MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 67 - KAPAN NIKAH?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Di pagi hari yang cerah ini, nampak seorang wanita yang bergulat dengan alat-alat masaknya. Ia tengah bersemangat untuk membuat sarapan kepada anak dan juga kekasih hatinya.


Sedangkan di sebuah kamar, ada seorang pria dewasa tengah membantu seorang bocah wanita yang sibuk memasukkan baju-baju serta bonekanya kedalam tas miliknya yang akan dibawa kerumah nenek dan kakeknya.


"Bajunya bawa dikit aja sayang, kan Lily gak nginep. Nanti sore dijemput Papi sama Mami pulang ke sini lagi," beritahu Dominic dengan senyum tipis.


Mendengar teguran sang ayah, bocah perempuan itu mengerucutkan bibirnya kesal. "Iihh Papi! Lily mau pamel baju balu Lily sama Oma sama Opa! Lily mau bawa semua bajunya!" jawabnya dengan kesal dan mata yang sudah berkaca-kaca.


Dominic tertawa kecil, ia menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah Lily yang begitu sombong dan arogan. Benar-benar 100% sifatnya.


"Ya sudah, masukkan aja semuanya," titah Dominic yang dijawab seruan semangat oleh Lily.


Setelah mereka selesai memasukkan baju-baju kedalam tas Lily, bocah itu berniat untuk keluar kamar, tapi tangan Dominic menarik pelan tangan bocah itu dan memeluknya erat, tak lupa Dominic juga memberikan puncak kepala Lily beberapa kecupan penuh sayang.


"Anak Papi, sifatnya udah mirip Papi banget," ucapnya dengan tertawa kecil. "Sebentar lagi Mami Papi nikah dan kamu akan secara sah jadi anak Papi. Papi gak sabar mau didik kamu jadi seperti Papi," sambung Dominic.


"Ayo kita makan, Papi laperrr!!" ucap Dominic yang sudah berdiri dari duduknya dengan tangan yang menggendong tubuh Lily.


"Sama, Lily juga lapel, Pi!" jawabnya dengan nada cadel seperti biasnya.


Mereka berdua bersama keluar dari kamar, mata Sean langsung menangkap Beby yang nampak begitu *3**1 dengan kemaja putih polos yang hanya menutupi setengah pahanya. Wanita itu tidak menggunakan celana lagi, di dalam kemejanya Beby hanya menggunakan d4laman saja.


Sean menduduki Lily di kursi meja makan, tak lupa ia memberikan bocah itu sebuah ponsel agar tetap diam.


Sedangkan dirinya kini sudah melangkah mendekati Beby yang masih sibuk menggoreng ayam. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Beby dan menumpukkan dagunya pada bahu Beby.


Grepp....


"Astaga, Nic! Aku kaget tau!" ucap Beby yang begitu terkejut. Tak lupa ia menepuk pelan tangan Dominic yang melingkar di pinggangnya karena kesal.


Dominic tertawa singkat dan menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Beby. Sementara Beby bergerak tak nyaman dengan sentuhan-sentuhan intim yang diberikan oleh Dominic.

__ADS_1


Cup...


Cup...


Dik3cupinya leher jenjang Beby yang berkeringat sedikit itu secara sensual. "Aku gak sabar kita nikah. Aku mau lihat kamu pas bangun tidur, aku mau lihat kamu waktu pulang kerja. Aku mau punya teman hidup seperti kamu. Aku juga mau memberikan adik untuk Lily!" bisik Dominic pelan.


Tangan Dominic mengelus perut rata Beby, pria itu membayangkan jika saat ini Beby tengah mengandung anaknya.


"Sadar Nic, kamu tahu kita tidak bisa terburu-buru." Beby berusaha sekali untuk menghindari topik ini. Ingin rasanya ia mengalihkan topik, tapi tak enak pada Dominic.


"Sabar untuk apa jika kita bisa menikah secepatnya. Tidak ada penghalang bagi kita berdua, Beb! Agama kita sama, orang tua kamu juga sudah merestui ku! Lily juga sudah menganggap aku ayahnya sejak ia lahir. Lalu untuk apa lagi kita menunda untuk menikah ?" tanya Dominic dengan nada yang meninggi.


Genggaman tangan Beby pada alat penggorengan yang saat ini ia pegang semakin mengerat. Jujur ia tidak tahu apa yang membuatnya masih ragu untuk menikahi Dominic.


Kring...kring....


Hingga baru saja ia akan membuka mulut, suara telfonnya berdering nyaring. "Sebentar, Nic. Aku angkat telfonnya dulu!" ucap Beby yang sudah berusaha melepaskan pelukan dari belakang Dominic pada tubuhnya.


Bersamaan dengan helaan nafas kasar yang keluar dari mulutnya, Dominic melepaskan pelukannya pada Beby dan membiarkan wanita itu untuk melihat ponselnya.


"Selalu saja menghindar! Jika begini terus kamu bisa aku ajak nikah paksa, Beby!" batin Dominic.


"Halo, Ayah ? Ada apa ?"


"Beby, anakku! Tolong segera blokir nomor telfon ayah di hape kamu! Anak buah Sean baru saja datang ke mari dan mereka mengambil paksa ponsel milik Ayah. Jangan datang ke mari Beby! Tetap tinggal di apartemen sampai semuanya aman!"


Terdengar suara yang begitu panik dari ujung telfon, mata Beby seketika melotot mendengar ucapan sang ayah.


Baru saja akan menjawab ucapan sang ayah, panggil telfon dimatikan secara sepihak.


"Halo, Yah ? Halo ?"


Tut....Tut...Tut....


Beby mendesah kasar, lalu ia segera memblokir seluruh nomor telfon keluarganya sesuai dengan instruksi sang ayah.


Sementara Dominic yang melihat wajah panik Beby, mengerutkan dahinya bingung. "Ada apa sayang ?" tanyanya penasaran.


Mata Beby melirik Dominic sekilas lalu memasukkan ponselnya kedalam laci lagi. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan yang baru ia buat.


"Ayah tadi telfon, katanya anak buah Sean datang ke mansion buat nyari aku. Mereka acak-acak isi mansion, dan mengambil alih ponsel Ayah. Tadi ayah menelfon juga untuk menyuruhku memblokir nomornya."

__ADS_1


Beby meletakkan nasi goreng, dengan lauk terus mata sapi, nugget, dan juga sosis di atas meja. Lalu ikut duduk berhadapan dengan Dominic.


"Sial! Pasti Sean sudah tahu keberadaan mu di Italia gara-gara anaknya itu ngadu kalo habis ketemu kamu di cafe!" tebak Dominic yang diangguki oleh Beby.


"Benar! Mungkin Leon sudah memberitahu keberadaan ku di Italia pada Daddynya."


Beby menaruh nasi goreng dengan lauk itu dipiring Dominic dan Lily secara bergantian.


"Mamiii, Lily mau pake sosis aja! Gamau ayam!" ucap bocah itu yang segera dikabulkan oleh sang ibu.


"Kamu jangan ke mansion Ayah dulu, bahaya! Bisa saja Sean menaruh anak buahnya di sekitaran mansion hanya untuk menunggu kedatanganmu!" perintah Dominic.


Beby mengigit pipi bagian dalamnya, ia melirik Dominic sekilas lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Ba–baiklah..."


Setelahnya tak ada lagi obrolan di meja makan itu, hingga beberapa menit kemudian mereka telah selesai makan dan kini Beby tengah mengantarkan Dominic ke depan pintu apartemennya untuk bekerja.


Cup...


Dominic mengecup lama kening Beby sembari mengambil tas kerjanya dari tangan wanita itu.


"Turuti ucapanku! Jangan keluar dari apartemen! Kalo ingin keluar pokoknya kamu harus kabarin aku secepatnya, mengerti ?" ucap Dominic dengan tajam yang segera diangguki oleh Beby.


"Iya, sayang..." goda Beby yang dihadiahi ciuman mesra oleh Dominic.


Setelah matanya melihat tubuh Dominic menghilang memasuki lift, buru-buru Beby menutup pintu mansionnya kembali dan ia menyandarkan tubuhnya dibelakang pintu.


"Maaf Dominic, aku menyayangimu. Tapi aku juga menyayangi Leon. Izinkan aku bertemu dengannya sebentar, hanya untuk memastikan keadaannya!" gumamnya sebelum memasuki kamarnya untuk bersiap-siap.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2