MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 64 - KEPIKIRAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Dad, tolong, Dad...." ucap Leon dengan lirih dan tubuh yang bergetar hebat. Kedua lengan remaja lelaki itu ditahan oleh dua orang bodyguard Leon yang memegang disebelah sisi.


Sean menatap intens anaknya yang nampak begitu menyedihkan, ia berusaha mati-matian agar air matanya yang keluar di sini. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan sang anak.


BRAKK....


Tubuh Leon terjatuh di aspal, pria kecil itu meringkuk di sana dengan kedua tangan yang masih dipegang oleh bodyguard.


Melihat itu segera Sean menghampiri sang anak, dan meminta anak buahnya melepas cekalan mereka pada Leon.


"Apa, nak ? Leon mau ?" tanya Sean dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia berjongkok lalu memeluk putranya dengan sangat erat.


"Tubuh Leon sakit semua, Dad. Kepala Leon sakit, tolong. Biarkan Leon pergi untuk tebus obat yang seperti di berikan oleh aunty Vania," suara serak Leon membuat Sean semakin tak kuasa, ia kini menangis dipelukan putra satu-satunya itu.


"Tolong Leon dad, lepaskan Leon dulu. Jangan suruh om-om itu megang Leon..." mohon Leon lagi dengan mata sayunya.


Perlahan Sean berdiri dari jongkoknya dengan masih memeluk sang putra. Jadi mereka berdua kini sudah berdiri.


Melihat itu dengan sigap Jacob segera memegang tuan mudanya yang nampak sudah begitu sak4u dan linglung.


"Ayo Daddy kasih obat, obat yang lebih nikmat dari yang diberikan Vania." Mata Leon yang satu langsung menyambut antusias ucapan Sean. "Ayo masuk mobil, sayang," sambung Sean sembari menuntun sang anak bersama Jacob untuk memasuki mobilnya.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, dengan Jacob yang duduk di kursi samping supir. Sementara Sean dan Leon berada dikursi tengah.


"Kemana kita, tuan ?" tanya Jacob.


Mata Sean melirik sang anak yang begitu pucat, wajah yang dipenuhi keringat dingin dan bibir yang bergetar pucat.


"Rumah sakit rehabilitasi nark0b4!"


...o0o...


Beby kini tengah memasak makan siang untuk dirinya dan juga Lily. Tadi memang mereka sudah mampir ke cafe untuk mengisi perut. Tapi baru menyuapkan beberapa makanan ke dalam mulut ada kejadian yang terduga yang membuat mereka bertiga menghentikan acara makan mereka.


Tangan Beby yang bergerak memotong wortel seketika berhenti, ia terus saja mengingat wajah anak mantan majikannya itu yang terlihat berbeda. Dari segi fisik maupun auranya.


Dulu, Leon adalah seorang bocah polos yamg sangat imut dan riang. Tapi sekarang bocah itu sudah terlihat sangat tinggi dengan rahang yang tegas. Memang tampan, mirip sekali dengan sang ayah. Tapi aura Leon ini sangat mengerikan.


Mata yang satu, bibir pucat, badan kurus kerempeng, tubuh yang bergetar. Beby sampai dibuat merinding karenanya.


"Sayang sekali dengan remaja itu, dia sangat tampan padahal. Tapi tidak terurus sama sekali. Apa Sean sudah menikah dengan Vania dan mereka sudah punya anak jadi mereka tidak memperdulikan kehadiran Leon lagi ?" gumamnya menerka-nerka.


"Kayaknya iya deh, Sean sudah bahagia dengan keluarga barunya dan tak menganggap Leon lagi..."


"Apa otak Sean masih menganggap Leon sebagai anak sial yang menyebabkan istri kesayangan itu koma ?" gumamnya lagi, Beby benar-benar kasihan dengan kehidupan Leon.


"Andai saja tadi aku tidak datang bersama Dominic sudah pasti aku akan mengajak Leon untuk pergi bersamaku!" ucapnya dengan mantap dan mulai memasak.


Dimasukkannya sayur-sayuran itu kedalam air mendidih. "Kalau kita bertemu lagi, aku akan membawamu bersamaku, nak...."


...o0o ...


Lebih dari tiga puluh menit kemudian, mobil Sean berbelok menuju area rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, dengan cepat Sean menggendong anaknya dan membawanya menuju rumah sakit.

__ADS_1


Tapi dijalan Jacob sudah menelfon pihak rumah sakit untuk segera menyediakan tempat untuk Leon. Jadi mereka tidak perlu menunggu lama lagi di rumah sakit untuk ditangani.


"Lewat sini tuan, kita harus segera check darah dulu!" ucap seseorang pria dengan setelan jas dokter dan segera diangguki oleh Sean.


Mereka berempat dengan Jacob memasuki ruangan yang terdapat banyak sekali alat medis. Sean meletakkan anaknya di atas brankar rumah sakit.


"Dad mana obatnya Dad ?" ucap Leon dengan bergetar. Remaja kecil berusia 12 tahun itu terlihat sangat menyeramkan.


Sean tersenyum tipis dan mengelus kepala putranya dengan sayang. "Sebentar ya sayang, itu masih di racik sama dokternya," jawabnya seraya menunjuk dokter yang menyiapkan alat suntik.


Melihat itu Leon tersenyum senang, "katakan pa–pada dokter itu, Dad. Le–Leon sangat butuh. Tolong ce–pat...."


Jacob yang melihat keadaan tuan mudanya rapuh begitu hanya bisa menunduk agar air mata yang sedari tadi mengalir tak terlihat ke remaja itu.


Sementara Sean mengigit bibir bawahnya dengan keras berusaha tak menangis lagi. Tak ada kata yang keluar untuk menjawab pertanyaan putranya. Ia hanya mengangguk dengan tangan yang masih terus mengelus kepala putranya.


"Tuan Sean, ini saya ambil darahnya yah untuk mengecek apa benar Leon ini positif N4rk0tika atau tidak. Lalu setelah itu saya akan memberikan obat penenang untuk mengurangi rasa sakit yang menggerogoti tubuh Leon," beritahu sang dokter yang sudah berjalan kearah Leon dengan suntikan yang berada di tangannya.


Lagi-lagi Sean hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Matanya beralih menatap dinding saat sang dokter mulai memasukkan suntikan pada tubuh putranya.


"Maafkan Daddy, nak...."


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2