladis ingin ikut turun. Menyapa bapak sipenjual rujak, tetapi sisa air matanya masih terlihat, ia menjadi malu nantinya.


*****


"Mah, kita pulang." ucap Kenny, memasuki rumah dengan senyum yang merekah.


"Iya sayang, kalian sudah makan siang?." tanya Mama.


"Belum mah, Glad belum makan siang. Tetapi, sudah memakan buah rujak." kata Kenny, sambil melirik Gladis yang sedang tersenyum.


"Maaf mah, tadi dipinggir jalan ada yang jual rujak. Eh, sikembar jadi pengen makan rujak." ujar Gladis.


"Tidak apa apa sayang, itu memang biasa dialami wanita hamil. Eh, sebentar. Tadi kamu bilang sikembar pengen rujak? Berarti calon cucu Mama kembar dong?." tanya Mama, sambil menatap mereka secara bergantian.


"Iya mah, calon cucu Mama kembar. Ini, kita ada gambar bayinya." kata Kenny, sambil menyerahkan beberapa kertas ketangan Mama nya.


"Selamat sayang, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia. Mama, pinjem dulu. Sekarang kalian makan dulu sana." usir Mama, ia kembali duduk disofa. Sambil melihat lihat gambar calon cucu nya.


Kenny dan Gladis ikut tersenyum, melihat keinginan orangtua Kenny terwujud. Memiliki cucu, dan itupun langsung dapat yang dua sekaligus.

__ADS_1


"Mama bahagia sekali sayang, terimakasih telah hadir dalam hidupku. Dan, mengubah hidupku menjadi lebih berwarna, Aku mencintaimu." ucap Kenny, sambil memeluk Gladis.


"Iya sayang, aku juga sangat bahagia. Bisa memiliki calon buah hati dari ayah sepertimu. Aku juga sangat mencintaimu." ucap Gladis, membalas pelukan Kenny.


Jam menunjukkan pukul 16.40 wib. Setelah selesai makan siang tadi, Gladis langsung beristirahat. Karena, ia merasa sangat lelah hari ini. Padahal mereka hanya pergi cek-up dan membeli rujak dipinggir jalan. Hal itu sudah membuatnya merasa kelelahan.


Ternyata benar adanya, bahwa wanita yang sedang hamil memang sering kelelahan. Walaupun, hanya melakukan hal yang kecil.


Sedangkan Kenny, ia masuk keruang kerjanya. Karena, hari ini ia tidak masuk kantor. Jadi, ia harus memantaunya lewat laptop.


Drt.. Drt.. Drt..


Ponsel Kenny bergetar, tertera nama Zoe. Dengan, segera Kenny menggeser ikon hijau.


"Hallo Zoe, ada apa?." tanya Kenny.


"Hallo tuan, saya ingin menyampaikan bahwa besok ada meeting bersama Wijaya Group. Membahas proyek yang ada dibali." jawab Zoe, disebrang telepon.


"Baiklah, besok aku akan kembali bekerja. Apa kau hari ini lembur?." tanya Kenny.


"Sepertinya begitu tuan, karena tugas yang kau berikan begitu banyak." keluh Zoe.


"Sebentar tuan." ucap Zoe. Hal itu, membuat Kenny tidak jadi memutuskan sambungan.


"Ada apa Zoe? Apa ada masalah?." tanya Kenny.


"Tidak tuan, aku hanya ingin bertanya. Bagaimana hasil USG nyonya? Apakah calon bayinya laki laki atau perempuan tuan." ucap Zoe.


"Oh itu, calon bayiku kembar Zoe. Aku sangat sangat bahagia dan bersyukur. Semoga kau juga bisa mendapatkan calon bayi seperti ku." ucap Kenny, begitu antusias. Zoe dapat merasakan kebahagiaan Kenny.


"Syykurlah tuan, iya semoga saja apa yang kau katakan itu terjadi." ucap Zoe.


"Baiklah, aku tutup dulu. Jangan lupa mengabari istrimu, jika hari ini kau lembur." ucap Kenny.


"Iya, baiklah tuan." ucap Zoe. Kenny, langsung memutuskan sambungannya.


"Dasar bos sialan, padahal aku sudah mengatakan kepada istriku bahwa aku hari ini tidak akan lembur, tetapi apa? Dia malah tidak masuk dan memberikanku tugas yang membuatku harus lembur." gerutu Zoe, sambil mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


"Eh, tapi syukurlah. Jika, calon bayi mereka kembar. Semoga Jenita bisa mengandung bayi kembar juga." lanjutnya, sambil tersenyum mengingat wajah Jenita.


Zoe langsung menekan nomor Jenita, dan melakukan video call.


"Hallo tuan.. " ucap Jenita, saat sudah mengangkat telepon.


"Hallo sayang, kau sedang apa?." tanya Zoe, sambil tersenyum.


"Aku baru selesai masak tuan, untuk makan malam kita. Kau hari ini, tidak lemburkan? Aku sangat bosan sendirian dirumah. Atau, apa boleh aku keluar? Berkeliling komplek saja." ucap Jenita, begitu cerewet. Hal itu membuatnya semakin gemas dengan Jenita. Rasanya, ia sudah ingin memeluk Jenita saat ini. Ia, juga sudah sangat merindukan wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


"Maaf sayang, seperti nya aku lembur lagi. Soalnya, tuan tadi tidak masuk. Karena, tuan menemani istrinya untuk cek-up kandungan sekalian USG. Dan, kamu tau jenis kelamin calon bayi mereka?." tanya Zoe.


"Huh... " Jenita menghela nafas kecewa. "Baiklah tidak apa apa tuan, aku juga tidak bisa memaksamu untuk terus berada disisiku. Karena kau juga punya pekerjaan, aku akan menunggu sampai kau pulang. Dan, jangan makan diluar. Karena itu tidak sehat. Istrimu sudah memasak dirumah hehe.. " ucap Jenita, sambil cengengesan. Ia, sadar bahwa dirinya terlalu banyak bicara. Ia, sendiri bingung. Kenapa ia begitu cerewet saat berbicara dengan Zoe. Padahal dulu, ia orangnya sangat irit bicara dan cuek. Ia, hanya care dengan anak anak panti dan teman motornya saja.


"Iya sayang, pasti. Aku merindukanmu." ucap Zoe, dengan nada manja.


"Aku juga tuan, oh iya tadi kau bilang tuan Kenny menemani nona Gladis cek-up. Terus, bayinya apa?." tanya Jenita.


"Bayi mereka kembar sayang, aku juga ingin memiliki bayi kembar." ucap Zoe.


"Wah, kembar ya? Syukur deh kalau calon bayi mereka kembar. Kalau kita diizinkan memiliki bayi kembar, aku juga sangat bersyukur tuan. Ya, mudah mudahan aja. Terus berdoa saja, semoga bisa memiliki bayi kembar." ucap Jenita, jujur saja kalau bisa ia juga ingin memiliki bayi kembar.


"Aminn sayang, oh iya tadi kau bilang kau ingin berkeliling komplek?." tanya Zoe. Jenita, mengangguk sambil tersenyum. Ia, yakin Zoe akan mengijinkannya keluar.


"Tidak boleh! Kau boleh keluar hanya bersamaku sayang. Aku takut ada yang merebut dirimu dariku." ucap Zoe, senyum Jenita langsung memudar. Menjadi wajah cemberut.


"Yasudah, aku tutup dulu! Cepatlah selesaikan pekerjaanmu, agar kau tidak lama pulangnya." ucap Jenita, dengan kesal.


"Iya pasti sayang, aku akan segera pulang." ucap Zoe. Jenita langsung memutuskan sambungannya. Ia, terlalu kesal untuk berbicara lebih lama dengan Zoe.


Bosan?


Sangat bosan, bagaimana tidak. Ia, yang biasanya selalu keluar dan bertemu dengan teman temannya. Tetapi, sekarang apa? Ia malah dikurung dirumah saja, bahkan untuk ke mini market saja, ia tidak diijinkan. Kecuali bersama Zoe.


Tetapi, ia juga harus bisa membiasakan hidup dengan suaminya. Dan menuruti semua ucapan suaminya.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih, buat kalian yang sudah setia menunggu cerita dari saya. Jangan lupa, untuk memberikan like, komen dan vote nya. Agar, memberikan semangat untuk saya.


__ADS_2