MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 69 - JADI BENAR ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Dominic diam termenung di kursi kebesarannya, entah berapa lama ia diam dengan otak yang nge-blank tanpa memperdulikan keberadaan pekerjaan yang berada di depan matanya yang begitu menumpuk itu.


Dalam hidupnya, yang keras dan tidak pernah memperdulikan orang lain, ini pertama kalinya Dominic mencemaskan seseorang.


Ya, saat ini yang berada di otak Dominic adalah Beby, sang kekasih. Wanita itu sejak tadi terus saja tak menerima panggilan suaranya. Bahkan nomor ponsel wanita itu juga tak aktif, bertanda jika ponsel sengaja di matikan.


Sekali lagi Dominic mencoba menghubungi sang kekasih hati, ia menekan beberapa digit nomor Beby dan segera menekan ikon telfon berwarna hijau. Namun bukan suara Beby yang ia dengar tapi suara Operator yang selalu menyambutnya.


Dominic tak gentar, ia terus menghubungi nomor wanita itu dengan harapan jika suara operator akan digantikan suara Beby yang merdu dan menawan, seperti kesukaannya.


"Kamu kemana sih, Beby ?" gumam Dominic kasar, ia menghembaskan kasat ponselnya diatas meja kerjanya. "Aku cuma mau dengar suara kamu doang! Kamu sesibuk apa sampai gak angkat telfonku ?"


Dominic mengacak rambutnya frustasi, Beby adalah kelemahannya. Jujur saja hanya Beby yang bisa membuat Dominic uring-uringan begini. Kematian orang tua Dominic saja tak membuat pria itu bersedih. Bisnis gelapnya yang tercium polisi juga tak membuatnya cemas.


Tapi kehilangan kabar Beby sebentar, pasti akan membuatnya overthinking dan berujung cemas yang berlebihan.


Enam tahun bersama dengan Beby, rasa cinta dan sayang terhadap wanita itu semakin menjadi-jadi. Bahkan rasa sayang Dominic terhadap dirinya sendiri akan kalah jika dibandingkan dengan Beby.


"Punya ponsel tapi gak bisa jawab telfonku! Buang saja ponsel tidak berguna itu!" gumamnya seraya melanjutkan kembali pekerjaannya, meskipun otaknya kini hanya berputar pada Beby. Tapi pria itu mencoba untuk fokus.


Tok...tok...tok....


"Masuk!" titah Dominic dingin.


Seorang pria berjas masuk ke ruangan Dominic dengan setumpuk keras ditangannya. Ia berjalan kearah meja Dominic dan meletakkan kertas-kertas itu diatasnya.


"Ini tuan, silahkan di revisi. Deadline hingga tanggal 25," beritahu sang sekretaris yang segera diangguki oleh Dominic.


Baru saja akan meninggalkan ruangan tuannya, nama sang sekretaris dipanggil dengan keras oleh Dominic.


Sekretaris itu segera berbalik dan berjalan kearah Dominic dengan alis berkerut, "ya ? ada yang anda butuhkan, tuan ?"


Lidah Dominic bergerak untuk membasahi bibir bawahnya sebelum menjawab. "Aku ingin tahu kabar Beby, dia dimana sekarang dan bersama siapa? Cepat cari tahu!" titah Dominic yang segera diangguki oleh sang sekretaris.

__ADS_1


Sekretaris itu segera mengeluarkan ponselnya yang berada di saku jas dan mengotak-atiknya sebentar.


Dominic terus memperhatikan wajah sang Sekretaris yang nampak begitu bingung. Alis sang sekretaris terangkat sebelah membaca sesuatu dari ponselnya.


"Dimana Beby ? Apa sudah kau lacak lokasinya ? Dia baik-baik saja kan ?" tanya Dominic yang juga ikut cemas karena melihat ekspresi wajah sang sekretaris.


Perlahan sang sekretaris memasukkan kembali ponselnya dalam jas dengan mata yang menatap intens mata tuannya.


"Posisi ponsel Nyonya Beby berada di mansion orangtuanya, sedangkan posisi mobil tuan yang diberikan untuk Nyonya berada di rumah sakit rehabilitasi nark0b4..."


"Ponselnya di mansion orangtuanya ?" desis Dominic tajam, "Aku menyuruhnya untuk diam di rumah, tapi dia terus membangkang dan mengabaikan ucapanku! Sialan!" umpatnya karena merasa dibohongi oleh Beby. "Dan apa tadi ? Dia berada di rumah sakit rehabilitasi nark0b4 ? Untuk apa di sana ? Cepat cari tahu!" titah Dominic yang segera dikerjakan oleh sang sekretaris.


Dengan tanggap sang sekretaris mengutus seorang mata-mata untuk langsung menuju rumah sakit tempat mobil Beby terparkirkan untuk mencari tahu kegiatan Beby di sana.


Sementara Dominic kini tengah mengepalkan tangannya kesal. Ia tidak suka jika Beby pergi tanpa seizinnya. Perlahan ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pening yang menjalar di tubuhnya.


"Jangan harap kamu bisa pergi dariku, Beby..." batin Dominic.


...o0o...


"BEBY! KAMU BEBY KAN ?" tanya Sean untuk yang kebeberapa kalinya. Sementara wanita yang memakai craft, masker dan kacamata itu hanya diam mematung.


Ia begitu terkejut, karena tak menyangka persembunyiannya selama enam tahun akan terbongkar hari ini. Ia merasa takut, ingin kabur dan juga pingsan secara bersamaan.


Wanita yang ia anggap Beby itu segera berjalan mundur untuk menghindari kontak fisik yang berlebihan dengan Sean, tapi dengan cepat pria itu mencekram kuat lengan sang wanita.


"Lepaskan aku! Aku tidak membunuh istrimu!" jawab wanita itu dengan suara yang bergetar ketakutan.


Sean menelan ludahnya susah payah, ia menunduk dan menganggukkan kepalanya secara perlahan.


"LEPASKAN AKU! AKU BUKAN PEMBUNUH!" teriak Beby lagi yang membuat perhatian orang-orang di sekitar parkiran itu melihat kearahnya.


Lagi-lagi Sean menganggukkan kepalanya sekilas dengan mata yang berkaca-kaca ia menatap Beby.


Perlahan Sean bersujud dihadapan Beby dengan tangannya yang masih memegang tangan Beby, ia tak mau wanita itu pergi lagi. Sean berjongkok dan mata yang menatap ke higheels yang dikenakan Beby.


"Aku salah, aku minta maaf. Maafkan aku, Beby! Setelah enam tahun kepergian Clara, istriku, aku baru tahu jika pelaku p3mbunuhannya adalah Vania, adik angkatnya sendiri. Bukan kamu...."


"Maaf Beby, maaf...."


"Aku mengakui jika aku salah, aku terlalu bodoh untuk menyimpulkan suatu masalah. Pasti hidup kamu selama enam tahun itu tidak tenang ya....Maaf Beby...."


"Maaf untuk semua masalah yang aku buat untuk kamu dan juga keluargamu. Aku benar-benar meminta maaf...." permohonan maaf yang Sean sampaikan terdengar begitu tulus dan menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya secara langsung.

__ADS_1


Sean terus bersujud dihadapan Beby, ia sama sekali tak memperdulikan jika pakaian yang ia kenakan saat ini sudah bercampur dengan pasir aspal yang berada di parkiran.


Mulut Sean terus mengucap kata maaf yang tulus untuk Beby.


Sementara Beby dibalik kacamatanya sudah berlinang air mata. Wanita itu menangis tanpa suara melihat Sean menangis. Pria itu terlihat begitu tersiksa saat ini.


"Kamu mau memaafkan aku kan, Beby ?" tanya Sean, pria itu seraya mendongakkan kepalanya menatap Beby dengan mata yang berlinang air mata.


Beby menghela nafas panjang, sebelah tangannya yang tak dipegang Sean ia gunakan untuk membuka masker dan kacamata yang sedaritadi wanita itu pakai.


Dibawah Sean yang melihatnya lagi-lagi terpesona, untuk yang kesekian kalinya, Beby dengan mudahnya membuatnya jatuh hati.


"Akhirnya kamu sudah tahu jika bukan aku pelakunya, baguslah. Aku mohon berhenti menganggu ku!" ucap Beby dengan suara bergetar. "Aku sudah memaafkanmu! Ku mohon jangan datang lagi mansion milik orangtua ku, karena aku tidak tinggal di sana!"


"Kamu sudah memaafkan segala kesalahanku ?" tanya Sean dengan mata berbinar, pria itu berdiri dan menyamakan tingginya dengan Beby.


Dengan pelan kepala Beby mengangguk, ia berusaha melepaskan genggaman tangan Sean pada tangannya, namun tak bisa karena Sean menggenggamnya dengan sangat erat.


"Sudah Sean! Aku sudah memaafkanmu, aku senang jika kamu sudah berhasil menemukan siapa pelaku dari p3mbunuh istrimu. Itu artinya aku bisa hidup tenang, tanpa takut akan dirimu lagi!" jawab Beby. "Oh ya, setelah ini jangan pernah temui aku lagi, jika kita berpapasan dijalan, jangan menyapaku! Anggap kita tidak saling mengenal!" pinta Beby.


Dengan sekali hentakan keras, tangan Sean sudah terlepas dari lengan Beby. "Aku pergi," pamitnya lalu membalikkan badan untuk pergi dari hadapan Sean.


"Leon!"


Satu kata yang keluar dari mulut Sean, seketika membuat langkah Beby berhenti, wanita itu membalikkan badannya kembali untuk menatap Sean.


"Kamu lupa tujuan kamu kemari ?" tanya Sean pada Beby yang diam mematung di depannya. "Benar Leon di rawat di ruangan ini. Leon, anakku sudah menjadi p3c4ndu n4rk0tika. Kamu datang kemari untuk menjenguknya, kan ? ayo kita bersama-sama masuk ke dalam..." ajak Sean yang membuat Beby membulatkan matanya kaget.


Ternyata benar jika Leon dirawat di ruang rehabilitasi, tak mau menunggu. Sean langsung menarik dengan lembut tangan Beby untuk memasuki rumah sakit itu.


Beby yang masih syok, hanya bisa pasrah saat Sean menuntunnya masuk ke rumah sakit.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2