
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Melihat Leon sudah pulas dari tidurnya, Vania segera merebahkan tubuh remaja itu keatas ranjang dan tak lupa merapikan rambut Leon agar tetap rapi.
Vania juga menyelimuti tubuh Leon agar semakin nyenyak tertidur. Melihat wajah Leon yang nampak tenang Vania tersenyum sumringah.
"Enak kan obatnya sayang ? Aunty juga pakai itu kalo lagi sedih, habis pakai badan aunty langsung segar lagi. Dan sekarang aunty kasih ke kamu juga. Biar sama-sama kita ketagihan," ucapnya sembari terkikik geli.
Usapan di kepala Leon berhenti, Vania berdiri dari duduknya di tepi ranjang dan mulai membersihkan lantai Leon yang terdapat serbuk obat miliknya.
Ia juga mengambil plasti dari serbuk itu agar tidak diketahui oleh para maid yang membersihkan kamar.
"Ah sudah selesai, waktunya aku juga tidur..." gumamnya seraya melangkahkan kaki keluar kamar Leon. "Mimpi indah anak nakal...."
...o0o...
Sudah dua jam lebih Sean menunggu sang ahli laboratorium itu selesai membedah tentang bahan apa saja yang berada di dalam ramuan teh buatan Vania.
Tapi sepertinya mereka masih belum ada tanda-tanda jika hasil laboratorium segera keluar, Sean melirik Jacob yang masih fokus melihat bagaimana cekatannya pada dokter itu.
"Ini berapa lagi ? Aku sudah bosan!" gumam Sean.
Jacob mengalihkan pandangan kearah Sean, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Saya tidak tahu, tuan. Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja..." jawabnya dengan tenang meskipun sudah ia sudah merasakan aura tak mengenakan dari pria di sebelahnya itu.
Sean mendesah frustasi mendengarnya, ia melirik jam dipergelangan tangannya, "sudah hampir pagi..." gumamnya. Otaknya jadi kembali mengingat bagaimana tangisan meraung-raung Leon.
Sangat menyakitkan, tangisan itu benar-benar terdengar sangat menyakitkan. Apa sejak enam tahun lalu keadaan anaknya tidak baik ? Apa remaja laki-laki itu selalu seperti itu setiap malam ? batin Sean bergejolak sakit. Memang selama enam tahun ini Sean tapi pernah memberikan kasih sayang lagi pada Leon, jangankan kasih sayang bertemu dengan Leon saja Sean sangat jarang.
Pria itu selalu berangkat pagi dan pulang dini hari. Terkadang Sean juga tidak pulang ke mansion, ia lebih memilih pulang ke apartemen yang dekat dengan perusahaan.
"Ah! tidak mungkin dia tidak bahagia selama enam tahun terkahir ini. Bukannya aku sudah memberikan uang jajan dua kali lipat dari sebelumnya. Leon bisa membeli barang atau sesuatu yang ia butuhkan dengan mudah karena uangku, tidak mungkin dia tidak bahagia..." batinnya lagi sembari menganggukkan kepalanya yakin dengan spekulasinya.
"Mr. Alejandro," ucap seorang dokter yang sudah mencopot kacamatanya dan berjalan kearah Sean.
Mendengar itu lamunan Sean menjadi buyar, ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri sang dokter.
"Bagaimana ?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Beruntung ada beberapa zat yang masih bisa kita ambil. Proses penelitian berlangsung selama 5-7 hari. Saat prosesnya keluar saya akan segera menghubungi anda, tuan..." jawab sang dokter dengan senyum.
Alis Sean terangkat menatap dokter itu garang. "Lima sampai tujuh hari ? Itu terlalu lama, sialan! Aku mau saat ini juga!" tekanan.
Sang dokter menghela nafas lelah, ia mencoba tersenyum kearah Sean. "Maafkan saya tuan, tapi tidak bisa. Karena sudah pasti hasilnya tidak akan akurat. Ibarat seorang wanita yang sudah beristri sedang mengecek kehamilan, maka akan lebih efektif mengambil tes urine di pagi hari agar hasilnya akurat."
"Tunggu saja tuan, lima hari itu tidak panjang, kok." Jacob menepuk pelan bahu tuannya yang berada di depannya.
Mau tak mau Sean menganggukkan kepalanya. "Baiklah, gunakan waktumu sebaik-baiknya lima hari itu. Aku pergi dulu," pamitnya lalu segera meninggalkan ruangan laboratorium bersama dengan Jacob.
__ADS_1
Dokter-dokter itu segera mendesah lega, iblis telah pergi keluar membuat suasana di ruangan ini yang tadinya sangat tegang sudah kembali rileks.
"Dasar orang kaya! Dia bahkan bisa masuk ke ruangan laboratorium dengan uang! Dan sekarang meminta kita meneliti di jam 3 pagi!" gumam seorang dokter di sudut ruangan.
...o0o...
Beberapa hari kemudian...
Mereka kini tengah makan malam di meja makan, sedari tadi pandangan Sean sama sekali tidak lepas melihat kearah anak tunggalnya itu.
Memang setelah dari laboratorium beberapa hari yang lalu itu, ia tidak pulang ke mansionnya, melainkan tidur di apartemennya. Dan hari ini ia baru pulang kembali ke mansion karena mengkhawatirkan keadaan Leon.
Padahal hanya beberapa hari ia tidak melihat Leon, tapi dapat Sean rasakan perubahan dengan jelas yang dialami Leon.
Lingkaran mata Leon terlihat lebih menghitam dari sebelumnya, belum lagi keadaan remaja itu terlihat sangat acak-acakan.
"Kamu sudah berapa lama tidak tidur, Leon ?" tanya Sean sembari mendesis kesal.
Vania yang mendengar pertanyaan Sean, segera mengunyah makanannya cepat untuk menjawab pertanyaan Sean. Ia tidak akan membiarkan Leon membuka mulutnya.
Atau bisa-bisa semua rencananya akan terbongkar....
"Ah itu, Leon memang akhir-akhir ini kurang tidur. Ia ada ujian terus juga ikut les, jadi kurang istirahat. Makanya dia terlihat sangat lemas begitu," jawab Vania dengan cepat.
Mata Sean yang sedari tadi melihat anaknya, langsung beralih menatap Vania dengan tajam. "Kau kan di sini untuk merawat Leon, kenapa tidak lakukan tugasmu dengan baik, huh ?! Jadwalkan kegiatannya, untuk belajar berapa jam, lalu les berapa jam, hitung semua. Pastikan anakku tidur tepat waktu!" kesalnya.
"Jadilah seperti Beby, wanita itu memeperlakukan anakku seperti anaknya sendiri!" sambung Sean cepat.
Tangan Vania yang berada di bawah meja terkepal kuat. Ia sangat tidak suka dibanding-bandingkan dengan wanita seperti Beby yang bermuka dua, menurutnya. "Kenapa jadi bandingin aku sama dia sih! Kamu lupa dia yang bunuh kak Clara!" jawabnya dengan nada kesal juga.
Perhatian Sean kembali pada Leon, bocah itu makan dengan tangan yang sedikit Tremor (bergetar dengan cepat). "Kamu kenapa sih, Leon! Kamu sakit ? Mau ke rumah sakit aja ?" tawar Sean yang dipelototi oleh Vania.
"TIDAK!" jawabnya sembari berteriak yang membuat Sean terkejut dan menatap wanita itu dengan mata yang membulat. "Ma–maksudku, besok Leon ujian terkahir. Jadi sayang jika dilewatkan. Nanti sebelum tidur aku akan memberikan Leon obat dan vitamin agar besok dia kembali sehat," sambung Vania cepat.
Ia merapalkan doa agar Leon tak dibawa ke dokter oleh Sean. Jika sampai itu terjadi, habislah riwayat Vania.
Sementara Leon yang mendengar kata obat langsung menatap Vania dengan berbinar. "Obat, aunty ? Leon mau dikasih obat lagi kayak kemarin ?" tanya bocah itu penuh harap. "Leon mau! Berikan obat itu pada Leon sekarang! Ayo aunty cepatlah!" pinta Leon.
Alis Sean terangkat menatap Clara dengan penuh penasaran. "Obat apa ? Kamu kasih Leon apa ?"
Keringat dingin mulai bermunculan di dahi Vania, "hm, anu. Beberapa hari lalu aku gak sengaja lihat Sean menangis di kamar waktu malam hari, jadi aku kasih di obat vitamin C rasa strawberry yang didalamnya ada kandungan Meclizine. Itu bisa membuat orang mengantuk, dan ya setelah Leon memakan vitaminnya dia langsung tertidur..."
Sean menatap Vania tak percaya, kenapa bisa vitamin terdapat kandungan yang membuat mengantuk. "Sebentar, Vania bagaimana bis––"
Kring....kring....
Telfon di saku celana training abu-abu Seb berdering, segera ia mengambil ponselnya dan menerima panggilan telfon dari Jacob itu.
"Tuan, baru saja pihak rumah sakit menghubungi saya. Hasilnya sudah keluar," ucap Jacob disebrang telfon, ia memberitahukan kepada Sean jika hasil laboratorium dari kandungan ramuan yang diberikan oleh Vania kepada istrinya sudah keluar.
Tut...
Panggilan telfon di tutup tanpa Sean mengucapkan salam. Ia memasukkan kembali ponsel di dalam saku celananya.
"Lanjutkan makan kalian, aku harus pergi sebentar," ucap Sean sebelum berdiri dari duduknya. "Makan yang banyak dan tidurlah lebih cepat hari ini!" Sean mengelus puncak kepala anaknya sayang, lalu segera pergi menuju rumah sakit hanya dengan menggunakan outfit yang simpel.
__ADS_1
Sementara dimeja makan itu hanya tersisa Vania dan Leon saja. Setelah kepergian ayahnya, bocah itu kembali merengek meminta obat kepada Vania.
Leon berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Vania. Ia memegang lengan kanan tantenya itu.
"Ayo aunty! Berikan pada Leon obatnya. Pliss....pliss aunty.... Leon janji gak bakal minta obat lagi habis ini .." rayunya yang membuat Vania tertawa geli.
"Gak bakal minta lagi ?" ejeknya. "Kamu dari kemarin bilang gitu, eh ujung-ujungnya kamu pasti minta obat aunty lagi..." sambungnya.
"Tolonglah aunty, Leon butuh aunty. Tubuh Leon bergetar kalo gak hirup obat itu. Leon jadi gak bisa tidur....hiks...hiks.... tolong... sedikit saja aunty ...." Leon menjambak rambutnya frustasi.
Vania tersenyum menyeringai, "cium kedua kaki aunty dulu!" pinta Vania yang langsung dituruti oleh bocah itu. Leon segera bersujud dihadapan Vania dan mengecup kaki wanita itu lama.
"Jangan lupa ya Leon, kalau cuma aunty yang bisa jadi mama mu!"
Kepala Leon menganggukkan kepalanya cepat. "Pasti aunty, hanya aunty mama Leon. Jadi mana obatnya ?" ucapan dengan mata sayu dan badan yang bergetar hebat.
...o0o...
"Silahkan tuan, ini hasil laboratoriumnya," seorang dokter memberikan sepucuk surat yang sudah diberi amplop berwarna putih dengan logo rumah sakit kepada Sean.
Saat ini Sean dan Jacob tengah berada di ruangan dokter tersebut. Setelah tadi ada drama sedikit di rumah, Sean segera melajukan mobilnya sendiri menuju rumah sakit dimana Jacob sudah menunggunya sejak tadi.
Ia mengesampingkan dulu masalah Leon yang bersikap aneh akhir-akhir ini. Yang terpenting saat ini adalah mengusut kasus kematian Clara.
"Silahkan dibuka tuan, saya sudah sangat penasaran dengan ramuan aneh milik Vania itu," desak Jacob saat melihat Sean tak kunjung membuka amplopnya.
Sean melirik Jacob sekilas lalu menganggukkan kepalanya. "Semoga bukan Vania..." batinnya sebelum menyobek sudut amplop.
Srekkk....
Amplop sudah terbuka, perlahan Sean mengeluarkan isi surat di dalamnya dan segera membacanya dengan perlahan.
Berdasarkan penelitian mengenai kandungan senyawa yang terdapat di serbuk obat yang dibawa oleh yang bersangkutan pada tanggal 12 Maret 2022.
Serbuk obat itu dinyatakan 37% persen mengandung bubuk racun Sianida.
Maka dengan ini Laboratorium Kasih Bunda menyatakan jika kandungan yang terdapat dalam obat itu berbahaya dan tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia dan juga hewan.
Itu adalah isi dari surat laboratorium yang dibaca oleh Sean. Selesai membaca, Sean langsung menggenggam erat hasil lab itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya sudah terkepal dengan kuat.
"Racun Sianida ?" gumamnya mendesis marah. Urat-urat leher Sean tercetak dengan jelas, rahangnya mengeras menandakan bagaimananya marahnya Sean saat ini. Pria itu merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri. "MATI LAH KAU VANIAAAA!!!!"
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1