
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Mamiiii, mana Papinya Lily ?" ucap seorang bocah wanita yang nampak begitu imut berjalan kearah Beby dengan membawa botol dot susu ditangan kanannya.
Mata Sean tak berkedip melihat wajah anak itu yang begitu mirip dengannya. Lalu ia menatap Beby yang seketika menjadi pucat setelah melihat kehadiran bocah perempuan itu.
Perdebatan antara Sean dan Beby berhenti sejenak setelah Sean melihat kehadiran bocah perempuan itu yang tiba-tiba keluar menghampiri ibunya di dekat pintu.
Melihat Sean yang berkedip melihat anaknya, segera Beby menggendong Lily dan membawa anaknya itu untuk masuk kembali kedalam kamar mereka.
"LILY! KENAPA KELUAR, HA ?!?!" bentak Beby tanpa sadar, dada wanita itu bergerak naik turun karena begitu panik saat Sean melihat kehadiran anaknya.
Mendengar bentakan dari ibunya untuk yamg pertama kalinya, mata Lily berkaca-kaca, dan setelahnya ia pun menangis keras.
"HUAAAAAAAAA....."
"Tadi Lily kira Papi dateng.....hiks...." Lily mengucek matanya yang berlinang air mata.
Beby mengigit bibir bawahnya menahan amarahnya yang membara dalam diri. Ia segera memeluk erat putrinya yang sudah ia bentak ia menangis itu.
Grep....
Lily tidak salah, dirinyalah yang salah karena tidak melihat dulu siapa yang bertamu malam-malam begini, dan langsung membuka pintu saja.
"Maaf ya nak, maaf....." bisik Beby lirih, meskipun rasa panik terus membayangi dirinya.
Sementara diluar Sean segera sadar dari lamunannya setelah mendengar suara tangisan bocah perempuan tadi.
Dengan jantung yang berdegup kencang, ia memasuki unit apartemen Beby, dan tak lupa mengetuk pintu.
Melalu indra telinganya, ia berjalan mendekat kearah sumber suara. Kini ia sudah berdiri di pintu kamar yang bertuliskan ukiran nama 'Lily'
"Lily," gumamnya dengan tangan yang terangkat dan menyentuh ukiran nama sang anak dengan sedikit bergetar.
Rasa percaya diri tumbuh dalam diri Sean, ia sangat yakin jika Lily adalah darah dagingnya. "Ada Lily hadir ditengah-tengah kita, bukankah artinya Beby sudah pasti akan menerimaku kan..." batin Sean percaya diri.
Apa kehadiran Lily ditengah-tengah mereka, bisa membuat Beby melupakan rasa sakit atas penghinaan-penghinaan yang telah dilakukan Sean selama ini ? Entahlah, Sean akan menanyakan saat itu juga.
Tok....tok...tok....
"BEBY BUKA! KITA HARUS BICARA!!"
Tok...tok....tok.....
"BEBY BUKA PINTUNYA ATAU SAYA DOBRAK SEKARANG!!!"
Teriakan Sean bersautan dengan gedoran pintu yang begitu keras, membuat Beby yang berada didalam kamar menjadi seketika panik. Belum lagi anaknya yang tak berhenti menangis.
Perlahan Beby menurunkan anaknya diatas ranjang, lalu memberikan ponsel dan botol dot susu milik Lily.
"Sayang diam di sini sebentar ya, di luar ada orang jahat. Mami mau usir dulu ya..." jelasnya dengan sesegukan.
__ADS_1
Lily memasukkan dot susu kedalam mulutnya dengan tubuh yang masih sesegukan. Kepalanya mengangguk kecil menyetujui ucapan Maminya.
Tok....tok....tok....
"BEBY CEPAT BUKA PINTUNYA !!!"
Beby mengelus kepala sang anak sayang dan menyalakan ponsel miliknya lalu diberikan kepada sang anak. "Mami keluar dulu sayang..."
Cup....
Ia mencium kening Lily sekilas lalu berjalan keluar dari kamar untuk segera mengusir pria tebal muka itu.
Ceklek....
Brakk......
Setelah membuka pintu, dengan cepat-cepat Beby menutup pintu kamarnya kembali dan tak lupa menguncinya.
Mata Beby menyorot Sean tajam, "apa sopan memasuki rumah seseorang tanpa izin ?" sinisnya.
"Aku tak perduli!" jawab Sean tak kalah ketus. "Siapa anak itu ? Anakku kan ? Kau mencoba sembunyikan anakku dariku ?" tanya Sean beruntun.
Beby tertawa kecil, kakinya berjalan menabrak bahu Sean keras dan berjalan untuk di sofa ruang tamu yang berada di depan kamarnya.
"Anakmu ? Saya gak salah dengarkan, tuan ? Pertanyaan anda sangat lucu sekali ..." jawabnya dengan tertawa jahat. "Anak anda yang saya kandung beberapa tahun yang lalu sudah mati. Bukannya anda sendiri yang ingin saya mengugurkannya ?" sambung Beby sembari menghela nafas berat.
Sean menggeram marah mendengar jawab Beby, dengan tangan yang terkepal pria itu berjalan menghampiri Beby yang sudah terduduk di sofa.
"Lalu dia siapa ? Berapa umurnya ? Kenapa wajahnya mirip denganku !" Mata Sean menatap Beby dengan tajam.
Namun Beby tak gentar, wanita itu juga membalas tatapan Sean tak kalah tajam. "Dia anakku! Hanya anakku! Kau tidak perlu tau berapa umurnya, siapa ayahnya, karena itu privasi! Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun! Jangan tolong jangan mencampuri urusan pribadi saya!" tukas Beby mantap.
Jika memang bukan anaknya kenapa Beby cemas ?
"Aku tidak mau tahu, pokoknya aku ingin tes DNA. Dan jika hasilnya positif anak mu itu adalah anakku, maka aku akan mengambil hak asuh anak itu. Tapi jika dia bukan anakku, tak masalah. Kita bisa berc1nt4 terus hingga kamu hamil lagi dan melahirkan anakku."
Tangan Beby terkepal mendengar jawaban Sean, ia bangkit dari duduknya dan melayangkan tamparan keras pada pipi kanan pria itu.
PLAKKK......
"Laki-laki brengsek! Kau pikir aku ini mesin pembuat anak! Dan apa tadi kau bilang ingin mengambil hak asuh anakku ? BAHKAN ITU TIDAK AKAN PERNAH TERJADI WALAU DALAM MIMPI!" jawab Beby dan berteriak di akhir kalimat.
Pipi Sean terasa panas dibuatnya, tapi bukannya marah pria itu malah tertawa kegirangan.
"Kenapa begitu marah saat aku mengatakan ingin mengambil anakmu ? Berarti benar kan jika itu adalah anak kandungku ?" tanyanya yang membuat Beby terdiam seketika. "Kamu itu bukan mesin penghasil anak untukku, Beby. Tapi aku ingin anak darimu agar aku ada tali yang bisa mengikatmu bersamaku selamanya!" sambung Sean.
Belum sempat Beby, membalas ucapan Sean, pria itu sudah berlalu dari pandangannya dan berjalan menuju pintu kamar mereka.
Mata Beby membelalak kaget, segera ia berlari kecil untuk menghampiri Sean yang hendak mendobrak pintu.
Ia menarik lengan laki-laki itu agar menjauh dari pintu, namun usahanya gagal pria itu terus saja mendobrak pintu kamarnya.
"SEAN! APA YANG KAU LAKUKAN ???" sentak Beby menarik tubuh Sean menjauh dari pintu.
Brak...
Brak....
Sean terus terus mendobrak pintu kamar Beby untuk mendapatkan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melakukan tes DNA.
__ADS_1
Hingga....
BRAKK....
Setelah beberapa kali mendobrak pintu, akhirnya knop pintu kamar Beby rusak dan pintu kamar terbuka lebar.
Isak tangis Beby terdengar begitu keras, tubuh wanita itu luruh kelantai karena sudah putus asa.
Sean yang egois sudah pasti tidak bisa keinginannya untuk dihentikan.
Sementara Beby sudah pasrah, didalam kamar Sean segera mengambil beberapa helai rambut Lily. Bocah perempuan itu sudah tertidur pulas dengan mata yang berair dan dot susu yang masih menyumpal mulutnya.
"Dapat...." gumam setelah mendapat beberapa helai rambut Lily, dilihatnya dengan intens wajah anak perempuan itu. "Mirip sekali dengan Leon dulu, perbedaannya hanya di rambut saja. Bocah perempuan ini rambutnya sangat panjang..."
Setelah memasukkan helaian rambut itu pada kantung sakunya, Sean segera keluar dari kamar. Namun saat di depan itu, ia berhenti sebentar, lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Beby.
"Aku pulang ya. Besok aku akan datang kemari lagi. Untuk menjemput Lily...." ucapnya sebelum berjalan pergi keluar dari apartemen meninggalkan Beby yang masih menangis di sana.
...o0o...
Menjawab pertanyaan dikolom komentar :
Kenapa Beby manggil ibunya dengan sebutan ibu ? Itukan Indonesia banget, sedangkan di sini lokasi ceritanya di Italia!
jawaban : Ayah Beby adalah orang asli Italia dan Ibunya asli Indonesia. Jadi wajar jika ada panggilan kepada orangtuanya seperti itu, dan jangan kaget kalo nanti ada tradisi Indonesia yang kebawa-bawa.
Kenapa nominal uang juga rupiah ?
jawaban : Awalnya memang pakai euro (mata uang negara mereka) tapi takut kalian rada bingung. Jadi Ratu buat simpel aja...
Kenapa Beby gak intip dulu siapa tamu yg berkunjung ?
jawaban : Itu apartemen Beby hanya diketahui orang-orang terdekatnya (orangtuanya dan Dominic) awalnya dia mikir jika salah satu dari keduanya itu yang datang berkunjung, karena memang tempat tinggalnya itu tidak diketahui orang lain.
Kenapa pintu apartemen di ketuk ?
jawaban : Dulu pernah Ratu main ke apartemen temennya Ratu. Di sana memang tidak disediakan Bel, tapi diberi kartu akses untuk masuk lift dan buka kunci apartemennya.
Tapi karena Ratu gak mau ribet, jadi Ratu bikin gampang. Kalau cuma nyeritain Sean yang cari-cari kartu akses masuk ke apartemen bisa sampe 1 chapter sendirian. jadi Ratu persingkat biar ga ribet 😘😘
Ada lagi yang mau ditanyakan para pembacaku yang tersayang ??
JANGAN LUPA VOTE + HADIAHNYAAA
__ADS_1
BEBERAPA CHAPTER LAGI KITA TAMAT 🤩🤩