
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Kenapa rasa penyesalan itu selalu datang diakhir cerita ? Kenapa rasa penyesalan itu selalu saja datang saat orang kita sesali tak lagi berada di hadapan kita? Tak lagi kita miliki ? Kenapa penyesalan tak bisa datang sebelum kita kehilangan seseorang.
Andai waktu bisa dibeli, ingin rasanya Sean memberikan seluruh uangnya untuk memutar waktu. Ia ingin hidup lebih lama dengan orang-orang yang ia sayangi. Termasuk mendiang istrinya dan juga Beby.
Setelah kemarin ia mendengar kabar Vania mengalami pendarahan hebat di bagian intimnya karena hukuman kecil yang ia berikan. Ia langsung kembali ke mansion dan tidur memeluk sang putra satu-satunya. Dan ia bangun pagi-pagi sekali dan segera keluar kamar agar ia tak ketahuan Leon jika semalam mereka tidur sembari berpelukan.
Dan pagi ini, ia sudah harus kembali menjadi CEO dan pemimpin perusahaannya. Ia harus profesional dan tidak boleh berlarut-larut dalam masalahnya. Karena ada banyak kepala keluarga yang bergantung kepadanya.
Setelah memakai setelan jasnya dan merapikan rambutnya, Sean segera keluar dari kamar untuk menemani Leon memakan sarapannya.
Ia tersenyum kecil, melihat anaknya makan dalam diam dari anak tangga, segera ia berjalan kecil untuk menemani anaknya itu.
"Daddy senang, kamu makan banyak gini. Kamu semakin kurus, Leon," ucap Leon berbasa-basi saat sudah sampai di meja makan.
Tangan Sean masih mengelus kepala Leon dengan sayang sebelum akhirnya ia duduk di kursi makannya.
Senyumnya masih tak luntur menghiasi wajahnya, matanya juga selaras memperhatikan sang anak yang masih memakan makanannya, menunggu Leon menjawab basa-basinya.
Namun hampir semenit menunggu Leon sama sekali tak menggubris ucapannya. Perlahan senyum Sean menghilang digantikan dengan senyum kecut.
Ia mulai membuka piringnya dan mengambil beberapa helai roti dan juga selai coklat favoritnya.
"Nanti pulang mau Daddy jemput gak ?" tawar Sean yang masih didiami sang anak. Tapi pria itu sama sekali tak gentar. Ia akan terus mengajak sang anak mengobrol, agar bisa mendekatkan dirinya lagi dengan Leon.
"Gak mau yah ?" jawab Sean sendiri dengan nada sedihnya. "Oh ya, hari ini kamu ujian terakhir, bener ?" mata Sean berbinar saat mengatakan itu.
__ADS_1
Krik...krik...krik....
Namun Leon sama sekali tak memperdulikan setiap ucapan Sean. Bocah itu terus-menerus memakan makanannya dalam diam.
Ia masih dalam mode ngambeknya karena Vania telah dibawa pergi dari mansion. Apapun masalah Vania dengan Sean sama sekali bukan menjadi urusan Leon. Karena yang terpenting adalah ia butuh Vania untuk terus memberikannya obat.
"Semangat ya nak, Daddy yakin kamu pasti bisa. Jawab saja dulu soal yang muda, lalu kamu nan––"
"Kembalikan aunty Vania kepadaku!" sela Leon pada ucapan sang ayah dengan cepat. Mata remaja pria itu berkilat marah kepada Sean. "Berikan aunty Vania kepadaku!" ulangnya dengan intonasi marah.
Tangan Sean terkepal dibawah meja, emosinya hampir meledak saat Leon terus saja membela Vania, padahal sudah jelas Sean memberitahunya jika wanita itu yang membunuh ibunya.
"Jangan ungkit wanita itu lagi, Leon!" titah Sean marah. "Dia itu pembunuh ibumu!" sambungnya menahan emosinya mati-matian.
BRAKK.....
Leon menggebrak meja makan dengan mata yang berapi-api menatap Sean. "AKU GAK PEDULI! AKU BUTUH AUNTY! AKU BUTUH AUNTY! KALAU SAMPAI AUNTY GAK ADA SAAT AKU PULANG SEKOLAH. AKU BAKAL BUNUH D1R1!" ancamnya sebelum menyambar tas sekolahnya dan pergi dari meja makan.
Sepeninggal Leon, sepersekian detik kemudian Jacob datang ke meja makan dengan dahi yang berkerut bingung.
Dengan dada yang naik turun Sean menjawab pertanyaan Jacob. "Otak anakku telah dicuci oleh wanita sialan itu! Perkataan penjagaan Leon mulai sekarang, tadi ia mengancam ingin bunuh d1ri!" perintah Sean yang diangguki oleh Leon.
"Apa yang kau perbuat dengan anakku, Vania...."
...o0o...
Bandara pada siang hari ini cukup ramai, tapi tak membuat pemuda berjas mahal bersama sang asisten yang sedaritadi berdesakan menuggu kedatangan dua orang yang ia nantikan itu menjadi kesal.
Senyuman tak luntur dari wajah Dominic, pria itu memegang papan bertuliskan nama Beby dan Lily. Tak lupa ia juga membawa sebuket bunga mawar merah dan sebuket bunga Lily berwarna putih untuk menyambut kedatangan kedua wanita yang berharga dalam hidupnya.
Berbeda dengan Dominic yang bersemangat, dibelakang asisten Dominic terus saja menguap karena terlalu lama menunggu. Bayangkan saja, mereka sudah menunggu satu jam kedatangan Beby dan Lily, namun sepasang ibu dan anak itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya.
"Tuan yakin jika mereka datang hari ini ? Ini sudah satu jam loh, tapi mereka belum datang!" ucap sang asisten dengan nada sedikit kesal.
Mendengar pertanyaan asistennya, senyum diwajah Dominic mendadak hilang, ia membalikkan kepalanya sebentar kearah asistennya dan melototi pria itu kesal.
__ADS_1
"Tentu saja hari ini, bodoh! Beby baru saja mengirimkan pesan jika pesawat mereka sebentar lagi akan landing!" jawabnya kesal lalu kembali menolehkan kepalanya kedepan dan tersenyum lagi.
Sang asisten hanya bisa menghela nafas panjang, ia terus memegang dua buket bunga berharga jutaan ini dengan sangat pegal.
Hingga terdengar suara teriakan nyaring di depannya yang membuat pria itu merasakan perasaan lega yang luar biasa.
"PAPIIIIII!" Lily berteriak dan berlari kecil kearah Dominic bersama dengan sang ibu yang menyeret koper mereka keluar dari pintu.
Senyum Dominic kian mengembang, ia memberikan papan nama Beby dan juga Lily kepada sang asisten dan segera berlari kecil untuk menggendong sang anak yang hampir setahun tak ia lihat secara langsung itu.
"Sayang...." Dominic mengangkat Lily tinggi-tinggi dan tak lupa memberikan kecupan pada seluruh wajah anak cantik itu. "Papi kangen banget sama anaknya Papi...."
Beby mengigit bibir bawahnya agar tak menangis melihat pemandangan dihadapannya ini. Anaknya akhirnya bisa memeluk figur seorang ayah. Sungguh ia sangat bersyukur memiliki Dominic di hidupnya.
"Mana hadiah Lily, Papi ?" tanya bocah itu dengan polos.
Dominic tergelar dibuatnya, ia memeluk dengan erat bocah kecil itu. "Bonekanya ada di mobil, ayo kita ke mobil!" ajak Dominic yang segera diangguki oleh Lily. Poni anak itu bergerak seirama hingga membuat siapun yang melihatnya pasti akan memekik karena Lily benar-benar sangat lucu.
"Beby, ayo!" ajak Dominic pada Beby yang diangguki oleh Beby.
Asisten Dominic dengan cepat mengambil alih koper Beby dan membawanya. Ia membiarkan Beby, Dominic dan juga Lily berjalan sembari tertawa kecil.
"Semoga anda bahagia, tuan..." doa sang asisten pada tuannya.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA