
Sudah seminggu Shella tinggal dirumah Kenny, dan hari ini ia berniat akan kembali ke apartemennya. Karena, Ibu Kenny sudah memberi kabar. Bahwa mereka, sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah putranya.
"Gladis, ambilkan koper ku didalam kamar. Dan, masukkan kedalam bagasi mobil kekasihku." perintah Shella, begitu angkuh.
"Sayang, kenapa harus dia. Zoe saja, Zoe ambilkan koper Shella. Dan, masukkan kedalam bagasi." ujar Kenny.
"No..! Aku tidak mau Zoe, tapi wanita ini." tutur Shella.
"Tapi--." ucapan Kenny terhenti, karena Gladis sudah dulu memotongnya.
"Tidak apa - apa tuan, ini juga sudah menjadi salah satu tugas saya." kata Gladis, ia tersenyum tipis.
"Mari saya bantu nona." kata Zoe, ia mengikuti langkah Gladis.
"Sayang, kenapa kau mau Gladis yang membawa kopermu? Kenapa tidak Zoe saja?." tanya Kenny.
"Kenapa? Kenapa kau perduli kepadanya? Apa, kau memiliki rasa kepadanya.?" tanya Shella balik.
"Ah, sudahlah aku malas berdebat denganmu. Terserah kau saja, mau berpikiran seperti apa." kata Kenny, ia mendadak jadi marah. Karena, selalu memperlakukan Gladis seperti budaknya. Dan, dia hanya bisa diam dan melihat saja.
"Kau aneh, apa benar kau memiliki perasaan kepadanya?." tanya Shella, dengan tatapan menyelidik. Saat, Kenny ingin menjawabnya. Tiba - tiba suara Gladis muncul.
"Ini nona koper anda, mari saya antar." kata Gladis, ia tidak ingin Kenny menjawab dengan hubungan mereka.
"Kau ini, tidak sopan. Majikanmu sedang mengobrol, kau malah memotong ucapannya." ujar Shella, menatap tajam Gladis.
"Maaf nona, saya tidak akan mengulanginya lagi." kata Gladis, sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Shel, kau ini. Hal, sekecil itu saja kau permasalahkan." tutur Kenny, ia jengah melihat sikap angkuh Shella.
"Kenapa kau jadi marah padaku? Seharusnya marah lah pada pelayan bodohmu ini." kata Shella. Gladis, semakin menundukkan kepalanya.
Drt.. Drt. Drt..
Ponsel Kenny bergetar dibalik saku celananya. Dengan, segera ia menjauh dari mereka. Lalu, mengangkat telepon tersebut.
"Hallo mah.. " jawab Kenny.
__ADS_1
"Hallo sayang, kami sudah sampai dibandara. Tolong, jemput kami ya nak." pinta Mama.
"Oh, Mama dan Papa sudah sampai. Baiklah, aku akan segera menjemput kalian." kata Kenny.
"Iya sayang, jangan lupa. Bawa juga menantu kami, kami sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya." kata Mama, begitu antusias.
"Baiklah Ma, aku tutup dulu." ujar Kenny, ia langsung memutuskan sambungannya. Lalu, memesan taksi online untuk mengantar Shella ke apartemennya.
"Shella, maaf. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Karena, orang tuaku sudah memberi kabar. Bahwa, mereka sudah sampai dibandara. Kau, pulang bersama taksi saja. Karena, aku sudah memesankanmu." tutur Kenny.
"Apa?!! Tidak bisa begitu sayang, kau harus mengantarku terlebih dahulu. Jika, kau saja ingin menjemput orang tuamu. Jemput saja." sahut Shella.
"Tapi maaf, aku tidak bisa. Orang tuaku, sudah menungguku. Zoe, Gladis ayo kita pergi." kata Kenny, ia berjalan duluan.
"Eh tunggu - tunggu, kenapa wanita ini ikut juga? Kenapa, tidak aku saja yang kau ajak?." tanya Shella, menahan tangan Kenny.
"Karena dia adalah is... " ucapan Kenny, terhenti. Ia, baru sadar akan apa yang ingin ia utarakan.
"Is? Is apa sayang? Ngomong yang jelas." kata Shella.
"Asisten rumah tangga, iya. Pasti tuan ingin mengatakan asisten kan. Begini, maksud tuan nona. Mungkin, tuan besar dan nyonya besar banyak membawa barang - barang. Atau oleh - oleh, makanya tuan membawa dua pelayan. Bukan begitu tuan? Tapi, jika anda ingin diposisi saya. Silahkan, saya akan memberinya dengan senang hati." kata Gladis. Gladis, ia menatap Kenny. Kenny, hanya diam saja. Sedangkan Zoe, sudah menahan senyumnya. Karena, dapat menjawab ucapan Shella.
"Lancang sekali kau, huh.. Syukurlah, aku pikir Kenny akan mengatakan kalau kau adalah istrinya. Mana, mungkin Kenny mau dengan wanita sepertimu. Kampungan, kucel bertubuh kecil lagi." kata Shella, menghina fisik Gladis.
Deg..
Jantung Gladis, berdetak cepat. Hatinya, teriris mendengar ucapan Shella.
"Tidak nona, mana mungkin kami suami - istri. Secara, tipe tuan seperti anda. Berbeda sekali dengan diriku. Aku, juga sadar diri siapa diriku nona." kata Gladis sambil tersenyum. Ia, mencoba menutupi rasa sakitnya.
"Sudahlah, kau pulanglah Shel. Taksimu sudah menunggu didepan. Aku, akan pergi dulu." kata Kenny, ia pun masuk kedalam mobil. Dan, diikuti dengan Gladis. Tetapi, kali ini Gladis duduk didepan bersama Zoe. Kemudian, Zoe menjalankan mobilnya. Gladis, membuka suara agar tidak ada keheningan.
"Tuan Zoe, apa kau sudah lama bekerja dengan tuan Kenny?." tanya Gladis, ia menatap Zoe yang sibuk menyetir.
"Sudah nona, aku sudah sangat lama bekerja dengan tuan Kenny." jawab Zoe, ia menatap lurus kedepan. Gladis, menganggukkan kepalanya.
"Apa kau sudah menikah tuan?." tanya Gladis. Zoe, menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana mau nikah nona, suamimu ini sangat kejam. Dia, tidak membiarkan ku menikmati masa mudaku. Dia, selalu saja memberikan tugas yang berat kepadaku." gumam Zoe, didalam hati.
"Kenapa tuan? Kau sangat tampan, dan kurasa gajimu juga cukup untuk menghidupi istrimu." ucap Gladis. Kenny, yang mendengar Gladis memuji Zoe. Hatinya, menjadi panas.
"Kenapa kau ingin mengetahui masalah pribadinya? Apa kau, ingin mendaftar jadi istrinya?." tanya Kenny, ia menatap Gladis dengan jengkel.
"Jika tuan, mengijinkannya. Maka, aku akan mendaftarkan diriku." kata Gladis, dengan santai.
"Kau.. Jangan coba - coba untuk mengkhianatiku. Aku, akan menguburmu hidup - hidup." kata Kenny.
"Astaga tuan, aku hanya bercanda. Jika, aku ingin bersama pria lain. Maka, aku tidak akan memilih sekretaris Zoe." kata Gladis, ia tidak mengerti dengan pria ini. Selalu, saja menganggap ucapannya dengan serius. Sedangkan, Zoe sudah menahan tawanya. Karena, melihat bos nya cemburu.
"Coba saja jika berani, aku akan mengubur pria itu dan juga dirimu didalam satu lubang." kata Kenny.
"Yaya.. Terserahmu saja." kata Gladis, hanya acuh. Bagaimana mungkin, ia bersama pria lain. Sedangkan hatinya sudah menetap nama Suaminya. Ia, tidak tau. Cintanya akan terbalas atau tidak, karena kecil kemungkinan untuk bisa membuat pria ini jatuh cinta kepadanya.
"Glad, pindah kebelakang.! Aku, seolah nyamuk disini." ujar Kenny.
"Tidak tuan, aku merasa nyaman disini." sahut Gladis.
"Pindah? Atau.. " ucapan Kenny, terhenti.
"Yaya.. Aku akan pindah, kau sangat suka sekali mengancam." kata Gladis, Zoe pun menghentikan mobilnya. Gladis, turun dan pindah disamping Kenny.
"Gitu dong." kata Kenny, ia menjatuhkan kepalanya diperut Gladis. Sambil menggesek - gesekkan kepalanya.
"Tuan, jangan begini. Gelii.! Apa kau tidak malu, disini ada tuan Zoe." kata Gladis.
"Zoe tidak akan berani melihat kita." kata Kenny, Zoe memang tidak berani mengintip dari kaca spion. Apalagi, menatap secara langsung.
"Tuan.. Jangan seperti ini, kumohon.. Kau membuatku semakin tersiksa, hatiku sakit saat mengingat perpisahan kita." gumam Gladis, didalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Huh.. Capek, mikir kata - katanya. Beri semangat dong, biar aku dapat karangan lebih seru lagi. Votenya ya:')