MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 38 - WANITA ASIA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Beby menatap jengah kearah seorang perempuan yang kini tengah mengotak-atik ponselnya dan duduk di sofa ruangan ini.


Perempuan itu sudah tiga hari sejak kesadaran kakaknya dari koma selalu saja datang ke mansion Sean. Hingga membuat Beby geram sendiri.


Bukan karena Beby iri dengannya, apalagi sampai takut akan kehilangan Sean karena wanita itu. Bukan!!!!!


Yang membuatnya geram pada Vania adalah sikap wanita itu sendiri. Lihat saja sekarang, saat Sean bekerja ia hanya akan bermain ponsel dan tidak merawat sang kakak yang tidak berdaya di ranjang.


Tapi jika ada Sean di kamar Clara, Vania akan langsung berakting menangis dan merawat Clara dengan baik. Misalnya seperti kemarin, wanita itu memandikan tubuh Clara dengan lap basah, lalu menyuapi Clara dengan ramuannya, tak hanya itu Vania juga akan bersikap sangat baik pada Beby. Tapi itu hanya saat ada Sean saja.


"Benar-benar wanita munafik! Jangan-jangan ramuan teh herbal yang biasanya ia minumkan pada kakaknya adalah racun. Biar Clara cepat mati, lalu Vania berniat untuk menikahi Sean," batin Beby menatap tajam Vania yang tengah bermain ponsel.


Hingga ia tak sadar jika sedari tadi tangannya ditarik-tarik oleh Leon. "Kak! Kak Beby!!!"


"Kak Beby! Ayo ke Mommy!!" teriak Leon kesal, hingga Vania melirik kearah mereka berdua dengan wajah muramnya.


"Hei, pengasuh! Bocah itu minta diantar ke ibunya! Kenapa bengong, huh!" decaknya kesal.


Beby memberengut sebal, ia menggendong Leon dan membawanya berbaring di sebelah ibunya. "Leon sudah mandi, sudah makan, pr sudah di kerjakan, jadi sekarang boleh main hp sambil nemenin Mommy di sini." Ia memberikan ponsel kepada Leon yang diterima suka cita oleh bocah itu.


"Ingat ya, mainnya cuma boleh 1 jam. Habis main hp langsung tidur. Kak Beby ke bawah dulu ya..." pamitnya yang diangguki oleh Leon.


Leon kini asik dengan dunianya, saat merasakan posisinya sudah nyaman barulah Beby turun ke lantai bawah untuk menuju dapur.


"Emang siang-siang gini enaknya makan rujak kocok!" ucap Beby dengan menyeka air liur yang hampir menetes disudut bibirnya.


Entah mengapa secara tiba-tiba ia ingin memakan buah-buahan mentah yang diberi irisan cabe, garam, gula dan perasan jeruk nipis lalu dikocok dengan es batu hingga es itu mencair.


Membayangkan itu membuat Beby tanpa sadar mengeluarkan air liurnya lagi. Tangannya mengusap perutnya yang sedikit membuncit itu dengan sayang. "Mau makan rujak ya, sayang. Anak ganteng mami lagi pengen yang asem-asem," monolognya dengan janin yang sedang ia kandung.


"Non, ini di iris tipis-tipis mangga mudanya ?" tanya seorang maid yang Beby suruh membuatkannya rujak.


Beby menganggukkan kepalanya, ia berdiri dari duduknya di meja bar dapur untuk menuju maid itu. "Iya mangganya iris tipis, kalo rambutannya gak perlu di iris, bik. Cuma keluarin aja bijinya terus masukkan cabe, gula, garam, sama jeruk nipis kocok pake es batu!"


Maid itu menganggukkan kepalanya mengerti dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya.


Beby menatap mangga muda itu dengan mata berbinarnya, sungguh tak sabar rasanya memasukkan buah masam itu kedalam mulutnya.


"Ini non, sudah jadi!" ucap maid itu tiba-tiba menyeret semangkuk buah-buahan segar dengan banyak irisan cabe yang mengambang kearah Beby.


Dengan semangat ia menerima mangkuk rujaknya itu dan membawanya ke ruang tengah dimana ada televisi yang sudah ia nyalakan sejak tadi.

__ADS_1


Ia duduk disalah satu sofa dengan tayangan sinetron favoritnya di teman oleh rujak kocok miliknya. "Ehmmmm kecuttttt!!"


Saat sedang asyik-asyiknya memakan rujak, ponsel wanita itu disaku celananya berdering nyaring.


Beby meletakkan mangkuk rujaknya diatas meja, dan segera merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponselnya.


"Nomor siapa ini..." gumamnya sebelum mengangkat telfon itu.


"Hal––"


"Bawa kemari laptopku yang berada di kamar Clara. Supir sudah menunggu mu di bawah!"


Tut....


Orang yang menelfon Beby itu memutuskan telfonnya secara sepihak, bahkan sebelum Beby menyelesaikan sapaannya.


"Ini suara Sean! Memang brengsek sekali bule itu! Gak bisa banget lihat orang lagi santai!" gerutunya sebal.


Meski kesal, ia sama sekali tak punya hak untuk menolak perintah Sean. Segera ia bangkit dari duduknya berjalan kembali untuk memasuki kamar Clara demi mengambil laptop Sean yang tertinggal.


Tak lupa ia juga mengganti pakaiannya, menggunakan dress cantik indah serta merias dirinya sedikit.


"Beby memang sangat cantik!" pujinya kagum dengan kecantikannya sendiri.


...o0o...


"Maafkan kelalaian saya, sebentar lagi bahan meeting kita akan sampai. Tadi saya sudah menelfon asisten yang bekerja di rumah untuk segera membawa laptop saya kemari," ucap Sean di tengah rapat yang berlangsung itu.


Salah satu dari sekian banyak pengusaha sukses yang diundang Sean ke perusahaan ada pria berkebangsaan Jerman yang memiliki paras di atas rata-rata.


Tidak hanya wajah yang bisa ia banggakan, tapi kecerdikannya dalam merintis karir juga patut diacungi jempol.


"Selagi menunggu, apa boleh saya ijin ke toilet sebentar, Mr. Alejandro?" pamit pria tampan itu pada Sean.


Sean menghentikan perbincangan dengan pengusaha di sampingnya lalu menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan tamunya itu. "Silahkan Mr. Ragues."


Pria bermata hijau safir itu segera bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju luar diikuti oleh sekretarisnya.


"Tuan Dominic, toilet berada di sebelah sini!" peringat sang sekretaris saat mengetahui arah jalan tuannya menuju lift.


Dominic melirik sekretarisnya sebentar, lalu melanjutkan langkahnya kakinya menuju lift. "Siapa yang ingin ke toilet. Aku ingin kembali ke perusahaan."


Sang sekretaris menghembuskan nafas lelah, ia menganggukkan kepalanya setuju dan ikut masuk ke dalam lift.


"Ada dua hal yang paling ke benci. Yang pertama adalah menunggu dan yang kedua adalah ketidakdisiplinan. Sean telah membuatku menunggu, dan aku tidak ingin berkerja sama dengan pria seperti itu!" desisnya sebal.


Ting....


Pintu lift terbuka, Dominic diikuti oleh sekretaris dibelakang segera keluar dari lift. Ia berjalan santai, mengabaikan tatapan kagum dari para wanita yang menatapnya.


"Astaga! Saya ini asistennya tuan Sean! Nih liat buktinya saya bawa laptopnya tuan Sean yang tertinggal di rumah!" suara teriakan itu membuat perhatian Dominic terkunci kearah seorang wanita dengan balutan dress cantik yang badannya sangat menggoda iman jika dilihat dari belakang.

__ADS_1


Dominic mendesis gerah, dari belakang saja wanita itu bisa membuatnya bergairah. Apalagi jika dari depan.


Tanpa sadar ia melangkahkan kakinya menuju wanita itu yang kini berdebat dengan seorang resepsionis wanita.


"Sebentar nona, biar saya infokan ke Mr. Jacob terlebih dahulu. Sembari menunggu anda bisa duduk di ruang tun––"


"Ck! kelamaan!" sergah Beby cepat. "Ini udah ditunggu sama tu–"


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya seseorang dari belakang tubuh Beby dengan suara yang terdengar sangat berat.


Jantung Beby berdegup kencang, ia membalikkan badannya menatap ke sumber suara.


"Astaga, tampan sekali," batinnya sedikit terpesona. Lalu beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya mengusir pikiran liar yang tiba-tiba hinggap di otaknya. "Inget lagi bunting, Beb!"


Sama seperti halnya Beby, laki-laki di depannya ini juga sedikit terkesima dengan kecantikan natural yang terpancar dari wajah lagi. Belum lagi badan Beby yang sangat proporsional.


Benar-benar sangat brrrrrr


"Ah nona, Mr. Jacob sudah menyuruh Anda segera naik ke lantai atas. Mari saya antar," ucap resepsionis itu.


Badan Beby berbalik lagi kearah resepsionis itu sembari menganggukkan kepalanya. Ia mengikuti langkah resepsionis itu menuju lift sembari berceloteh.


"Nah kan apa saya bilang, saya ini asistennya Sean. Kenapa gak percaya sih, bikin tambah lama tahu gak!"


"Iya-iya, sekali lagi maafkan ketidaktahuan saya nona~~"


Dominic tertawa kecil melihat perdebatan kedua orang wanita itu, terlebih lagi pada seorang wanita yang sedikit bisa menghipnotisnya siang-siang begini.


"Ekhem, tuan. Kita jadi pulang sekarang ?" tanya sang sekretaris yang terpaku dengan tindakan Dominic tadi.


"Dia bukan seperti orang Italy, wajahnya sangat Asia sekali." Bukannya menjawab pertanyaan sekretarisnya, Dominic malah mengomentari wajah Beby. "Aku tidak jadi ke perusahaan. Kita ikut rapatnya saja!"


Jawabnya sebelum meninggal sang sekretaris yang menghembuskan nafas lelah di dekat meja resepsionis.


...o0o ...


HARI INI SATU BAB AJA YAA


HARI MINGGU WAKTUNYA BERSANTAI...


KALIAN JUGA JANGAN LUPA ISTIRAHAT YAA 😘😘


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2