
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
6 tahun kemudian....
Seorang pria dengan setelan jas mahal kini sedang duduk di kursi kebesarannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Sebentar ia melirik kearah meja kerjanya sebentar, lebih tepatnya ia melihat jam yang berada di sudut meja itu. "Jam 11 malam," gumamnya dengan senyum miring.
Tangannya yang menari-nari diatas keyboard komputernya berhenti sejenak, lalu kembali mengetikkan sesuatu di sana.
Tok...tok...tok....
"Masuk!" titahnya.
Dan benar saja, seorang pria dengan jas putih dan celana kain berwarna cokelat memasuki ruangannya dengan membawa tas kerjanya.
Ia mendudukkan kepala, untuk menghormati bosnya yang masih sibuk dihadapannya dengan komputer milik pria itu.
"Tuan, ini sudah larut malam. Sebaiknya kita pulang, dan melanjutkan kembali pekerjaan kita besok," ucapnya dengan nada sopan.
Sementara pria yang dipanggil bos itu semakin melebarkan senyum miringnya, "pulang? untuk apa memang ?" batinnya tertawa menyedihkan.
"Kau pulang saja dulu, aku akan pulang terlambat!" titah pria itu dan sang sekretaris hanya bisa meringis takut dengan kondisi keadaan tuannya.
Bukan hanya hari ini saja, Sean selalu lembur. Tapi hampir setiap hari selama 5 tahun pria itu terus saja lembur, seolah-olah ia tak memiliki rumah.
Jacob menggaruk tengkuknya tak gatal, ingin rasanya ia menasehati Sean mengenai bahanya lembur, tapi pria itu terlihat lebih dingin sejak kematian istrinya 6 tahun yang lalu. Bahkan pria itu sudah tidak lagi berhubungan 1ntim dengan wanita manapun, entah apa alasannya.
"Kenapa masih berdiri di sana! Pulang!" titah Sean tak terbantahkan untuk mengusir kehadiran Jacob.
Dengan berat hati sekretaris itu menganggukkan kepalanya dan berjalan untuk keluar dari ruangan Sean.
Namun baru saja akan memutar knop pintu, suara Sean membuatnya mematung ditempat. "Pertanyaan itu lagi..." batin Jacob takut-takut.
Ia kembali membalikkan badan dan menatap Sean sekilas sebelum akhirnya ia memilih untuk menundukkan kepalanya, tak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana kabarnya? Sudah berhasil melacak keberadaan wanita itu ?" tanya Sean dengan mata yang melirik lurus kearah Jacob.
Dengan menghela nafas kasar, Jacob menggelengkan kepalanya pelan. "Ma–maafkan saya tuan, sampai saat ini kita masih belum bisa mengetahui keberadaan Beby!" jawabnya perlahan.
Sean menggeram tak tertahan, ia berdiri dari duduknya dan membanting jam yang berada di atas meja kerjanya dengan keras ke lantai.
BRAKK.....
__ADS_1
"KENAPA KAU SANGAT TOLOL SEKALI, HUH ?!" tanya Sean dengan kesal, dan Jacob hanya menundukkan kepalanya takut. "Aku menyuruhmu mencari seorang wanita lemah yang tidak mempunyai kekuasan! Bukan seorang mafia atau pengusaha yang mempunyai banyak akses untuk bersembunyi!" gerutunya kesal.
Ia berjalan mendekati Jacob dan berhenti tepat didepannya. "Ini sudah enam tahun, Jacob! Dan aku sama sekali tidak bisa membalaskan dendam istriku! Ini gara-gara kemampuan mu yang sangat payah, mencari satu wanita saja tidak mampu!"
"Maafkan saya tuan, sudah berbagai negara termasuk Indonesia sudah saya datangi, tapi tak ada Beby di sana. Enam tahun lalu saya juga sudah mendatangi bandara, namun tidak ada daftar penerbangan dengan nada Beby di sana."
Tangan Sean terkepal, alasan Jacob selalu sama semenjak enam tahun lalu. Beby yang tidak ada dimana-mana, ya mangkanya kan Sena menyuruhmu mencari Beby karena Beby yang tidak ada dimana-mana.
