
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o ...
Beberapa menit setelah ambulans membawa tubuh Dominic menuju rumah sakit, beberapa mobil polisi langsung menuju lokasi kecelakaan yang saat ini menghebohkan dunia maya.
Dominic adalah seorang pengusaha sukses, bukan hal yang mengejutkan jika berita kecelakaannya akan tersebar dengan cepat saat ini.
Nama Dominic menjadi trending topik hangat di Italia. Semua orang tengah membicarakan kondisi pengusaha sukses itu sekarang.
Wiu....wiu....wiu....
Wiu....wiu....wiu....
Sirine mobil patrol polisi terus menggema di lokasi kecelakaan tunggal Dominic. Seorang pria yang menjabat sebagi ketua pasukan khusus polisi itu turun dengan tubuh tegapnya menuju anak buahnya yang sedang meneliti fisik mobil Dominic. Sementara anak buah lainnya, mengajak bicara saksi mata yang melihat bagaimana kecelakaan Dominic sejak awal.
"Bagaimana ?" tanya polisi ketua khusus itu dengan salah satu anak buahnya.
"Mobil terlintas dengan cepat dari arah barat, saat lampu merah menyala, mobil itu tidak menginjak rem-nya dan malah membanting stir ke kiri hingga mobilnya menghantam pembatas jalan dengan cukup keras hingga berbalik dan terseret 100 meter disebelah kanan," jawab polisi itu dengan cepat setelah mendapatkan informasi dari sang saksi mata.
Kepala ketua itu mengangguk mengerti, dilihatnya kondisi mobil Lamborghini itu yang sudah hancur. "Kenapa dia memilih banting stir ke kiri ?"
"Karena sedang lampu merah dan didepan ada sebuah truk kontainer yang sedang mengangkut barang...."
Tangan polisi itu bergerak menggosok dagunya, berfikir. "Ada lampu merah, jalan mobil bukannya berhenti tapi malah semakin cepat. Tuan Dominic membanting stir ke kiri karena di depan ada truk kontainer," gumamnya seraya membayangkan alur kecelakaan Dominic.
"Cepat panggil mobil derek sekarang. Bawa mobil ini ke bengkel dan cek seluruh mesin mobilnya. Aku rasa ada masalah demgan rem-nya," ujar sang ketua polisi itu kepada anak buahnya yang segera dilakukan oleh polisi itu.
Kaki sang ketua bergerak menuju anak buahnya yang memperhatikan mobil. "Kalian segera cek CCTV di sepanjang jalan, entah CCTV cafe, supermarket atau rumah warga yang terdapat CCTV. Kita lacak mobil tuan Dominic darimana saja," titah polisi itu yang segera dikerjakan oleh para anak buahnya yang ia suruh.
Tak berselang lama, ada banyak wartawan yang datang ke lokasi kecelakaan. Para wartawan itu langsung menyalakan kameranya kearah sang ketua kelompok polisi itu.
"Pak polisi bagaimana alur kecelakaannya ?" tanya seseorang wartawan yang segera dijawab dengan detail oleh polisi itu.
Kilatan Blitz kamera terus mengenai wajah sang polisi. Pria itu terus berbicara dengan lancar di depan kamera.
"Lalu bagaimana dengan pelakunya ? Apa ini sebuah murni kecelakaan atau kecelakaan yang disengaja ? Secara kan tuan Dominic adalah seorang pengusaha kaya, pasti banyak pesaing bisnis yang ingin menjatuhkannya...."
Kepala polisi itu mengangguk setuju, "masih sedang dalam penyelidikan kami. Tapi tenang saja, pihak kepolisian akan segera menemukan penyebab kecelakaan ini dengan sesegera mungkin. Terima kasih, semuanya...." pamit polisi itu kepada wartawan, ia harus terus mengecek anak buahnya agar tidak melakukan kesalahan.
Karena saat ini bukan orang biasa yang menjadi tanggung jawabnya. Tapi seorang pengusaha terkenal, mereka akan berusaha keras menemukan penyebab kecelakaan Dominic secepatnya.
...o0o ...
BRAKK....
Beby menutup pintu mobilnya dengan sangat keras, saat sudah berhasil mendapatkan parkiran di rumah sakit besar ini.
Kakinya berlari dengan sangat kencang menuju ruang UGD yang berada di rumah sakit itu.
"Dominic....Dominic...." ucap Beby yang terus menerus memanggil nama sang calon suami.
Pandangan Beby mendadak buram karena matanya yang dipenuhi oleh air mata yang menggenang di sudut matanya.
Saat sudah sampai di pintu ruangan UGD, ia dihentikan oleh seorang wanita yang berpakaian perawat.
"Maaf, Ibu mencari siapa ?" tanyanya dengan lembut dan dengan senyum tipis.
__ADS_1
Beby mengalihkan pandangannya kearah perawat itu, ia berjalan mendekat dan menggenggam kedua tangan sang suster erat.
"Sus...sus...." panggilnya dengan nada panik yang begitu kentara. "Dominic, dimana ? Dia dimana, sus ?" tanya Beby langsung.
Suster itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Beby, ia dengan tenang mengelus punggung Beby dengan lembut.
"Tenang dulu ibu ya. Mari saya antar ke resepsionis untuk mencari pasien rumah sakit yang ibu maksud, kalo di sini bukan tempatnya. Ini ruang UGD, khusus untuk seseorang yang memperlakukan penanganan langsung," jelas suster itu kepada Beby, ia berusaha menuntun pelan Beby menuju resepsionis tapi tubuh Beby menolak.
Beby diam mematung di dekat ruangan bertuliskan UGD yang lampunya sedari tadi menyala, menandakan bahwa sebuah operasi tengah dikerjakan di dalam sana.
"Do–Dominic, dia korban kecelakaan sus, tadi pegawai rumah sakit menelfon saya. Meminta saya datang ke UGD di rumah sakit ini," jelas Beby.
Kepala sang suster itu mengangguk mengerti, ia mengajak Beby untuk duduk di kursi tunggu yang berada di dekat ruangan UGD itu.
"Ah, apa anda istri dari pria yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal di jalan Romusa tadi ?" tanya suster itu yang segera diangguki oleh Beby. "Tenanglah, suami anda sudah dalam penanganan yang tepat. Benar, dia sedang di operasi di ruang UGD itu," tunjuk sang dokter pada ruang UGD itu.
"Seluruh tubuhnya berlumur darah, dia dibawa dengan keadaan yang sudah tidak sadar," jelas suster itu yang membuat Beby memejamkan matanya takut.
Tubuh wanita itu bergetar ketakutan, ia tidak sanggup, sangat tidak sanggup jika harus ditinggal oleh Dominic secapat itu.
Harus bagaimana ia tanpa Dominic ? Dominic adalah pelindungnya, sayapnya.
Tangis Beby kembali pecah, dan sang suster dengan cepat merengkuh tubuh Beby kedalam pelukannya.
"Berdoa kepada Tuhan, agar suami Anda bisa melewati masa krisis ini. Jangan berlarut dalam kesedihan, di dalam pasti suami anda terus memikirkan anda," petuah sang suster yang segera diangguki oleh Beby.
Setelah Beby tenang, perlahan suster itu melepas pelukannya. Wanita berpakaian serba putih itu memberikan Beby sebotol air mineral, lalu meninggalkan wanita itu untuk kembali bekerja.
Sementara Beby yang sejak tadi duduk di depan ruangan UGD itu hanya bisa berdoa agar sang kekasih masih diberi umur panjang oleh yang maha kuasa.
"Dominic, kumohon jangan tinggalkan aku sendiri. Aku dan Lily sangat, sangat membutuhkanmu..." lirih Beby menatap kosong pintu operasi yang sampai saat ini belum terbuka.
...o0o ...
Kedua pasangan paruh baya itu saling bergandengan, mereka saling menguatkan hati mereka yang hampa setelah mendengar kabar buruk dari Beby yang mengatakan bahwa calon menantu mereka telah mengalami kecelakaan tunggal yang serius.
Ting...
Pintu lift terbuka, mereka cepat-cepat berjalan dengan tangan yang terus bertautan menuju unit apartemen Beby.
Setelah menekan tujuh angka kata sandi, akhirnya pintu terbuka. Risna–ibu Beby, melepaskan pegangan tangan mereka, ia mencopot high heelsnya dan langsung berlari kecil menuju kamar Lily.
Ceklek....
Tangis Risna pecah seketika, melihat nyenyaknya Lily tertidur membuat dadanya terasa sangat sesak.
Sementara Robert–ayah Beby yang baru saja menutup pintu apartemen ini, langsung berjalan kearah sang istri yang menangis di depan pintu kamar Lily.
Tangisan Risna memang tak mengeluarkan suara, tapi bahu wanita itu bergetar menandakan jika ia memang menangis.
"Stt... Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja. Aku, kamu, Beby, dan Lily akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada Dominic, dia pria yang kuat!" bisik Robert dengan lembut di telinga istrinya.
Mendengar itu wanita paruh baya yang menyandang status sebagai ibu Beby itu, membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh sang suami. Ia menangis dalam diam di dada sang suami.
"Ka–kata Beby tadi di telfon parah, Yah. Bagaimana jika Dominic tidak terselamatkan ? Bagaimana ? Dia orang baik, Yah....hiks...hiks...."
Robert mengusap pelan punggung sang istri, berusaha menenangkan tangisan sang istri. "Kau tahu sendiri jika dia orang baik, pasti Tuhan akan melindunginya, pasti...." gumamnya pada kata terakhir yang ia ucapkan.
Risna merenggangkan pelukan mereka, ia menatap mata sang suami dengan rasa takut yang begitu besar.
"Katakan padaku, Yah. Hal buruk apa yang terjadi jika seandainya Dominic meninggal ?" tanya sang istri, suaranya bergetar menandakan jika ia tak sanggup menanyakan itu.
Robert diam sebelum menjawab pertanyaan sang istri, tangannya merengkuh punggung Risna semakin erat.
__ADS_1
"Jika Dominic tiada, itu artinya tidak ada yang melindungi Beby dan Lily, kapan saja Sean dan anak buahnya dengan mudah menculik mereka berdua."
"Jika Dominic tiada, itu artinya tidak ada yang menyokong lagi perusahaan kita. Kita akan kehilangan uang, karyawan dan perusahaan kita. Aku sudah tidak memiliki kekuasaan lagi, untuk melindungi Beby," sambung Robert sedih.
Mendengar itu, Risna tak kuasa menahan tangisnya. Ia meraung-raung di pelukan sang suami, dalam hati ia berdoa agar tidak terjadi hal buruk lagi kepada keluarganya.
...o0o ...
Sudah tiga jam berlalu, pada proses operasi di ruangan UGD yang ditempati oleh Dominic masih belum selesai.
Botol air mineral yang sudah kosong tak tersisa itu dipegang sangat erat oleh Beby. Ia menyalurkan kesedihannya lewat remasan pada botol itu.
"Dominic....." lirihnya memanggil nama sang kekasih berulang-ulang. Air mata pada mata Beby sudah tak keluar lagi.
Mata wanita itu bengkak, bibirnya pucat dan pandangan matanya kosong. Beby nampak seperti manusia yang tidak niat hidup lagi di dunia.
Tak....
"Astaga Dominic....." ucapnya dengan keras seraya berdiri dari duduknya.
Sedari tadi Beby terus memanggil nama Dominic, hingga lampu ruang operasi yang baru saja dimatikan membuat matanya membulat terkejut. Cepat-cepat ia berdiri dan berjalan mendekati pintu UGD itu.
Ceklek....
Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari ruang UGD dengan keringat yang membanjiri dahi, pelipis, hingga leher sang dokter.
"Apa ada keluarga pasien ?" tanya sang dokter yang memang ditujukan pada Beby.
Dengan cepat Beby mengangguk kepalanya setuju, "saya istrinya dok, bagaimana dengan suami saya ?" tanyanya yang mengarang status mereka. Beby dan Dominic belum menikah sampai sekarang.
"Nyonya, maafkan saya harus mengatakan ini, tapi Mr. Dominic saat ini mengalami masa kritis akibat benturan hebat yang terjadi di kepalanya. Tadi di dalam saya dan juga beberapa dokter lain yang masih di dalam mengambil serpihan kaca yang mengenai seluruh tubuh Mr. Dominic. Bukan hanya itu saja, tapi kaki Mr. Dominic pada bagian tulang kering kanan mengalami patah tulang. Dan setelah saya melakukan check up, ada penggumpalan darah di otak karena salah satu syaraf yang putus," jelas dokter itu yang membuat dada Beby terasa amat sakit.
Tubuh wanita itu bersandar pada dinding karena tak kuat menahan beban tubuhnya. "La–lalu bagaimana dengan suami saya sekarang dok ? Dia pasti sadar kan dari masa kritisnya ? Saya bayar berapapun asal dokter sembuhkan lagi suami saya," ucap Beby memelas, air mata seketika luruh di wajah wanita itu.
"Sebagai dokter memang sepatutnya saya berusaha membantu Mr. Dominic. Dan apa Mr. Dominic akan segera sadar dari masa kritisnya, hanya Tuhan yang tahu," balas dokter tersebut dengan senyum singkat, setelahnya ia berpamitan pergi dari hadapan Beby.
Dokter itu pergi, meninggalkan Beby yang menangis sendiri dan bersandar pada dinding.
Wanita itu tak sadar, jika sedaritadi dibelakangnya ada seorang pria yang mendengarkan perbincangannya dengan sang dokter seraya tersenyum puas.
Pria itu berusaha kembali menormalkan raut wajahnya dan menghilangkan senyum pada wajah tampannya. Ia harus berpura-pura sedih dihadapan Beby saat ini.
Perlahan kaki pria itu berjalan mendekat, dan memegang bahu Beby lembut. "Tadi aku lihat lewat TV yang menyiarkan Dominic kecelakaan, dan aku langsung menuju ke rumah sakit ini, setelah sekretaris ku memberitahu dimana posisi Dominic," ucap pria itu yang membuat Beby terkejut.
Dengan pelan, Beby melepaskan pegangan tangan pria itu pada bahunya dan membalikkan badan untuk menatap wajah pria itu.
Mata Beby membelalak terkejut saat melihat siapa yang mendatanginya di sini. "Se–Sean ?" panggilnya pada pria yang berdiri dihadapannya.
"Aku juga sudah mendengar apa yang dokter tadi katakan. Dominic kritis, ada pendarahan hebat di otaknya. Sepertinya umur Dominic sudah tidak panjang lagi..." sambung pria itu dengan cepat, raut wajahnya dibuat-buat seperti orang yang ingin menangis.
"Kamu tenang saja, biar aku yang mengurus semuanya. Aku akan segera menghubungi sekretaris ku, agar dia segera bisa menyiapkan pemakaman untuk Dominic," sambung Sean dengan seringai iblis yang tak terlihat oleh Beby.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA