
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o ...
Polisi terus melakukan penyelidikan terkait kecelakaan tunggal yang dialami oleh seorang CEO dari salah satu perusahaan besar di Italia.
Beberapa orang polisi yang dipimpin oleh sang ketua kini mendatangi sebuah bengkel yang khusus mereka gunakan untuk memeriksa kendaran korban atau pelaku sebagai alat bahan bukti.
"Ini jelas sekali jika digunting dengan sengaja," jelas montir dibengkel itu seraya menunjuk sebuah kabel yang putus dalam mesin mobil kepada sang ketua pemimpin kelompok itu.
Dengan seksama mata sang polisi itu menatap lurus kearah kabel itu, dan benar saja, kabel itu terputus dengan rapi. Tidak seperti kecelakaan biasa.
"Ya, benar. Ini digunting oleh seseorang," Tangan polisi itu mengotak-atik kabel rem yang sudah terbagi menjadi dua bagian itu. "Ini sepertinya memang kecelakaan yang disengaja. Kita harus memberitahu keluarga Mr. Dominic secepat mungkin," sambungnya yang diangguki oleh anak buahnya.
Saat sedang sibuk menganalisis rentetan kejadian kecelakaan ini, seseorang pria berseragam lengkap polisi berlarian memasuki ruangan bengkel khusus itu.
Matanya menatap kekanan dan kekiri untuk menemui seseorang yang ia cari. Polisi itu tersenyum kecil saat melihat sang ketua sedang sibuk di depan mobil setengah hangus itu.
"Lapor, Komandan!" teriaknya keras, dengan tangan yang terangkat kedahi, membentuk sebuah hormat kepada sang ketua.
Sang ketua segera mengalihkan pandangannya kearah sang anak buah. "Bagaimana, sudah mendapatkan rekaman CCTV untuk melihat titik awal mobil Mr. Dominic sebelum kecelakaan ?" tanyanya dengan cepat tanpa basa-basi.
Dengan cepat polisi itu mengangguk, "kami sudah melihat sekitar 11 CCTV yang terdapat di sepanjang jalan. Yang pertama di sebuah Cafe yang berjarak 250 meter dari lokasi kecelakaan Mr. Dominic, hingga CCTV ke-11 adalah di toko sepatu. Di sana kita melihat detik-detik mobil Mr. Dominic, sebuah Lamborghini Aventador dark blue dengan plat nomor X 7 XYX keluar dari sebuah gedung apartemen ROXY JANE pada dini hari," jelas sang polisi panjang lebar.
Senyum diwajah polisi itu semakin melebar, sebentar lagi kasus ini segera akan berakhir. "Christ, kau bawa kabel rem ini ke ruang penelitian untuk mendapatkan sidik jari dari pelaku. Setelah selesai mendapatkan sidik jari, berikan kepada tim INAFIS untuk menyelidiki!"
**Tim INAFIS (buat yang belum tahu) adalah Indonesia Automatic Finger Print Identification System.
**Tim INAFIS memang beneran ada yah di Indonesia, ini adalah sebuah satuan khusus untuk melacak sidik jari.
Anak buah dari pria yang dipanggil komandan itu mengangguk kepala cepat. Ia segera membawa kabel rem itu ke tempat ditujukan oleh komandannya.
"Dan sebaiknya kita langsung bergegas ke gedung apartemen ROXY JANE untuk meminta rekaman CCTV," perintahnya lagi, dan segera diangguki oleh anak buahnya yang lain.
Mereka bersama-sama berjalan keluar dari bengkel khusus ini, dengan langkah kaki yang gagah.
Ting....
Ponsel sang ketua berbunyi, tertanda ada notifikasi yang masuk. Ia menghentikan kakinya saat akan menaiki mobil polisi, dan segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Mr. Renz (asisten Mr. Dominic)
Aku sudah di apartemen, cepat kemari!
Setelahnya kita ke rumah sakit bersama!
Sang komandan itu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana saat setelah membalas pesan dari asisten setia Dominic itu.
"Cepat segera ke apartemen, Mr. Renz sudah menunggu kita!" titahnya cepat.
Mobil bergerak cepat meninggalkan bengkel, dengan senyum tipis yang menghiasi wajah sang ketua. "Mr. Dominic, Anda terlalu membahayakan diri sendiri, hanya untuk menangkap satu tikus..." gumamnya.
...o0o ...
PLAKK.....
Beby menampar dengan sangat kuat pipi Sean. Nafasnya terdengar begitu jelas, dada wanita itu bergerak naik-turun, karena sangat kesal setelah mendengar penuturan Sean.
Sementara Sean disana, tidak marah akan tamparan yang diberikan oleh Beby. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas seraya tersenyum tipis.
"KAU GILA SEAN, HUH ?!?! AKU TIDAK MEMBUTUHKAN MAKAM UNTUK DOMINIC! DIA AKAN SEMBUH! SEBENTAR LAGI DIA AKAN SADAR DARI MASA KRITISNYA!" teriak Beby nyaring, hingga menggema di lorong rumah sakit ini.
__ADS_1
Sean tertawa kecil mendengar teriakan Beby, jari telunjuk tangan kanannya terangkat menuju bibir Beby, "ssttt...." bisiknya mengkode Beby untuk diam. Namun Beby dengan cepat menepis kasar jari pria itu yang berada di bibirnya.
"JAUHKAN TANGANMU DARIKU, BRENGSEK! DAN JANGAN KATAKAN LAGI JIKA DOMINIC AKAN MENINGGAL!!" teriak Beby lagi.
"Sayang, jangan teriak! Ini rumah sakit, loh...." peringat Sean disertai kedipan mata genit, dan Beby langsung merinding seketika melihat tingkah pria tua yang baru pubertas itu. "Lagipula kenapa memang jika aku ingin menyiapkan makam untuk Dominic sekarang ?" tanyanya dengan nada bingung dan Beby semakin dibuat emosi karenanya.
Mata wanita itu melotor kearah Sean, matanya bergetar menandakan jika ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Sekarang atau nanti gak akan ada bedanya, Dominic akan tetap mati. Kamu lupa apa kata dokter tadi ? Dominic kritis, ada pendarahan hebat di otaknya, seluruh wajahnya terkena beling. Jika hidup sekalipun dia akan cacat, kamu mau menikah dengan laki-laki cacat memang ?" sambungnya dengan menahan tawa geli.
Tangan Beby secara spontan terangkat untuk memberikan tamparan yang lebih keras pada wajah Sean, namun dengan cepat Sean menahan tangan Beby yang akan mengenai wajahnya.
"Kenapa marah sih ? Kan itu memang benar, sayang..." Perlahan tangan Sean melepaskan tangan Beby. "Daripada menikahi pria cacat, bukankah lebih baik jika menikah denganku ? Kamu akan mendapatkan semuanya. Dan tugasmu hanya melayaniku dan juga menjaga Leon," tawarnya lagi dan hanya dipandang oleh Beby.
Wanita yang sudah tidak bisa berdebat dengan Sean lagi itu, hanya bisa mendudukkan dirinya lagi dikursi tunggu di depan ruangan UGD Dominic.
Daripada meladeni Sean yang gila, Beby lebih baik diam dan berdoa agar pintu ruang operasi itu segera terbuka dan dokter-dokter yang masih berusaha di dalam segera memberikannya kabar baik.
"Kenapa ? Kenapa diam ? Ayo kita menikah, Beby. Biarlah urusan Dominic, aku yang mengurus!" Sean ikut duduk di sebelah Beby, wajahany menatap lurus kearah Beby. Memperhatikan wajah cantik Beby yang semakin cantik dan menggairahkan bahkan saat ia panik sekalipun.
Beby menutup mata dan mulutnya, ia bersender di kursi itu sembari mendoakan sang calon suami dalam hati.
Tap....tap....tap....
Tak berselang lama dari itu, asistesn Dominic dan dengan ditemani oleh ketua satuan polisi itu berjalan mendekat ke arah ruang UGD yang didepannya terdapat Beby dengan Sean.
Mata asisten Dominic, menatap penuh dendam kearah Sean. Tangan asisten Dominic itu mengepal kuat, ia berusaha menahan emosinya agar terus bisa menjalankan rencananya.
"Nyonya Beby...." panggil sang asisten Dominic pada Beby yang memejamkan mata di kursi.
Mendengar namanya dipanggil dengan nada suara yang familiar, Beby langsung membuka matanya dan menatap sumber suara.
Matanya berkaca-kaca melihat asisten Dominic mendekatinya, ia buru-buru berdiri dari duduknya dan memeluk erat asisten calon suaminya itu.
"Renz," bisik Beby lirih, ia menangis dalam pelukan asisten Dominic.
Dengan gentleman, asisten Dominic itu membalas pelukan Beby tak kalah erat. Ia membisikan kata-kata menenangkan di telinga Beby, agar wanita itu bisa berhenti menangis.
"Lebih baik kau siapakan makam Dominic saja secepatnya, kondisi tuan mu itu sangat buruk. Dia kritis sekarang!" bukan Beby yang menjawab, melainkan Sean yang sedari tadi menahan rasa cemburu saat melihat Beby berpelukan dengan pria asing dihadapannya.
Mata asisten Dominic menatap tajam Sean, dada pria itu bergerak naik turun karena sangat emosi.
Ceklek...
Baru saja akan membalas ucapan Sean, pintu ruangan operasi Dominic terbuka. Dan dengan cepat mereka semua berkumpul kedepan pintu untuk melihat.
"Alay!" sarkas Sean saat melihat Beby, asisten Dominic dan juga seorang pria berpakaian polisi yang segera menuju dokter saat ruang operasi terbuka.
"Dok, bagaimana suami saya ? Dia sudah sadar? Apa dia sudah melewati masa krisisnya ?" tanya Beby beruntun yang hanya diangguki oleh dokter itu.
"Sebentar ya, saya akan jelaskan di ruangan inap Mr. Dominic. Saya dan para perawat akan membawa Mr. Dominic keluar dulu dari ruang UGD menuju ruang biasa. Mari diikuti dari belakang!" titah sang dokter yang membuka lebar pintu ruangan UGD untuk jalan brankar kasur yang ditiduri oleh Dominic.
Ranjang Dominic keluar dari ruangan UGD, dan Beby langsung menangis seraya memeluk asisten Dominic.
Wajah Dominic terdapat banyak jahitan , kedua tangan dan kaki pria itu juga diperban.
"Pasti ini sangat sakit," gumam Beby dengan lirih.
Beby, asisten Dominic, seorang polisi dan juga Sean mengikuti ranjang Dominic hingga menuju sebuah ruang VVIP yang cukup besar, mewah dan terdapat beberapa fasilitas yang bagus.
Setelah menaruh dengan rapi, brankar ranjang Dominic, sang dokter mulai menjelaskan keadaan Dominic pada Beby.
"Jadi begini, Mr. Dominic sampai saat ini masih mengalami mas kritis dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana alur hidup Mr. Dominic setelahnya," ucap sang dokter memulai pembicaraan dan Beby sudah pasrah dipelukan asisten Dominic.
"Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan hebat yang berada di otak. Kami juga sudah mengeluarkan pecahan kaca yang mengenai tubuh Mr. Dominic. Tapi saya tidak bisa mengatakan kondisi Mr. Dominic sudah membaik," sambungnya yang diangguki oleh Beby.
"Baiklah, dok. Terima kasih karena sudah bekerja keras untuk menyelamatkan suami saya," balasnya yang diangguki oleh sang dokter.
__ADS_1
Saat dokter itu pergi keluar dari ruangan Dominic, Beby tak henti-hentinya menciumi seluruh wajah Dominic.
"Bangunlah sayang....hiks...hiks... Lily butuh papinya..." ujar Beby dengan nada bergetar dan dihadiahi dengusan oleh Sean.
Pria itu mengepalkan tangannya erat, melihat kemesraan Beby dengan Dominic. "Cepat mati saja kau Dominic, kenapa lama sekali ?" batinnya kesal.
"Sayang, kamu udah janji loh mau nikahi aku....hiks...." Beby menggenggam tangan Dominic erat.
Asisten Dominic sedikit berdehem untuk memberikan kode pada ketua satuan polisi itu dan untuknya segera ditanggap dengan cepat.
Polisi itu berjalan mendekat dan memegang kedua bahu Beby lembut. "Nyonya yang sabar ya, saya yakin Mr. Dominic akan segera membuka matanya," doanya pada Beby.
"Saya disini ingin menjelaskan mengenai kecelakaan Mr. Dominic, bisa bicara sebentar?" tanya sang dokter itu yang diangguki oleh Beby.
Dengan perlahan polisi itu menuntut Beby keluar dari kamar inap ruang Dominic, yang juga diikuti oleh Sean. Pria itu juga sangat penasaran, sampai dimana penyelidikan polisi kepada kasus kecelakaan Dominic.
Meskipun ia sudah siap menumbalkan supirnya, tapi ia sampai saat ini juga ketakutan, takut jika namanya ikut terseret.
Sepeninggalan Beby dan Sean dari ruangan Dominic, sang asisten segera berjalan mendekati ranjang tuannya itu setelah memperhatikan pintu sudah tertutup rapat.
"Tuan! Tuan! Bangunlah, mereka sudah pergi...." panggilnya dengan suara berbisik.
Mata Dominic seketika terbuka lebar, ia meringis kesakitan saat ingin menolehkan kepalanya pada sang asisten.
"Sial! Ini sangat menyakitkan! Seluruh tubuhku terkena pecahan kaca mobil!" umpatnya pada sang asisten.
Sang asisten memutar bola matanya malas, "anda sendiri yang menginginkan kecelakaan ini, bukankah saya sudah memberitahu jika mobil anda di sabotase oleh seseorang ?" tanyanya yang dibalas senyuman miring oleh Dominic.
Flashback On....
Saat Dominic berjalan memasuki lift, untuk pulang dari apartemen Beby menuju rumahnya. Ponsel pria itu berdering nyaring, dan ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Renz ? Kenapa dia menelfonku, dini hari begini ?" tanyanya bingung setelah melihat jika sang asisten yang menelfonnya.
Tak ingin dibuat penasaran terlalu lama, Dominic langsung menggesok ikon hijau pada ponselnya.
"Tuan ? Anda sebaiknya jangan pulang dari apartemen Beby! Tadi kepala manager hotel menelfon saya dan memberitahu jika ada seseorang yang bertanya dimana letak parkiran mobil apartemen Beby. Manager itu sama sekali tidak mengatakan siapa yang bertanya, tapi dia minta saya untuk mengabari anda." Renz terdengar begitu khwatir dari nada suaranya.
Senyum miring diwajah Dominic seketika tercetak jelas, saat pintu lift terbuka, ia buru-buru keluar dari lift dan berjalan keluar gedung apartemen untuk menuju Apartemennya.
"Sean, pasti pria itu yang akan menjahiliku sekarang," balasnya cepat.
Mereka masih terhubung ditelfon, hingga mata Dominic menanggap mobilnya masih terparkir cantik di parkiran.
Buru-buru ia menaiki mobilnya dan menutupnya kembali.
"Coba hidupkan mesin mobilnya tuan, apakah bisa ?" tanya sang asiten.
Vroom...vroom.....
"Bisa!" jawab Dominic cepat, Dominic memajukan mobilnya sedikit kedepan dan ia menginjak pedal rem. Namun rem itu sama sekali tidak berfungsi.
"Rem! Remnya dibuat blong. Sepertinya rencana mereka ingin membunuhku..." ucapnya lagi para sang asisten. "Renz, siapakan ambulans di dekat lampu merah. Aku akan menubrukkan mobilku di sana!" titahnya dengan seringai kecil.
Tut....
Dominic memasukkan kembali ponselnya dalam saku jasnya dan mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Kau ingin membunuhku Sean ?" tanyanya dengan tawa yang mengerikan. "Maaf sekali, tapi sepertinya aku yang akan membunuhmu duluan!"
Flashback off....
"Jalankan sesuai rencana, aku ingin membuat Sean senang untuk sementara waktu, sebelum pria itu masuk ke geruji besi!" ucap Dominic mantap.
...o0o ...
2000++ kata 😭😭🙏
__ADS_1
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
TERIMA KASIH SEMUANYA