
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Beby diam termenung duduk di ruang tunggu yang berada di sekolah TK Leon. Ia kini tengah menunggu Leon yang tengah bersekolah.
Matanya sama sekali tak berpindah objek dari Leon yang kini tengah bermain dengan teman sekelasnya ditaman bermain yang berada disekolah.
Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya, Beby sangat bersyukur setelah anak-anak nakal yang membully Leon di keluarkan dari sekolah, akhirnya Leon dapat merasakan kebahagiaan serta memiliki banyak teman. Ia dengan mudah bergaul dengan teman sebayanya.
"Semoga kamu selalu bahagia ya, Leon. Meskipun kak Beby gak bisa selamanya menjaga kamu nanti," ucapnya berbisik dengan lirih.
Tangan Beby terangkat mengelus perutnya yang rata. Setelah melakukan pengecekan berulangkali selama beberapa hari kebelakang, garis merah pada tes kehamilannya terlihat semakin jelas. Yang berarti memang Beby kini tengah mengandung. Entah sudah berapa minggu usia kehamilan Beby saat ini, ia pun tak tahu. Karena memang ia belum sama sekali melakukan check up ke rumah sakit.
"Apapun yang terjadi, Mami akan terus berusaha berjuang untuk hidup kamu,, sayang. Meskipun kamu ditolak oleh Daddy kandungmu mentah-mentah, tapi Mami tidak akan pernah berniat untuk menghilangkan kamu. Kamu akan tumbuh bersama Mami..."
Semilir angin menerpa wajah chubby milik Beby, membuat kecantikan ibu hamil itu bertambah beberapa kali lipat. Tangannya masih setia mengelus perutnya dengan mata yang selalu setia menatap Leon yang berlarian bersama temannya.
"Mom, mommy Leon...." ucap seseorang menepuk bahu Beby beberapa kali.
"Oh ya ?" Beby tersadar dari lamunannya, segera ia mengalihkan pandangannya ke seorang wali murid yang beberapa kali menepuk bahunya. "Ada apa Mom ?" tanya Beby.
"Mommy Leon gak suapi Leon makan siang ? Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Anakku sudah aku suapi, Mom," ucap Vany–salah seorang wali murid teman Leon.
Beby menganggukkan kepalanya cepat, ia mengeluarkan bekal makanan dan jus buah dari tas nya dan berjalan menuju Leon yang tengah bermain.
Ia memanggil nama Leon beberapa kali hingga pria kecil itu berlari ke arahnya. "Ada apa kak ?"
"Makan dulu, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi," ucap Beby sembari menyodorkan sendok berisi makanan di depan mulut Leon.
Leon menganggukkan kepalanya semangat dan makan makanannya dengan lahap, hingga membuat Beby tersenyum lebar. "Selama kak Beby di sini, Leon akan hidup bahagia..." batinnya, kini otaknya berfikir beberapa cara agar bisa kabur dengan janinnya dari Sean.
...o0o...
__ADS_1
Sementara kini di ruang kerja Sean yang berada di perusahaan pria itu tengah keluar masuk kamar mandi dengan wajah pucatnya.
Ia sama sekali tak menyentuh tumpukan dokumen yang berada di atas meja. Sejak pertama kali ia sampai di ruangannya, ia langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan makanannya.
"Hoek....Hoek....." ia mencekram kuat pinggiran kloset dan memuntahkan isi perutnya, namun lagi-lagi yang keluar hanyalah cairan berwarna kuning yang terasa sangat pahit.
"Hoek...Hoek...Hoek....."
Jacob dengan raut cemasnya masih setiap memijat tengkuk Sean dengan sabar. "Astaga tuan, sebenarnya ada apa dengan anda ?" tanyanya bingung.
"Berhentilah berbicara....hoekkk...."
"Panggil dokter sialan!!!" umpat Sean sembari menghentakkan tangan Jacob yang setia memijit tengkuknya. .
Jacob menganggukkan kepalanya mengerti dan segera menghubungi dokter yang berada di perusahaan. Beruntung di ruang kesehatan terdapat 2 orang dokter yang dibayar Sean untuk bekerja di perusahaannya.
Jadi ia tak perlu menunggu lama untuk mendatangi dokter ke ruangan tuannya. "Sudah saya suruh datang kemari, tuan," ucap Jacob yang sudah masuk kembali ke kamar mandi di ruang kerja Sean.
Sean membersihkan mulutnya yang terasa pahit, dengan dipapah oleh Jacob ia keluar drai kamar mandi untuk mengistirahatkan dirinya di ruangan pribadi miliknya.
Tak berselang lama, hanya 5 menit setelah Sean berbaring. Ada seseorang yang mengatur ruang kerja Sean. "Itu mungkin dokternya tuan, biar saya check!" ucap Jacob, pria itu berlari kecil untuk membuka pintu ruang kerja tuannya.
"Silahkan masuk dok, tuan Sean berada di ruang istirahat." Jacob menunjukkan jalan ke pada sang dokter untuk memasuki ruang pribadi Sean.
Di sana sudah ada Sean yang berbaring terlentang dengan lengan kanan yang menutupi wajahnya dan tangan kiri yang tak henti-hentinya mengusap perutnya yang terasa diputar-putar.
"Pagi, tuan Sean. Bisa ceritakan pada saya apa yang anda rasakan ?" tanya dokter itu yang mulai memeriksa tubuh Sean.
Mulai dari menjapit alat pengukur suhu tubuh di ketiak Sean, mendengar denyut nadinya dan tak lupa mendengar debaran jantung, dada dan perut Sean menggunakan alat stetoskop.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku, tiba-tiba saja saat aku datang ke ruangan ku, rasanya aku sangat mual dan muntah-muntah dari pagi hingga saat ini."
Dokter itu menganggukkan kepalanya mengerti, "suhu tubuh 35.7° Celcius, yang artinya anda tidak demam. Lalu nadi anda berjalan normal, debaran jantung anda stabil, tidak ada masalah dengan dada, dan perut tuan Sean juga tidak mengalami kembung." Dokter itu mengetuk beberapa kali perut Sean dengan jemarinya.
"Apa tuan telat makan kemarin?"
"Tidak!"
"Atau mungkin tuan tidak sarapan tadi pagi ?"
__ADS_1
"Aku sarapan!"
"Kalau begitu pasti tuan memakan makanan yang tidak bisa anda makan. Tuan alergi terhadap sesuatu?"
Sean memutar bola matanya malas. "Aku makan dengan benar, dan aku sama sekali tidak memiliki alergi terhadap makanan! Aku bisa memakan semua jenis makanan."
Dokter itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Ada dua hal di sini yang bisa saya sarankan ke anda, tuan Sean. Yang pertama anda bisa melakukan cek darah untuk mencari tahu penyakit anda. Dan yang kedua, maaf jika saya lancang, apa istri anda sedang hamil tuan ?" tanya dokter itu hati-hati.
Sean tak menjawab, pria itu menatap tajam sang dokter sembari mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Biar saya jelaskan, dalam istilah medis ada yang namanya couvade syndrome. Itu adalah Sindrom kehamilan simpatik terjadi ketika suami ngidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan seperti yang dialami istrinya ketika mengandung."
"Sindrom kehamilan simpatik ini, membuat suami atau teman dekat Bunda mengalami mual, kram, dan gejala kehamilan lainnya. Biasanya, sindrom ini hanya bersifat sementara, dan akan menghilang setelah bayi lahir.Bisa dibilang, semakin kuat ikatan batin suami dengan sang istri, maka gejala yang ia alami juga lebih intens," jelas sang dokter panjang lebar.
Tangan Sean terkepal mendengar penuturan dokter itu. Tidak! tidak ada yang hamil di sini, hanya Clara seorang istriku! Jika memang aku wanita itu memang hamil aku harus segera memuaskan bayinya! batin Sean.
...o0o ...
MAAF YA KEMARIN GAK UP
RATU LAGI SAKIT 😭
ASAM LAMBUNGNYA NAIK LAGI
INI AJA NGETIKNYA PELAN-PELAN
MINTA DOANYA YA SEMOGA RATU CEPAT SEMBUH SAYANGG😘🥰
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1