
Saat itu, Zoe mengejar Jenita menuju parkiran restaurant. Karena, Jenita akan mengambil motornya dan kembali ke apartemennya.
"Heii tunggu!." kata Zoe, sedikit berteriak.
"Kau, kenapa kau mengejarku?." tanya Jenita, menoleh menatap Zoe.
"Sudahku katakan, kalau kau adalah calon istriku. Jadi, jangan coba - coba untuk kabur dariku." kata Zoe, dengan nada serius.
"Haha... Kau lucu sekali tuan, bukankah sudahku katakan. Aku hanya bercanda saja mengatakan itu, tidak serius. Lagi pula, aku belum siap untuk menikah." kata Jenita, sambil tertawa kecil.
"Aku juga sudah mengatakan kepadamu, kalau aku tidak sedang bercanda. Aku sangat serius dengan ucapanku." kata Zoe, dengan menatap dalam bola mata Jenita. Hal itu membuat Jenita, menjadi salah tingkah.
"Jangan menatapku seperti itu tuan, baiklah jika kau masih ingin bersikukuh ingin menikah denganku, tidak masalah. Aku akan memperlihatkan mu bagaimana keadaaanku. Aku hanya anak yatim piatu, yang dibesarkan disebuah panti asuhan." kata Jenita, sambil tersenyum getir.
Hati Zoe terasa sakit, saat melihat senyum kepedihan diwajah wanita ini. Tiba - tiba tangannya bergerak menghapus air mata Jenita yang keluar dengan sendirinya.
"Ah tuan, maafkan aku. Aku tidak menangis, ini hanya kelilipan saja." kata Jenita, sambil mengusap air matanya.
Jenita akan menjadi rapuh, jika mengingat tentang kehidupannya sewaktu kecil. Kurangnya kasih sayang orang tua, menjadi anak jalanan. Dan, akhirnya dia menjadi wanita tomboy. Tidak seperti wanita pada umumnya.
"Tidak masalah, aku akan menerima seluruh kekurangan dan kelebihanmu." kata Zoe, memberi semangat. Sambil, mengusap kepala Jenita.
"Tuan, aku bukan anak kecil. Jangan, seperti ini. Kalau, begitu. Ayo aku antarkan ke panti asuhanku, dan mempertemukanmu dengan orang yang selama ini merawat dan menyayangiku sepenuh hatinya." kata Jenita, sambil tersenyum.
"Baiklah, tunggu sebentar disini. Aku akan masuk kedalam dulu. Kau tunggu disini! Jangan kemana - mana." titah Zoe, sambil menatap Jenita. Jenita, mengangguk patuh. Lalu, ia duduk diatas motor nya.
Tak butuh waktu lama, Zoe sudah keluar dari dalam dengan membawa beberapa makanan restaurant, untuk dibawa kepanti asuhan. Pasti anak - anak disana, akan senang mendapatkan makanan ini. Pikir Zoe, sambil tersenyum.
"Apa yang kau bawa ini tuan?." tanya Jenita, sambil melihat beberapa bungkus makanan ditangannya.
"Makanan." jawab Zoe, dengan santai. Jenita mengembangkan senyumnya. Lalu, memberikan kunci motor kepada Zoe.
Zoe menjadi gemas melihat tingkah Jenita. Ia, mengambil kunci motor Jenita. Lalu, mengeluarkannya dari area parkiran. Jenita, naik dibelakang.
"Pegangan! Nanti kau bisa jatuh." titah Zoe.
__ADS_1
"Tidak masalah tuan, aku sudah terbiasa jatuh dari motor." kata Jenita, dengan santai. Bagaimana mau takut, kalau dia sebenarnya adalah Queen Racing. Zoe, hanya mengiyakan. Lalu, menggas motornya dengan kuat. Alhasil Jenita hampir tersungkur kebelakang, mau tidak mau akhirnya dia memeluk tubuh Zoe.
"Tuan, bisakah kau pelan - pelan saja membawa motornya? Aku hampir saja terjatuh." teriak Jenita, karena banyak motor yang berlalu lalang. Membuat kebisingan dijalanan.
Zoe tidak menjawab ucapannya, dia hanya menyeringai puas sambil melihat pinggangnya yang dipeluk oleh Jenita. Entah kenapa, hatinya begitu nyaman dekat dengan Jenita. Padahal, mereka juga baru saja ketemu hari ini.
***
Sesampainya dipanti asuhan, banyak anak - anak yang menghambur ke pelukan Jenita. Zoe, takjub melihat keramahan dan ketulusan yang diberikan Jenita kepada anak - anak panti tersebut.
Ternyata, kita tidak bisa melihat orang hanya dari penampilan saja. Walaupun, perawakan Jenita seperti laki - laki. Namun, hatinya sangatlah lembut dan berperasaan.
"Huaa... Kak Jenita, kami sangat merindukan kakak. Kemana saja kakak pergi? Kenapa jarang sekali berkunjung kesini." kata anak perempuan itu, ia langsung memeluk Jenita.
"Kak tolong bawa masuk makanan ini." pinta Jenita, kepada wanita pengurus anak panti itu.
"Terimakasih Jen, Kamu memang wanita berhati lembut." kata wanita, yang bernama Sekar.
"Dialah yang membelikan ini kak, bukan Jen." bantah Jenita, sambil menunjuk Zoe.
"Ayo anak - anak kita makan dulu, ini kak Jenita sama pacarnya bawain makanan buat kalian." kata Sekar, kepada para anak - anak panti.
"Kakak aku nyusul, aku masih merindukan kak Jenita." ucap seorang gadis cantik.
"Aku akan menemanimu." kata seorang lelaki kecil itu.
"Baiklah, terserah kalian. Kakak, akan menyisakannya untuk kalian berdua." kata Sekar, ia masuk kedalam panti bersama anak - anak lainnya.
"Huh... Kakak bersalah, tolong maafkan kakakmu ini. Karena, jarang sekali berkunjung untuk melihat adik - adik kakak yang cantik dan tampan ini. Kakak sangat sibuk bekerja sayang, agar bisa membantu keuangan panti. Untuk sekolah kalian." kata Jenita, sambil mencolek ujung hidung anak perempuan yang sangat menggemaskan itu.
"Benarkah kak? Kakak mencari uang untuk biaya kami sekolah?." tanya anak laki - laki.
"Iya sayang, supaya kalian bisa menggapai cita - cita kalian. Menjadi orang yang sukses dan tidak sombong." kata Jenita, sambil mencubit gemas pipi gembul anak laki - laki itu.
"Iya kak, setelah kami besar. Kami ingin menjadi orang baik seperti kakak." kata anak perempuan. Jenita, tersenyum mendengar ucapan gadis kecil ini.
__ADS_1
"Kak, om ini siapa?." tanya Gadis itu dengan menatap Zoe.
"Dia namanya... Kakak lupa, tanya aja sama om nya langsung." kata Jenita, ia bukan lupa. Melainkan tidak tau siapa nama Zoe.
"Hallo girls, boy, nama om Zoe. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan om Zoe. Siapa nama kalian?." tanya Zoe, sambil mengulurkan tangannya.
"Hai om, namaku Khalisa dan dia cowok nyebelin ini namanya Raka." kata Khalisa sambil menunjuk kearah Raka.
"Aku bukan cowok nyebelin, tapi cowok tampan." kata Raka, sambil tersenyum manis.
Zoe hanya menahan tawa nya melihat tingkah kedua bocah ini. Mereka, begitu menggemaskan. Jenita, juga menggelengkan kepalanya. Bocah sekecil ini sudah mengetahui apa itu tampan.
"Yasudah, tampan dan cantik nya kakak dan om. Kalian, masuk dulu sana! Makan - makanan yang om Zoe belikan tadi. Kakak ada urusan dengan ibu panti." kata Jenita, sambil tersenyum.
"Makasih ya om ganteng, semoga om dan kak Jen bisa pacaran." kata Khalisa sambil tertawa, lalu berlari kecil masuk kedalam panti. Diikuti dengan Raka, si bocah tengil.
"Haha... Maafkan mereka, mereka memang begitu. Mereka begitu menggemaskan, aku sangat - sangat menyayangi mereka." kata Jenita, sambil tertawa puas.
Bagaimana tidak tertawa, saat mendengar bocah yang masih berumur 7 tahun, sudah mengetahui yang namanya pacaran. Menggelikan sekali bukan? Tapi, itulah kenyataanya.
"Tidak masalah, aku juga menyukai mereka. Tingkah mereka memang sangat menggemaskan, tetapi lebih menggemaskan jika kita mempunyai anak sendiri." kata Zoe, dengan tersenyum nakal.
Jenita mendadak berhenti tertawa, wajahnya menjadi memerah mendengar ucapan Zoe yang begitu vulgar.
"Dasar, gak jelas!." kata Jenita, ia melenggang masuk keruangan ibu panti. Sedangkan Zoe menahan tawa nya melihat wajah Jenita yang memerah akibat ucapannya yang begitu vulgar.
.
.
.
Bersambung...
Maaf updatenya lama, jangan bosen ya. Terimakasih :)
__ADS_1