
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Minggu berganti Minggu, hari berganti hari, jam berganti jam, menit berganti menit dan detik berganti detik.
Sejak kejadian dua Minggu yang lalu, hubungan Sean dan juga Beby sedikit merenggang. Tak ada lagi tidur bersama selama dua Minggu itu, tak ada lagi Beby yang ribut setiap hari untuk menyiapkan kebutuhan Sean dan Leon secara bergantian, dan tak ada lagi Beby yang menyiapkan makanan untuk Sean.
Bahkan mereka saling tatap saja tidak pernah selama dua Minggu ini.
Bukan karena Sean yang masih marah kepada Beby setelah kejadian dimana Clara yang kata Beby sudah bisa berbicara sedangkan menurut dokter kondisi Clara malah semakin memburuk.
Tapi karena Beby yang menjaga jarak kepada Sean, wanita itu nampak sangat sakit hati dengan ucapan Sean waktu itu.
"Nah Leon, sudah selesai pakai seragam. Buku-buku sudah kakak masukkan semua kedalam tas. Ayo segera sarapan dan turun ke bawah. Aunty Vania pasti udah nunggu dari tadi," ajak Beby sembari berjalan keluar dari kamar Leon bersamaan dengan bocah itu.
Bibir Leon mengerucut, ia menatap Beby dengan berkaca-kaca. "Udah tiga Minggu di anterin Aunty terus, Leon mau diantar kak Beby!" sungutnya.
Beby tersenyum dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Leon, ia mengelus kepala bocah itu pelan. "Nanti kak Beby ke dokter buat check apa sudah boleh kak Beby melakukan pekerjaan berat. Dan kalo dokternya bilang boleh! Berarti mulai besok kak Beby yang akan antar Leon ke sekolah seperti dulu!" beritahunya.
Mata Leon berbinar mendengar itu, ia mendekat dan memeluk tubuh Beby erat. "Nanti di sekolah Leon doakan supaya kak Beby sudah sembuh! Biar bisa anterin Leon lagi." Beby tersenyum dibuatnya. "Gak enak diantar aunty Vania, kerjaannya marah-marah mulu!"
"Iya-iya, sudah sana kamu ke bawah, bisa kan turun tangga sendiri ?" tanya Beby yang diangguki oleh Leon. "Kak Beby mau suapin Mommy kamu sekarang."
Setelah Leon menuruni anak tangga terakhir, barulah Beby melangkahkan kakinya memasuki kamar Clara. Saat pintu terbuka matanya langsung disuguhi pemandangan Sean yang mengelus kepala Clara dengan pelan.
"Ah, maafkan saya tuan. Saya tidak tahu jika anda berada di sini," ucapnya dengan nada formal.
Sean melirik Beby sekilas lalu bangkit dari duduknya. "Dia semakin lemah, detak jantungnya berjalan tidak normal sekarang. Tidak perlu sarapan, hanya pastikan Clara meminum obatnya tepat waktu!" beritahu Sean.
Kepala Beby menganggukkan kepalanya mengerti, Sean berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar Clara. "Semenjak diurus olehmu kondisi Clara semakin memburuk," ucapnya sebelum benar-benar menghilang dari kamar Clara.
Beby menghembusnya nafas lelah, ia berjalan menuju Clara dan segera mempersiapkan obat-obatan untuk wanita lemah itu. "Maaf jika karena saya, kondisi anda semakin menurun. Tapi saya benar-benar merawat anda dengan sangat baik. Saya mohon, lekaslah sembuh!" pintanya menatap Clara dengan sedih.
...o0o...
Sean menyetir mobilnya dengan sangat cemas, air mata tak henti-hentinya menetes membasahi wajah tampannya.
Di sebelahnya juga sang asisten juga sangat bersedih dengan berita yang baru saja mereka dapat beberpa menit yang lalu.
Clara mengembuskan nafas terakhirnya, hari ini.
"Tidak, itu tidak mungkin! Dokter itu bohong! Istriku tetap masih ada!?!"
Wanita Sean, istri Sean, ibu dari anak Sean, belahan hati Sean telah pulang selama-lamanya kepada sang pencipta. dan Sean sama sekali tidak siap dengan fakta itu.
Mobil Sean terparkir acak di depan mansionnya, ia membuka pintu dan membanting lalu segera berlari memasuki mansionnya.
Ceklek....
Pertama kali yang ia lihat saat memasuki mansion ini adalah para maid yang menangis histeris sembari memanggil-manggil nama Clara.
Kaki Sean dibuat lemas mendengar Isak tangis maidnya itu. Tangisan itu membuatnya menjadi yakin jika Clara memang tiada.
Jacob mendatangi Sean dan mengelus punggung tuannya itu dengan bergetar, seperti para maid lainnya, Jacob juga menangis.
"Mati tuan, kita lihat Nyonya Clara untuk yang terakhir kalinya..." ajaknya, dengan perlahan Jacob memapah tubuh Sean untuk menaiki tangga.
Sumpah demi dewa, sudah belasan tahun mengabdi pada Sean tak pernah sekalipun Jacob melihat Sean selemah ini.
Ceklek....
__ADS_1
"Hiks....Mommy....mommy...hiks...."
"Mommy bangun....hiks....Leon janji gak bakalan nakal lagi...hiks..."
Leon menangis hiteris diatas tubuh Clara yang sudah memucat dan tampak kaku. Melihat itu tubuh Sean terasa ingin limbung ke lantai.
Semetara di sana, ada seorang wanita yang bersorak kesenangan dalam hatinya tapi terlihat sangat sedih dari luar, Vania. Wanita itu nampak menunggu-nunggu hari kematian kakaknya tiba.
"Kak Sean! Kamu sudah datang ?" tanya Vania histeris dan langsung berhampur ke pelukan Sean. "Kak Clara....hiks...hiks....dia sudah ma-ti...hiks...."
Sean diam, matanya masih menatap mayat sang istri di hadapannya, hingga ada seorang dokter yang mendatanginya.
"Kondisi nyonya Clara beberapa Minggu ini sangat-sangat lemah. Ini kondisi yang jarang terjadi tuan, biasanya jika seseorang telah sadar dari koma dan mendapatkan perawatan intensif, 87% akan sembuh dan sisanya mengalami kecacatan, tidak pernah ada riwayat manapun yang mendapati kondisi pasien memburuk hingga meninggal dunia. Ini yang pertama kalinya tuan..."
Tangan Sean terkepal, ia mengalihkan pandangannya keatap-atap kamar Clara. "Kenpa harus istriku yang menjadi yang pertama, Tuhan...." batinnya.
Vania menghapus air matanya dan melepas pelukannya dari tubuh Sean dan menatap dokter itu. "Lalu kakakku kenapa, dok...hiks...dia kan sudah diberi obat. Kenapa bisa dia mati...hiks...."
Kaki Vania berjalan menuju nakas di sebelah ranjang Clara dan membuka laci lalu mengeluarkan isinya.
"Ini kan dok, obatnya ?" tanyanya dengan suara bergetar.
Sang dokter menatap obat itu dengan mata bulatnya, ia berjalan dan merebut itu dari tangan Vania.
"Astaga, kenapa obatnya masih utuh ? Apa nyonya tidak pernah di berikan obat ?" tanya dokter itu.
Vania terkejut, ia mengeluarkan beberapa tablet obat dari dalam laci nakas. "Dok, ini kenapa obatnya banyak sekali...."
Mata dokter itu menatap Sean dengan raut terkejutnya. "Apa selama ini nyonya tidak diberikan obat, tuan ?"
Tangan Sean terkepal kuat, urat-urat lehernya keluar semua. "Beby...." desisnya kejam.
Vania diam-diam tersenyum miring, ia telah menyingkirkan dua unggas menyebalkan yang mengelilingi Sean sekaligus. Tidak sia-sia ia selalu membuang obat Clara yang sesungguhnya dan mengganti dengan obat biasa, lalu saat wanita itu dikabarkan telah tiada buru-buru ia memasukkan obat Clara yang sebenarnya ke dalam laci.
Dalam hati ia menertawakan nasib Beby yang selama ini memberikan obat palsu kepada Clara. "Goodbye Clara, goodbye Beby..."
...o0o...
Tok....tok...tok....
Ceklek....
Ketukan pintu dan tiba-tiba pintu ruang periksa itu terbuka membuat sang dokter tak melanjutkan kembali ucapannya.
Beby dan dokter itu melihat kearah seseorang yang baru memasuki ruangan ini.
"Ada apa, pak ?" tanya Beby melihat sang supir datang ke ruang periksa ini dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Kita harus segera pulang, non!" ucap supir itu dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Dahi Beby berkerut bingung mendengar ucapan sang supir. "Kenapa memang, pak ? Saya kan masih periksa kondisi ja––"
"Nyonya Clara sudah tiada..."
Detik selanjutnya setelah supir itu menyampaikan kepergian Clara, tanpa pamit Beby segera berlari bersama dengan sang supir menuju mobil.
Dengan kebut-kebutan, akhirnya setelah 20 menit perjalanan, mobil yang mereka naiki sampai di mansion milik Sean.
Dengan perasaan yang masih tak menentu, Beby melangkahkan kakinya memasuki mansion Sean.
Dan benar saja, para maid tengah menangis histeris sembari menyebut nama Clara. Tak ingin membuang waktu ia langsung menaiki tangga untuk memasuki kamar Clara.
Ceklek....
Benar, Vania telah tiada.
Wanita itu kini telah tertidur di atas ranjang dengan sebuah dress putih yang sangat cantik dan wajah yang sudah di rias bak pengantin dan nampak siap memasuki peti matinya.
__ADS_1
Matanya beralih pada Leon yang masih sesegukan. Nampaknya bocah itu sedari tadi sudah menangis dengan sangat kencang.
Kaki Baby berjalan mendekati mayat Clara hendak menyentuh kakinya. "Nyo–––"
"Hentikan! Jangan sentuh istriku!" Sean menepis tangan Beby yang hendak menyentuh Clara.
Mata mereka saling bertatapan, Beby melihat raut kesedihan yang amat sangat di wajah Sean.
"Tu–tuan Sean sa–saya minta maaf, kare–"
"YA! KARENA KAU AKU KEHILANGAN ISTRIKU....HIKS....PUASSS?!?!"
Sean menangis dihadapan Beby, ia tak perduli jika saat ini ia nampak menyedihkan di mata orang lain. Ia benar-benar sangat sedih sekarang.
Tangan Sean mencekram bahu Beby dengan sangat kuat. "Kalau kau benci padaku, bunuh aku! Kenapa malah kau membunuh istriku ? Kenapa kau tidak memberikan istriku obat? PADAHAL AKU SUDAH MEMINTAMU UNTUK MERAWATNYA WANITA SIALAN!!!!" teriak Sean diakhir kalimatnya.
Mata Beby menutup saat melihat tangan Sean akan menampar wajahnya, namun selama beberapa detik tak ada tangan yang mengenai wajahnya, Beby membuka matanya perlahan. Dilihatnya tangan Sean yang masih diudara dan tak jadi menampar wajahnya.
"Pergilah!"
"PERGILAH DARI SINI SEKARANG ATAU AKU AKAN MEMBUNUH MU!"
"PERGI BRENGSEK!" teriak Sean sekali lagi dan Beby buru-buru keluar dari kamar Clara.
Saat ia sudah keluar dari kamar Clara, ia disambut oleh Vania yang menyender di dinding sembari bersedikap tangan di dada.
"Nih baju-baju kamu udah aku masukin semua di koper! Pergilah pel4cur!" umpatnya lalu memasuki kamar sang kakak.
Tangan Beby terkepal menatap Vania tajam. "Wanita ular!"
...o0o...
"Tuhan, aku harus pergi kemana sekarang? Ponsel, ATM ku semuanya masih berada di mansion itu. Dan aku sudah tak bisa melangkah kakiku masuk ke sana atau Sean pasti akan menghabisi ku!"
Dengan menyeret kopernya, Beby berjalan keluar dari area perumahan Sean dan duduk di kursi halte.
Suasana sore ini sangat mendung, langit terlihat lebih gelap dari biasanya. Sesuai dengan suasana hati Beby yang hari ini nampak tak sebaik hari biasanya.
"Haruskah aku kembali ke rumah Ayah dengan keadaan mengenaskan seperti ini ?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Skriiittttt.....
Suara decitan ban yang direm pada aspal membuat perhatian Beby beralih pada sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap yang berhenti di depannya.
Mata Beby memincing bingung, ia tak pernah melihat mobil ini sebelumnya. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain, tak ingin terlihat seperti orang norak yang tak pernah melihat mobil mahal.
"Beby!" panggil seseorang dari dalam mobil.
Beby kembali memfokuskan dirinya ke depan, dimana mobil itu berhenti. Kaca mobil itu perlahan menurun guna memperlihatkan siapa orang yang berada di dalam mobil itu.
Mata Beby membulat seketika saat kaca mobil itu telah turun sepenuhnya. "Tu–tuan Dominic ??!?"
Pria itu tersenyum miring melihat keterkejutan Beby. "Butuh tumpangan Beby ?" tanya Dominic langsung.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1