
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Pria dewasa dan seorang bocah berjenis kelamin perempuan itu bergandengan tangan keluar dari mansion yang megah dan mewah milik kakek dan nenek anak perempuan itu.
Setelah berpamitan pada kakek dan neneknya, Lily yang memang sudah dijemput oleh sang Ayah, langsung mengajak pria itu segera pulang dengan alasan sudah sangat lapar.
Dominic, pria itu segera menuntut calon anaknya untuk memasuki mobilnya. Dengan pintu yang sudah dibukakan oleh sang sekretaris ia mendudukkan dirinya di samping Lily.
Ting...Ting...
"Langsung pulang ke apartemen, tuan ?" tanya sang sekretaris yang bersamaan dengan ponsel Dominic yang berbunyi.
"Sebentar," jawabnya pelan seraya mengambil ponselnya yang berada di dalam saku jasnya.
Senyum diwajahnya mengembang, saat melihat nama sang kekasih yang muncul didepan layar ponselnya.
Sesegera mungkin ia membuka kunci ponselnya untuk melihat isi pesan yang dikirimkan Beby.
Satu-satunya Cintaku 💘
Mengirimkan gambar (17)
Aku sudah sangat cantik
Cepatlah pulang ya Papi...
Mami menunggu.....
Senyum Dominic semakin mengembang saat sudah mengunduh foto yang Beby kirimkan kepadanya.
"Sangat cantik, memang dia benar-benar cantik," gumamnya memuji kecantikan Beby.
Sementara di sampingnya sang anak menatap sang calon ayah heran. Ditariknya ujung jas Dominic dengan tangan-tangan kecilnya.
"Papi kok senyum-senyum terus ? Ayo pulang!! Lily udah lapell bangett!" gumamnya kesal.
Setelah membalas pesan kepada sang kekasih, Dominic kembali menyimpan ponselnya kedalam saku jas dan tersenyum menatap sang anak.
Diangkatnya tubuh Lily keatas gendongannya, lalu ia kecupi kedua pipi berisi itu dengan lembut.
"Iya-iya ayo pulang, Papi gak mau nanti Lily jadi mengecil pipinya," goda Dominic yang langsung diberi pelototan tajam.
Dominic tertawa melihat ekspresi sang anak, buru-buru ia meminta pada supir untuk menjalankan mobilnya menuju apartemen Beby sebelum bocah itu menangis.
Bukan hanya Lily yang lapar, Dominic juga lapar. Tapi bedanya Lily akan kenyang setelah memakan masakan Beby, sedangkan Dominic akan kenyang setelah memakan Beby, eh 😜
...o0o...
"SADARLAH SEAN! SADAR! AKU BUKAN CLARA! AKU BEBY....hiks....hiks...."
Tangis Beby seketika pecah, Sean tampak begitu bringas sekarang. Pria itu masih terus mengurung tubuhnya di dinding, dengan kedua tangan yang mengurung kedua sisi bagian tubuhnya.
__ADS_1
Beby kembali terisak tangis saat tubuhnya sudah merasa lemas dan dia tak bisa lagi menghindari Sean.
Perlahan tubuh Beby hendak luruh ke lantai, tapi dengan cepat Sean memegang kedua bahu Beby dan memaksakan wanita itu untuk menatapnya.
"Aku tidak perduli kamu itu Clara atau Beby, dimataku kamu tetaplah Clara, istriku tercinta," bisiknya s3nsu4l.
Kepala Beby hanya bisa menggeleng kepalanya pelan mendengar ucapan Sean. "Clara sudah mati.....hiks.....hiks...."
Sean tertawa singkat mendengar ucapan Beby, ia semakin mendekat tubuhnya pada Beby. Hingga kini dada mereka saling bertempelan dan wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
Kedua tangan Sean yang tadi memegang bahu Beby terlepas, tapi dengan cepat tangan kanan Sean mengambil alih kedua tangan Beby dan ditaruhnya di atas kepala, tak ingin membuat wanita itu kabur dari posisinya sekarang.
Sementara tangan kiri Sean bergerak memeluk pinggang Beby, untuk semakin menyatukan mereka.
"Ya, baiklah, aku mengakui dia sudah mati. Dan sekarang karena kamu mirip dengan Clara, maka jadilah pengganti dia. Jadilah istriku untuk menggantikan posisi Clara. Kamu hanya cukup menyiapkan kebutuhan ku, melayani ku, berc1nt4 denganku sepanjang malam dan mengurus Leon dengan benar," ujar Sean dengan senyum tipis dan mata yang menatap Beby dengan berbinar. "Pakai gaun-gaun milik mendiang Clara, semua baju itu masih tersimpan di lemarinya. Dan bertingkah lah seperti Clara.."
"Jika kamu lakukan itu, kamu sudah bisa menjadi pengganti Clara, dan aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Harta ? Posisi ? Popularitas ? Akan aku berikan kepadamu Beby, tapi dengan syarat, jadilah Clara untukku," sambung Sean dengan penuh harap.
Pria itu sungguh berharap Beby menerima tawarannya, ia ingin Beby segera menikah dengannya.
Dengan begitu ia bisa mendapatkan Claranya kembali, ada yang mengurus Leon, dan juga ia bisa mendapatkan anak Beby yang juga anaknya dengan mudah.
Beby menatap Sean dengan sorot mata kecewa, "anda pikir aku ini apa Sean ? Anda mengucapkan kata itu seolah-olah aku tidak punya hati dan tidak memiliki rasa sakit....hiks....."
"Aku tidak mau! Aku juga mau hidup bahagia DENGAN MENJADI DIRIKU SENDIRI! Tanpa harus terbayang-bayang wajah orang lain," sambungnya dengan menekan beberapa kata.
Sean menggeram marah, kenapa Beby menolaknya ? Bukankah tawaran yang ia berikan sudah sangat menguntungkan wanita di hadapannya ini.
Tanpa aba-aba Sean langsung menyerang b1bir Beby secara kasar, mengigit dan menyesap kuat benda k3nyal yang selama ini ia rindukan.
Sementara Beby yang mendapatkan serangan tiba-tiba dari Sean langsung memberontak. Ia berusaha menendang b1j1 kej4nt4nan Sean, tapi dengan cepat pria itu menghindar tanpa melepas ciuman mereka.
Tangisan Beby tak henti-hentinya, ia berusaha menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan untuk melepaskan c1um4n Sean.
...o0o...
Ting ....
Pintu lift sudah membawa mereka berdua kelantai apartemen Beby, dengan tak sabar Dominic melangkah kakinya menuju depan pintu apartemen.
Senyum diwajahnya sama sekali tidak luntur selama memencet tombol kata sandi pada kunci pintu di unit apartemen itu.
Ceklek....
Saat pintu berhasil di buka, Dominic buru-buru masuk dan tak lupa menutup pintunya kembali.
"Papi turun, Papi turun...." pinta Lily seraya menggerak-gerakkan kakinya dengan semangat.
Dominic tertawa kecil dan menundukkan badannya agar Lily dengan mudah turun ke lantai.
Setelah dibawah, Lily buru-buru memasuki ruang utama dengan berlari. Sementara Dominic masih melepas sepatu kerjanya dan menggantinya dengan sandal dalam rumah.
"MAMIIIIIIII!!" teriak Lily nyaring yang membuat Dominic berjengit kaget.
Pria itu buru-buru berlari memasuki ruang utama, saat melihat calon anaknya itu terdiam mematung di dekat meja dapur.
Ia segera menghampiri sang anak, tanpa melihat sekeliling, "Lily ada apa sayang ? Kenapa berteriak-teriak––" ucapnya berhenti tatkala matanya melihat Beby dan Sean yang saling berdekatan di dinding dekat meja makan.
Mata Dominic membelalak kaget, sama seperti Dominic, Beby juga sama kagetnya dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Dominic....hiks....hiks....tolong aku...." ucap Beby yang sudah begitu lemas, kaki wanita itu bergetar hebat, gaun yang sudah acak-acakan dan jangan lupakan penampilannya yang nampak kacau.
Beby baru saja dilecehkan lagi oleh Sean....
"APA YANG TERJADI ?? KENAPA KAU KE SINI BRENGSEK ?" tanya Dominic beruntun.
"Dominic....hiks," panggil Beby lagi, wanita itu dengan kaki lemasnya ingin menghampiri sang kekasih namun dengan cepat lengan kanannya langsung ditarik ke belakang oleh Sean hingga punggungnya menabrak dinding dengan sangat keras.
BRAKK....
Tanpa memperdulikan baby yang sudah kesakitan, Sean berjalan kearah Dominic dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Sementara Lily sudah menangis histeris melihat ibunya di sakiti, anak perempuan itu buru-buru menghampiri sang ibu yang terbaring lemas di lantai.
"Mami.....hiks...hiks...." tangis bocah itu pecah, sementara Beby yang juga sudah menangis sedari tadi hanya mampu membalas anaknya dengan senyum, tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang anak dengan sayang. "Mami gak papa kok, Lily jangan nangis..."
Lily dan Beby di sudut ruangan itu menangis dan saling menguatkan. Berbeda dengan Sean dan Dominic dan kini saling bertatapan tajam.
"Jadi Mr. Dominic yang selama ini menyembunyikan calon istri dan anakku ?" tanya Sean dengan nada tajam, pria itu semakin mendekati Dominic dengan tangan yang memegang ujung kemeja kerja Dominic erat. "Apa maksud anda melakukan itu ? Hubungan bisnis dan pribadi tidak bisa disangkutpautkan! Jangan bilang anda juga yang mengubah identitas Beby agar saya tidak bisa mengetahui keberadaannya..."
Tak....
Dengan kasar Dominic menyetak tangan Sean yang memegang erat bajunya. "Ya! Saya yang menyembunyikan Beby dari pria gila seperti anda. Dan saya melakukan itu bukan karena ada dendam dengan anda secara pekerjaan, saya dan Beby memang sepasang kekasih, kami saling mencintai!" beritahu Dominic langsung.
"Dan apa tadi anda bilang ? Anak anda ? tanya Dominic seraya tertawa prihatin menatap Sean. "Maaf, anak perempuan itu adalah anak saya. Dia sudah menjadi anak saya semenjak ayah kandungnya sendiri yang meminta Beby untuk mengugurkan kandungnya!" sambungnya yang membuat tangan Sean terkepal kuat.
"Dulu aku memang tidak menginginkan anak itu, tapi semenjak Clara meninggal, aku membutuhkan Beby dan anaknya agar bisa merawatku dan Leon," jawab Sean tanpa berfikir.
"BRENGSEK!!!" teriak Dominic murka, "Kau menjadi Beby dan anaknya hanya sebagai pelipur lara saat istrimu meninggal, huh ?"
BUGHH......
BUGHH......
Tanpa menunggu jawaban Sean, Dominic langsung melayangkan tinjuan mautnya pada saingan bisnisnya itu.
Mereka terlibat perkelahian di depan Beby dan Lily yang terus menangis di sudut ruangan.
Saat ini Dominic memimpin perkelahian, buru-buru ia menyeret tubuh Sean yang penuh lebam untuk keluar dari Apartemennya.
"PERGILAH SEJAUH MUNGKIN SEAN! KAU PRIA PALING BRENGSEK YANG PERNAH AKU TEMUI!" teriaknya sebelum membanting dengan keras pintu apartemennya dan juga Beby.
Sementara Sean di depan pintu yang tertutup itu memegangi pipinya yang nyeri dengan tangan kanannya.
"Pergi sejauh mungkin ? Kau yang akan pergi Dominic! Awas aja, tunggu pembalasan ku nanti." tutur Sean sebelum pergi dengan terpincang-pincang memasuki lift.
...o0o...
UDAH TANGGAL 29, TINGGAL 2 HARI LAGI YA KITA TAMAT
SEMOGA SECEPATNYA RATU BISA NGETIK
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA