
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Tok...tok...tok...
"Masuk!"
Seorang pria berjas mahal masuk dengan ponsel yang berada di tangan kanannya. Keringat dingin mulai membasahi wajah tampan karena takut dengan respon tuannya setelah mendengar kabar yang ia bawa.
Kini kaki jenjangnya sudah berhenti tepat di depan meja kerja tuannya, Dominic. Sekretaris itu segera menunduk hormat didepan tuannya.
"Saya sudah mendapatkan informasi serta kegiatan apa yang nona Beby lakukan di rumah sakit itu!" ucapnya dengan cepat, ia mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi wajah tuannya.
Wajah Dominic yang sedari tadi keruh, menjadi mendadak bercahaya setelah mendengar ucapan sekretarisnya. Pria itu menatap berbinar pria yang kini juga melihatnya.
"Apa ? Apa yang dia lakukan disana ?"
Sang sekretaris menghela nafas panjang, lalu menyerahkan hasil foto anak buahnya kepada Dominic.
"Silahkan dilihat sendiri tuan..."
Alis Dominic terangkat heran, tak biasanya sekretarisnya ini berbasa-basi begini. Tidak bilang saja apa susahnya ?
Tak mau menunggu lama, segera Dominic mengambil alih ponsel sekretarisnya dengan wajah yang masih tersenyum senang.
Hingga ia melihat beberapa foto dimana Sean menggenggam tangan Beby memasuki ruang inap seseorang. Senyum diwajahnya seketika luntur.
"Sean ? Beby menemui Sean ?" tanyanya dengan suara bergetar, mata Dominic tak bergerak barang seinci pun dari ponsel milik sang sekretaris.
Dengan pasrah sang sekretaris menganggukkan kepalanya, "ya tuan, ternyata di ruang rehabilitasi itu ada anak Sean yang dirawat. Anaknya yang bernama Leon, ternyata positif N4rk0tika jenis H3r0in...."
PYARR.....
Dominic membanting ponsel sang sekretaris dengan kuat, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.
Ia segera berdiri dari duduknya dan melepaskan dasi yang melilit lehernya yang terasa sangatlah mencekik saat ini.
"SEAN BRENGSEK!"
"Jaga Beby! Laporkan apa saja yang ia lakukan di sana. Jangan buang mata dari tingkah Beby!" titah Dominic yang kini merasa dikhianati oleh Beby.
...o0o...
Perlahan Sean menuntun Beby dengan memegang lembut pergelangan tangan kanan wanita itu untuk keluar dari lift dan berjalan memasuki ruang inap Leon.
Dari genggaman tangan itu, Sean bisa merasakan jika Beby masih sangat syok. Itu terbukti dengan tubuh Beby yang masih sangat kaku saat ia pegang.
Ceklek...
Tangan Sean yang tidak menggenggam tangan Beby digunakan untuk membuka pintu ruang inap Leon.
Mereka masuk ke dalam, disambut dengan seorang suster yang baru saja menyuntikkan cairan penenang dalam infus Leon sehingga remaja itu kini tertidur dengan pulas.
"Kenapa lagi dia sus ?" tanya Sean yang dengan hati-hati melepaskan pegangan tangannya dengan Beby dan berjalan menuju ranjang anaknya yang diikuti oleh Beby dari belakang.
Sang suster yang habis tersenyum sebentar, tangannya sibuk merapikan kembali suntikan dan beberapa obat yang dia bawa.
"Tuan muda kembali s4kau, tuan. Dia mengamuk dan membanting apapun yang dia lihat. Dia terus meneriaki nama Vania dan mengatakan ingin obat dari wanita itu," jelas sang suster yang membuat Beby serta Sean sedih mendengarnya.
Tangan Beby terulur untuk mengelus dengan lembut puncak kepala Leon dengan sayang. Didaratkannya kecupan di dahi remaja yang sudah ia anggap sebagai anak kandung itu.
__ADS_1
"Terus gimana ? Dia masih s4kau atau bagaimana ?" tanya Sean yang begitu terdengar frustasi.
Suster itu menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan Sean. "Tenang saja tuan, tidak perlu panik. P3c4ndu yang dibawah umur memang biasanya lebih arogan. Mereka berteriak dan mengacau. Tapi untungnya adalah mereka juga cepat kembali tenang. Asal tuan muda Leon bisa mengikuti terapi dengan benar maka bisa secepatnya sembuh."
"Dia memang sering begini, sus ? Dia sudah terapi kan ?" tanya Beby yang juga sangat penasaran.
"Ya non, tuan muda sudah terapi. Tapi kan tuan muda baru datang kemari pada sehari yang lalu dan tuan muda juga baru melakukan sekali terapi. Jadi tolong dimaklumi jika masih merasakan s4kau. Semua ada prosesnya," jelas sang suster. "Kalau begitu saya permisi dulu, tuan. Jika ada apa-apa silahkan pencet tombol merah di samping ranjang pasien," pamitnya yang segera di angguki oleh Sean.
Setelah sang suster pergi, Sean segera memutari ranjang untuk bisa mencium wajah sang anak.
Tangannya tak lupa mengelap keringat yang membasahi wajah tampan Leon. Jika dilihat-lihat memang benar kata orang jika Leon memang jiplak dirinya.... batin Sean yang tersenyum setelahnya.
"Bagaimana bisa seperti ini, Sean ? Siapa yang memperkenalkan obat-obatan itu kepada anak sepolos Leon ?" tanya Beby yang sudah menangis.
Sungguh ia tak menyangka jika Leon, anak lugu yang ia rawat dari kurus hingga berisi. Dari yang tidak terawat kini menjadi sangat tampan, seenaknya saja dirusak dengan obat haram seperti n4rk0tika!
Senyum Sean menghilang setelah mendengarkan pertanyaan Beby, pria itu menajamkan matanya menatap wajah Beby.
"Vania! Dia adalah sumber kehancuran keluargaku!"
"Dia membunuh istriku! Dia menjauhkan mu dariku! Dan sekarang anakku, Leon... Dia––Dia sudah menghancurkan masa depan Leon!" sambung Sean dengan suara parau.
Grepp....
Beby iba, ia berjalan memutari ranjang Leon dan memeluk pria itu dengan erat. "Kau pria yang kuat Sean, kau pasti bisa melewati cobaan yang diberikan padamu!"
"Kau dengar sendiri kan apa kata dokter, Leon akan sembuh. Hanya tinggal sebentar lagi, yang penting Leon menjalankan terapi dengan benar!" ucap Beby yang mencoba memberikan semangat kepada mantan majikannya itu.
Sean menggeleng dalam pelukan Beby, ia membalas sangat erat pelukan yang diberikan oleh Beby.
Pelukan ini yang Sean butuhkan selama ini, pelukan yang begitu hangat yang membuat raga dan jiwanya menjadi tenang.
Dan hanya Beby yang bisa memberikan kenyamanan seperti ini kepadanya.
"Kembalilah kepadaku, Beby.... Kembali ke rumah, kita mulai lagi hubungan kita dari awal. Jadilah ibu untuk Leon..." pinta Sean dengan memelas.
Mata mereka saling bertatapan, dan Beby bisa melihat pandangan terluka dari mata Sean.
"Leon butuh figur seorang Ibu dan hanya kamu yang bisa memberikannya. Aku sudah tidak ingin mencari wanita lain untuk dijadikan ibu Leon dan istri untukku. Aku trauma Beby, aku takut...." ucap Sean dengan mata yang berkaca-kaca.
"Seandainya dari awal kamu tidak meninggalkan ku saat aku menuduhmu pembunuh Clara, ini tidak akan mungkin terjadi. Vania tidak mungkin berkuasa di manson ku, dan Leon tidak sampai terjerumus dalam obat-obatan sialan itu!" sambung Sean yang menyudutkan Beby.
Mata Beby membelalak kaget mendengar penuturan Sean, dia disalahkan sekarang ?
Tangan Beby menepis kasar tangan Sean yang melingkar pada pinggangnya. Ia mundur beberapa langkah ke belakang untuk menjauhi Sean.
"Salahku ? Apa salahku ?" tanyanya bingung.
"Kamu kabur! Seandainya kamu gak kabur dan mengatakan sama aku kalo bukan kamu yang bunuh Clara pasti Leon tidak akan begini sekarang," jawab Sean dengan cepat dan suara yang parau.
Mulut Beby terbuka lebar mendengar penuturan Sean. "Kalau aku gak kabur, mungkin aku dibunuh sama kamu saat itu! Dan jangan salahkan aku tentang masalah Leon! Itu salahmu sendiri yang gagal mendidik anak!"
Kepala Sean menggeleng tak terima dengan penuturan Beby, ia berjalan mendekat lalu menarik tangan Beby hingga membentur dada bidangnya dengan keras, lalu ia memeluk tubuh wanita itu agar tak bergerak dalam kukungan tubuhnya.
"Secara tidak langsung ini salahmu Beby, andai saja kau tetap bertahan di sisiku, Leon pasti tidak akan begini! Sekarang aku ingin kamu berganti rugi dengan semua masalah yang kamu timbulkan!"
"Lepas Sean! Lepas!!!" Beby berontak dalam pelukan Sean, wanita itu sudah menangis histeris karena kukungan Sean yang begitu kuat.
Sean tak memperdulikan isakan Beby, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita itu. "Kita harus menikah! Kamu harus jadi istri ku dan ibu untuk Leon. Itu adalah konsekuensi yang harus kamu tanggung karena meninggalkan ku!" bisiknya.
Takk....
"Aargghh!!!!" teriak Sean yang segera memegang kej4nt4nannya saat Beby menendang keras benda sakti itu dengan lututnya.
"KAU GILA?! AKU TIDAK SALAH! KENAPA AKU YANG DISURUH TANGGUNG JAWAB ?" kesalnya lalu segera mengambil tasnya dan berlari keluar dari ruangan Leon.
"BEBY KEMARI!!!" teriak Sean dengan kesal. Pria itu meringis kesakitan, dan berjalan dengan tertatih-tatih untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Senyum diwajahnya tak luntur meski saat ini ia tengah merasakan kesakitan yang teramat sangat pada inti tubuhnya.
"Pergilah sejauh mungkin Beby, aku sudah mendapatkan alamat apartemen mu. Kita akan segera bertemu lagi, dan aku pastikan kamu akan segera menjadi mama Leon!" gumam Sean.
Sementara Beby di luar ruangan terus saja berlari, ia sama sekali tak memperdulikan teriakan Sean yang kesakitan dan meneriakki namanya. Ia terus berlari masuk kedalam lift, lalu keluar saat benda tabung itu sudah membawanya sampai kelantai dasar.
Beby berlari lagi menuju parkiran dan segera memasuki mobilnya.
Brakk...
Ia menutup pintu itu dengan sangat keras, Beby mengambil botol air minum dan meminumnya sampai tandas.
"Hosh....hosh....hosh...." nafas Beby terdengar begitu tak beraturan. "Kenapa ini salahku ? Memang aku salah jika kabur dari orang yang menginginkan kematian ku ?" tanyanya.
Beby menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sembari memejamkan matanya. Tangannya bergerak membuka tasnya dan mengambil ponselnya miliknya yang sedari tadi memang ia sengaja matikan.
Ting....
Ting...
Ting....
Puluhan notifikasi langsung membanjiri ponselnya saat benda itu telah dihidupkan kembali oleh Beby.
Perlahan matanya kembali terbuka dan memperhatikan semua notifikasi yang masuk ke ponselnya. Namun nama sang kekasih lah yang membuat jantungnya seketika dipompa.
Dominic
Sayang, dimana ?
Lily, lagi apa ?
Beby, jangan lupa makan siang...
Sayang kenapa gak bales sih ?
Sibuk ngapain ?
Sayang ? telfonan sebentar yuk.. Aku kangen banget suara kamu, Yang...
Kerjaanku banyak banget, tapi bakal cepat selesai kalau sambil telfonan sama kamu..
126 panggil tak terjawab
Beby mengigit bibir bawahnya, setelah membaca keseluruhan pesan dari sang kekasih. Wanita itu dilanda rasa panik dan bingung secara bersamaan.
Ia berusaha tetap tenang seraya mengatur nafasnya berkali-kali, setelahnya ia mencoba menghubungi Dominic, namun sudah panggilan yang kesekian pria itu masih belum mengangkat panggilan telfonnya.
"Kok gak diangkat sih ?" tanyanya pada diri sendiri yang juga bingung. Beby mengigit kuku-kuku jarinya, bingung. "Ah sudahlah, aku harus segera menjemput Lily dan pulang sekarang..." gumamnya pelan.
Beby menghidupkan mesin mobilnya kembali dan segera meninggalkan area rumah sakit menuju rumah orangtuanya dengan perasaan takut yang luar biasa.
...o0o ...
Kalian tim Dominic atau Sean ?
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1