
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o ...
"Jadi bagaimana, Sean ? Kamu sudah memutuskan ?" tanya Vania dengan semangat di pagi hari ini.
Kini mereka bertiga, Leon, Vania dan Sean tengah menyantap sarapan paginya di meja makan.
Tolong jangan heran, kenapa Vania ada di sini. Itu karena sejak kematian Clara dan kepergian Beby. Secara sepihak Vania langsung memutuskan untuk tinggal di sini dengan alasan untuk merawat Leon dan menemani bocah itu.
Berulangkali Sean menolak, pria itu merasa mampu untuk menyewa pengasuh bagi Leon. Ia merasa tak enak pada Vania, mau bagaimanapun wanita itu adalah adik istrinya. Jadi ia sedikit tak enak menjadikan Vania menjadi pengasuh Leon.
Namun ternyata Vania tetap bersikukuh, dan ya wanita itu kini sudah tinggal di mansion Sean selama enam tahun dan menjadi pengasuh untuk Leon.
"Memutuskan apa ?" tanya Sean bingung, ia memasukkan roti kedalam mulutnya seraya melirik Vania sekilas.
Wanita dengan dress super ketat itu mengerucutkan bibirnya kesal pada Sean, "hah..." Ia menghela nafas berat dan menatap Sean lagi.
"Kamu lupa ? Beberapa hari yang lalu aku menawarkan diri sebagai ibunya Leon ? Gimana jadinya ? Kapan kita menikah Sean ? Aku siap menjadi ibu sambung Leon," ucapnya pada akhirnya.
Leon menatap malas kearah Vania, bocah 5 tahun dulu itu kini sudah tumbuh lebih tinggi daripada Vania. Leon kini sudah setinggi bahu sang ayah.
"Ibu sambung ? Untuk apa ?" tanya Leon dengan malas.
Mendengar itu Vania tersenyum singkat, menatap Leon dengan mata berbinar. "Untuk menjaga kamu sayang, memang kamu gak mau punya mama baru?" tanyanya. "Semua teman kamu punya Ayah dan Ibu, apa kamu tidak iri Leon ? Pasti setiap pagi ibu teman kamu selalu memasak untuk teman kamu itu," Vania memanas-manasi Leon.
"Tidak!" sanggah remaja itu cepat. "Temanku tidak dimasakkan oleh ibunya, tapi oleh maidnya."
"Kalau aunty ingin menjagaku, lebih baik jadi maid saja di rumah ini. Karena ibuku hanya Mommy Clara dan kak Beby!"
Setelah mengatakan itu, tanpa pamit Leon langsung berdiri dan meraih tasnya lalu melangkahkan kakinya pergi ke sekolah.
Tangan Vania terkepal dibawah meja, ia menatap Leon dengan tajam. "Tidak Clara, tidak anaknya sama-sama bajingan brengsek!" umpatnya kesal dalam hati.
Berbeda dengan Vania yang kesal, Sean malah menatap kepergiannya anaknya dengan senyum kecut.
Tidak ada lagi Leon yang tersenyum kearahnya, tidak ada sapaan hangat kepadanya. Leon bak seperti tak menganggapnya hidup.
"Aku selesai," ucap Sean seraya berdiri dari duduknya, mendengar itu Vania segera merubah mimik wajahnya. Ia langsung tersenyum ramah kearah Sean seraya menganggukkan kepalanya.
Baru saja Sean akan melangkah pergi, lengannya langsung digenggam erat oleh Vania.
Sean berbalik menatap Vania dengan alis terangkat. "Apa lagi ?"
"Jadi gimana Sean ?" tanya Vania lagi dengan wajah lesu dan memelas. "Kapan kita menikah ? Sudah enam tahun aku menunggu, sudah enam tahun aku merawat Leon! Aku sudah siap!" tembaknya tanpa rasa malu.
__ADS_1
Dengan malas, ia menyingkirkan tangan Vania dari lengannya. "Kenapa harus terburu-buru ? Leon juga terlihat tidak mengingkan seorang ibu."
Mata Vania berputar kesal, "kapan terus dia inginnya ?" tanyanya frustasi. "Kita nikah aja dulu, nanti masalah Leon belakang! Yang penting aku sah jadi istri kak Se–"
"Tuan, 30 menit lagi kita meeting!" bertahu Jacob yang tiba-tiba memasuki ruang makan.
Sean menghempaskan tangan Vania dengan kasar, tanpa pamit ia langsung meninggalkan wanita yang setiap hari memintanya menikah terus itu.
Sementara Sean sudah berjalan pergi, Jacob masih diam di tempatnya. Ia menatap Vania dengan alis terangkat.
"Kenapa dia masih di sini ? Kakaknya sudah meninggal, itu berarti ia sudah tidak ada hubungannya apa-apa lagi dengan Sean. Ini sudah enam tahun, dan ia sekarang meminta Sean untuk menikahinya. Ini aneh dan tidak wajar, haruskah aku menyelidikinya ?" batin Jacob sebelum ikut menyusul kepergian tuannya.
...o0o ...
Tengah malam hari ini, seperti biasa seorang remaja tengah menangis di sudut kamarnya.
Lampu kamar sudah ia matikan, speaker sudah ia nyalan agar seseorang tak bisa mendengar suara tangisannya.
Selama dua tahun terakhir ini hanya ini yang biasa ia lakukan. Menangis di dalam hari dan tidak bisa tidur. Ia merasa sendirian, dan tidak berguna.
Ibunya meninggalkan selamanya, dan pengasuh kesayangannya yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri itu tak ada lagi di sisinya.
"Kenapa semuanya pergi....hiks...hiks....." Leon terus menangis ditemani kerasnya speaker yang memutar musik bergenre sedih.
Air matanya meluruh dengan deras, lewat air matanya itu, ia menyampaikan bagaimana ia sangat kesepian dan ketakutan selama beberapa tahun kebelakang ini.
Remaja berusia 12 tahun itu meraung-raung menyebut nama ibu dan Beby yang sangat ia rindukan.
"Kenapa hidupnya terus seperti ini ? Saat kecil aku tidak dianggap oleh ayah, aku selalu disiksa oleh para baby sitter yang merawatku. Lalu saat aku mendapatkan pengasuh yang merawat dengan rasa sayang dan cinta. Tiba-tiba di pergi menghilang. Mommy ku juga kau ambil...."
"KENAPA TIDAK SEKALIAN NYAWAKU YANG KAU AMBIL....hiks...hiks....." teriak bocah itu.
Leon terus menangis hingga tak sadar jika saat ini pintanya sudah terbuka sedikit dan Sean yang tadinya ingin melihat wajah anaknya sepulang kerja. Malah dikejutkan dengan suara tangisan anaknya yang terasa menyakitkan.
Ia tersenyum getir, kenapa keluarganya hancur begini ? Ia menutup pintu perlahan dan bersandar di depan pintu dengan tangan terkepal.
"Ini semua salah Beby! Wanita itu adalah penghancur keluargaku!" ucap Sean dengan penuh kesal. "Kalau memang anak buahku tidak bisa menemukan Beby, biar aku sendiri yang mencarinya!" sambungnya sungguh-sungguh.
Setelah mengatakan itu, Sean langsung melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan tangan yang mengotak-atik ponsel untuk menghubungi sang tangan kanan.
"Loh kak Sean mau kemana ?" tanya Vania yang baru keluar dari kamar dan terkejut melihat Sean yang masih baju kerjanya tadi pagi dan kini tengah berjalan keluar rumah.
"Siapkan aku pesawat pribadi! Kita terbang sekarang!" titahnya pada Jacob disebrang telfon.
Tanpa menjawab ucapan Vania, ia segera meninggalkan wanita itu dan pergi keluar dari mansion.
Sementara Vania mendengus kesal melihat keterdiaman Sean. Ia memilih untuk berbalik dan kembali ke kamar.
Tapi otaknya cantiknya bekerja, Sean tidak ada di rumah. Berarti hanya ada Leon di sini, "bagaimana jika hari ini aku tidur dengan Leon agar aku bisa dekat dengannya seperti yang wanita j4l4ng itu lakukan ? Kalau aku sudah dekat dengan Leon, aku akan mudah menghasutnya untuk menerimaku menjadi ibunya!"
Vania menganggukkan kepalanya singkat lalu segera berlari kecil menaiki tangga dan segera menuju kamar Leon.
__ADS_1
Ceklek....
Dengan jelas ia mendengar suara tangisan Leon yang begitu menyakitkan, ia berjalan perlahan untuk mencari saklar lampu dan menghidupkan lampu di ruangan itu.
Klik....
Lampu menyala dan tangisan Leon berhenti seketika. Remaja berusia 12 tahun itu mengusap air matanya kasar dan menatap Vania tajam.
"Kenapa kemari, aunty ? Pergi sekarang?!"
Namun Vania yang memang keras kepala, tentu tak gentar dengan itu. Ia berjalan mendekati Leon yang duduk di sudut kamar dekat dengan lemari.
"Astaga ada apa, kenapa tidak tidur, kenapa menangis sayang ?" tanyanya terkejut dengan sikap Leon yang lemah begini.
Leon menepis kasar tangan Vania yang hendak mengusap kepalanya. "Keluar! Aunty tidak perlu tahu masalahku!"
"Aunty gak akan keluar sebelum kamu cerita masalahmu!" jawabnya dengan keras kepala dan tidak ingin dibantah.
Leon menghela nafas panjang, "aku susah tidur selama 2 tahun ini, aku merindukan Mommy," jawabnya pada akhirnya, dengan niat mengusir Vania cepat dari kamarnya.
Mendengar itu, seringai Vania muncul. Ia segera berlari keluar kamar yang membuat Leon kebingungan.
Namun remaja itu tak memperdulikan Vania, ia mengusap wajahnya perlahan lalu berdiri dari duduknya berniat untuk menutup kembali kamarnya.
"Eh Leon, jangan di tutup!" Vania berlari kembali memasuki kamar Leon dengan membawa sesuatu barang.
Senyuman Vania terlihat berbeda dari sebelumnya, membuat Leon menatapnya bingung.
"Kamu bilang gak bisa tidurkan ?" tanyanya yang diangguki oleh Leon. "Nih coba kamu pakai obat tidur tante, ini cara pakainya bisa di hirup atau di suntikkan ke tubuh," sambungnya sembari memberikan plastik kecil berisi serbuk putih dan sebuah suntikkan.
Leon menerima itu dengan bingung, "ini serbuk apa, aunty ?" tanyanya.
"Ini itu obat tidur, cuma sama Aunty udah di gerus jadi sekarang bentuknya serbuk, mau Aunty bantu cara pakainya ?" tanya Vania dengan seringainya.
...o0o ...
1. SEAN SUDAH BERGERAK SENDIRI NYARI BEBY YA ...
2. NEXT CHAPTER BESOK, JACOB SUDAH TAHU KEBUSUKAN VANIA
TUNGGU BESOK YAA, JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKENYA PEMBACAKU SAYANG 😘
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA