MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 36 - ADIK IPAR ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Beby membangunkan Leon dengan perlahan, ia menciumi seluruh bocah kecil itu agar terganggu dari tidurnya, dan segera membuka mata.


"Sayang bangun yuk...."


Bukannya membuka mata, Leon malah merasakan kenyamanan dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Beby.


Pria kecil itu mengalungkan tangannya pada leher Beby, dan segera diangkat oleh Beby ke gendongannya.


Wanita itu mengelus lembut punggung Leon sembari berjalan ke kamar mandi. Beby menghangatkan air di bathtub secara otomatis untuk mandi sang tuan muda.


"Hei! Ayo sayang buka matanya. Kamu gak mau liat Mommy apa ?" tanya Beby dengan senyum kecil.


"Nanti aja, kak. Leon mau bubuk lagi!" jawabnya dengan masih menutup mata.


Beby semakin melebarkan senyumannya saat merasakan anak kecil yang sedang ia gendong ini kembali terlelap.


"Wah, seriusan nih gak mau ketemu Mommy ? Padahal Mommy sekarang udah bisa buka mata loh...." godanya dengan nada yang pura-pura kecewa.


Mendengar ucapan Beby, Leon langsung terjengkang kaget. Ia menatap Beby dengan mata bulatnya yang berkedip beberapakali.


Beby mengigit bibir bawahnya berusaha menahan tawanya melihat tingkah laku Leon yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Mo–mommy sudah bangun kak ?" tanyanya dengan tergagap.


Kepala Beby mengangguk beberapa kali, membenarkan ucapan Leon. "Sudah, Mommynya Leon sudah sadar sekarang. Kalo Leon mau lihat keadaan Mommy ayo cepat mandi. Ada Daddy juga di kamar Mommy," beritahu Beby.


Leon menganggukkan kepalanya dengan cepat, ia turun dari gendongan Beby dan segera melepas bajunya sendiri.


Sementara Beby terharu melihat bagaimana Leon sangat bersemangat untuk bertemu ibunya. Dalam hati Beby, ia mendokan bocah yang kekurangan kasih sayang kedua orang tua ini agar segera bisa mendapatkan kasih sayang yang hilang itu lewat ibunya.


Ya, meskipun saat ini Clara tidak bisa melakukan apapun selain bernafas... batin Beby seraya tertawa dalam hati.


"Kak ayooo!!" rengek Leon menarik ujung kaos yang dikenakan Beby. "Mana sabun sama sikat giginya ? Leon mau cepat-cepat ketemu Mommy..."


"Ah iya!" Beby segera membasahi tubuh kecil itu dengan air hangat lalu menggosokkan sabun yang dilanjutkan oleh Leon yang kini tengah menyikat giginya.


Setelah selesai, Beby ikut menceburkan dirinya kedalam bathtub untuk mandi bersama dengan Leon.


Lima belas menit mereka bercanda dan bergurau di dalam bathtub. Beby keluar pertama, ia mengambil handuk untuknya dan Leon lalu segera memakai pakaian.


"Nah ganteng banget, anaknya Mommy Clara," ujar Beby seraya menyisir rambut Leon. "Ayo kita ke kamar Mommy!"

__ADS_1


Beby menggendong Leon di dadanya dan membawa tubuh kecil itu untuk menuju kamar sang ibu.


Tok...tok... tok....


"Beby masuk tuan...." teriaknya, ia memberitahukan kedatangan pada Sean yang sudah berada di dalam kamar.


"Masuk!"


Ceklek....


Beby membuka pintu perlahan, dan berjalan menuju Sean yang kini masih menatap istrinya dengan penuh cinta itu.


"Mommy...." ucap Leon dengan lirih, kedua tangannya terangkat keatas mengkode Clara untuk menggendongnya.


Beby mengigit bibir bawahnya agar tidak tertawa, rasanya ia ingin berteriak di depan muka Leon seraya mengatakan. "Leon, ibumu lumpuh! Dia tidak bisa melakukan apapun, bahkan tersenyum sekalipun dia tidak bisa!" tapi Beby tentu tidak akan melakukan hal yang ada di kepalanya.


"Mommy, gendong Leon..." pinta anak itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Grep....


Tubuh Leon diambil alih oleh Sean, pria itu mendekap erat tubuh anaknya. "Mommy gak bisa, Leon. Mommy masih sakit, jadi Mommy gak bisa peluk Leon. Lebih baik Leon saja yang peluk Mommy," jawab Sean dengan nada sedihnya.


Dengan berlinang air mata, Leon menyetujui ucapan Sean. Ia mendekat kearah ibunya yang dadanya masih terpasang alat medis lalu memeluknya erat.


"Mommy....hiks...hiks...cepat sembuh..."


Clara diam, tak berbicara, tidak tersenyum. Tapi jari-jarinya bergerak dengan cepat seolah-olah ingin memeluk Leon juga. Dan jangan lupakan mata wanita itu yang menangis, tapi tak mengeluarkan suara isakan, hanya air mata yang berderai.


Beby berjalan mendekat dan mengusap bahu pria itu lembut. "Semuanya akan berjalan dengan baik. Nyonya pasti akan sembuh..." ucapnya dengan lembut.


Tak ada jawaban dari mulut Sean mengenai doa Beby, wajahnya terangkat untuk menatap wajah sang istri dan anaknya secara bergantian.


Tok...tok...tok...


"Tuan ini saya Jacob!" hingga terdengar suara gedoran di depan pintu yang membuat Sean membuka mulutnya kepada Beby.


"Kau keluarlah, dan simpan doa baikmu itu untuk dirimu sendiri. Karena aku atau istriku akan baik-baik saja tanpa doamu itu." Sean menatap mata Beby dengan sorot mata dingin.


Tangan Beby terkepal, sembari mendengus sebal. Ia keluar dari kamar Clara. "Sialan! baru beberapa jam yang lalu ia bersikap baik. Sekarang udah kumat lagi," batin Beby seraya membuka pintu kamar Clara.


Di depannya ada Jacob yang tersenyum manis kearah Beby dengan setumpuk dokumen di tangan. "Selamat siang, Beby!" sapanya.


Beby tersenyum kecut, "selamat siang," jawabnya dengan cuek sebelum melangkah kakinya keluar kamar bersamaan dengan Jacob yang masuk ke kamar Clara.


"Tuan saya bawakan dokumen yang harus di cek dan di tandatangani. Oh ya! Dan di luar ada adik nyonya Clara baru sampai," beritahu Jacob pada Sean sembari menyerahkan dokumen pada tuannya itu.


Brak...


Beby menutup pintu kamar Clara perlahan, alisnya terangkat bingung setelah mendengar ucapan Jacob.


"Ada adik nyonya Clara ?" gumamnya.

__ADS_1


Ia mengangkat kedua bahunya bingung, seraya menuruni tangga menuju dapur. Ia belum makan sejak tadi pagi gara-gara nyonya rumah ini yang sadar tiba-tiba.


Saat menuruni tangga, atensinya beralih pada segerombolan tukang bangunan yang memenuhi ruangan lantai dua ini.


Mata Beby menyorot kebingungan, "ada apa dengan orang-orang itu ?" tanya Beby kepada salah seorang maid sembari mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di meja makan.


"Oh itu non, para tukang akan membangun lift. Tuan Sean akan membangun lift khusus untuk nyonya Clara agar tidak kesusahan naik turun tangga dengan menggunakan kursi roda," beritahu maid itu.


Beby menganggukkan kepalanya mengerti seraya tersenyum kecut. Ia mengambil selembar roti tawar dan mengoleskannya dengan selai coklat favoritnya. "Secinta itu Sean dengan istrinya..." gumam Beby pelan.


"Oh ya tentu kakak Sean mencintai kakakku!" sambar seseorang di belakang tubuh Beby.


Kepala Beby berputar kebelakang, memperhatikan seseorang di belakang yang menjawab ucapan.


Seorang wanita muda menggunakan baju dengan harga fantastis, tas rancangan designer terkenal dan jangan lupakan dandannya yang bak akan menghadiri acara pernikahan menyapa pengelihatan Beby.


Wanita cantik itu tersenyum pongah kearah Beby, seraya mendudukkan b0kongnya di kursi sebelah Beby.


"Jadi ini pengasuh keponakan ku ?" tanyanya sembari menilai penampilan Beby dari atas sampai bawah.


Seorang maid berlari kecil kearah wanita dengan senyum lebar ke arah wanita itu. "Nona Vania, anda sudah datang ?" tanyanya dengan bersemangat.


"Dia kah pengasuh keganjenan yang kamu katakan di pesan WhatsApp?" bukannya menjawab pertanyaan maid itu, adik dari Clara malah balik bertanya ke maid tersebut.


Kepala maid tersebut menganggukkan kepalanya cepat. "Iya non, dia pengasuh Leon."


"Dia juga yang katamu tidur sekamar dengan kakak ipar ku ?"


Lagi-lagi kepala maid itu mengangguk, membernarkan ucapan Vania–adik Clara yang baru sampai ke mansion.


Senyum miring tercetak jelas dari wajah Vania, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Beby. "Masih kalah jauh kau denganku!" bisiknya.


Vania berdiri dari duduknya sembari meletakkan tas mahalnya diatas meja makan. "Sebentar lagi, aku yang akan menjadi nyonya di rumah ini. Jadi nikmati saja sisa waktumu di rumah mewah ini. Karena setelah aku resmi menikah dengan Sean, kau akan aku depak dari mansion!"


Setelah mengatakan itu, Vania berjalan menuju dapur sembari membawa teh dari dalam tasnya. Meninggalkan Beby yang menatap Vania dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan.


"Dia ingin menyingkirkan ku ? Tidak tahu kah ada bibit Sean yang berkembang dalam rahim ku ?" tanyanya dengan tertawa kecil. "Astaga, hari-hari ku pasti akan sangat menyenangkan setelah ini..."


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2