Bugh....
Sean memberikan tinjunya pada pelipis Jacob dengan sangat keras. "INI SUDAH ENAM TAHUN BRENGSEK! BEBY SEDANG HAMIL WAKTU ITU! DAN ITU ARTINYA DIA MEMBAWA KABUR ANAKKU!" teriak Sean tepat diwajah Jacob.
Pria itu membalikkan badan, dan meremas rambutnya dengan kedua tangan. "Bagaimana cari Beby, dendamku atas kematian Clara belum terbalas dan lagi aku harus mengambil anakku darinya."
Jacob menganggukkan kepalanya di balik punggung Sean. "Ba–baik tuan, ta–tapi bukannya kita sudah mencari hampir setiap hari dan hasilnya nihil. Ini sudah enam tahun, bagaimana jika tuan melupakan ini semua dan hidup bahagia dengan Leon dan mencari istri baru," saran Jacob dengan senyum kecil.
Ditempatnya Sean tersenyum miring, "aku tidak akan pernah hidup bahagia sebelum Clara, istriku yang paling tersayang mendapatkan keadilan di dunia ini."
"Keluarlah, pulang dan mulai besok tambah anak buah untuk mencari Beby!" tukas Sean sebelum pria itu kembali berjalan untuk duduk di singgasananya.
...o0o...
"Sudah Videocall sama cucumu, ma ?" tanya Robert–ayah Beby yang baru saja memasuki kamarnya selepas pulang bekerja.
Seorang wanita patuh baya yang duduk ditepi ranjang berjengit kaget mendengar suara suaminya yang berada di belakangnya.
Ia membalikkan badan dan tersenyum kearah sang suami yang kini berjalan kearahnya, ditaruhnya ponsel itu diatas nakas dan ia berjalan untuk menghampiri sang suami.
Grep....
Bukan maksud lebay atau apa, tapi menang selama enam tahun ini Robert benar-benar sangat sibuk bekerja.
Semenjak Sean mencoba menghancurkan perusahaan untuk membalaskan dendamnya pada Beby yang dianggap telah membunuh Clara, dengan tulus Dominic mengulurkan tangannya kepada Robert.
Pria itu mengembalikkan kejayaan perusahaan Robert lagi, dan kini mereka berdua tengah bekerjasama sejak lima tahun lalu. Dan sejak saat itu pula, nama perusahaan Robert semakin meroket dan ia semakin sibuk bekerja, karena setiap beberapa bulan sekali, ada cabang baru perusahaan yang akan rilis.
Ini semua berkat bantuan Dominic.
"Iya, dia semakin gemuk, tadi layar ponselku cuma diisi sama pipi cucumu yang manja itu!" jawab Risna–ibu Beby seraya tersenyum geli saat mengingat betapa cantik dan menggemaskan sang cucu.
Robert tertawa kecil dan mengecup singkat kepala sang istri sebelum melepaskan pelukannya untuk berganti pakaian.
"Aku tadi siang juga sudah menelfonnya, Beby sedang sibuk bekerja. Dia hanya berdua diasuh oleh baby sitternya."
Risna menganggukkan kepalanya, "iya, tadi aku Videocall Beby baru pulang kerja." Ia membantu sang suami melepaskan kancing bajunya. "Aku merindukan cucu kita, aku ingin bertemu," sambungnya dengan bibir yang tertarik ke bawah.
Robert tertawa kecil, ia juga sangat merindukan cucunya. "Dominic tadi berkata, bahwa Beby dan cucu kita akan berlibur ke sini, tapi menunggu cucu kita libur sekolah dulu." beritahunya yang membuat Risna menatapnya dengan mata berbinar.
"Astaga, kenapa dia tidak memberitahuku jika akan pulang? Aku harus menyiapkan kamar untuk cucu kita. Dia suka warna pink, seperti aku harus merombak kamar disebelah menjadi warna pink...." ucap Risna dengan sangat bersemangat.
Hari Robert menghangat, kejadian enam tahun lalu tentu masih berbekas di ingatannya, dimana Beby hampir mati di tangan Sean saat berada di ruang kerjanya.
