Menikahi Pria Kejam

Menikahi Pria Kejam
Menikmati Weekeend bersama


__ADS_3

Sesampainya dipusat kota, mereka memasuki pusat perbelanjaan yang paling besar dikota ini. Kenny, menggandeng tangan Gladis masuk kedalam Mall. Asisten Zoe, hanya mengikuti dari belakang.


"Yank.. Kesana yuk!." ajak Gladis, sambil menunjuk kesalah satu toko baju. Kenny, tersenyum dan melangkah kearah toko yang ditunjuk Gladis.


"Selamat siang Tuan, Nona. Ada yang bisa saya bantu?." tanya karyawan cantik itu.


"Selamat siang mba, tolong perlihatkan baju untuk wanita hamil. Sekaligus dengan lingrie nya." sahut Kenny, ia tersenyum nakal menatap Gladis.


"Baiklah, tunggu sebentar ya tuan, nona." kata wanita itu, sambil mencarikan baju yang Kenny minta.


"Sayang, ayo duduk dulu! Kamu tidak boleh sampai kelelahan." ujar Kenny, sambil menggiring Gladis duduk dikursi tunggu toko itu.


"Sayang... Kenapa kau mau membeli lingrie? Apa kau ingin memakai lingrie? Karena saat ini aku belum bisa memakai linglie." ujar Gladis, menatap suaminya.


Zoe yang mendengar itu, ingin tertawa sekencang - kencangnya. Tapi, dia tahan. Karena, bisa - bisa dia diamuk sama bos kejamnya ini.


"Sayang.. Masa iya, aku pakai lingrie. Ya, itu untuk Kamu lah. Biar, Kamu tambah menggoda." kata Kenny, dengan genitnya. Seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Sialan, si bos malah bahas begituan didepan gue." batin Zoe, ia memilih untuk pergi ke toilet saja.


"Tuan, saya ketoilet sebentar ya." pamit Zoe, Kenny hanya menganggukkan kepalanya.


"Sayang, perkataan Kamu sangat vulgar. Makanya, asisten Zoe pergi dari sini." seru Gladis.


"Bodo amat sayang! Biarkan saja, dia tambah iri. Siapa suruh dia tidak mencari kekasih." kata Kenny.


"Dasar, tidak tau diri! Sudah dia yang memberikan tugas kepada anak buahnya tanpa henti. Malah, dia berkata seolah dia sudah menjadi bos penyayang." umpat Zoe, dia masih mendengar ucapan Kenny.


Didalam perjalanan menuju toilet, Zoe hanya melihat ponselnya. Sesekali, melihat jalan. Hingga, ia tidak menyadari jika ada seorang wanita didepannya. Alhasil, wanita itu tersungkur kebawah.


Bruk..


"Aduh... Dasar sialan! Tolongin gue." kata wanita itu, sambil memberikan tangannya. Zoe, menarik tangan itu.


"Heh.. Lo kalau jalan pake mata dong! Eh ralat, kalau jalan ya liat jalan dong. Main nabrak - nabrak gue aja." kata wanita itu, sambil membersihkan baju kemeja nya.


"Lo cewek apa cowok?." tanya Zoe, tanpa mengubris ucapan wanita itu.


"Sialan lo! Gue cewek lah. Masak cantik gini ditanya kayak gitu." kata wanita itu, dengan percaya dirinya.


"Haha... Cantik lo bilang? Lo itu udah mirip kayak wanita jadi - jadian tau nggak? Kalau cewek ya harus feminin dong, masa gaya kayak anak jalanan." kata Zoe, sambil tertawa.


Deg...


Jantung wanita itu berdetak kencang, perkataan Zoe sungguh menusuk hatinya.


"Gue memang anak jalanan, gue anak yatim piatu. Biar lo tau, gini - gini gue masih punya harga diri. Nggak kebanyakan cewek kaya, sudah nggak ada harga dirinya." kata wanita itu, menatap Zoe dengan tajam.


"Kenapa dia marah? Astaga... Apa aku menyakiti hatinya?." batin Zoe, menatap kepergian wanita itu.


"Ah ya ampun, aku kan tadi mau ketoilet. Yaudah lah nggak jadi, ntar si bos malah marah lagi." gumam Zoe, ia kembali berjalan ke toko tadi.


"Maaf tuan, lama.. " kata Zoe, sambil menundukkan kepalanya.


"Dari mana saja kau?." tanya Kenny, dengan tatapan tajam. Zoe, sudah tau kalau bosnya akan marah. Karena, bosnya tidak suka menunggu.


"Tadi ditoilet ramai tuan, ngantri." jawab Zoe.


"Sayang.. Sudahlah, ini kan weekeend. Benar kata asisten Zoe." lerai Gladis.


"Huh.. Baiklah, kali ini kau ku maafkan. Ini, semua hanya karena istriku. Jika, tidak mungkin gajimu sudah kupotong." kata Kenny, ia menggandeng tangan Gladis keluar dari toko.

__ADS_1


"Semua hanya karena istriku, jika tidak. Mungkin gajimu sudah kupotong. Gaji terus bahan senjatanya." gerutu Zoe, didalam hati. Sambil menirukan suara bos nya.


"Kau sedang memakiku didalam hati busukmu itu?." tanya Kenny, menoleh kearah Zoe.


Jleb...


Zoe menelan salivanya dengan kasar.


"T-tidak tuan, mana mungkin saya berani memaki tuan." jawab Zoe, dengan gugup.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 wib. Kenny, mengajak Gladis untuk makan direstaurant biasa mereka makan.


"Yank.. Kamu mau makan apa?." tanya Kenny, sambil membelai rambut Gladis.


"Biasa aja yank." jawab Gladis. Kenny, mengangguk dan mulai memesan makanan mereka.


"Yank... Apa asisten Zoe, nggak boleh gabung dengan kita? Kasihan dia harus makan sendiri." tutur Gladis, sambil menatap suaminya.


"Tidak boleh! Aku hanya ingin berdua denganmu sayang. Tidak ada yang boleh menganggu weekeend kita." jawab Kenny.


"Tapi di kasihan yank... " kata Gladis.


"Itu urusan dia sayang, kenapa dia tidak mencari kekasih saja. Dia kan tampan, meskipun tampanan aku." kata Kenny, dengan percaya dirinya.


"Cih... Kau percaya diri sekali." kata Gladis, memutar bola mata jengah.


"Memangnya aku tidak tampan hm?." tanya Kenny, dengan menaik turunkan alisnya.


"Tidak! Wajahmu biasa saja, tidak ada tampan - tampannya sama sekali." sahut Gladis, menahan tawanya melihat wajah cemberut suaminya.


"Benarkah? Tapi kenapa kau bisa jatuh cinta kepadaku kalau begitu?." tanya Kenny.


"Silahkan dinikmati tuan, nona." kata pelayan, sambil menaruh makanan mereka diatas meja.


"Terimakasih mba." sahut Gladis, tersenyum ramah. Pelayan, mengangguk dan pamit undur diri.


Mereka makan siang dalam diam, sesekali Kenny menyuapkan makanannya kedalam mulut Gladis. Sedangkan Zoe, merana dimeja tidak jauh dari meja mereka. Posisi mereka, sedang membelakangi Zoe. Makan, dalam diam hanya sendirian saja.


Saat ingin menyuapkan makanan kedalam mulutnya, tiba - tiba ada seseorang duduk didepan kursinya.


"Hai, orang kaya.. " kata wanita itu, sambil duduk dengan mengangkat satu kakinya.


"Kau... " kaget Zoe, saat melihat wanita yang tengah ditabraknya waktu di mall tadi.


"Iya, aku. Kau harus meneraktirku makan, karena telah mengotorkan bajuku. Dan, berkata sesuka hatimu." kata wanita itu.


"Baiklah, jika itu kau jadikan alasan hanya untukku teraktir. Tidak masalah, pesan lah apa yang ingin kau pesan. Anggap saja, sebagai permintaan maafku." sahut Zoe santai, dia pun mulai menikmati makananya.


"Enak saja! Kau saja yang pesan punyamu lagi. Ini untukku." kata wanita itu, sambil mengambil makanan Zoe. Dan memakannya.


"Heii itu punyaku! Jika kau mau, kau pesan saja untukmu. Jangan, memakan punyaku." kata Zoe, menatap kesal wanita yang sedang duduk didepannya. Sambil menikmati makanannya.


"Kau mau? Baiklah, nah." kata wanita itu, sambil menyuapkan sesendok kemulut Zoe. Entah dorongan dari mana, Zoe malah membuka mulutnya.


"Enak? Ya jelaslah, orang cewek cantik yang nyuapin lo! Lo mana pernah disuapin sama cewek cantik kayak gue." tutur wanita itu, dengan percaya dirinya.


Banyak pasang mata yang melirik mereka, bahkan Kenny dan Gladis pun menatap Zoe dengan tatapan bertanya - tanya. Sejak kapan, Zoe memiliki kekasih? Dan, kenapa perawakannya seperti ini. Pikir Kenny.


"Mereka pasangan yang sangat romantis ya."

__ADS_1


"Iya, seperti nya mereka pasangan suami - istri." ucap orang - orang yang melihat adegan romantis mereka.


Zoe melototkan matanya, saat mendengar ada seorang ibu yang mengatakan bahwa mereka pasangan suami - istri. Kalau memang iya, mimpi apa dia semalam. Sampai harus memiliki istri seperti wanita ini.


"Romantis apanya, orang lagi berantem juga." gerutu Zoe, sambil mencomot makanan yang dipegang wanita itu. Dia, tidak sadar akan apa yang ia lakukan.


"Iya bu, kami memang pasangan suami - istri. Do'akan ya ibu - ibu, semoga kami segera diberikan momongan." kata wanita itu dengan santai.


Zoe lagi lagi membulatkan matanya, kaget akan penuturan wanita ini. Jangankan jadi istri, untuk namanya saja Zoe tidak tau.


"Amin.... " seru ibu - ibu itu sambil tersenyum.


"Apa maksudmu dengan mengatakan itu?." tanya Zoe, dengan menatap tajam wanita itu.


"Kenapa? Aku hanya bercanda. Baiklah, aku sudah kenyang. Terimakasih banyak tuan." kata wanita itu, sambil berdiri dari duduknya. Tetapi, Zoe sudah dulu mencekal tangannya.


"Ada apa tuan? Apa kau masih ingin meneraktirku makan? Baiklah, aku terima. Tapi lain kali saja, aku sudah sangat kenyang." ujar wanita itu, sambil tersenyum manis.


Deg...


Jantung Zoe, berdetak saat melihat senyuman manis itu.


"Siapa namamu?." tanya Zoe, menatap lekat bola mata wanita itu.


"Jangan menatapku seperti itu tuan, namaku jelangkung tuan." jawab wanita itu, sambil terkekeh.


"Jelangkung? Kau seperti boneka santet saja." kata Zoe.


"Bukan boneka santet tuan, tapi barby cantik. Datang tak diundang, pulang tak diantar hehe... " kata wanita itu, sambil cengengesan.


"Buktinya, aku makan tak undang dan pulang tidak tuan antarkan haha.. " tambahnya lagi.


"Siapa namamu? Aku bertanya serius." kata Zoe.


Wanita itu langsung berhenti tertawa, dan menarik napas dalam - dalam.


"Baiklah tuan, namaku Jenita. Sudahkan? Aku pergi dulu. Sekali lagi, terimakasih." kata Jenita, ingin melenggang pergi. Tapi lagi - lagi Zoe menahan tangannya.


"Apalagi tuan?." tanya Jenita, mulai jengkel dengan sikap Zoe.


"Kau yang mengatakan bahwa kita sepasang suami - istri bukan?." tanya Zoe.


"Iya, tapi aku hanya bercanda tuan. Hanya bercanda saja, jangan dianggap serius." sahut Jenita dengan santai.


"Tidak ada kata bercanda denganku, kau akan ku jadikan calon istriku!!." kata Zoe, penuh penekanan.


"Hahhh...!!!" kaget Jenita.


.


.


.


Bersambung...


Penasaran nggak sih, sama jawaban Jenita. Kira - kira dia mau nggak ya sama si Zoe.


Ini udah lebih dari 1000 kata ya! Capek bnget mikirnya, astagaa....


Janga lupa, tetap dukung cerita ini ya. Dengan, memberikan like, komen, dan votenya yang paling terpenting.

__ADS_1


Lopyouhhhh allπŸ˜˜πŸ˜β€πŸ’‹


__ADS_2