
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Lily kini tengah duduk ditengah-tengah antara Beby dan Dominic, bocah lucu itu terus saja berceloteh kepada Dominic hingga keadaan didalam mobil itu benar-benar sangat ramai.
Hingga beberapa menit kemudian seperti energi bocah itu sudah terkuras habis hingga kini tertidur dipangkuan Dominic, dengan sayang Dominic mengelus kepala Lily dengan sayang.
"Pelankan laju mobilnya, anakku sedang tertidur!" titah Dominic kepada sang supir.
Dan benar saja, kini mobil itu berjalan pelan, membuat seseorang yang sedang tertidur di sana semakin terlelap.
"Gimana, kamu udah ada rencana mau buka butik di sini ?" tanya Dominic pada sang pujaan hati.
Kepala Beby menggeleng pelan, ia menatap Dominic takut-takut. "Aku sangat takut, Nic. Aku takut Sean masih menyimpan dendam kepadaku!" jawab Beby.
Tangan Dominic terangkat mengelus tangan Beby yang berada diatas paha wanita itu lembut. "Apa yang kamu takutkan ? Aku jamin Sean tidak akan menyentuh kamu! Kamu itu udah aku jaga dengan ketat Beby! Cuma kamu yang gak sadar aja selama ini!"
Melihat keterdiaman Beby, Dominic menghela nafas lelah. Selalu saja seperti ini, Beby selalu lari dari masalah dan tidak ingin menyelesaikannya.
"Mau sampai kapan kamu sembunyi di Perancis ? Nenek dan kakeknya Lily juga mau ketemu tiap hari sama Lily. Lily juga butuh aku, dia butuh Papinya! Terus hubungan kita gimana ? Mau gini-gini terus aja ? Gak mau naik ke pelaminan ?" tanya Dominic beruntun.
"Bukan aku gak mau Nic! Hanya saja aku takut, berikan aku waktu seminggu untuk berfikir dulu. Aku akan kembali ke sini atau tetap tinggal di Perancis," tawar Beby yang segera diangguki oleh Dominic.
"Oke satu Minggu. Lalu dengan hubungan kita bagaimana ?"
Beby menghela nafas panjang dan menggenggam erat tangan Dominic yang mengelus tangannya sedari tadi. "Nanti kita bicarakan," jawabnya seraya tersenyum tipis.
"Bisa kita mampir untuk makan sebentar sebelum sampai rumah ? Lily tadi tidak makan banyak di pesawat. Aku takut perutnya kembung."
Lagi-lagi Dominic menghela nafas lelah, ia mengalihkan pandangannya kearah jendela mobil dan melepaskan pegangan tangan mereka sedikit kasar.
"Pergi ke Cafe yang kemarin kita datangi!" titah Dominic. "Siap, tuan!" jawab sang asisten.
Beby menundukkan kepalanya, lagi-lagi ia menyakiti perasaan Dominic, bukannya ia tidak ingin menikah dengan Dominic. Hanya saja Beby selalu merasa dirinya bukanlah orang yang cocok dengan pria sukses itu.
Dominic adalah pria kaya yang mapan dan sangat baik hati. Sedangkan dirinya hanya seorang wanita yang berasal dari pengusaha payah yang berkali-kali hampir bangkrut dan juga telah hamil di luar nikah.
Orang seperti Dominic harusnya mempunyai pacar atau istri yang sepadan. "Dominic, kita berbeda. Kita tidak mungkin bersama, apa bisa wanita penuh kesialan sepertiku, mendapatkan suami yang sempurna seperti mu ?" batin Beby menerawang.
...o0o...
Pelajaran telah dimulai sejak satu jam yang lalu. Setelah bel masuk berbunyi, para murid yang sibuk mengisi perutnya dikantin langsung berbondong-bondong masuk kelas untuk mengikuti jam pelajaran terkahir sebelum pulang.
Meskipun rasa kantuk menguasai mereka tapi para murid masih bisa fokus dengan apa yang guru itu terangkan. Ia mencatat dan merangkum setiap perkataan yang terucap dari sang guru.
Namun dari sekian banyaknya murid yang berada dikelas itu, hanya seorang murid yang tidak fokus dengan pelajaran.
Tubuh remaja laki-laki itu bergetar hebat, menginginkan sesuatu. Berulangkali ia membasahi bibirnya yang kering karena ingin menghirup serbuk milik tantenya.
Leon, remaja itu mengigit jari-jari hingga berdarah untuk menenangkan diri. Semakin ia merasakan sakit ditubuhnya, ia akan semakin tenang.
Tak puas dengan mengigit jari-jari tangannya hingga berdarah, Leon mengambil pulpen di kotak pensilnya lalu ditancapkan benda itu disalah satu lengannya.
Ia melakukan itu berulangkali hingga jiwanya merasa tenang. Beruntung Leon duduk di bangku paling belakang hingga tak ada seorang pun yang sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Aku butuh yang lebih...." gumamnya. "Ini sama sekali tidak berasa....." sambungnya lagi dengan suara bergetar hebat.
Keringat dingin mulai membasahi wajah Leon, remaja itu menyenderkan tubuhnya di kursinya sembari memejamkan matanya menikmati rasa sakit yang menjalar ke tubuhnya.
Hingga suara dari seorang guru yang mengajar itu membuatnya menjadi was-was. "Leon, kamu kenapa, nak ?" tanya guru itu dengan lembut tak lupa senyumannya yang manis membuat sang guru terlihat kalem.
"Tidak Bu! Saya gak pakai obat!" jawab Leon dengan berlebihan karena panik. "Jangan bilang Daddy Bu, nanti aunty Vania marah dan gak kasih Leon lagi!" sambungnya yang membuat sang guru menatapnya bingung.
__ADS_1
Guru itu meletakkan bukunya dimeja dan berjalan kearah Leon yang terlihat sekali begitu cemas dengan wajah yang sangat pucat.
Tangan sang guru memegang dahi Leon dengan perlahan. "Panas, pantesan kamu ngigau, nak," ucap sang guru yang berfikir jika apa yang dialami Leon adalah karena sakit demam lalu mengigau, padahal saat ini Leon sedang s4kau.
"Bereskan barang kamu, kamu ke ruang BK untuk minta jemput orang tua. Selagi menunggu Daddy kamu datang, kamu bisa menunggu di UKS," perintah guru itu yang langsung diangguki oleh Leon.
Remaja itu membereskan bukunya di meja dan memasukkan kedalam tas dengan tangan yang bergetar hebat. Tak lupa ia menyalami sang guru sebelum keluar dari kelas.
"Harusnya kalau sakit dirumah saja, sepertinya Daddy Sean begitu sibuk sampai tak memperhatikan nasib Leon. Malang sekali nasibnya...." gumam sang guru sebelum akhirnya memulai pelajarannya lagi.
Sedangkan Leon di luar kelas sudah berlari dengan cepat untuk keluar dari sekolah melalu pintu belakang.
"Obat, Leon butuh obatnya aunty Vania...." gumamnya seraya terus melangkahkan kakinya menuju pintu belakang.
Saat pintu itu mulai terbuka, ia segera berlari kecil tak tentu arah ke gang-gang kecil yang berada di dekat sekolahnya.
"Obat...hiks....Leon butuh obat...."
Ia terus berlari hingga ia berhenti di depan sebuah bengkel kecil di samping gang sembari menahan tangannya di lutut. Nafas Leon bergerak tak beraturan karena terus berlari sedari tadi.
"Obatt....kasih Leon obat...." gumamnya seraya menangis.
Segerombolan pria bertato dengan hidung dan kuping yang diberi tindikan melihat kearah depan bengkel mirip mereka.
Pria itu saling tatap dengan raut wajah bingung, "ngapain tuh bocah ada kemari ? ini kan jalan buntu!" ucapnya.
"Seragamnya masih SMP, masih bocah nih!"
"Kesasar kayaknya deh, itu buktinya nangis!" ucap salah seorang lainnya yang diangguki oleh mereka dengan kompak.
"Woy! Sini Lo!" teriak para pekerja bengkel bertato itu kepada Leon.
Leon mengangkat wajahnya dan melihat kearah pria bertato itu. Pandangan matanya melemah, ia terus bergumam ingin obat.
Tanpa sadar kaki Leon membawa tubuhnya yang kian s4kau ke para pria bertato itu. Ia langsung bersujud dihadapan salah satu dari mereka.
"WOY APANIH! NGAPAIN SUJUD SEGALA!" teriak pria yang kakinya dipegang oleh Leon.
Nada suara Leon sangat pelan, remaja itu tengah merintih kesakitan. Ternyata efek s4kau itu separah ini. Bukan hanya tubuhnya saja yang sakit, jantungnya juga berdegup kencang seperti mau pecah. Nafas Leon juga semakin tidak beraturan.
Leon kembali menatap para pria bertato itu dengan air mata yang mengalir. Ia mengigiti terus jari-jari untuk meredakan sakit di tubuhnya.
"Eh sebentar, Lo pake barang haram ?" tanya pria disana yang juga membuat pria yang lainnya menatap Leon tak percaya.
Hingga salah satu pria di sana memasuki bengkelnya lalu keluar lagi menuju Leon dengan membawa serbuk n4rk0tika. "Ini yang lo maksud obat ?"
Mata Leon berbinar menatap serbuk putih itu, ia langsung bangkit dari posisinya berniat untuk mengambil serbuk putih itu.
Namin dengan cepat, pria itu menjauhkan barang haram itu dari Leon. "Berikan kak....hiks...hiks....tolong Leon...."
"Wah gila! Masih SMP udah jadi pemakai!"
"Rusak generasi anak bangsa jaman sekarang kalau begini!"
Mendengar cuitan dari teman-temannya, membuat pria yang memegang serbuk putih itu tersenyum miring.
"Mau ini ?" tanya pria itu yang langsung diangguki oleh Leon. "Kasih gue dulu uang yang banyak!"
"Uang Leon di Daddy kak, nanti Leon bayar! Kasih dulu barangnya!"
"Enak aja! Uang dulu lah, kalo lo gak mau ya udah, gue pake sendiri!" ancam pria itu yang membuat mata Leon membelalak kaget.
Segera pria itu berlari lagi keluar dari bengkel untuk mendapatkan uang bagaimana pun caranya. "Uang! Uang! Leon harus dapat uang cepat!" gumamnya seraya berlari.
Sementara di bengkel segerombolan pria bengkel itu tengah tertawa terbahak-bahak melihat Leon yang s4kau. "Gila banget ya, masih kecil loh padahal. Udah rusak aja tuh bocah!"
"Kita lihat, mau dapet uang darimana tuh bocah!"
...o0o...
__ADS_1
Kaki Leon terus berlari menuju jalan besar, ini adalah jalan kembali ke sekolahnya. Ia melihat banyak murid mulai keluar dari sekolah. Ini tandanya bel pulang telah berbunyi.
Mata Leon beralih mencari keberadaan supirnya, pasti pria itu membawa uang kan ? Leon bisa meminjam uang pria itu dulu lalu meminta ganti kepada sang ayah.
"Iya, pinjam om supir dulu aja," gumam remaja itu seraya melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan mobil dan juga pasti ada sang supir di dalamnya.
Namun saat melihat mobilnya berada, nyalinya mendadak ciut. Otaknya kembali berfikir. "Jika ketahuan Daddy gimana ? Nanti aunty Vania marah dan Leon gak bakal dikasih lagi obatnya..."
Leon berjalan mundur dan bersembunyi di balik punggung teman sekolah, untuk mencoba menghindar dari sang supir.
Ia melangkahkan kakinya dengan perasaan cemas kearah yang berlawanan dengan keberadaan mobil jemputannya.
Hingga ia melihat sebuah cafe di seberang sekolahnya, yang menarik perhatiannya bukanlah cafe itu. Tapi mobil mewah yang berada di parkirannya.
"Pasti dia sangat kaya, mungkin aku bisa minta uang saja kepadanya!" gumamnya seraya memasuki cafe itu.
Tringg....
Bel cafe berbunyi setiap pintu cafenya di buka. Mata Leon memincing menatap setiap pengunjung yang datang ke cafe itu. Ia tidak tahu siapa memilik mobil mewah yang berada di depan.
Tubuhnya kian bergetar menandakan bahwa ia benar-benar harus segera mengisi tubuhnya dengan benda haram itu, atau semalaman ia bisa merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Mata Leon menelisik satu persatu pengunjung cafe, hingga fokusnya beralih pada keluarga kecil yang sedang memakan makanannya dengan riang di ujung cafe.
Jika dilihat dari pakaiannya itu terlihat mahal, mungkin saja orang itu adalah pemilik mobil di depan.
Tak peduli malu, tak peduli akan di usir karena menganggu, atau bahkan di pukul. Leon mengalahkan kakinya mendekati keluarga kecil itu untuk meminta uang.
"Tolong kasih Leon uang....hiks.....Leon mau beli obat....."
"Tolong....."
Keluarga kecil yang tengah makan secara bercerita itu mendadak hening setelah mendapati kehadiran remaja SMP yang bersimpuh di meja yang mereka tempati.
"Leon mau obat....hiks.... kepala Leon pusing....hiks....."
Mendengar relungan anak kecil itu membuat sang wanita menjadi sedih. Berbeda dengan sang pria yang menatap tajam remaja di hadapannya.
"Hei! Siapa kau ? Kau menganggu anakku makan! Ini kenapa cafe mahal bisa didatangi oleh gembel ?" ucap sang pria sinis.
Sang wanita melototkan matanya kesal kepada pria itu, "mana ada gembel sih, Nic! orang dia pakai seragam sekolah kok!" gerutunya kesal.
Pria itu memutar bola matanya malas dan mulai menyuapi kembali anak perempuannya yang memakan waffle dengan sangat lahap.
Sementara sang wanita kini sudah berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan remaja itu. Dilihatnya remaja itu yang mendudukkan kepalanya dengan tubuh yang bergetar hebat.
Jiwa keibuannya semakin menjadi-jadi, ia mengelus kepala remaja itu dengan sayang. "Astaga nak, apa yang terjadi padamu!"
"Jangan banyak bicara!!! CEPAT BERIKAN AKU UANGGGG!!!" teriak bocah itu dengan gemetaran sembari mengangkat wajahnya kearah wanita yang menghampirinya.
Mata wanita itu membulat terkejut, tangannya bergerak menutup mulutnya yang terbuka lebar. Sama seperti wanita dihadapannya, Leon juga sama terkejutnya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"HEI, BERANI SEKALI KAU BERTERIAK KE WANITAKU! MAU MATI, HUH!?" kecam sang pria kesal.
Mereka berdua tak menghiraukan Dominic karena masih terkejut satu sama lain.
"Le–Leon ?"
"Kak Beby ?" ucap mereka secara bersamaan.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA