
Seusai selesai mandi, Gladis menyuruh Kenny untuk keluar. Ia, malu jika harus memakai handuk didepan suaminya itu. Padahal, seluruh tubuhnya sudah dilihat bahkan dijelajah oleh suaminya.
"Tuan, apa kau bisa keluar dulu. Aku, malu jika harus memakai handuk didepanmu." pinta Gladis.
"Pakai saja! Kenapa harus malu. Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu." sahut Kenny.
"Baiklah, jika tuan tidak ingin pergi. Aku, tidak akan keluar dari dalam bath up ini." kata Gladis.
"Kau ini, apa kau sudah bisa berjalan sendiri?." tanya Kenny.
"Sudah, dibawa berendam sudah agak mendingan. Aku, sudah bisa jalan sendiri." ucap Gladis.
"Baiklah, cepatlah keluar.! Sarapanmu sudah berada diatas nakas." tutur Kenny, ia berjalan keluar dari kamar mandi.
"Huh.. Aku sudah sangat lapar. Pria kejam itu sangat susah diusir. Dan, sangat suka mengancam." gumam Gladis, ia memakai handuknya. Kemudian, berjalan keluar.
Dilihatnya Kenny, sedang duduk dibalkon sambil teleponan dengan seseorang. Namun, Gladis tidak mengetahui siapa orang itu. Ia, hanya menggidikkan bahunya acuh. Saat, ingin berjalan menuju kasur. Ia, terkesiap saat mendengar suara Kenny.
"Sayang, kapan Kamu akan kembali? Aku, sudah sangat merindukanmu. Akhir - akhir ini kau sangat susah untuk dihubungi." ucap Kenny, dengan suara manja.
__ADS_1
Deg..
Jantung Gladis berdetak dua kali lebih cepat. Entah, kenapa dadanya begitu sesak. Saat, pria itu memanggil seseorang dengan sebutan sayang. Tidak mungkin kan, jika itu pria. Pasti itu wanita dan dia adalah kekasih pria kejam itu.
"Huh.. Kau memikirkan apa Glad, kau ini hanya barang pembuat anak saja. Jangan, berharap lebih! Kau bisa mengisi hati tuan muda yang kejam ini. Setelah kau mengandung dan melahirkan keturunanya, maka kau akan ditendang dari rumah ini. Dan, status mu akan menjadi janda. Dari, situlah aku akan mulai menata hidupku kembali." gumam Gladis, sambil memejamkan matanya sejenak. Ia melanjutkan jalannya menuju kasur. Ia, sudah sangat lapar. Dan, segera ingin mengisi perutnya. Tanpa, memakai baju dahulu.
"Kau.. Kenapa tidak memakai pakaianmu dahulu? Apa kau berniat ingin menggodaku lagi?." tanya Kenny, ia menghampiri Gladis yang sibuk melahap makananya.
Uhuk.. Uhuk..
Gladis tersedak, karena kaget mendengar suara pria itu. Dengan, cepat Kenny mengambil minum seraya menepuk - nepuk pelan punggung Gladis.
"Kau mengagetkan ku, sejak kapan kau berada disini? Bukannya, tadi kau berada dibalkon." tutur Gladis, sambil mengelap mulutnya.
"Baru saja, jawab pertanyaanku." titah Kenny.
"Pertanyaan yang mana tuan? Kau, sama sekali tidak bertanya kepadaku." kata Gladis.
"Dasar payah, kenapa kau makan dalam keadaan seperti ini? Apa kau tidak bisa memakai pakaian terlebih dahulu. Apa kau berniat ingin menggodaku lagi hm?." tanya Kenny, dengan tersenyum nakal.
__ADS_1
"Oh itu, aku sudah sangat lapar tuan. Kau, memakanku sangat rakus. Dari semalam aku belum makan, kau bahkan tidak mengisi tenagaku sebelum kau memakanku. Dan, jangan pernah berfikir aku ingin menggodamu. Aku, sama sekali tidak ingin menggodamu. Kau, saja yang berfikiran mesum." ucap Gladis dengan kesal. Ia, berlalu menuju lemari. Dan, mengambil pakainnya. Lalu, masuk keruang ganti pakaian.
Kenny yang mendengar celotehan Gladis, ia tersenyum simpul. Ternyata, dibalik sikap polosnya. Dia, wanita cerewet juga.
Gladis memakai blezer berwarana Navy, ia keluar dari ruang ganti pakaian. Dan, menatap dirinya dicermin. Ia, memasang sedikit make up diwajahnya. Agar, tidak terlihat pucat.
"Kau mau kemana?." tanya Kenny, sambil menatap Gladis.
"Aku ingin jalan - jalan tuan, aku merasa bosan. Apa aku boleh keluar?." tanya Gladis, sambil memasang wajah imutnya.
"Boleh, asalkan bersamaku. Aku, tidak mau kau kabur dariku. Sebelum, kau melahirkan keturunanku." sahut Kenny, ia beranjak dari duduknya.
"Baiklah, terserah kau saja." ucap Gladis pasrah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.