Menikahi Pria Kejam

Menikahi Pria Kejam
Gagal memasak


__ADS_3

Gladis, menuruni tangga menuju dapur. Ternyata, didapur sudah ada bibi bersama Mama.


"Selamat pagi mah, bi." sapa Gladis, menepiskan senyumannya.


"Selamat pagi sayang, kenapa Kamu kesini sayang? Temani saja, suamimu didalam kamar." kata Mama, sambil tersenyum. Sedangkan, bibi hanya membalasnya dengan senyuman saja.


"Tidak mah, aku akan memasak. Tidak, mungkin aku membiarkan ibu mertuaku memasak bersama bibi. Sedangkan, menantunya hanya bersantai saja mah." ujar Gladis, ia mulai memakai apron.


"Tidak apa - apa sayang, semenjak Kamu ada disini. Mama, jadi jarang sekali kedapur. Dan, sekarang mama ingin memasakkan sup kesukaan papa." ujar Mama.


"Eh non, apa perut non sudah baik - baik saja?." tanya bibi, karena ia mengetahui bahwa istri tuan mudanya sedang masuk angin. Karena, Kenny tadi meminta bibi agar membuatkan teh jahe.


"Eh, sudah bi. Sekarang, sudah baik - baik saja. Karena, meminum teh jahe buatan bibi." jawab Gladis.


Mama yang mendengar itu, mengerutkan kening bingung. Ada, apa dengan menantunya.


"Kamu sakit sayang? Sakit apa? Kamu, istirahat saja. Dan, mama akan memanggilkan dokter." sahut Mama, ia langsung memeriksa suhu badan Gladis.


"Gladis hanya masuk angin saja mah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." seru Gladis, sambil menggenggam tangan mertuanya. Rasa bahagia, hinggap dihatinya. Karena, ibu mertuanya ini sangat - sangat perhatian kepada dirinya. Mama, menghembuskan nafas lega.


"Sayang, jika Kamu sakit. Jangan ditutup - tutupi ya. Mama, tidak mau kalau Kamu sampai kenapa - napa." ujar Mama, ia membelai sayang kepala Gladis. Gladis, mengangguk sambil tersenyum bahagia.


Saat Gladis, ingin mengiris bawang. Tiba - tiba perutnya kembali seperi diaduk - aduk. Ia, berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Huek.. Huek.. " Gladis, memuntahkan air bening saja. Karena, pagi ini baru teh jahe yang masuk kedalam perutnya.


Mama buru - buru menghampiri Gladis dikamar mandi, membantunya dengan cara memijat tengkuk Gladis. Bibi, datang membawakan air hangat. Dan, kembali kedapur.

__ADS_1


Kenny, masuk kedapur dengan mengenakan pakaian santai saja. Ia, hari ini tidak akan ke kantor. Ia, ingin menemani Gladis dirumah.


"Bi, mama sama Gladis dimana?." tanya Kenny, saat tak mendapati mama dan istrinya.


"Dikamar mandi tuan, nona Gladis muntah lagi." jawab bibi.


"Apa?!! Segera panggilkan dokter bi." titah Kenny, ia langsung berlari masuk kedalam kamar mandi. Dan, mendapati wajah istrinya yang sudah pucat.


"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kau muntah lagi. Sepertinya benar, kau memang keracunan buah itu." ujar Kenny, ia memapah Gladis keluar dari kamar mandi. Gladis, tidak mampu menjawab pertanyaan dari Kenny. Ia, sudah sangat lemas, karena muntah dua kali dipagi hari.


"Sudah, jangan banyak tanya. Bawa, istrimu kedalam kamar. Mama, akan menyiapkan bubur untuknya." ujar Mama. Kenny, mengangguk. Ia, langsung menggendong Gladis menuju kamar.


*****


Kenny, membaringkan Gladis diatas kasur. Ia, duduk ditepi kasur. Sambil menggenggam tangan Gladis, seolah takut kehilangan.


"Bagaimana mungkin, aku bisa ke kantor dengan keadaanmu yang seperti ini." ujar Kenny.


"Aku tidak apa - apa sayang, ini hanya masuk angin biasa." kata Gladis, meyakinkan Kenny. Hatinya, sangat bahagia saat Kenny begitu perhatian kepada dirinya.


"Sudah diam, aku akan menemanimu hari ini." kata Kenny, ia mengecup tangan Gladis.


Tok..! Tok..!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


"Ini mama sayang, boleh mama masuk?" tanya Mama, sedikit berteriak.

__ADS_1


"Masuk aja mah, nggak dikunci kok." sahut Kenny. Mama, pun masuk dengan membawa nampan ditangannya. Yang, berisikan bubur ayam.


"Ini sayang, Kamu makan dulu. Biar, perutmu lebih enakan. Sebentar lagi, dokter juga akan datang." ucap Mama, ia memberikan nampan itu kepada Kenny. Agar, Kenny menyuapi Gladis. Kenny, menerimanya dan mulai menyuapi Gladis.


"Gladis baik - baik aja kok mah. Setelah makan, pasti perut Gladis baik - baik aja. Tidak perlu, memanggil dokter mah." seru Gladis.


"Kamu tuh, keras kepala banget. Diam aja, buka mulutmu." titah Kenny, ia mulai jengkel dengan sikap keras kepala Gladis. Yang, mengatakan bahwa dirinya baik - baik saja. Gladis, mengerucutkan bibirnya. Tetapi, ia tetap membuka mulutnya. Karena, dia saat ini memang benar - benar lapar. Mama, yang melihat perdebatan putra dan menantunya tersenyum senang.


"Yasudah mama tinggal dulu, sebentar lagi dokternya akan datang. Mama, akan kembali lagi nanti bersama dokter ya sayang." ujar Mama. Gladis, tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Mah, maaf karena Gladis nggak bisa bantu mama masak." kata Gladis, sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak apa - apa sayang, toh sudah ada bibi yang membantu mama. Kamu, jangan banyak pikiran. Fokus saja, pada kesehatanmu sayang." ujar Mama, sambil menggenggam tangan Gladis.


"Makasih mah, karena sudah menyayangi Gladis seperti putri mama sendiri. Gladis, sangat - sangat menyayangi mama." ucap Gladis, ia bangun dan langsung memeluk mama mertuanya.


"Sama - sama sayang, mama juga sangat - sangat menyayangi Kamu. Yasudah, makan lah yang cukup. Mama, akan menyiapkan sarapan untuk papa." ucap Mama, sambil mengecup sayang kening Gladis.


"Kenny, Kamu sarapan disini saja ya. Biar, mama minta bibi untuk mengantarkan sarapanmu." imbuh mama, sambil menatap Kenny.


"Iya mah, makasih ya mah." ujar Kenny. Mama, mengangguk. Kemudian, melenggang keluar kamar.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2