Menikahi Pria Kejam

Menikahi Pria Kejam
Bertemu Rayn


__ADS_3

Sudah seminggu Gladis izin dari kampus. Sekarang, hari ini dia kembali ke kampus lagi dengan Kenny yang mengantarkannya.


"Kamu jaga kesehatan sayang! Jangan makan - makanan yang tidak bergizi. Nanti, Kamu telpon aja aku kalau sudah selesai jam kuliahnya." kata Kenny, mobilnya sudah memasuki area kampus.


"Iya sayang, aku inget semua kok nasehat Kamu. Aku masuk dulu ya! Kamu hati - hati dijalan." kata Gladis, sambil mengecup tangan Kenny. Kenny membalas dengan mencium kening Gladis. Kemudian Gladis turun dari mobil.


"Aku akan mengantarmu sampai dikelasmu." ujar Kenny, ia ikutan turun dari mobil.


Diluar mobil, ternyata para mahasiswi sudah heboh dengan kedatangan CEO tertampan sekaligus termapan dikota ini. Mereka semua memuji ketampanan Kenny, tak jarang mereka menunjukkannya secara terang - terangan. Bahkan, ada yang meminta foto bersama.


"Kak, saya boleh nggak sekali aja foto sama kakak?." tanya gadis itu dengan centilnya. Kenny hanya tersenyum manis saja.


Kenny melirik Gladis yang sedang membuang wajahnya. Gladis, seperti tidak penting disini. Ia, berlalu masuk kedalam kelasnya. Membiarkan suaminya dikepung oleh para mahasiswi. Siapa suruh, suka menebar senyuman kemana - mana. Pikir Gladis.


"Maaf, saya buru - buru. Permisi!!" ucap Kenny, ia pun mengejar langkah Gladis.


"Yah.. Belum juga dapet foto bersama. Tapi dia udah keburu pergi. Eh, tapi wanita itu turun dari mobil kak Kenny. Apa dia wanita simpanan kak Kenny?." tanya Mahasiswi kepada temannya.


"Mungkin aja, lagi pula mana mungkin kak Kenny mau sama gadis seperti dia. Wajahnya saja yang polos, ternyata dia sangat cerdik." sahut temannya.


***

__ADS_1


"Heii sayang... Jangan berjalan cepat seperti itu. Nanti kau bisa tersandung." kata Kenny, ia menahan tangan Gladis.


"Kenapa? Apa kau mengkhawatirkan anakmu yang sedangku kandung ini?." tanya Gladis, tersenyum sinis.


"Ya, tentu saja aku memikirkan anakku. Eh ralat, anak kita sayang. Kan, kita buatnya berdua. Penuh dengan cinta." kata Kenny, dengan genitnya. Ia, mengedipkan sebelah matanya.


Kemarahan Gladis tiba - tiba normal, saat Kenny bersikap manis kepada dirinya. Ia, menjadi tersenyum sendiri.


"Heii jagoan papa, bilangin sama mama kamu. Jangan gampang cemburu, ntar mama nya cepet tua." ucap Kenny, ia berjongkok didepan perut Gladis.


"Sayang, jangan begini. Malu, diliatin orang. Aku nggak gampang cemburu kok. Mungkin, ini bawaan baby nya. Dia tidak ingin papa nya berdekatan dengan wanita lain." sahut Gladis, dengan polosnya.


"Aku tidak akan berdekatan dengan wanita lain sayang. Jika, bersamamu saja sudah membuat gairahku naik." bisik Kenny, ditelinga Gladis. Hal, itu membuat Gladis merinding.


"Yaudah deh, aku pergi dulu. Aku udah diusir sama istri sendiri." ucap Kenny, sambil membalikkan badannya.


"Papa jangan dekat - dekat sama wanita lain ya pah." kata Gladis, ia berlari kecil masuk kedalam kelasnya. Rasanya, ia terlalu malu jika harus berhadapan dengan Kenny.


Kenny menoleh, ia mengulas senyumnya saat mendengar ucapan Gladis. Ia, pun melanjutkan jalannya masuk kedalam mobil. Mengacuhkan semua tatapan kagum akan dirinya. Ia, melajukan mobilnya menuju kantornya.


Jika saat berdua dengan Gladis, Kenny memang tidak membawa Zoe. Dia akan menyetir mobil sendiri. Karena dia ingin menikmati hari hanya berdua dengan Gladis.

__ADS_1


Ternyata adegan mesra mereka terlihat oleh Rayn. Mantan kekasih Gladis, yang menjalin hubungan selama dua tahun. Ia, membuang pandangannya saat Gladis memasuki kelas.


Gladis hanya menghembuskan nafas kasar. Ternyata Rayn belum melupakan kejadian itu. Ia, akan meminta maaf kepada Rayn atas semua yang terjadi pada hubungan mereka waktu itu.


"Rayn.. " panggil Gladis, Rayn hanya mengacuhkan panggilan Gladis. Gladis, berdiri dari duduknya. Dan, duduk disebelah Rayn. Kebetulan tempat disamping Rayn masih kosong saat ini.


"Rayn, aku minta maaf. Masalah kejadian waktu itu. Itu, semua terjadi secara tiba - tiba. Aku, nggak tau harus berbuat apa saat itu." kata Gladis. "Please maafin aku hiks.. " ucap Gladis, ia menitikkan air matanya. Ia, tidak ingin adanya permusuhan antara dia dan Rayn.


"Coba Kamu cerita ke aku waktu itu, apa masalahmu Glad. Mungkin aku akan menolongmu sebisaku. Dan, mungkin hubungan kita tidak akan berakhir sia - sia Glad. Mungkin bagimu waktu dua tahun kita menjalin hubungan tidak ada arti apa - apa. Tapi, bagiku sangat berarti Glad. Aku, berharap kau adalah ibu dari anak - anakku kelak. Tapi, sekarang apa? Kau malah menikahi pria lain." tutur Rayn, ia mengeluarkan semua unek - unek yang hinggap dihatinya.


Gladis yang mendengar itu semakin merasa bersalah. Dan, semakin terisak. Ini, juga bukan kemauan Gladis. Tetapi, keadaan lah yang mengubah segalanya.


"Maaf Rayn, ini semua juga bukan kemauanku. Tetapi, keadaan yang memaksa kita harus berjalan dikehidupan masing - masing. Bukan, aku tidak mau memberitahumu apa masalahku. Tetapi ini mendadak, lagipula aku tidak ingin merepotkanmu." kata Gladis, sambil menundukkan kepalanya.


"Haha.. Jadi apa gunanya hubungan kita jalin selama dua tahun, jika masih ada rasa sungkan." kata Rayn, tertawa sinis.


Saat ingin menjawab, tiba - tiba dosen sudah masuk kedalam kelas. Dan, memulai kelasnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2