
Saat Eryna sudah sadarkan diri, Will langsung meraih ponselnya, dan membuka galeri. Medekat kan arah ponsel ke dekat Eryna, menunjukkan gambar gambar yang sejak kemarin Adzam kirim ke ponselnya.. " Sayang, lihat lah. Apa kau kenal dengan tempat ini.?" Tanya Wiil, sambil menunjuk foto yang ada di ponselnya..
Eryna terdiam, saat memandang ponsel Will.
"Kau pasti lupa..??" Tanya Will.
Lalu Eryna terseyum.. "Bagaimana aku bisa lupa, tempat di mana kita pertama kali bertemu." Ucap Eryna..
"Syukurlah, kau masih ingat dengan kenangan itu, kenangan di mana kau menolong ku, dan membuat ku jatuh cinta untuk pertama kalinya." Ucap Will sambil mencium jemari Eryna.
Posisi Will saat ini sedang duduk berjongkok di lantai, sedangkan Eryna duduk di kursi roda nya..
"Tapi gadis yang berdiri disana. Tampak begitu jauh dan berbeda sekarang. Aku merasa seperti bayangan."
"Sayang." Ucap Will.
"Bagaimana jika aku tidak bisa di sembuhkan.?"
"Tidak, jangan. Jangan katakan itu." Ucap Will sambil menggelengkan kepalanya dan air mata jatuh membasahi pipinya..
"Aku ingin kau berjanji sesuatu padaku. Aku mau kau menemukan orang lain." Pinta Eryna.
"Tidak, tidak." Ucap Will, sambil membenamkan wajahnya di atas paha Eryna,. "Kau akan di sembuhkan, aku janji itu." Ucap Will kemudian sambil menangis.
"Will, tidak kah kau berhenti saja.? Berhentilah membuat janji, yang bukan hak mu untuk berjanji itu." Ucap Eryna, lalu mengecup kening Will. Setelah itu menautkan kening nya ke kening Will.. Hanya ada keheninga, di sertai air mata dari keduanya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Malam harinya, Will masih setia berada di sisi Eryna, menemani istri tercinta yang sedang tertidur dwngan pulasnya.. Dave yang baru saja datang langsung mendekat ke arah Will.
"Ayolah Will, kau harus pulang..!!" Bujuk Dave.
"Tidak, aku tidak ingin." Ucap Will.
"Kau harus pulang ke rumah untuk beristirahat."
__ADS_1
"Dia adalah rumah ku. Istriku rumah yang sesungguhnya."
Dave sudah tidak bisa berkata kata lagi mendengar ucapan Will. Bahwa Eryna adalah rumahnya, yang artinya dia akan selalu berada di mana Eryan berada..
"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Besok aku akan mampir ke sini lagi." Pamit Dave.. Namun Will hanya tersenyum, tak mampu lagi berkata kata.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Siang harinya..
"Kak Will." Panggil Ella.
"Hhmm."
"Kaka istirahatlah, aku yang akan menjaga kak Eryna.." Ucap El
"Siapa yang menjaga baby Mika.?" Tanya Will, tanpa memedulikan ucapan Ella barusan
"Ada bibi, dan ada kak Dave juga." Jawab Ella..
"Sayang."
"Sangat indah." Ucapnya dengan lirih, sambil menggenggam jemari Will.
Tit. Tit. Tit. Tit. Tit. Bunyi suara monitor
"Kau baik baik saja sayang..?" Tanya Will.
"Ya, aku sembuh, dia datang menemuiku. Tidak sakit lagi. Aku bisa merasakannya "
"Sayang tenang lah. Aku akan memanggil dokter."
"Kurasa aku baik baik saja. Percayalah padaku. Kau harus percaya, aku baik baik saja."
"Okey, tapi aku harus memanggil dokter." Ucap Will, lalu berlarih keluar dari kamar rawat Eryna dan memanggil dokter.
__ADS_1
"Dokter." Teriak Will sambil berlarih.. "Permisi bisa kah aku memanggil dokter, untuk memeriksa istriku.? Istriku, dia telah bangun." Tanya Will pada seorang suster..
"Kak Will." Teriak Ella dari dalam kamar..
"Siapa pun di luar sana, tolong." Teriak nya kemudian.
Will yang mendengar teriakan suara Ella yang berasal dari dalam kamar istrinya, langsung kembali berlarih,, di ikuti oleh suster dan dokter.
Ceklek.. Bunyi suara pintu yang Will buka.. Kaki Will yang perpijak pada lantai tiba-tiba kehilangan keseimbangan, Will berjalan menuju istrinya dengan jalan yang terkulai lemas, sambil air mata jatuh mengalir begitu deras membasahi pipinya..
"Kak Eryna, ayo bangun. Jangan tinggalkan kami." Ucap Ella, menggoyang kan tubuh Eryna, sambil terus menangis.
"Kak. Kak Eryan." Ucap Ella lagi.
"Tidak, tidak, tidak. Ini tidak mungkin.." Teriak Will sambil menggelengkan kepalanya,
Dokter dan suster yang tadi ikut berlari di belakang Will, kini memeriksa kondisi Eryna, dan dokter menggelengkan kepalanya, sambil melihat ke arah Will.. Will yang mengerti dengan apa yang dokter lakukan, hanya bisa menangis, menangis sejadi jadinya..
Adzam yang kebetulan baru saja datang,, langsung ikut menangis melihat adiknya Eryna..
"Hiksss, hikssss,hikkkk,. Kau wanita yg sangat kuat adik ku, kakak sangat menyanyangimu." Ucap Adzam sambil memeluk tubuh Eryna..
"Jangan, jangan pergi. Kumohon. tetap lah di sini bersamaku, bersama baby Mika. Hingga kita menua bersama." Ucap Will yang terus saja mencium wajah Eryna..
"Will, aku harus kuat.." Ucap Adzam.
"Tidak, tidak mungkin istriku pergi.. Dia belum pamit, dia bilang, dia telah sembuh.. Yaa, dia sudah sembuh, dan saat ini istriku hanya tertidur saja,. Aku yakin itu." Ucap Will.
"Tenangkan dirimu. Kau harus taba menerima semua ini." Ucap Adzam.
"Hikkssssss, Hikssssss, Hikkkkkssssss.." Tangis Will pencah, kala Adzam memeluk tubuhnya..
"Dia satu satu nya wanita yang paling aku cintai. Kenapa dia tega meninggalkan ku,tanpa pamit sama sekali.." Ucap Will.
"Aku tahu itu., Tapi kau harus kuat mengahadapi nya. Karna saat ini ada baby Mika yang sedang menunggu mu di rumah.." Jelas Adzam, sambil menepuk pundak belakang Will.. "Ikhlaskan Eryna, aku yakin dia bahagia di sana, tanpa merasa sakit sedikit pun."
__ADS_1