__ADS_1
Setelah melepas pakaian kerjanya, Robert segera berjalan memasuki kamar mandi. Ia berhenti di depan wastafel, dilihatnya lagi bekas tembakan pistol Sean enam tahun lalu yang mengenai lengannya.
Ia menghela nafas panjang, "enam tahun kamu bersembunyi, dia masih belum bisa menemukanmu, nak. Tapi sepintar-pintarnya tupai melompat, akan ada saatnya ia terjatuh disebuah lubang..."
...o0o ...
Jam 2 dini hari, Sean baru sampai di mansionnya. Ia segera menaiki tangga dengan sangat lesu.
Ia benci rumahnya ini, rumah ini adalah sumber penderitaannya. Karena rumah ini adalah saksi dimana Clara menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya didunia ini.
"Kak Sean! Baru pulang ya ?" tanya seorang wanita di lantai bawah.
Mendengar teguran itu, kaki Sean yang akan menaiki anak tangga terakhir langsung berhenti, ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya untuk melihat wanita yang memanggilnya tadi.
Melihat Sean berhenti, Vania langsung berlari kecil untuk menghampiri mantan kakak iparnya itu. "Kak baru pulang ?" tanya wanita itu basa-basi.
Sean tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya singkat, dilihatnya pakaian tidur Vania hari ini. Sebuah l1ng3rie berwarna hitam milik Beby.
Jakun Sean bergerak naik turun, bayangan tubuh Beby yang molek sedang bergerak naik turun diatas tubuhnya melintas sejenak.
"Tadi aku habis antar Leon pendaftaran masuk SMP, kakak gak perlu khawatir Leon, aku sudah anggap dia seperti anakku sendiri," ucap Vania lagi sembari melilit lengan Sean dengan kedua tangannya.
Sebelah tangan Sean terangkat untuk mengelus kepala Vania pelan. "Terima kasih, Van. Gak ada seorang pun yang aku percaya untuk merawat satu-satunya titipan Clara selain kamu. Terima kasih sudah merawat Leon dengan baik selama enam tahun ini."
Pipi Vania bersemu mendengar ucapan Sean, ia semakin merapatkan dirinya kepada Sean. Dengan sengaja ia menggesekkan d4danya pada lengan Sean. "Ah, hm... tidak perlu berterima kasih. Leon adalah anak kak Clara, itu artinya dia adalah anakku juga. Aku siap kak menjadi ibu sambung Leon. Kasihan dia, sudah memasuki usia remaja tapi ayahnya selalu sibuk bekerja. Ia butuh figur seorang ibu, kak!"
Otak Sean seakan berfikir keras, ia diam beberapa saat untuk mencerna ucapan Vania. Ia memang mengakui jika ia kurang memperhatikan Leon sejak enam tahun lalu, atau lebih tepatnya saat Clara meninggalkan dunia ini. Dan itu benar-benar membuat kepribadian Leon berubah drastis.
Anak itu kini jauh lebih pendiam dan menjauhkan dirinya dari seseorang. Anak itu mengucilkan dirinya sendiri.
"Anak remaja jaman sekarang itu mengerikan loh kak, salah pilih teman pergaulan saja sudah bisa merusak masa depannya. Leon butuh seorang ibu untuk menjadi teman curhat dan mengarahkannya ke yang lebih baik. Dan aku siap untuk menjadi ibu Leon. Aku bisa merawatnya, kak..."
Sean melirik Vania sekilas, "haruskah ia memberikan ibu baru kepada Leon ? Haruskah ia menikahi Vania demi Leon ?"
Diam-diam Vania tersenyum miring, Sean nampak berfikir keras sekarang. Sudah pasti otak Sean memikirkan tawarannya, pria itu tidak bisa menolak sesuatu yang berhubungan dengan anaknya. "Kena kau, Sean. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku..." batinnya.
...o0o ...
HARI INI SATU BAB AJA YAA....
RATU LAGI BANYAK DEADLINE 😭☹️
SEMOGA MULAI BESOK UDAH BISA DOUBLE UP LAGI...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA