
"Dokter, tolong katakan apa yang terjadi dengan istriku ?" Tanya Will, saat deokter mulai mendekat ke arah Eryna.
"Tolong, anda keluar dulu. Beri kami waktu memeriksa istri anda." Pinta dokter
"Will, kau harus tenang. Jangan seperti ini." Ucap Dave.
"Dave, istriku. Istriku sedang tidak baik baik saja di dalam sana. Bagaimana aku bisa tenang "
"Duduklah, aku yakin Eryna pasti bisa bertahan. Kau lupa apa, jika istrimu itu wanita yang kuat."
Will hanya diam, sambil menutup mukanya dengan kedua tangan nya..
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Saat ini Will dan Adzam sedang duduk berdua di kursi taman yang berada di rumah sakit.
"Will, seharusnya aku memberitahu mu." Ucap Adzam.
"Ya, kau seharusnya memberitahuku sejak awal."
"Butuh beberapa waktu, untuk aku mengatakan nya. Tapi melihat kalian berdua seperti ini, membuat ku merasa bersalah."
"Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan. Maksud ku, aku ingin berada di sana untuk nya dan ingin membantunya menahan rasa sakit itu. Namun, aku bahkan tidak tahu, apakah selama ini aku menjaganya dengan baik, karna yang aku ingat hanya...........
Ucapan Will terputus kala Adzam menyela.
__ADS_1
"Hanya satu pertanyaan ku untuk mu,. Apakah kamu bisa hidup tanpanya.? Tanpa Eryna.??"
Will menoleh ke hadapan Adzam. Tersenyum sambil meneteskan air matanya secara perlahan lama lama senyum itu memudar, yang ada hanya wajah kesedihan, beserta suara tangis, yang begitu terdengar sangat mendalam.
Hikkkkssss, hikkkkksss, hikkkkssss,. Tangis Will semakin pecah kala Adzam memeluk tubuhnya, menepuk pundak belakang Will, memberikan dukungan kekuatan.
"Adzam, aku tidak sanggup. Membayangkan nya saja, membuat hatiku juga ikut mati "
"Kau harus siap Will. Harus siap." Ucap Adam yang juga ikut meneteskan air matanya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Dua bulan kemudian.
"Hay sayang, lihat siapa yang datang." Sapa Will, sambil menggendong baby Mika.
"Ella." Jawab Will.
"Maafkan mami sayang, selama ini mami belum bisa memandikan mu, dan belum bisa mengurusmu seperti layaknya seorang ibu di luar sana." Ucap Eryna.
"Sayang, tak apa.. Kan ada Ella yang mengurus Mika."
"Menikahlah." Ucap Eryna spontan. Membuat Will menatap heran pada istrinya.
Bukan kali pertama Will mendengar ucapan ini. Entah ada apa dengan Eryna, selama seminggu ini Eryna terus saja meminta Will untuk menikah kembali.
__ADS_1
"Menikahlah, biar ada yang mengurusmu dan mengurus baby Mika." Pinta Eryna.
"Kau tahu, hanya kau satu satu nya wanita yang membuat ku jatuh cinta, jadi mana mungkin aku menghianati mu."
"Will, kau tahu sendiri dengan keadaan ku saat ini."
"Aku tidak peduli akan hal itu. Kau istriku dan akan tetap menjadi satu satunya istriku."
"Tapi lihat lah sekarang. Istri macam apa aku ini.?, Yang kerja nya hanya duduk atau berbaring saja.. Tidak bisa lagi mengurus keperluan suami, tidak bisa mengurus bayinya sendiri. Apakah aku layak di jadikan seorang istri dengan kondisi ku saat ini.?"
"Aku menerima mu, menerima semua kekurangan mu. Aku mencintai mu apa adanya, tanpa ada alasan. Jadi jangan lagi katakan, dan menyuruhku untuk menikah lagi. Karna hanya kau yang aku cintai. Aku tidak peduli, kau bisa mengurusku atau tidak. Karna bagiku, sepasang suami istri harus saling menerima satu sama lain nya tanpa melihat kekurangan pasangan nya."
"Hikkssssssss, hikssssss. Aku hanya beban untuk mu Will. Aku bukan lah istri yang baik. Aku tidak pantas di perlakukan seperti ini. Tugas ku mengurus mu. Tapi ini justru kebalikan nya, kau lah yang telah mengurusku."
"Diamlah, jangan menangis lagi. Nanti baby Mika ikut menangis jika melihat mami nya bersedih." Ucap Will.
"Will. Berjanji lah untuk selalu menjaga Mika dengan baik."
"Aku janji.. Kalau begitu, aku bawa Mika ke Ella dulu ini sudah waktunya Mika untuk minum susu." Pamit Will.
Will yang masih menggendong Mika, hanya berdiri di depan pintu kamarnya. Menangis dalam diam, jika mengingat ucapan yang tiap hari istrinya katakan.. "Kau istriku, sampai kapan pun aku tidak akan mengabulkan permintaan mu.. Karna aku ingin hidup berdua bersama mu, sampai kita menua dan menutup usia bersama." Batin Will.
"Kaka kenapa.?" Tanya Ella, kemudian mengambil alih, menggendong baby Mika. "Apa kak Eryna, masih memaksa kaka untuk menikah kembali.?" Tanya Ella lagi, dan Will menganggukkan kepalanya menandakan ia.
"Kaka yang sabar. Aku tahu kaka Eryna berkata seperti itu, tidak tulus dari dalam hati."
__ADS_1
"Aku hanya ingin istriku tahu, kalau perempuan mana pun, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku "
"Aku tahu itu kak. Itu sangat jelas dari mata kaka. Dari cara kaka memandang Kak Eryna."