
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Jantung Sean berdebar dengan sangat gilanya setelah melihat keadaan Clara yang sudah membuka mata diatas ranjang. Ya, walaupun selang-selang infus itu masih tetap setiap menghiasi seluruh tubuh sang istri.
Pria itu berjalan mendekat dan duduk ditepi ranjang dengan tubuh yang sedikit gemetar. Tangannya menjulur kedepan berupaya menggenggam tangan istrinya yang sedingin es itu.
"Sayang.... Clara...." panggil Sean sedang suara bergetar, namun tak ada respon aktif dari istrinya selain jari-jari itu bergerak dengan pelan.
Sean yang melihat jari-jari istrinya tersenyum begitu lebar, ia melepaskan genggaman takut menyakiti istrinya.
Sementara Beby yang baru selesai mengganti baju menatap kedua pasangan suami istri itu dengan malas.
Namun ia tetap berjalan mendekat dan berdiri di hadapan para maid yang kini tersenyum lebar melihat nyonya mereka sudah siuman.
"Bagaimana keadaan Clara, dok ?" tanya Sean pada dua orang dokter yang juga ikut tersenyum bahagia melihat drama suami istri itu.
Namun setelah mendengar pertanyaan Sean, senyum kedua dokter itu sedikit perlahan hingga sepenuhnya hilang tanpa diketahui Sean yang masih memandang istrinya dengan penuh cinta.
Kedua dokter itu saling tatap lalu salah seorang dokter menunduk kearah Sean. "Maafkan saya tuan, saya dan rekan saya sudah melakukan yang terbaik tapi," dokter itu menggantung ucapannya, seakan jika ia melanjutkan kalimatnya akan membuat Sean jadi kembali sedih.
Mendengar tak ada kelanjutan dari ucapan snag dokter membuat Sean menjadi geram, ia menatap tajam dokter itu. "Cepat katakan kondisi Clara saat ini, sialan!" umpatnya.
__ADS_1
"I–iya tuan, saat ini Nyonya Clara mengalami penurunan fungsi otak dan kelumpuhan pada otak dan saraf sensorik nya," ucap dokter itu dengan tergugup.
Alis Sean terangkat tak mengerti dengan ucapan sang dokter. "Katakan dengan jelas dan terperinci!" pinta Sean.
Dokter itu menganggukkan kepalanya mengerti, "jadi nyonya Clara ini mengalami penurunan fungsi otak yang dimana si penderita ini akan kehilangan daya ingatnya terhadap suatu hal. Misalnya ia lupa soal umur, orang lain, atau bisa saja dia lupa akan jati dirinya sendiri."
"Lalu yang kedua nyonya Clara mengalami kelumpuhan karena selama koma otot dan saraf sensorik nya tidak dilatih. Nyonya Clara tidak bisa berjalan, tidak bisa mengangkat lengan dan juga tidak bisa tersenyum, tertawa dan ekspresi wajah lain."
Deg....
Sean dan para maid yang mendengar penjelasan dokter langsung dibuat sedih bukan main. Terutama Sean yang langsung menciumi tangan istrinya yang jari-jarinya masih bergerak itu.
Berbeda dengan Beby yang menampilkan wajah biasa saja, terkesan tidak tertarik dengan pembahasan ini.
"Ta–tapi dia bisa sembuh kan dok ?" tanya Sean frustasi.
Dokter itu menganggukkan kepalanya yakin, "tentu tuan, tapi tidak ada yang instan di dunia ini. Jika Nyonya sering melakukan fisioterapi untuk merangsang otot dan saraf sensorik serta diajak bercerita mengingat kenangan masa lalunya secara terus menerus, kemungkinan sembuh lebih cepat sudah pasti ada."
Cup....
Sean mengecup kening istrinya lama, membuat sorakan para maid yang melihat keromantisan majikannya langsung terdengar dengan keras.
Dari lima orang maid yang berada di ruangan Clara, ada seorang maid yang berjalan mendekat kearah Beby dan berdiri tepat dibelakangnya.
"Nyonya Clara sudah siuman, jadi kau jangan bertingkah seolah-olah kau adalah nyonya di rumah ini. Apalagi jangan pernah menggoda tuan hingga tidur bersama. Karena kalau sampai itu terjadi aku pastikan kau didepak untuk selamanya dari rumah ini, Beby!"
"Kau di sini sama derajatnya seperti ku, menjadi seorang maid. Jadi jangan belagu!" bisiknya pelan yang hanya di dengar oleh Beby.
Beby melirik maid itu dengan ujung matanya, tangannya terkepal kuat mendengar dirinya di samakan oleh seorang maid. "Tahan Beby tahan, jangan bertengkar dengan maid itu di hari bahagia Sean...."
__ADS_1
"Baiklah tuan, saya dan rekan saya akan kembali ke rumah sakit. Dan mulai nanti sore dokter yang akan menerapi Nyonya Clara akan datang," pamit kedua dokter itu yang diangguki oleh Sean.
Setelah dokter itu pergi, kelima maid itu ikut keluar karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai akibat kabar siuman Nyonya mereka.
Dan tinggallah Beby dan Sean yang berjaga di kamar Clara. Di rasa maid sudah menutup pintu dengan erat, Beby berjalan mendekat kearah Sean yang masih setia menatap istrinya dalam diam.
"Tuan senang, istri anda siuman ?" tanya Beby.
Sean melirik Beby singkat lalu menganggukkan kepalanya kecil. "Tentu, dia adalah nyawaku. Semua harta ku akan ku berikan untuk kesembuhan Clara."
Beby menganggukkan kepalanya mengerti, Sean sangat mencintai Clara dan itu adalah sebuah fakta. Dan dirinya hanya wanita pengganti yang mirip istrinya dan hanya dijadikan pelampiasan nafsu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi juga. Aku tidak ingin menganggu waktu tuan dengan istri," pamit Beby sembari mengelus bahu Sean sekilas.
Baru saja akan beranjak pergi, tangannya ditahan oleh Sean, hingga membuat Beby tak bisa melangkah lagi. "Aku mencintai istriku, tapi aku butuh kamu untuk merawat Leon dan aku."
Setelah mengatakan itu Sean melepaskan genggaman tangannya dari lengan Beby dan menatap istrinya kembali.
Beby melirik Clara sekilas, wanita itu menatapnya dengan pandangan kosong. Tak ingin berlarut dalam pikirannya, Beby segera meninggalkan ruangan itu yang terasa menyesakkan hatinya.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA