MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 50 - JANGAN SEMBUNYI


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Jadi kamu di usir karena di tuduh bunuh istrinya Sean ?" tanya Dominic dengan mata yang membulat terkejut.


Mereka kini sedang berada di dalam mobil Dominic tanpa tahu tujuan mereka akan kemana.


Tadi setelah Dominic memberikan tumpangan padanya, Beby langsung mengiyakan ajakan Dominic. Karena memang ia tak tahu pergi dengan menggunakan transportasi apa, belum lagi ia tidak membawa dompetnya.


"Iya, aku siap bersumpah demi nama ibuku. Aku benar-benar sudah merawat istrinya dengan baik! Aku memberikannya obat dengan benar dan dosis. Kenapa mereka menyalahkan ku atas kematian Clara ?" tanya Beby dengan mata yang berkaca-kaca.


Tangan Dominic terulur untuk mengelus kepala Beby, ia berusaha menenangkan wanita hamil itu.


"Tak perlu menangis, malah bagus kan kalo kamu pergi dari kawasan Sean ? Kamu tidak perlu hidup bersama lagi dengan orang itu."


Beby membenarkan dalam hati ucapan Dominic, memang seharusnya ia senang dengan hal ini, tapi...


"Bagaimana dengan Leon ? Anak itu pasti sedang menangis hiteris sekarang. Leon tidak bisa tidur tanpa dongeng yang aku ceritakan. Lalu yang kedua bagaimana dengan perusahaan Ayah! Benar perusahaan ayah! Pasti Sean akan membuat perusahaan Ayah kembali dalam masalah. Sean pasti akan menghancurkan karir ayahku!" seru Beby takut, ia sangat yakin jika Sean akan berusaha keras untuk membuat ayahnya mengalami kebangkrutan.


Mendengar itu membuat Dominic tersenyum miring, ia melihat Beby sekilas dengan mata elangnya lalu kembali menatap jalanan. "Kamu gak perlu khawatir, Beby. Ada aku, aku jamin Sean gak bakal mampu buat perusahaan ayahmu bangkrut. Aku akan membantu ayahmu dan membuat sentilan yang Sean lakukan pada perusahaan ayahmu tidak akan terasa!" jawabnya dengan senyum miring yang semakin melebar.


Sekilas, Beby melihat kilatan gairah menggelora dari mata Dominic, pria itu benar-benar terlihat serius dengan ucapannya.


"Kenapa kau mau membantuku, tuan Dominic? Apa yang kau mau dariku sebagai imbalan ?" tanyanya, ia menundukkan kepalanya dan memilin-milin tangannya yang berada di atas paha. "Aku tidak punya apapun untuk kau miliki!"


"Ada!" jawab Dominic cepat. "Kau punya seluruh keinginan ku, Beby! Aku mau kamu! Sudah berapa kali aku berkata jika aku tertarik padamu dan aku menyukai mu ? Aku benar-benar menyukaimu! aku tak perduli mau kamu hamil atau tidak, aku benar-benar ingin memilikimu seutuhnya..."


Beby menghela nafas panjang, jawaban Dominic selalu seperti ini. Dan Beby masih belum percaya jika pria itu benar-benar mencintainya, apalagi dengan keadaannya saat ini yang tengah berbadan dua.


"Kalau kamu tidak percaya, biarlah waktu yang menjawab. Sekarang kita pergi kemana ?" tanya Dominic mengalihkan pertanyaan, karena memang mobilnya ini sudah berputar-putar mengelilingi kota Itali.


Beby berfikir sejenak sebelum menjawab. "Perusahaan ayah saja, aku ingin memberitahukan padanya jika aku telah di tuduh membunuh istri Sean dan diusir dari mansionnya."


Dominic menganggukkan kepalanya mengerti, setelah Beby memberitahukan alamat perusahaan ayahnya, Dominic langsung tancap gas melaju ke sana.


...o0o...


Tok...tok...tok....


"Masuk!"


Pintu ruang kerja Robert–Ayah Beby di buka oleh sang sekretaris, segera Beby dan Dominic yang menemani Beby segera memasuki ruangan.


Dari tempatnya Beby melihat ayahnya yang super sibuk didepan monitor komputer hingga tak memperdulikan dirinya yang memasuki ruangan.


Melihat itu Beby menundukkan kepalanya, ayahnya terlihat sangat bekerja keras untuk perusahaan sedangkan dirinya dengan mudahnya membuat hancur kerja keras sang ayah.


Dominic melirik Beby disebelahnya yang nampak sedih lalu tersenyum tipis, ia kembali menatap ke depan. "Ekhem, permisi Mr. Robert. Apa aku menganggu?" tanyanya basa-basi.


Robert yang mendengar suara asing, segera mengalihkan pandangan kearah sumber suara. Ia membuatnya matanya terkejut melihat anaknya yang datang dengan keadaan baik-baik saja, apalagi dengan pria asing yang berada di sampingnya.


"Be–Beby ? Ada apa nak ? Kenapa kamu terlihat begitu kacau ?" tanya Robert, ia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri sang anak.


Mata Beby langsung berkaca-kaca mendengar pertanyaan itu, ia berlari kecil untuk menghambur di pelukan sang ayah.

__ADS_1


"Ayah....hiks... hiks....maafkan Beby," isaknya dengan keras. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang ayah.


Dengan lembut, Robert mengelus kepala sang anak dengan sayang. Ia mengecup beberapa kali kepala Beby.


Ia tahu sebenarnya, jika seperti ini ada masalah yang serius. Entah mengenai Beby, Sean atau perusahaan. Tapi ia harus tetap tenang di hadapan sang anak.


"Ekhem Mr. Robert, kenalkan saya Dominic Ragues," ucap Dominic, ia mengeluarkan tangannya pada pria paruh baya itu.


Mata Robert lagi-lagi membulat terkejut, dengan Beby yang masih berada di pelukannya dia menerima uluran tangan Dominic. "Astaga, Mr. Ragues, maafkan saya yang tidak menyadari kehadiran anda...." ucapnya penuh sesal.


Dominic tersenyum tipis sembari menggeleng, "tidak apa Mr. Robert, anda bisa memeluk Putri anda terlebih dahulu."


Robert tersenyum tipis lalu menyuruh Dominic untuk duduk di sofa dan disusul dirinya dengan Beby.


"Jadi, ada apa ini ? Kenapa kamu menangis ? Dan kenapa ada Mr. Ragues di sini ?" tanya Robert.


Dominic dan Beby saling tatap, lalu dengan cepat Dominic yang menceritakan semuanya pada Robert.


Mulai dari awal kenal Beby, hingga masalah yang terjadi pada Beby. Ia juga menceritakan jika dirinya tidak sengaja bertemu Beby di halte dan memberikan wanita itu tumpangan.


"Jadi Clara, sudah tiada dan kamu di tuduh membunuh istrinya ?" tanya Robert yang diangguki langsung oleh Beby.


Tangan Beby terulur untuk menggenggam erat tangan kriput sang ayah. "Maafkan Beby, yah... gara-gara Beby perusahaan ayah jadi terancam. Sean pasti tidak akan melepaskan aku begitu saja. Dia akan melakukan segala cara agar keluarga ku juga ikut menderita."


Kepala Robert menggeleng, ia tidak membernarkan ucapan Beby. "Beb, yang meninggal itu istrinya, orang yang dia cintai, pasti yang akan diintai itu kamu. Sean pasti akan membalas dendam, tapi bukan perusahaan kita yang terancam. Tapi, tapi...."


Mata Robert menatap wajah anaknya dalam, "nyawa kamu yang terancam. Bagi Sean yang dibayar uang, tangan dibayar tangan, kaki dibayar kaki, dan nyawa dibayar nyawa!"


"Daripada takut perusahaan ayah terancam, ayah lebih takut kehilangan kamu, Beb. Sean itu gila!"


...o0o...


"Kemana kita hari ini, tuan ?" tanya Jacob yang sudah duduk dengan tenang dibangku sebelah kemudi.


"Siap, tuan!"


Segera Jacob memerintahkan untuk sang supir segera menjalankan mobilnya menuju perusahaan ayah Beby.


Didalam mobil suasana sangatlah tegang, rasa duka masih terasa kental di dalam. Apalagi sebelum berniat menuju perusahaan Robert, Sean menyempatkan dirinya untuk mengunjungi makam sang istri tercinta.


Diciuminya beberapa kali, nisan Clara dengan sayang. Tak henti-hentinya Sean mengucapkan kata cinta untuk sang istri.


Jacob lah yang menjadi saksi seberapa cintanya Sean terhadap Clara. Dan bisa Jacob pastikan sebentar lagi nasib Beby benar-benar sangat buruk!


Hingga beberapa menit kemudian, supir mobil Sean membelokkan mobilnya ke sebuah gedung perusahaan besar milik ayah Beby.


Setelah terparkir cantik di basement, Jacob dengan sigap membukakan tuannya pintu dan mereka bersama-sama memasuki lobby perusahaan.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu Mr. Alejandro ?" seorang resepsionis terburu-buru menghampiri Sean saat melihat pengusaha sukses itu datang.


Bukan karena ingin caper, tapi ini memang kehendak dari Robert, agar saat Sean datang berkunjung ke perusahaan, semua staff wajib memperlakukannya dengan sangat baik.


Sean melirik sekilas ke resepsionis itu lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan itu, moodnya sedang buruk. Ia terus saja melangkah kakinya memasuki lift bersama dengan Jacob.


Sementara sang resepsionis, berlari kecil kembali menuju mejanya dan menghubungi sekretaris Sean.


"Pagi, pak!"


"Ada apa, Chloe ?"


"Mr. Alejandro baru saja datang dan langsung menaiki lift menuju lantai Mr. Robert. Saya sudah bertanya basa-basi tapi tak dihiraukan oleh beliau."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih sudah memberitahu!"


Tut....


Sambungan telfon terputus, buru-buru sekretaris Robert memasuki ruangan tuannya tanpa di ketuk terlebih dahulu.


BRAKK....


"Astaga, ada apa ini!" Robert langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam sang sekretaris.


Mata sekretaris itu menatap panik kearahnya, lalu beralih pada Beby yang tengah menangis dan seorang pria yang merangkul Beby, untuk menenangkan.


"A–anu tuan...."


"Katakan dengan jelas!!" titah Robert.


"Mr. Alejandro sedang berada di lift untuk sampai di lantai ini!" beritahu sekretaris itu pada akhirnya.


Mata Beby, dan Robbert membulat terkejut, mereka berdua saling tatap. "Astaga, apa yang dia mau kali ini!" tanya Robert dengan sangat cemas.


Tubuh Beby bergetar, ia kembali menangis namun kali ini lebih keras dari sebelumnya. "Ayah, aku takut....hiks...hiks..."


Dominic menghembuskan nafas panjang, ia berdiri dari duduknya sembari mengangkat tangan kanan Beby agar juga ikut berdiri sepertinya.


"Mau kemana, nak ?" tanya Robert bingung. "Diluar ada Sean, pasti dia akan menyakiti Beby!"


Dominic menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Robert. "Benar! Kemungkinan besar Sean kemari untuk bertanya mengenai keberadaan Beby. Dan secepatnya kita keluar dari ruangan ini untuk segera pergi, atau Sean akan membawa Beby untuk di siksa di mansionnya. Bisa saja Sean berniat membunuh Beby karena ia masih menganggap jika Beby lah yang membunuh istri tercintanya.


Wajah Beby dan sang ayah pucat seketika. "Lalu kita harus bagaimana ?"


"Aku dan Beby akan pergi dan keluar menggunakan tangga darurat. Sementara anda di sini mengulur waktu untuk berbincang dengan Sean hingga saya dan Beby keluar dari perusahaan," rencana Dominic dan mereka semua menganggukkan kepalanya.


Segera Beby merapikan barang bawaannya dan menggandeng tangan Dominic untuk keluar dari ruangan ayahnya.


Namun, baru akan memutar knop pintu terdengar suara Sean dari balik pintu itu. "ROBERT!!" teriaknya.


Keempat orang di ruangan itu langsung diam bak patung, namun sekretaris Robert cepat sadar dan segera mengunci ruangan Robert dengan kunci ganda miliknya.


BRAK.....


BRAKKK...


"KAU KUNCI, HA! BUKA PINTUNYA PRIA TUA BANGKA!" teriak Sean lagi dan pria itu masih tetap menggedor-gedor pintu ruangan Robert–Ayah Beby.


BRAKK....


BRAKK....


Tubuh Beby sudah bergetar hebat, apa ia harus kembali ke dalam sangkar Sean ? Yang artinya setelah ini ia akan di siksa habis-habisan oleh pria itu ?


"A–ayah, Dominic.... aku harus apa sekarang ?"


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2