
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Suara gedoran di ruangan Robert itu kian terdengar sangat keras, membuat orang yang berada didalam ruangannya menjadi sangat panik.
Beby, wanita itu sudah bergetar dengan sangat cemas. Benar apa yang dikatakan ayahnya, bahwa Sean tidak akan bernafas lega sebelum melihat dirinya tersiksa karena dituding membunuh istrinya.
"BUKA ROBERT! PRIA BRENGSEK!" umpat Sean. dengan keras, pria itu kini tengah menumpu kedua tangannya di depan dada, dan mata yang melihat Jacob dengan mendobrak pintu dengan sangat keras.
Beruntung, sekretaris Robert–ayah Beby telah mengunci pintu ruangan itu dengan cepat, sebelum asisten Sean mendobrak pintu. Jadi mereka masih bisa sedikit memutar otak.
Robert segera berlari ke arah anaknya dan memeluk wanita itu dengan sangat erat. "Sayang, kamu harus segera pergi dari sini. Jangan sampai Sean menyeret mu menuju neraka buatannya!" suara Robert terdengar begitu bergetar saat ini. Pria paruh baya itu benar-benar tidak ingin melihat anaknya celaka.
Dengan segera Beby membalas pelukan sang ayah dan mereka langsung menumpahkan tangisan mereka.
"Aku tidak membunuh istrinya, Yah! Aku bersumpah!" Isak Beby di ceruk leher sang ayah.
Setelah menghela nafas kasar, Dominic menghampiri sepasang ayah dan anak itu yang kini tengah menangis sembari berpelukan.
Sembari meringis, Dominic mencoba untuk melepaskan pelukan mereka dengan perlahan. "Maafkan jika aku menganggu acara pelukan kalian, tapi keadaan ini sangat genting. Dan Beby harus segera pergi dari ruangan ini secepatnya! Atau...." Dominic menggantung ucapannya, matanya melirik Beby sekilas.
"YAH! ROBERT BRENGSEK! BUKA PINTUNYA! INGIN BERMAIN-MAIN DENGANKU, HUH!" teriak Sean yang terdengar frustasi.
BRAKK......
BRAKK....
Lagi-lagi seseorang di balik pintu mencoba untuk mendobrak pintu ruangan kerja Robert dengan cepat.
"A–atau apa, Mr. Ragues ?"
"Beby harus segera pergi dari ruangan ini, atau hari ini kita semua terkahir kali bisa melihat wajah Beby lagi!" sambung Dominic pada akhirnya.
Wajah pucat Robert menandakan pria itu benar-benar sangat cemas, hingga celetukan sekretaris membuat senyum kecil di wajahnya.
"Tuan, bagaimana jika lewat tangga menuju rooftop ?" ucap sang sekretaris yang disambut anggukan kepala oleh Robert.
Pria itu langsung menyeret tangan Beby menuju sebuah pintu bercat putih di samping toilet dalam ruangannya.
Dominic mengikutinya dari belakang seraya menyeret koper Beby.
"Masuklah, ini adalah sebuah tangga menuju rooftop. Aku sengaja memberi tangga di sini, agar bisa dengan bebas menuju rooftop tanpa keluar dari ruangan jika aku butuh inspirasi," beritahu sang ayah yang membuat Beby mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa ke rooftop Yah ? Kan itu lantai paling atas! Sedangkan mobil tuan Dominic ada di bawah!"
BRAKK.....
BRAKK....
Robert melihat kearah knop pintunya yang sebentar lagi akan rusak, ia menelan ludahnya susah payah.
"Di rooftop ada tangga darurat untuk menuju lantai bawah, non. pergilah menaiki tangga sekarang!" ujar sang sekretaris pada akhirnya.
Mendengar itu Dominic menganggukkan kepalanya mengerti, dan segera menarik tangan Beby untuk menaiki tangga yang berada di pintu bercat putih itu.
Saat menaiki tangga, Beby melirik kearah bawah sebentar, ia tersenyum tipis kearah sang ayah.
__ADS_1
"Pergilah nak, pergilah yang jauh..." batin Robert dengan Maya berkaca-kaca.
...o0o...
Beberapa pria berpakaian hitam berlarian keluar dari lift untuk menghampiri tuannya yang sedang menunggu kehadiran mereka.
Saat sudah mendekat, mereka berlima berhenti berlari dan seketika menundukkan kepalanya di hadapan Sean.
"Cepat, dobrak pintu ini!" titahnya yang segera dilakukan oleh para bodyguard Sean itu.
Mendengar ucapannya tuannya, Jacob segera menjauh dari pintu dan membiarkan para bodyguard melakukan apa yang daritadi ia kerjakan.
Pria itu menatap kedua telapak tangannya yang memerah karena terus mendobrak pintu. "Sial! Ini menyakitkan! Kenapa tidak daritadi tuan Sean memanggil bodyguard!" gerutunya sebal.
BRAKK.....
BRAK.....
Ceklek....
Akhirnya kunci pintu itu rusak, dan kini terbuka dengan sangat lebar di hadapan Sean. Para bodyguard mundur kebelakang dan berdiri di balik punggung Sean.
Dengan senyum miringnya, ia berjalan memasuki ruangan Robert dengan sangat angkuh, diikuti oleh Jacob dan lima orang bodyguardnya.
Mata Sean melihat Robert yang berpura-pura yang menyadari kehadirannya dan masih fokus dengan pekerjaannya, sementara sang tangan kanan pria tua itu hanya berdiri menunduk di samping Robert.
"Jangan berpura-pura Robert! Ini bukan sebuah novel ataupun sinetron! Berhentilah bermain drama dan berpura-pura tidak melihat dan mendengar kehadiranku!" ucap Sean dengan nada tingginya, ia benar-benar geram dengan pria tua dihadapannya ini.
Mendengar itu, Robert mencoba untuk tidak gugup, beberapa kali ia menelan salivanya sebelum pada akhirnya mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap Sean.
"O–oh Mr. Alejandro datang kemari ?" tanyanya dengan gugup, ia mencoba memaksakan senyumannya. Robert berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Sean. "Mari duduk, Mr. Alejandro."
Robert sedikit mendorong tubuh Sean untuk duduk di sofanya, Sean menyentak tangan pria tua itu dan kini mereka duduk saling berseberangan.
"L–loh bukannya Beby berada di mansion anda, Mr. Alejandro..."
Brakk....
Sean memukul meja di depannya itu dengan sangat keras. "Jangan pura-pura tidak tahu brengsek! Kau dengan sengaja tidak membukakan pintu ruang kerja mu karena ada Beby kan di sini!" sergah Sean dengan cepat.
Robert tentu saja menggeleng untuk menjawab pertanyaan Sean yang membuat pria muda itu semakin kesal pada Robert.
"HENTIKAN DRAMA MU BRENGSEK, DIMANA BEBY! DIA TELAH MEMBUNUH ISTRIKU DAN BODOHNYA AKU MELEPASKANNYA!"
"Be–Beby benar-benar tidak ada di sini tuan, saya ber––"
DOR....
"ARGHHHHH....."
"RENZ!!!" teriak Robert dengan sangat keras saat melihat dada sang sekretaris telah dipenuhi dengan darah.
Salah seorang bodyguard Sean langsung mengeluarkan pistol dari balik saku jasnya saat melihat aba-aba dari tuannya.
Baru akan menghampiri sang asisten, tubuh Robert langsung ditahan oleh dua orang bodyguard Sean yang memegang kedua sisi lengannya.
"To–tolong jangan tembak kami, Mr. Alejandro. Tolong Renz...." ucapnya dengan nada bergetar.
Sean tersenyum miring, ia berjalan mendekati Robert dengan sangat angkuhnya. "Aku tidak akan menembak kalian jika kau memberitahukan keberadaan Beby sekarang!"
Kepala Robert menggeleng lagi disertai air mata yang mengalir tanpa permisi di wajahnya. "Aku benar-benar tidak tahu, Mr. Alejandro...."
DOR...
__ADS_1
DOR....
"ARGHHH...." teriakan kesakitan itu secara kompak keluar dari Robert dan sekretarisnya saat lagi-lagi peluru anak buah Sean mengenai anggota tubuh mereka.
