
Hai hai.. Gimana gimana kabar kalian? Pasti sehatkan? Alhamdulillah, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. Hadeuh... Maaf Redears, karena baru sempet up. Karena, author ada sedikit kesibukan didunia nyata hehe..
Lanjutttt.......
Sepulang kuliah, Gladis menelpon nomer suaminya. Tapi, tiba - tiba gerakannya terhenti karena ada suara yang mengagetkannya.
"Heh, Lo ada hubungan apa dengan Kak Kenny?." tanya gadis itu, sambil menatap tajam Gladis.
"Iya, jangan bilang kalau Lo wanita simpanan Kak Kenny. Dasar, sampah! Wajah Lo aja yang polos. Ternyata Lo licik." kata temannya satu lagi.
Gladis mengerutkan kening bingung, apa urusannya dengan mereka. Namun, ia hanya mengacuhkan dan menekan nomor Kenny.
"Dasar sialan, Lo nggak denger kita ngomong apa ha?." tanya gadis itu, sambil mencengkram bahu Gladis.
"Au.. Au.. Sakit, lepasin." kata Gladis, mencoba melepaskan tangan gadis itu.
Ternyata, kedua gadis itu adalah gadis yang menggoda suaminya tadi pagi.
"Jangan pernah Lo deket - deket lagi sama Kak Kenny. Kak, Kenny itu calon suami gue." kata gadis, yang bernama Sasha. Dengan sangat percaya diri.
"Lepasin gue! Terserah Lo, mau dia calon suami Lo. Bapak Lo, Kakek Lo, Buyut Lo. Gue, nggak perduli. Tapi, gue ingetin sama Lo berdua. Hati - hati dalam bertindak, atau kalian tau akibatnya. Asal, kalian tau. Kak Kenny kalian itu orangnya sangat kejam, dia nggak akan mengampuni orang yang mengusik kehidupan orang yang dia cintai." kata Gladis, penuh penekanan. Entah keberanian, dari mana dia dapat menjawab semua ucapan gadis liar itu.
Ternyata, saat Gladis menelpon tadi. Sambungannya telah terhubung. Dan, Kenny mendengar semua ucapan mereka. Wajahnya merah padam, mendengar ucapan gadis yang sedang berkata kasar kepada Gladis. Namun, tiba - tiba senyumnya merekah. Saat, Gladis mampu menjawab ucapan mereka.
"Ternyata, kau tidak sepolos yang ku kira sayang. Tidak, salah aku mencintaimu." gumam Kenny, dibalik telepon. Dia, pun buru - buru menuju ke kampus Gladis. Takut, Gladis kenapa - napa. Apalagi, sekarang Gladis tengah mengandung.
"Haha.. " tawa mereka pecah, saat mendengar penuturan Gladis.
"Jangan ngimpi Lo, Lo bilang orang yang dia sayang? Jadi, maksud Lo. Lo, orang yang dia sayang gitu?." tanya Sasha, dengan sinisnya.
"Lo, hanya gadis sampah! Dan murahan." kata Sasha, sambil mendorong Gladis, kebelakang.
Dengan sigap, Kenny menangkup tubuh istri nya. Dan, menatap tajam dua gadis liar itu.
"Apa yang kalian lakukan, kepada istriku?." tanya Kenny, sedikit membentak.
Mereka terkejut dengan keberadaan Kenny. Bahkan, saat ini mereka sedang ketakutan melihat kemarahan Kenny. Apalagi, Sasha. Dia, menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Sayang.. Kenapa kau ada disini?." tanya Gladis kaget, saat melihat keberadaan Kenny dikampusnya.
Kenny menatap Gladis dengan tatapan lembut, ia membelai sayang pipi Gladis.
"Pas Kamu nelpon tadi sayang, aku denger semua ucapan mereka kepada Kamu. Jadi, aku buru - buru kesini. Takut, terjadi apa - apa sama Kamu dan calon anak kita." jawab Kenny.
"J-jadi Kamu mendengar ucapanku juga?." tanya Gladis. Kenny, mengangguk sambil tersenyum.
"Maaf.. " ucap Gladis dengan lirih. Ia menundukkan kepalanya. Kenny, menyerngitkan kening bingung. Kenapa, Gladis meminta maaf.
"Hei sayang, kenapa kau meminta maaf?." tanya Kenny, mengangkat dagu Gladis, agar menatap kearahnya.
"Maaf untuk semua ucapanku tadi, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu. Tapi, tiba - tiba aku mengatakan hal itu. Aku, sendiri juga bingung. Maaf.. " kata Gladis, ia kembali menundukkan kepalanya.
"Tidak sayang, itu hal yang benar. Kamu, memang harus mengatakan hal itu kepada mereka. Mungkin, itu bawaan baby boy sayang. Dia, tidak ingin mama nya di bully sama orang - orang jahat." kata Kenny, sambil melirik kedua gadis yang sedang menundukkan kepalanya.
"Kalian tau? Siapa yang kalian bully ini ha? Dia, adalah istri dari Kenny Rahardian. Dan, sedang mengandung pewaris keluarga Rahardian. Kalian, tinggal pilih. Perusahaan keluarga kalian bangkrut atau... " ucapan Kenny, terpotong karena Sasha sudah dulu memotongnya.
"Tidak, jangan tuan. Maafkan kami tuan. Kami, tidak tau jika Gladis adalah istrimu. Gladis, kami minta maaf! Tolong jangan buat keluarga kami bangkrut, kami akan hidup bagaimana nanti. Gladis, tolong maafkan kami. Kami, tidak akan mengusik kehidupanmu lagi." kata Sasha, ia memegang tangan Gladis.
"Cih.. Penjilat." gumam Kenny, menatap Sasha dengan jijik.
"Tidak! Keluarga kalian tidak akan terjadi apa - apa. Aku, sudah memaafkan kalian. Tapi, aku harap kalian jangan mengulangi hal seperti ini lagi! Baik itu denganku, maupun orang lain." seru Gladis, sambil tersenyum.
"Tapi sayang, mereka harus diberi pelajaran! Supaya mereka tidak bertindak sesuka hati mereka." timpal Kenny, ia tidak suka Gladis memberikan ampun terhadap orang yang telah menyakitinya.
"Tidak sayang, keluarga mereka tidak ada sangkut - pautnya. Biarlah, ini menjadi pelajaran untuk mereka dulu. Jangan, kita ikut menghukum kesalahannya dengan melibatkan orang tua nya. Mereka, manusia biasa sayang. Yang tak luput dari kata Khilaf." kata Gladis, sambil bergelayut dilengan kokoh suaminya.
"Baiklah, jika mereka berbuat seperti itu lagi kepadamu! Maka, aku tidak akan segan - segan menghancurkan keluarga mereka. Dan, mengirim mereka ke kota terpencil." ujar Kenny. Gladis, mengangguk sambil tersenyum.
"Kalian boleh pergi! Jika, sekali lagi kalian mengganggu ketengangan istriku. Bersiaplah, untuk pergi dari kota ini dengan tangan kosong." ancam Kenny.
"Terimakasih tuan, terimakasih Gladis." kata mereka, dengan gemetaran. Mereka, berlalu meninggalkan pasangan suami - istri itu.
"Sayang, Kamu menakuti mereka. Wajahmu jika marah, seperti macan jantan." kata Gladis, sambil tertawa. Ia membayangkan wajah suaminya seperti macam.
"Cup.. " Kenny, langsung mengecup bibir merah itu.
__ADS_1
"Ih sayang, ini dikampusku loh. Ntar, ada yang liat bagaimana?." tanya Gladis, dengan wajah cemberut.
"Biar saja! Biar mereka tau, bahwa kau adalah milikku seorang." kata Kenny, ia menggiring Gladis masuk kedalam mobil.
"Terimakasih sudah membelaku suamiku." kata Gladis, saat Kenny sudah menjalankan mobilnya.
"Itu kewajibanku sayang, kenapa meminta maaf." ucap Kenny, ia menggenggam tangan Gladis.
"Iya, apapun itu. Pokoknya terimakasih." kata Gladis.
"Ehm.. Sayang, tapi ini tidak gratis." kata Kenny. Gladis, langsung mengerutkan kening bingung.
"Jadi aku harus bayar, karena kau sudah membela istrimu sendiri. Begitu?." tanya Gladis, tidak percaya. Kenny, mengangguk sambil tersenyum.
"Dasar perhitungan sekali! Baiklah, berapa aku harus membayar jasamu itu?." tanya Gladis, agak jengkel.
"Dua ronde saja." kata Kenny, sambil menaik turunkan alisnya.
Gladis kaget, ia kira akan membayarnya dengan uang. Ternyata, diatas ranjang.
"Tapi sayang, aku sedang hamil muda? Apa boleh kita berhubungan intim?." tanya Gladis, ia tidak menolak. Hanya saja, ia takut terjadi apa - apa dengan calon bayi mereka.
"Aku akan bermain dengan pelan sayang." kata Kenny.
"Baiklah, terserahmu saja." kata Gladis pasrah, toh itu memang sudah menjadi kewajibannya. Memenuhi hasrat suaminya. Kenny, tersenyum senang saat mendapat lampu hijau dari istrinya.
"I Love You Istriku Sayang." ucap Kenny.
"I Love You To Suamiku Sayang." balas Gladis.
.
.
.
Gimana - gimana? Part ini bagus nggak? Kalau bagus, kasiin dong vote nya hehe..
__ADS_1
Maaf, lama update. Karena, ada kesibukan. Jadi, dimohon jangan unfavoritekan ya. Terimakasih...
Lopyuh allππβ€π