
Di dalam perjalanan tak henti hentinya Eryna menangis.. Menangis sambil menggengam kedua tangan Will.. Sesekali, Eryan juga berbisik di telinga Will, agar Will tetap sadar.. Namun, Will sama sekali tidak merespon.. Membuat Eryna terus saja menangis..
"Van..." Teriak Eryna,.. "Kau bisa bawa mobil atau tidak...???" Bentak Eryna, yang sudah penuhi kalang kabut.. Karena khawatir dengan kondisi Will.
"Eryna, tenang. Kau harus sabar.." Ucap Adzam, menenangkan Eryna..
"Kak.., 'hikkssss,hikkkksss,."
"Kau harus tenang Eryna. Will orang yang kuat,.." Timpal Dave..
"Kak Adzam, Dave.. Kalian tidak lihat wajah Will, dia sungguh pucat, aku takut jika terjadi apa apa kepadanya.."
"Tenangkan pikiran mu Eryna, ingat kau sedang mengandung.." Ucap Adam..
Setelah menempuh perjalanan, kurang lebih 45menit. Mobil yang Van kendarai tiba di salah satu rumah sakit,.
"Tolong, selamat kan ayah dari bayiku.." Pinta Eryna, saat dokter dan para suster telah mendorong brangkar yang Will tempati..
Saat Wiil telah masuk ke ruangan pemeriksaan, Eryna kembali menangis, terseduh seduh.. Adzam yang melihat adiknya seperti itu, langsung menghapiri dan memeluk tubuh Eryna..
"Jangan menangis, kaka yakin Will pasti akan baik baik saja.." Ucap Adzam..
"Kak, ini semua salah ku.. Andai Will tidak datang, pasti Wilk tidak akan seperti ini kak.." Sesal Eryna..
"Hutttss, kau tidak salah Eryna.. Ini memang sudah jalan nya.."
__ADS_1
"Ka,. Hiksssss,hiksss,.. Jujur aku sangat takut kak,.. Aku takut Will kenapa-napa di dalam sana.."
"Kaka yakin, Will akan baik baik saja.. Jadi berhentilah menangis.. Kau tidak kasihan dengan bayi mu ini.." Ucap Adzam sambil memengan lembut perut adiknya.. "Apa kau sudah makan..??" Tanya Adzam kemudian., Lalu Eryna menggelengkan kepalanya..
"Ayo, kita ke kantin.. Kau harus makan.."
"Tapi kak.. Aku tidak lapar.."
"Tapi bayimu butuh asupan.."
"Itu benar Eryn. Bayimu butuh asupan gizi." Timpal Dave..
"Tapi......" Ucap Eryna.
"Tunggu lah di sini, aku akan membelikan mu makanan,. Aku tahu kau tidak ingin meninggal kan Will kan..??" Ucap Dave, dan di anggukan kepala oleh Eryna..
Beberapa saat kemudian, dokter membuka pintu.. Eryna yang melihat langsung mengampiri.. "Bagaimana dok..?? Bagaimana keadaanya..??" Tanya Eryna..
"Untung saja, pasien dibawa tepat waktu.. Jadi saat ini pasien sudah baik baik saja. Hanya saja, untuk saat ini dia belum sadar.."
"Terima kasih dok.., Apa aku boleh melihatnya dok..???"
"Nanti setelah pasien di pindahkan di kamar inap nya.."
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
Saat ini Will telah berada di kamar inap nya.. Eeyna yang sedari tadi menangis, masih setia duduk di samping Will.. Sesekali Eryna mengusap rambut Will, penuh dengan kelembutan..
Dave, Adzam dan Van yang melihat itu, mengerti dan memberi kesempatan untuk Eryna dan Will berdua di dalam kamar..
"Van, dimana Irfan...???" Tanya Dave.
"Dia sedang berada di rumah rahasia.. Menangani Adit.."
"Baguslah, tanyakan pada Irfan, suruh dia menyiksa Adit,. Karna telah berani melukai adik sepupuku.."
"Baik tuan.."
"Dan Ella, apa yang dia lakukan sekarang..?" Tanya Dave lagi..
"Saat ini nono Ella, sudah berada di rumah.. Tapi dia terus saja menangis m, dan meminta untuk datang ke sini.."
"Jangan biarkan dulu dia keluar rumah, aku takut kalau masih ada anak buah Adit yang berkeluaran di luar sana.."
"Baik tuan.."
"Adzam, sebaiknya kau juga harus pulang dan beristirahat.."
"Tidak Dave, aku ingin di sini menemani adik ku.."
"Ada aku, dan ada Will.. Aku yakin sebentar lagi Will akan sadar..."
__ADS_1
MAMPIR YUKKK DI NOVEL BARU KU🤗🤗🤗