
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Pagi hari ini, suasana hati Beby sangatlah kacau. Ia merasakan resah dan ketakutan sejak ancaman Sean kemarin malam.
Bahkan wanita itu tak tidur semalaman karena ketakutan akan kehilangan sang anak. Sean, pria itu benar-benar iblis baginya.
Bagaimana jika Sean mengambil anaknya dan tak membiarkannya untuk menemui Lily lagi ?
Bagaimana jika setelah dirawat Sean, nasib Lily akan mengalami kesialan seperti Leon ?
Bagaimana jika Sean membalaskan dendamnya kepada sang anak ?
"TIDAK ?!!" teriak Beby tanpa sadar dengan begitu keras untuk menjawab pertanyaan dari otaknya sendiri.
Dada wanita itu bergerak naik turun, dengan nafas yang tidak beraturan. Ia juga menggebrak meja itu kuat-kuat untuk melampiaskan amarahnya.
Sementara di meja makan itu, Dominic dan Lily yang sejak tadi berbincang menatap Beby bingung dan juga kaget atas teriakan wanita itu yang tiba-tiba.
"Mi, kenapa sih teriak-teriak ?" tanya Dominic bingung.
Mata Beby mengerjap perlahan, wanita itu menggelengkan kepalanya seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
Ia kembali duduk di kursinya, dan kembali memakan makanannya.
"Mami aneh...." gerutu Lily menatap ibunya heran.
"Aneh-aneh apa ? Cepetan makan, habis ini kan mau ke rumah Oma diantar sama Papi..." peringat Beby yang diangguki semangat oleh Lily.
Kini anaknya itu sudah melupakan teriakan Beby yang tiba-tiba tadi, tapi tidak dengan Dominic yang sibuk memperhatikan Beby.
Ia curiga ada sesuatu yang wanita itu tutupi darinya.
Dominic menghela nafas panjang, lalu kembali memakan makanannya dalam diam. Meskipun ia masih bingung dengan raut cemas yang tercetak jelas pada wajah Beby.
"Lagi-lagi, kamu menutupi sesuatu dariku..." batin Dominic tersenyum miris.
Mereka makan dalam keadaan hening, hanya dentingan sendok dan garpu beradu di piring yang kini meramaikan acara sarapan calon keluarga kecil itu.
"Aku selesai," ucap Beby yang kini berdiri, mengangkat piring kosongnya menuju wastafel. "Aku ke kamar dulu ya, Pi. Mau siapin bajunya Lily," pamitnya yang dijawab deheman singkat oleh Dominic.
Setelah melihat Beby memasuki kamar melalu ekor matanya, Dominic juga ikut berdiri dan mengangkat piring kotornya menuju wastafel, lalu ia berjalan kembali ke meja makan untuk menemui Lily.
"Papi ke kamar ya sayang, kamu tunggu di sini. Sebentar lagi kita berangkat ke rumah Oma," beritahunya yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Lily.
Dominic berjalan menuju kamar Beby, dan tak lupa menutup pintu secara perlahan dan tak menimbulkan suara.
Dilihatnya Beby yang sedang memasukkan baju ganti Lily ke dalam tas dengan sesekali termenung menatap tumpukan baju di lemari. Mata wanita itu berkaca-kaca, dan Dominic menyimpulkan ada yang tidak beres di sini.
Ia segera mendekatkan dirinya kearah sang kekasih dan dipeluknya tubuh Beby yang berisi dari belakang.
Grep...
__ADS_1
Beby terlonjak kaget dengan pelukan tiba-tiba yang ia dapat dari Dominic. Pria itu menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Beby, dan menghirup aroma yang menenangkan dari tubuh Beby dengan rakus.
"Kenapa bengong terus dari tadi ? Kenapa teriak tadi ? Ada sesuatu yang mengganjal pikiran kamu ? Cerita sama aku....." ucap Dominic berbisik secara perlahan dan berusaha tenang.
Mendengar kalimat tulus Beby, seketika tangis wanita itu pecah. Ia melepas tangan Dominic yang melilit pada pinggangnya dan membalikkan badan untuk memeluk tubuh laki-laki kekar itu.
"Dominic.....hiks....hiks....." tangisan Beby pecah seketika, ia memeluk tubuh sang kekasih dengan sangat erat dan dibalas dengan erat pula oleh Dominic. .
"Ada apa, hm ?"
"Se–Sean kemarin datang kemari. Dia–dia....hiks...hiks...."
Mendengar nama Sean di sebut tangan Dominic terkepal kuat, ia melepaskan pelukannya secara kasar. Dominic menatap Beby tajam.
"Bagaimana dia ada di sini ? bagaimana dia bisa tahu tempat tinggal kamu ? kamu kasih tahu dia alamat ini, saat kamu mengunjungi Leon ?" desisnya kesal.
Kepala Beby mengangguk dengan cepat secara spontan setelah mendengar tuduhan Dominic. Matanya yang sudah basah karena air mata, menatap Dominic dalam.
"Aku bersumpah atas nama Ibuku, jika aku tidak memberitahu pria gila itu, tempat tinggal ku!" balas Beby dengan cepat.
"Aku gak tahu kenapa dia bisa tahu, kemarin jam sebelas malam dia datang mengetuk pintu. Aku kira itu kamu yang datang, soalnya kamu kan biasanya datang tengah malam. Jadi tanpa aku lihat siapa yang mengetuk pintu, aku langsung buka."
"Dan Sean berdiri di depan pintu dengan senyum bodohnya. Kita berdebat sebentar, sebelum aku berteriak untuk mengusir Sean. Namun saat akan mengusir dia, tiba-tiba Lily keluar kamar....hiks...hiks...." tangisan Beby kembali pecah, Dominic yang melihat itu langsung menarik tangan Beby untuk ia dekap dengan erat.
"Aku takut Lily diambil...." sambungnya lirih, dengan nada penuh ketidakberdayaan.
Dominic menggeram marah mendengar ucapan Beby. "Kamu lupa ada aku di sini, gak bakal aku biarkan Lily disentuh sama pria brengsek itu," jawabnya cepat seraya melepas pelukan mereka secara perlahan.
Tangan Dominic terangkat untuk mengelus sudut mata Beby yang terus mengeluarkan air mata. "Kamu gak perlu pikiran hal berat. Semua tanggungan kamu, biar aku yang mikul! Sean biar jadi urusan aku, kamu gak usah ikut campur." Kepala Beby mengangguk cepat untuk menjawab Dominic.
Dominic mengecup kening Beby lama, "aku berangkat sekarang. Jangan buka pintu lagi sembarangan! Mulai sekarang, lihat siapa yang datang, jangan asal buka!" peringat Dominic sebelum pria itu keluar dari kamar untuk mengantar Lily ke rumah calon mertuanya dan selanjutnya berangkat kerja.
Semoga pria itu tak datang lagi....
...o0o...
Mobil Sean kini berhenti tepat di sebuah pemakaman yang cukup mewah di kotanya ini. Dengan segera, Jacob, sang asisten membuka pintu mobil untuk Sean.
"Silahkan tuan...." ucapnya dengan sopan.
Dengan kacamata yang bertanggar dihidungnya, Sean keluar dari mobil ditemani Jacob yang berada dibelakangnya.
Pemakaman ini tampak begitu cantik dengan banyak bunga-bunga yang menghiasi jalan dan pohon-pohon hijau yang mengelilingi pemakaman.
Sama seperti bunga-bunga itu yang nampak indah, hari ini suasana hati Sean juga sangat bagus. Itu terbukti karena senyum yang tak pernah redup dari wajah tampannya.
Jacob sang asisten, juga terheran-heran dengan raut wajah Sean sejak tadi bekerja di perusahaan hingga di sore hari ini, saat mereka sudah pulang bekerja, Sean selalu bersikap ramah kepadanya.
Sangat jarang sekali....
Kaki mereka berdua berbelok pada sebuah makam yang dihiasi bunga Lily putih dan taburan kelopak bunga mawar merah diatasnya.
Sean dan Jacob berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan makam bertuliskan nama wanita paling ia cintai itu.
Clara Ragues
"Sayang, aku datang lagi hari ini..." ucapnya menyapa seraya mengelus nisan mendiang sang istri.
"Leon, anak kita hari ini sudah mempunyai teman di sana. Mereka tertawa dan berlarian sepanjang waktu. Entah ini keberuntungan bagiku atau apa, tapi ternyata dijaman yang sekarang ini banyak sekali remaja yang sudah terjerumus dengan 0b4t-ob4tan terlarang."
__ADS_1
"Hah..." Sean mengehela nafas panjang, "ini terkahir kalinya aku lalai dalam mengurus Leon. Setelah ini aku akan benar-benar menjaganya dengan sangat baik..."
Jacob bisa melihat tatapan mata Sean yang nampak begitu mencintai mendiang istrinya ini. Dengan sabar Sean membuang bunga-bunga yang sudah kering, lalu ia ganti dengan bunga baru yang ia bawa.
Ting....
Bunyi notifikasi pada ponsel Jacob, pria itu segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Tokusatsu Hospital
Setelah membaca pesan dari pihak rumah sakit yang menghubunginya, Jacob kembali memasukkan ponselnya pada saku jasnya.
Mata kembali memerhatikan Sean yang sedang bercerita kepada sang istri.
"Tuan Sean," panggil Jacob pelan, yang membuat Sean menghentikan ceritanya dan menatap Jacob dengan alis berkerut.
"Pihak rumah sakit mengabari saya, jika hasil Tes DNA sudah keluar," beritahu Jacob yang membuat mata Sean berbinar.
Mata pria itu kembali menatap nisan istrinya dan dikecup benda itu lama. "Aku pulang dulu ya sayang. Besok aku kemari lagi," pamitnya.
Setelahnya Sean langsung kembali untuk menuju mobilnya bersama dengan Jacob, pria itu nampak bersemangat sekarang.
Saat dibukakan pintu oleh Jacob, Sean buru-buru masuk kedalam. Jacob tersenyum geli melihat tuannya yang nampak kegirangan begitu.
"Langsung ke rumah sakit!" titah Sean kepada sang supir.
Mobil langsung melesat meninggalkan area pemakaman, dari kaca spion, mata Jacob terus memperhatikan Sean.
"Anda nampak begitu senang hari ini, tuan..."
Sean tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya singkat. "Tentu saja! Aku akan melihat hasil tes DNA dari anak Beby. Jika memang terbukti itu adalah anakku, maka dengan cepat aku akan mengambilnya dan menjauhkannya dari Beby. Dan jika wanita itu ingin melihat anaknya, dia harus menikahi!"
Alis Jacob berkerut menatap bingung Sean dari spion yang berada didalam mobil. "Lalu jika anak Beby bukan anak anda, bagaimana ?"
"Gampang, aku tinggal memp3rk0sanya lagi, hingga dia hamil anakku seperti dulu. Cara apapun akan aku lakukan, yang terpenting saat ini Beby menjadi istriku dan merawat Leon. Aku sudah tidak percaya lagi dengan wanita manapun selain Beby!" jawabnya cepat.
Jacob semakin dibuat bingung, kepala berbalik kebelakang untuk menatap Sean. "Kenapa anda terdengar memaksa, tuan ? Apa anda mencintai Beby ?" tembak Jacob langsung.
Sean terdiam beberapa saat, setelah mendengar pertanyaan Jacob. "Cinta ? aku hanya mencintai istriku."
"Lalu kenapa anda sangat kekeh untuk menikahi Beby ?"
Lagi-lagi Sean terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan sang sekretaris. Hatinya juga masih bertanya-tanya, apa dia cinta kepada Beby ?
Melihat keterdiaman Sean, membuat Jacob tersenyum kecil. "Apa selama ini tuan menganggap jika Beby adalah mendiang Nyonya Clara? wajah Beby dan mendiang Nyonya Clara sangat mirip. Hanya berbeda warna rambut saja."
"Anda benar-benar tidak menganggap Beby adalah mendiang istri anda kan tuan selama ini ?" tanya Jacob memperjelas yang membuat tubuh Sean mematung seketika.
...o0o...
KALIAN MASIH INGAT GAK, CHAPTER YANG BEBY MASUK KAMAR CLARA. DAN DIA KAGET BANGET PAS LIHAT MUKA ISTRI SEAN MIRIP BANGET SAMA DIA ?
Kalau lupa boleh baca Chapter 27 😘😘
Menurut kalian gimana ? selama ini Sean menganggap Beby itu bayang-bayangan istrinya atau Sean tulus kepada Beby ?
Ps : Beby bukan saudara kembar Clara 😐
Jangan lupa vote dan hadiahnya.... 🤩❤️❤️
__ADS_1