MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
AKHIRNYA DARI SEMUANYA


__ADS_3

Tepatnya susah hampir seharian Beby tak beranjak untuk keluar dari ruangan Dominic sama sekali.


Ia hanya duduk di kursi dekat ranjang dan mulutnya tak henti-hentinya mengajak Dominic berbicara. Ia sangat berharap jika pria itu benar-benar bisa menjawab semua omongannya.


Beberapa jam lalu, tadi Beby sempat menelfon anaknya melalu nomor sang ibu. Mereka berbicara banyak, dan juga Beby meminta kepada sang anak untuk mengajak Dominic mengobrol.


Dan kini jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan Beby masih terus berada disamping sang calon suami.


"Sayang, bangun dong....jangan buat aku takut!" gerutu Beby dengan sebal.


Wanita itu bersandar pada kursinya dan memejamkan matanya sejenak. Sejak dini hari tadi hingga sekarang, Beby belum sempat beristirahat.


Kruyuk....kruyuk.....


Perut Beby berbunyi nyaring, pertanda bahwa cacing-cacing dalam perutnya minta segera diisi.


Dominic yang sejak tadi berpura-pura tidur, mengigit lidahnya agar tidak tertawa. Ia sungguh tak kuasa setelah mendengar suara perut Beby.


"Astaga, perut! Kau ingin sangat memalukan ya!" pekik Beby dengan wajah yang memerah malu. "Untung saja di kamar ini tidak ada siapa-siapa, jadi tidak ada yang tahu jika aku kelaparan!" sambungnya.


"Kata siapa tidak ada yang tahu ?" ucap seseorang yang sudah tidak bisa menahan tawanya. Dominic segera membuka mata dan tertawa kecil dengan tingkah laku Beby.


Berbeda dengan Dominic yang terlihat bahagia karena mendengar suara perut sang kekasih, Beby malah membulatkan matanya terkejut melihat Dominic tiba-tiba membuka matanya dan tertawa.


"Do–Dominic ?" ucapnya dengan tergugup.


Beby berdiri dari duduknya dan melepas genggaman tangannya dari Dominic.


"DOMINIC SUDAH SADAR ?" pekiknya dengan sangat keras, entah ia harus senang atau sedih ia tidak tahu. "DOKTER!?! DOKTER!!!" teriaknya lagi.


Wajah Beby terlihat begitu panik, hingga membuat Dominic lagi-lagi tergelak karena tingkah Beby.


Pria itu segera bangkit dari posisi tidurnya, untuk memegang erat pergelangan tangan Beby. Mencegah wanita itu untuk keluar dari ruangannya dan menemui dokter.


"Sayang tenang sayang...." ucap Dominic berusaha menenangkan.


Tapi bukannya tenang, Beby malah bertindak semakin heboh. Wanita itu memegang kedua sisi wajah Dominic dengan tangannya.


"Shhh..... sakit Yang!" tegur Dominic, saat merasakan bekas tusukan beling pada wajahnya terkena tangan Beby.


"KAMU KOK SUDAH SADAR ? KATA DOKTER KAMU KRITIS! LUKA KAMU SANGAT PARAH. TA–TAPI, TAPI KENAPA SEKARANG BISA TERTAWA ?" tanyanya dengan mata yang membulat karena syok.


Tangan Beby yang memegang Dominic perlahan ia lepaskan. Lalu ia menepuk-nepuk pipinya sendiri.


Pukk....


Pukk.....


"Ini mimpi! Ini pasti mimpi!" gumam Beby yang menepuk pipinya berkali-kali.


Dominic tersenyum lebar, ia melepaskan infus palsu yang menutupi hidungnya dan juga tangannya.


Ia memegang kedua pipi Beby, dan dielusnya dengan sayang. "Ini gak mimpi sayang, aku juga gak kritis. Ini hanya siasat untuk menjebak ular agar mau masuk kedalam perangkap!" ujar Dominic memberitahu.


Mata Beby berkedip beberapa kali, ia kembali mendudukkan tubuhnya pada kursi dan mendekatkan dirinya pada Dominic.


"Ma–maksudnya ? Kamu beneran kecelakaan kan ?" tanya Beby lagi yang diangguki oleh Dominic.


"Ya! Aku memang kecelakaan. Tapi aku sudah mengatur dan berusaha memutar otak agar kecelakaan ini terkesan sangat tragis tapi di dalam mobil aku harus tetap hidup."


"Rem mobilku sengaja dirusak oleh Sean, pria itu memang sengaja ingin membunuhku. Maka dari itu aku mengikuti alur permainan Sean, aku yang sudah tahu dari awal rem mobilku blong, langsung menabrak pembatas jalan dan membuat mobil terpental. Tapi itu tidak berbahaya, aku hanya terkena beberapa beling kaca mobil di tubuh."

__ADS_1


Dominic tersenyum melihat bagaimana Beby setia mendengarkan ceritanya dengan serius.


"Aku sudah membayar dokter mahal untuk mengatakan kepadamu jika aku kritis dan bisa saja meninggal dunia. Kenapa? Karena aku sangat yakin jika Sean akan datang kemari dan melihat sendiri kondisi tubuhku!"sambungnya yang membuat Beby menghela nafas berat.


Wanita cantik itu menatap sang kekasih dengan mata yang berkaca-kaca. "Hiks....hiks....kamu jahat....kenapa gak bilang aku dulu ? Aku takut ditinggal kamu....hiks...." tangis wanita itu pecah.


Dominic tersenyum haru, sejak seharian tadi ia berpura-pura tertidur. Ia terus mendengar ungkapan hati Beby.


Kini ia benar-benar yakin jika Beby sudah sangat mencintainya dan tidak bisa kehilangannya.


Ditariknya wanita cantik itu dalam pelukannya, "maafkan aku sayang, ini semua demi kita. Aku, kamu dan Lily," ucap Dominic. Pria itu mengecup b1b1r Beby sekilas.


"Lalu bagaimana dengan Sean ? Dia sudah tidak akan menganggu kita kan ? Aku harap dia mendapatkan balasan yang tepat karena sudah berani membuatku celaka, Nic!" ucap Beby yang sudah sangat membenci Sean.


Dominic menganggukkan kepalanya, "beberapa hari lagi kita menemui Sean untuk yang terakhir kalinya. Sebelum pria itu masuk ke sangkar besi yang dingin..." jawab Dominic dengan maksud yang tersirat.


...o0o ...


Tidak ada yang bisa dibantah lagi, bukti CCTV yang memperlihatkan Sean, Jacob, dan juga Chris–supir Sean yang tengah berbicara di parkiran apartemen Beby menjadi salah satu bukti jika mereka bertiga memang sekongkol untuk melenyapkan Dominic.


Bukan hanya itu, polisi juga berhasil menemukan bukti rekaman suara, dimana Sean menyuruh Chris untuk memotong kabel rem mobil sport Lamborghini Aventador dark blue milik Dominic dengan iming-iming uang tunai.


Sidang putusan hakim mengenai masa tahanan mereka memang belum diadakan. Tapi kedua pria itu kini sudah menjadi tahanan sementara polisi.


Sean, dan Chris sudah memakai baju orange yang sama. Mereka juga dimasukan kedalam satu sel kelas A, dimana ada satu ranjang dan juga ada sebuah televisi di dalam.


"Tuan, anda saja yang tidur di kasur lipat itu, biar Chris yang dilantai," seru Jacob dari balik jeruji besi.


Setelah mendengar kabar jika tuannya ditangkap Jacob langsung menuju ke kantor polisi, ia ingin mengecek sendiri keberadaan tuannya.


Sean menghela nafas kasar, diliriknya sang supir yang masih terus menangis dan tak henti-hentinya mengatakan 'saya tidak salah'.


"Jaga baik-baik perusahaan ku, pastikan tidak ada yang tahu jika aku masuk kedalam pen–"


Kepala Jacob mengangguk mengerti, ia kembali menatap tuannya. "Jangan khawatirkan hal itu, saya akan menjaga perusahaan dan Leon dengan baik. Saya juga akan menjamin jika tidak ada yang tahu jika tuan masuk ke dalam penjara!"


"Saya pergi, tuan!" pamit Jacob yang hanya diangguki sekilas oleh Sean.


Pria itu kembali untuk duduk di kasur lipat nya yang tipis. Ia menerawang ke depan membayangkan wajah sang putra.


Malang sekali nasib anaknya itu, sudah kehilangan ibunya dan kini ia harus menerima fakta bahwa ayahnya adalah seorang napi.


Sean tersenyum miris, ia benar-benar sangat bodoh. Andai waktu bisa diulang iya ingin memperbaiki segalanya.


Iya tidak ingin mengacuhkan anaknya saat masih bayi hingga anaknya itu memasuki sekolah dasar hanya karena ia menganggap Leon adalah penyebab istrinya koma.


Iya juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Beby, andai waktu bisa diulang kembali, Sean ingin mempertahankan Beby untuk di sisi-nya selamanya.


Dan kini ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia harus menerima hukuman dari kejahatannya.


"Mr. Sean, ada yang ingin bertemu!" ucap seorang penjaga tahanan yang membuyarkan lamunan Sean.


Tanpa melihat siapa yang datang, Sean berdiri dari duduknya nya untuk meningkatkan dirinya ke pintu jeruji besi itu.


"Sean," panggil seorang wanita yang suaranya cukup terdengar familiar ditelinga Sean.


Sean langsung mengangkat wajahnya untuk melihat sepasang kekasih yang mengunjunginya di sel tahanan pada hari ini.


Mata pria itu membulat terkejut, tanpa sadar mata Sean berkaca-kaca. "Be–beby ?" ucapnya dengan suara bergetar.


Beby dan Dominic yang sejak tadi bergandengan tangan itu tersenyum singkat kearah Sean.

__ADS_1


Setelah beberapa hari setelah kondisi memiliki cukup membaik, akhirnya mereka memutuskan untuk menjenguk Sean di sel.


"Kenapa kamu begitu jahat ingin membunuh calon suamiku, Sean ?" tanya Beby yang menyuarakan apa yang ada di pikiran wanita itu.


Kepala Sean menunduk, ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya di depan baby yang juga di depan Dominic.


"Maaf, maafkan aku Dominic. Aku harusnya berterima kasih karena kamu mau merawat anakku dengan Beby. Maaf, maafkan aku..." ucap Sean setelah lama berdiam diri.


Dominic menganggukan kepalanya sekilas lalu tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih, karena sejak awal aku tidak menganggap anak Beby adalah anakmu adalah anakku."


Sean menganggukkan kepalanya mengerti, "maaf, aku sungguh sangat berdosa pada kalian semua. Maafkan aku Beby dan Dominic, maaf..." ucapnya dengan suara yang bergetar.


"Kami sudah memaafkanmu tapi maaf, proses hukum harus tetap berjalan..." jawab Dominic.


Wajah Sean terangkat, menatap Beby dan bergantian kearah Dominic. "Ya, aku sudah menerima konsekuensi yang harus aku dapat, setelah melakukan hal jahat kepadamu."


Mata Beby berkaca-kaca, sungguh sangat sesak melihat pria egois seperti Sean, kini harus membalas dan meminta maaf.


"Beby," panggilnya, dan Beby segera menatap Sean dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku disini mungkin bisa saja bertahun-tahun. Aku mohon jaga Leon, di–dia sudah tidak pernah lagi merasakan hangatnya keluarga setelah kamu pergi meninggalkan mansion..." pinta Sean dengan suara bergetar.


Tangisan Beby pecah seketika, ia menganggukkan kepalanya cepat. "Tentu, aku akan merawat Leon. Dia akan tinggal bersamaku, adiknya, dan juga Dominic!" jawab Beby cepat yang diangguki oleh Dominic.


"Sebentar lagi kami menikah, dan aku akan mengambil tanggung jawab seorang ayah darimu kepada Leon!" sambung Dominic yang membuat tangis Sean pecah.


Di masa-masa tersulitnya kini, orang yang selalu ia sakitilah yang membantunya. Sean semakin merasa bersalah dan berdosa kepada Beby dan juga Dominic.


"Bahagia lah, bahagia lah kalian semua orang-orang baik...." gumam Sean seraya mempersiapkan punggung sepasang sejoli itu yang kini berjalan keluar dari penjara.


...TAMAT...


...o0o ...


MAMPIR YA SAYANGNYA RATU KE CERITA KE-4 RATU 🙏🙏🥺🥺


AMAN UNTUK YANG LAGI PUASA, KONFLIK RINGAN TANPA ADA PELAKOR


BANTU MASUKAN KE FAVORITNYA YAA...


KLIK PROFIL RATU UNTUK CARI CERITA "MANTAN ISTRI SULTAN" 🙏🙏🥺



Rania Ayu Widadari adalah seorang wanita cantik kembang desa yang secara tidak sengaja memikat sebuah pengusaha kaya dari ibu kota dengan paras kecantikannya yang begitu luar biasa.


Rania, nama panggilannya, bukan hanya cantik, tapi bentuk badannya benar-benar sangat aduhai, hingga membuat mata pria melirik kearahnya dua kali setiap berpapasan.


Mata tak jarang banyak yang menyukai Rania, termasuk pengusaha kaya yang ingin membeli tanah di desa itu. Mereka tak sengaja bertemu dan pria super kaya raya itu langsung melamar Rania.


Melihat latar belakang pria kaya itu yang sempurna, membuat kedua orang tua Rania langsung menyetujui lamaran yang ditujukan kepadanya anaknya, tapi bertanya dulu kepada Rania.


Pernikahan pun terjadi, dan mereka hidup berbahagia hingga dikarunia seorang anak perempuan yang cantik, begitu mirip dengan sang ayah.


Tapi keharmonisan rumah tangga mereka yang sudah terjalin bertahun-tahun seketika retak karena sesuatu hal.


Takdir memaksakan pasangan romantis dan saling mencintai itu untuk berpisah.


Lalu bagaimana kah nasib janda kembang cantik Rania saat ia pulang kembali ke desa ? Apakah ia akan menikah lagi ?


Lalu si pengusaha kaya raya itu juga bagaimana ? Apakah ia mampu mendapatkan sang mantan istri kembali ? Atau ia pasrah dengan takdir hidupnya, dan hidup bahagia bersama anaknya saja ?


Yuk, ikuti terus kisah Ratu Yaa......

__ADS_1


Jangan lupa Klik ❤️ (masukkan kedalam favorit)


LIKE + KOMEN + VOTE SAMA GIFTNYA...


__ADS_2