
Keesokan harinya.
Sinar matahari sudah menembus dari celah jendela kamar mereka. Tetapi, kedua insan itu masih tetap pada posisi nya dengan saling memeluk. Perlahan Gladis mulai mengerjapkan matanya, dilihatnya suaminya masih tidur dengan wajah polos nya.
"Kau sangat tampan suamiku, aku sangat beruntung memiliki suami sebaik dirimu." gumam Glad, sambil mengecup pipi Kenny.
Kemudian, ia melepaskan tangan Kenny dari pinggangnya. Dan, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah sangat lengket akibat pergumulan singkat mereka semalam.
"Sayang, ayo bangun! Siap - siap sana." ucap Glad, sambil membuka gorden kamar.
"Jam berapa sayang?." tanya Kenny, sambil mengucek matanya.
"Jam tujuh sayang, ayo bangun! Aku mau masak dulu ya." pamit Glad, sambil tersenyum hangat kepada Kenny.
"Yank, sini dulu deh! Kayaknya ada sesuatu wajahmu." ucap Kenny, sambil tersenyum nakal.
"Ha? Apa sayang?." tanya Glad kaget, kemudian ia berjalan mendekat kearah Kenny.
"Ini loh sayang, cuppp." Kenny langsung mengecup sekilas bibir Glad.
"Morning kiss sayang." ucap Kenny, sambil tersenyum.
"Ih Kamu tuh, udah ih. Buruan mandi sana! Kita cek - up jam sepuluh yank." kata Glad, menahan malu.
"Haha iya sayang, hai baby nya papa sama mama. Sebentar lagi kami akan mengetahui jenis kelaminmu." kata Kenny, sambil mengusap perut Glad yanh sudah terlihat buncit.
Glad tersenyum hangat, ia mengusap perutnya. Rasanya ia sudah tidak sabar menunggu kehadiran buah hati mereka. Kenny berkali - kali menciumi perut Glad.
"Sayang, udah! Kalau Kamu gini terus, kapan aku masaknya. Baby nya kan sudah laper." ucap Glad, sedikit memelas.
"Iya, baiklah sayang. Aku akan segera bersiap - siap." ucap Kenny, sambil beranjak dari kasur.
"Sayang, aku tunggu dibawah ya! Baju Kamu udah aku siapin diatas kasur." teriak Glad, dari luar kamar.
"Iya sayang." sahut Kenny, dibalik pintu transparan itu. Glad langsung melenggang keluar kamar, menuju dapur.
***
"Pagi mah, bi." sapa Glad, ia memasuki dapur.
"Pagi sayang, Kamu sudah bangun?." tanya Mama, sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
"Iya mah, Mama mau masak apa?." tanya Glad, ia berjalan kearah kulkas untuk mengambil beberapa bahan yang akan ia masak.
"Mama mau masak sayur asam, sama sambel ayam goreng sayang. Kamu, sendiri mau masak apa nak?." tanya Mama.
"Glad kepengen masak sayur capcai mah." jawab Glad, sambil tersenyum.
Mama tersenyum, lalu melanjutkan masakan masing - masing. Bibi, merekahkan senyumnya saat melihat mertua dan menantu yang sangat akrab ini. Jarang sekali ada mertua sebaik nyonya nya ini.
Jam menunjukkan pukul 09.02 wib.
"Sayang, ayo kita berangkat. Sebentar lagi jadwal aku Cek-Up." ajak Gladis, sambil beranjak dari kasur.
"Yaudah, ayo sayang." sahut Kenny, ia langsung menggandeng tangan Gladis keluar dari kamar.
Ternyata, diruang keluarga sedang ada Mama yang menonton televisi. Gladis dan Kenny menghampiri Mama, yang sedang asik menonton.
"Hai Mah." sapa Kenny, sedangkan Gladis hanya tersenyum hangat.
"Eh hai sayang, kalian pada mau kemana? Kok udah rapi aja?." tanya Mama, ia berdiri dari duduknya.
"Kita mau pamit kerumah sakit, mau cek-up kandungan. Sekalian USG mah, mau liat jenis kelamin calon cucu Mama dan Papa." ujar Gladis, sambil memegangi perutnya yang sudah terlihat jelas.
"Benarkah? Yasudah, kalian hati hati ya sayang. Kenny, jaga istrimu." ucap Mama, sambil tersenyum senang.
*****
Rumah Sakit Medical.
"Selamat pagi dok." ucap Gladis, tersenyum ramah.
"Ah, selamat pagi Nyonya, Tuan. Silahkan duduk." ucap Dr. Zery.
"Apa ada keluhan selama beberapa minggu ini Nyonya?." tanya Dr. Zery.
"Ah tidak ada dok, saya ingin melihat perkembangan bayi kami. Sekalian kami ingin melakukan USG." ucap Gladis.
"Syukurlah, baiklah. Silahkan Nyonya berbaring disana." titah Dr. Zery, sambil menunjuk kearah Bad kasurnya.
Kenny hanya diam, dan menyimak semua apa yang dikatakan oleh Dokter Zery. Ia, menuntun Gladis menuju kasur dan membaringkan Gladis.
"Baiklah, kita cek tensi Nyonya dulu." ucap Dr, ia mulai meletakkan alat pengukur tensi dilengan Gladis.
__ADS_1
"Bagaimana dok? Apa keadaan istri dan anak saya baik baik saja?." tanya Kenny, sambil menatap serius Dr. Zery.
"Semua baik baik saja tuan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tensi Nyonya Gladis juga normal, sepertinya bayi nya tumbuh dengan baik." ucap Dr. Zery.
"Ah syukurlah kalau begitu, sekarang mana hasil USG nya?." tanya Kenny, tidak sabaran. Dr. Zery hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Tuan Kenny.
"Sayang, USG nya saja belum. Masa kamu mau lihat hasilnya." ucap Gladis, sambil tersenyum.
"Ehh... " Kenny, menjadi salah tingkah. Ia, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Jujur saja, ia memang tidak mengetahui bagaimana caranya USG. Karena, dia hanya disibukkan ke kantor, kantor dan kantor saja.
"Kalau begitu, ayo mulai USG nya dok. Saya sudah tidak sabar, ingin melihat pertumbuhan bayi kami." ujar Kenny.
"Baik Tuan, sebentar! Saya ambilkan alatnya dulu." ucap Dr. Zery.
"Nyonya, silahkan angkat bajunya." titah dokter. Gladis, ingin mengangkat baju nya.
"Eh sebentar! Dokter jangan macam macam sama istri saya. Mau USG kok buka baju segala. Kamu juga, mau mau nya aja." ujar Kenny, sambil menahan tangan Gladis.
Gladis menepuk keningnya pelan, bingung dengan sikap suaminya. Yang kelewatan polosnya. Yang mau di USG kan bayi nya, bayinya kan ada diperut. Masa iya, mau USG celana yang dibuka.
"Dok, maafin kebodohan suami saya. Dia memang begitu, karena dia anak semata wayang. Dan, kerjanya hanya dikantor. Dia orangnya sangat kejam, mana mungkin dia mengetahui tentang hal hal yang begini." ucap Gladis, tanpa rasa bersalah.
Dr. Zery hanya tersenyum mendengar ucapan Gladis. Dr. Zery tau, bagaimana sikap Kenny. Karena ia sudah lama mengenal keluarga Kenny.
"Tidak apa apa Nyonya, saya tau bagaimana posesifnya Tuan, kepada orang yang dia cintai." ujar sang Dr.
"Kalau kau tau aku ini kejam, kenapa kau masih mengataiku? Apa kau mau aku telan hidup hidup?." tanya Kenny, menatap Gladis.
"Aku tidak mengataimu sayang, aku bicara sesuai fakta. Baiklah, aku akan menjelaskan kepadamu. Aku kan sedang hamil, terus kalau hamil bayinya diperut. Jadi, wajar dong. Kalau yang diangkat baju, masa iya hamil, kalau mau USG yang diangkat celana." ucap Gladis.
"Iya, tapi... Aku nggak rela, dokter Zery melihat perut kamu. Yang boleh melihat tubuh kamu itu, ya cuma aku. Nggak boleh yang lain." ucap Kenny.
"Yaudah, kalau gitu. Kamu saja dokternya. Kamu USG sekarang perut aku." ucap Gladis, memasang wajah cemberut.
"Baiklah Dokter, silahkan dicek. Tapi jangan macam macam! Jangan melihat perut istriku berlama lama." titah Kenny, menatap Dr. Zery dengan tatapan tajam.
Bersambung...
Ah maaf, baru sempat up lagi. Jangan bosan ya menunggu cerita dari aku.
__ADS_1
Salam hangat dari Junita, untuk sahabat, kakak, adik onlineku hehee❤😘😍
@Junita_0606. Follow ya:)