"Jadi kau tidak ingin memberitahu keberadaan anakmu ya ? Ok kalau begitu," ucap Sean sembari mengkode anak buahnya untuk segera keluar dari ruangan Robert. "Diberitahu atau tidak keberadaan anakmu, aku pasti akan menemukan meski di dalam lubang semut sekalipun. Aku akan membuat Beby merasakan apa yang Clara alami selama ini karena ulahnya!" sambungnya sebelum benar-benar pergi dari ruangan Robert bersama anak buahnya untuk mencari keberadaan Beby.
...o0o ...
Mobil Dominic berjalan kebut-kebutan di jalan raya, pria itu benar-benar bak seorang pembalap saat ini.
Setelah menaiki tangga menuju rooftop, ia dan Beby langsung berjalan memasuki pintu darurat yang berada di ujung rooftop dan menuju tangga dengan Dominic yang menggendong Beby dan tangannya yang harus menyeret koper.
Menyakitkan memang, tapi ia harus menggendong Beby karena keadaan wanita itu yang terlihat begitu lemas. Dominic tidak ingin kandungan dalam Beby juga ikut bermasalah disaat yang genting begini.
"Kita akan kemana, Mr. Dominic ?" tanya Beby saat mobil pria kaya itu melaju bak dikejar Setan.
Dominic melirik sekilas kearah Beby dan kembali fokus dengan jalannya. "Perancis, kita akan ke Perancis!" beritahu Sean.
Mata Beby membulat terkejut, ia menatap Dominic takut-takut. "Bagaimana bisa kita ke sana, tuan ? Aku tidak ingin pergi dari sini, Ayah, ibu dan nenek ku ada di sini..."
"Lalu kita harus kemana Beby ? Negara ini tidak aman! Sean akan dengan mudah menemukan keberadaan mu jika kamu masih terus berada di negara ini. Jalan satu-satunya hanya pergi keluar negeri."
Mobil Dominic berbelok menuju kawasan hutan belantara yang nampak tak berpenghuni.
"Lalu bagaimana dengan keadaan orang tua dan nenekku, tuan ? Aku tidak ingin mereka yang terkena imbas akibat perbuatanku! Lagipula aku juga tidak membawa pasport, bagaimana bisa keluar negeri ?" tanyanya dengan nada yang ketara sekali jika ia sedang cemas.
Dominic terus menyusuri hutan belantara itu hingga kini mobilnya berada di tengah-tengah hutan. "Masalah keluarga mu, biar aku yang mengurusnya. Masalah ekonomi juga kamu gak perlu khawatirkan."
Ia mematikan mesin mobilnya saat ia tiba di lokasi yang ia tuju, di tengah-tengah hutan itu anak buahnya sudah menunggu kehadirannya, tak lupa ada pesawat pribadi Dominic yang kini siap lepas landas.
Mulut Beby terbuka melihat ada pesawat di tengah-tengah hutan, sementara Dominic sudah keluar dari mobil dan kini memutari kendaraan itu untuk membukakan pintu untuk Beby.
Ceklek....
"Ayo, kita tidak punya banyak waktu." Dominic mengulurkan tangannya yang segera digapai oleh Beby.
Setelah menutup pintu mobilnya, Dominic segera mengajak Beby untuk memasuki pesawatnya yang siap lepas landas itu.
"Duduklah di sampingku!" ajaknya yang sudah duduk di kursi penumpang dalam pesawat, Beby menurut ia duduk disamping Dominic dengan tangan yang masih bertautan. "Tidak perlu pikiran paspor karena kita tidak menaiki kendaraan umum. Kita pergi menggunakan pesawat pribadiku."
Beby menganggukkan kepalanya, mengerti ucapan Dominic yang membuat pria itu tersenyum kecil.
"Siap berangkat dan memulai kehidupan baru ?" tanyanya yang diangguki kaku oleh Beby.
"Semoga saja...."
...o0o...
SEPERTI BIASA HARI MINGGU 1 BAB SAJAA 😘🧡
KITA BERTEMU DI BEBERAPA TAHUN KEDEPAN YAAA
SELAMAT TINGGAL 🧡😜
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA