MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 21 - BERTIGA!


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Kini mereka sedang duduk di ruang persidangan yang begitu mencekam dan terasa sangat mengintimidasi.


Bukan, bukan di ruang sidang meja hijau itu. Bukan!! Tapi ruang keluarga mansion milik Sean.


Dimana Sean dan Beby sebagai tersangka, Leon sebagai korban, Mommy Sean sebagai hakim dan Daddy Sean sebagai jaksa.


Setelah 4 jam lalu Leon dinyatakan boleh pulang dari Rumah Sakit karena keadaannya yang semakin membaik. Disinilah mereka berdebat sekarang, selesai makan malam keluarga.


"Tolong jangan membohongi Mommy mu yang sudah renta ini, Sean!"


"Mom aku tidak berbohong! Dia memang benar-benar pengasuh Leon!" jawab Sean untuk yang ketiga kalinya. "Kalau tidak percaya silahkan tanya anak itu!" mata Sean melirik Leon.


Sedangkan Leon yang kini menjadi pusat semua orang yang berada diruangan itu semakin memepetkan tubuhnya pada Beby.


Beby yang merasakan punggung Leon bergetar hanya bisa mengelus punggung kecil itu lembut. "Tuan Sean, jangan tatap Leon seperti itu! Kau nampak seperti ingin memakannya hidup-hidup!" desisnya tajam.


Sean memutar bola matanya malas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Leon, coba kasih tahu Oma sama Opa. Kak Beby ini maminya Leon atau bukan," ucap Beby lembut.


"Bu–bukan," jawabnya sedikit gemetar.


"Nah kan Mommy dengar sendiri. Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah menikah dengan wanita lain selain Clara! Aku sangat mencintainya Mom!" sambar Sean cepat.


Mommy dan Daddy Sean saling bertukar pandang, lalu menelisik–untuk yang kesekian kali–penampilan Beby.


"Aku lihat pakaian mu berasal dari rancangan designer terkenal, yang pasti itu tidaklah murah. Dan tidak mungkin seorang pengasuh seperti mu bisa membeli baju itu dengan gajimu sebagai pengasuh." Daddy Sean kini mulai ikut bersuara. Jangankan pakaiannya yang tidak mungkin bisa dibeli dengan gajinya sebagai pengasuh. Bentuk badan yang sempurna serta wajah Beby yang sangat cantik bak boneka tidak mungkin berasal dari keluarga kurang mampu. Beby adalah bibit unggul. "Apa kau berasal dari keluarga kaya ?" sambungnya.


Beby menganggukkan kepalanya cepat, "ya, ayahku adalah pengusaha properti."


Daddy Sean mengangkat sebelah alisnya menunggu kelanjutan cerita Beby. "Lalu....?"


Ia menghela nafas panjang, dan mulai menceritakan semuanya kepada orang tua Sean. Mulai dari ia belum bayar UKT kuliah, hingga memiliki perjanjian dengan Sean untuk menjadi pengasuh anaknya yang terlantar dengan bayaran semua hutang ayahnya akan dilunasi.


Mendengar cerita Beby, kedua orang tua Sean menganggukkan kepalanya mengerti. "Jadi orang tua memiliki bisnis apa ?" tanya Mommy Sean.


"Bisnis properti Nyonya, Ayah saya memiliki 7 hotel dan 8 gedung unit apartemen dengan 12 lantai."


Mata Mommy Sean berbinar mendengar itu, ia semakin merapatkan tubuhnya pada Daddy Sean dan berbisik tepat ditelinga pria paruh baya itu. "Pasangan yang cocok untuk Sean, wanita itu sepadan dengan kita. Cocok untuk menggantikan posisi Clara yang hampir mati itu..."


Sean yang mendengar bisikan orangtuanya berdecih keras. "Ck!" bisa-bisanya berbisik tapi mengucap dengan sangat keras begitu. "Mom tidak perlu berbisik, kita semua bisa dengar dengan jelas ucapan Mom," ia memutar bola matanya malas setelah mengatakan itu.


Mommy Sean terkikik geli dilihatnya wajah ayu Beby yang nampak begitu cantik. "Jangan panggil Nyonya, panggil saja Mommy seperti Sean..."

__ADS_1


Beby menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu mengangguk kecil. "Baiklah, Mo–mommy...?" ucapnya kikuk.


"Hah, baiklah hari sudah malam. Berhubung kamar tamu belum di rapikan jadi Daddy dan Mommy akan tidur bersama dengan Leon, kamu mau kan, nak ?" tanya Daddy Sean pada Leon.


Bocah lima tahun itu menganggukkan kepalanya cepat, ia sungguh rindu dengan kakek dan neneknya ini. Tapi saat mengingat sesuatu, perlahan senyum Leon memudar.


"Ada apa, sayang? Kau nampak murung, tidak ingin tidur bersama Oma ?" tanya Mommy Sena yang bingung dengan perubahan ekspresi Leon.


Mata Leon melirik Beby takut-takut. "Kak Beby juga tidur di kamar Leon. Kalau Oma dan Opa juga tidak di kamar Leon, nanti kasurnya jadi sempit..." jawab Leon dengan polosnya.


Mommy dan Daddy Sean saling berpandangan lalu tersenyum licik. Dengan bersamaan mereka berdua berdiri dari duduknya dan Mommy Sean berjalan untuk mengangkat tubuh Leon dan dibawah ke gendongannya.


"Leon hari ini tidur sama Oma dan Opa. Kak Beby tidur bersama dengan Daddy untuk hari ini."


Mommy Sean menahan tawa saat melihat wajah terkejut anak dan pengasuh Leon lalu segera berjalan menaiki ranjang untuk ke kamar Leon.


"Apa-apaan itu! Aku tidak bisa tidur dengan wanita lain, aku hanya bisa tidur dengan Clara!" sungut Sean sebal, lalu matanya menatap Beby yang juga sama terkejutnya seperti dirinya. "Kau tunggu di sini, biar maid yang akan menyiapkan kamar tamu untuk mu!" titah Sean tak terbantahkan.


Daddy Sean yang masih belum beranjak untuk menuju istrinya, menatap anaknya dengan heran. "Memang kalau tidur bersama kenapa? Kalian kan tidak akan melakukan hal-hal aneh."


"Satu lagi Sean, jangan berlaga kau masih mencintai Clara yang tidak bisa melakukan apapun selama 5 tahun itu. Tanya pada hatimu sendiri kau tertarik atau tidak dengan Beby..." dengan senyum yang masih bertanggar di wajahnya, Daddy Sean berjalan menyusul istrinya yang sudah sampai di kamar Leon meninggalkan sepasang sejoli yang diam membeku, apalagi Sean pria itu masih memikirkan ucapan sang ayah.


...o0o...


Beby berjalan memasuki kamar Sean setelah mengambil baju ganti dan rangkaian skincare malamnya yang berada di kamar Leon.


Ia melihat Sean yang sibuk dengan ponselnya di tepi ranjang sebelah kanan. Setelah ucapan Daddy Sean tadi, mereka terdiam cukup lama, setelah itu Sean mengatakan.


"Tidur saja di kamarku untuk hari ini, lagipula hanya tidur biasa. Kalau minta maid mempersiapkan kamar bisa 2 atau 3 jam. Seharian ini kau kan mengasuh Leon, jadi sebagai imbalan ku persilahkan kau tidur di kamarku!"


Sean melirik diam-diam meskipun sudah berpura-pura fokus dengan ponselnya tapi tetap saja, pesona Beby tidak dapat di elak begitu saja.


"Sialan, dia lama sekali di kamar mandi, apa dia pingsan?" gumam Sean saat melihat pintu kamar mandi di dalam kamarnya yang saat ini tengah digunakan Beby belum terbuka. "Apa aku dobrak saja pintunya, lagipu–"


Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka, Beby keluar dengan pakaian tidurnya dan segera berjalan menuju meja rias yang terdapat skincare miliknya.


"Kau ingin menggodaku ya dengan menggunakan pakaian tipis itu ?" ucap Sean sarkas, saat pertama kali ia mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Beby, matanya hampir saja keluar saat melihat Beby hanya menggunakan dress satin tipis berwarna merah menyala.


Beby mendengus, ia mengoleskan handbody pada kaki jenjangnya. "Yang goda tuan itu siapa ? Orang Beby memang biasanya pakaiannya begini. Baju tidur Beby memang biasanya begini!" jawabnya tak mau kalah.


"Kenapa memang, tuan tergoda ya ?"


"TIDAK!" ucapnya setengah berteriak. "Hanya pria yang bisa membangkitkan sisi keperkasaan ku! Tidak ada wanita lain, dan kau tahu saat kita menghabiskan malam bersama itu, aku terkena pengaruh minuman haram, jadilah aku membayangkan jika aku tengah bersama Clara, eh ternyata waktu aku buka mata itu dirimu," sambungnya berbohong.


Beby tersenyum miring, "terserah saja, tapi kenapa ya kalo ingat istri dan membayangkan aku adalah istri tuan, kenapa tuan menyebut namaku saat pelepasan, kenapa tidak nama istri tuan ?"


Skak Mat!


Sean tak bisa berkata-kata, ia menaruh ponsel kembali diatas nakas dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Aku ingin tidur, matikan lampunya!"


"Baik!" jawab Beby cepat.

__ADS_1


Sesuai permintaan Sean, ia segera mematikan saklar lampu dan berjalan untuk tidur di samping Sean dengan membelakangi pria egois itu.


Namun baru beberapa menit ia menutup matanya, terdapat gedoran kecil di pintu kamar Sean.


Tok...tok...tok...


"BEBY BUKA PINTUNYA!?" itu suara Mommy Sean, dengan cepat Beby berjalan untuk membuka pintu setelah merapikan pakaiannya.


Ceklek....


"Ada apa Mom ?"


Mommy Sean menyerahkan tubuh sang cucu yang sedari tadi menangis dengan sesekali menyebut nama Beby.


"Ia ingin tidur bersama mu," jawabnya singkat, lalu tanpa menunggu jawaban Beby, ia segera memasuki kembali kamarnya untuk tidur.


Sementara Beby kini sudah menutup kembali kamar Sean dan menangkan Leon yang menangis.


"Sst.... tenanglah..." ia mengusap punggung Leon lembut dan merebahkan tubuhnya di kasur.


"Mau tidur sama kak Beby, Leon mau di ceritain dongeng lagi...hiks...hiks..."


Beby tersenyum dan ikut merebahkan tubuhnya di kasur, ia menempelkan tubuhnya pada Leon dan memeluk tubuh kecil itu erat.


"Baiklah, mari kita ceritakan Putri tidur dan pangeran tampan. Jadi suatu hari hiduplah seorang putri cantik namun memiliki penyakit aneh, yaitu tidak bisa membuka matanya...."


"Hingga suatu hari, Ayah Putri itu membuat sebuah perlombaan, dimana jika ada pria yang bisa membuat mata Putri terbuka akan dinikahi, dan jika wanita akan diberikan uang yang sangat banyak sekaliiiii, lalu ada satu pangeran yang–"


"Hentikan!" desis Sean kesal mendengar cerita yang di ucapkan Beby. "Leon itu laki-laki jangan ceritakan dongeng cewek! Kasih kisah petarungan atau taktik untuk mendirikan perusahaan yang sukses!" sambung Sean yang membuat Beby membulatkan matanya terkejut.


"Leon mau dongeng kak Beby...hiks...hiks..."


Beby semakin mengeratkan pelukannya dan menatap tajam Sean. "Tuan, Leon masih kecil jadi –"


"Biar aku saja yang menceritakan dongeng kepada Leon!"


Tanpa diminta, Sean mendekat kearah Leon dan Beby, tangannya memeluk pinggang Beby hingga kini mereka bertiga saling berpelukan.


"Jangan menangis, pejamkan matamu! Daddy akan mulai bercerita!" ucap Sean sengit kepada anaknya.


Dan benar saja, pria itu mulai bercerita, sementara Beby menahan mulutnya agar tidak memaki Sean saat tangan pria itu bergerak tak terbatas kesembarang arah di tubuhnya.


"Astagaaa Gusti!! Aku ingin resign!!!!"


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2